Diantara tanda-tanda matinya hati adalah jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah, dan tidak menyesali perbuatan dosa anda.”
Hati itu terletak di tengah antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, antara atas dan bawah dan antara baik dan jahat. Hati itu titik tengah, point perimbangan, point neraca atau median dan Ada sekeping daging dalam badan manusia, apabila keadaannya baik, seluruh diri jadi baik. Dan apabila ia tidak baik, seluruh diri jadi tidak baik. Sadarlah, daging itu ialah hati.
Hati yang mati disebabkan oleh berbagai penyakit kronis yang menimpanya. Manakala hati seseorang tidak sehat, maka hati tentu sedang terserang penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu begitu banyak yang terkumpul dalam organisasi Al-Madzmumat, dengan platform gerakan yang penuh dengan ketercelaan dan kehinaan, seperti takabur, ujub, riya’, hubbuddunya, kufur, syirik, dan sifat-sifat tercela lainnya. Ketika sikap-sikap mazmumat ini dihadapan pada kepentingan Allah, maka akan muncul tiga hal:
Manusia semakin lari dari Allah, atau dia justru memanfaatkan simbol-simbol Allah untuk kepentingan hawa nafsunya, atau yang terakhir dia dibuka hatinya oleh Allah melalui HidayahNya.
bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal:
1. Mencintai dunia,
2. Alpa dari mengingat Allah,
3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat.
Sedangkan tanda-tanda kematian hati juga ada tiga:
Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah. Tidak menyesali dosa-dosanya. Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati.
Kenapa demikian? Karena munculnya kepatuhan kepada Allah merupakan tanda kebahagiaan hamba Allah, sedang munculnya hasrat kemaksiatan merupakan tanda kecelakaan hamba. Apabila hati hidup dengan ma’rifat dan iman maka faktor yang menyiksa hati adalah segala bentuk yang membuat hati menderita berupa kemaksiatan hati kepada Allah. Yang membuatnya gembira adalah faktor ubudiyah dan kepatuhannya kepada Allah.
Boleh saja anda mengatakan:
Jika seorang hamba Allah bisa taat dan melaksanakan ubudiyah, itulah tanda bahwa hamba mendapat Ridlo Allah. Hati yang hidup senantiasa merasakan Ridlo Allah, lalu bergembira dengan ketaatan padaNya.
Jika seorang hamba Allah bermaksiat kepadaNya, itulah pertanda Allah menurunkan amarahNya. Hati yang mati tidak merasakan apa-apa, bahkan sentuhan taat dan derita maksiat tidak membuatnya gelisah. Sebagaimana yang dirasakan oleh mayit, tak ada rasa hidup atau rasa mati.
agar dosa dan masa lalu, jangan sampai membelenggu hamba Allah, yang menyebabkan sang hamba kehilangan harapan kepada Allah. Karena itu, rasa bersalah yang berlebihan yang terus menerus menghantui hamba harus dibebaskan dari dalam dirinya. Sang hamba harus tetap optimis pada masa depan ruhaninya di depan Allah.
Tak ada dosa kecil jika anda berhadapan dengan KeadilanNya, dan tak ada dosa besar jika anda berhadapan dengan FadhalNya.”
Apabila seorang hamba berbuat kepatuhan, ketaatan, ubudiyah, berarti itulah tanda bahwa sang hamba mendapatkan limpahan FadhalNya Allah. Sebaliknya jika sang hamba bermaksiat, menuruti hawa nafsunya, berarti merupakan pertanda bahwa si hamba berhadapan dengan KeadilanNya.
Tak ada yang lebih kita takutkan dibanding kita menghadapi Keadilan Allah, dan tak ada yang lebih dahsyat harapan kita dibanding kita menyongsong Fadhal dan RahmatNya.
Meretas di Atas Batas
Aku mau berdiri
Berlari
Mengejar matahari
Rumput-rumput terdiam
Melihat keheningan alam
Ada manusia kecil lahir dengan tangis
Ada manusia besar melihat dengan binar
ia pun bertanya
Untuk apa ia dicipta?
Ku ingin tegar
Bahwa hidup kita
Akan kembali seperti ada
Berakhir dengan tangis
Atau bersudah dengan cahaya
Meretas di atas batas…
***
Percakapan Rahasia
Kucuri uang ini saat perut amat lapar
Belikan nasi, kumakan, tapi tetap terasa lapar
Lalu, kucuri lagi
Kumakan lagi
Tapi tetap terasa lapar
Begitu seterusnya hingga terkapar
Aku sadar tanpa khayal
Hidup ini penuh rasa lapar
Lapar uang, kekuasaan, wanita dan sebagainya
Aku berbisik kepada malaikat
Ssssstt….sssssttttt
Jangan bilang siapa-siapa
Ini percakapan rahasia dengan Tuhan.
***
Pemberontak
Masihkah yang patut kucinta
Kau bahkan
Bukankah setiap kita hanyalah binatang
Yang terlampau lihai bermuslihat
Lalu masihkah yang layak dipercaya
Sedang belati di setiap diri
Begitu tegas menjanjikan luka
Jadi biarlah aku kekal menjadi banal
Bertahan gagah meski dalam parah
Kupecah sepi
membelah sunyi
menyeberangi peristiwa demi peristiwa
menebas cadas sepanjang kembara
sendiri
hingga maut merenggut
Sajak Putus Cinta
Dan akhirnya aku pulang ke pangkuan sepi
Hanya berteman kenangan
Tentang jalan-jalan kota menjelang petang
Sepatah senyum saat pertama kita jumpa
Atau tentang pecahan hujan
Yang menggerombol di belantara rambutmu
Di Mei yang basah
Walau kau
Telah meninggalkan
Menitip luka yang betapa perih
Tapi sebagai yang paling mencintai
Takan pernah kusemai benci
Terima kasih
Telah mengajariku bagaimana memahami luka
Maaf jika tak ada air mata
Selamat jalan
Catatan Pagi Buta
Dengan gegas kulintas subuh yang jatuh
Di lengang Kota Tanjung Karang
Lembab kelok jalan digigil sisa malam
Yang menimbun embun di rapat gedung-gedung
Pada remang lampu jalan
di lengkung sebuah jalan menikung
tercium aroma parfum perempuan muda
yang letih usai menjaja cinta
lewat seiris senyum ia sampaikan
“sebab aku sahabat bulan
yang berkarib dengan malam
di kota ini aku tak lagi memiliki pagi”
Sementara di timur paling jauh
di kuncup fajar yang beranjak mekar
pendar mimpi tumpas sebelum tuntas
mimpi lelaki yang gundah menatap arah
karena segenap penjuru mata angin
tak lagi memberikan panduan
sedang waktu kian enggan bersekutu
ke mana teman
di mana kawan
taka satu juga rela berbagi peta, katanya
perlahan satu-satu ia baca rambu
biar tak sasar serupa masa lalu
yang kelam melebihi malam
dan di tapal mekar fajar dan pagi kelabu
ia berkhayal tentang alamat
semacam rumah tempat menambat penat
dan menyimpan kenangan
meski selalu bandang airmata
saban ia mengingatnya
Hujan Pagi Hari
Betapa santun hujan datang ini pagi
Rintik demi rintik
Rinai demi rinai
Dengan rela mengunjungi takdirnya
Meski harus pecah di batang-batang pinang
Di daun-daun rimbun
Di padang-padang gersang
Di jalan-jalan lengang
Di selasar pasar-pasar
Aku terpana
Dari balik gigil
Jemari angin yang lentik
Mengantar sekian rintik
Menuju kaca-kaca jendela
Bangku-bangku kayu ruang tunggu
Beranda muka rumah-rumah kayu
Dan ke wajahku
Lalu bercengkerama
Berbincang dan bernostalgia
Mengenang saat-saat yang lewat
Dengan bahasa begitu memesona
Amboi, aku ternganga
Dulu sekali aku pernah berkunjung ke tempat ini
Ketika bukit-bukit mengirim aroma lebat hutan dan rimbun daun
ujar sebutir rinai, lalu pecah berlari menuju lembah
Begitupun aku
Sekali waktu aku pernah bermukim di daerah ini
Ketika pohon-pohon belum menjelma gedung
Dan mata air belum berbalin air mata
Ujar rinai yang lain dengan bahasa begitu paripurna
Aku terkesima
Lalu tubuhku menjelma hutan tiba-tiba
Dan hujan menderas di mataku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar