Berpergian
maka kau akan mendapatkan ganti dari orang yang kamu tinggalkan berusahalah
,sesungguhnya kau dalam kehidupan adalah keberhasilan dalam usaha
- Ibarat
genangan air akan merusaknya bila mengalir maka akan banyak manfaatnya dan bila
dak mengalir akan busuk.
- Singa-singa bila tak keluar dari buminya tak akan mampu menerkam mangsanya dan anak panah bila tidak meninggalkan busurnya tak akan mampu mengenai sasarannya
- Emas murni laksana debu berserakkan di tempatnya dan kayuGaharu di buminya hanyalah kayu bakar biasa saja
- Bila kayu tersebut berkelana maka akan berharga mahal dan emas murni mengembara maka jadi emas perhiasan yang sangat mahal harganya
- Biarkanlah hari-hari berlalu melakukan apa yang di kehendakinya ,tenangkanlah hatimu apabila Qodho telah di putuskan.
- Janganlah megeluh karena peristiwa di malam yang kelam ,tak satupun peristiwa di dunia itu akan abadi
- Jadikanlah dirimu lalai – lalai yang tabah menghadapi segala cobaan .dan usahakanlah dirimu punya pekerti yang pemaaf dan memenuhi janji
- Rizqimu tidak akan berkurang dengan kehati-hatian dan kepayahanmu tidak akan pula menambah rizqi yang telah di tetapkan
- Bagaimanapu kehidupan itu akan bergulir terus dan terus…………………..
- Kalau aku miskin ,aku tetap bersyukur sebab aku tekah terlepas dari penyakit jiwa penyakit kesombongan yang banyak menimpa orang banyak,aku akan tetap beryukur karena tiada orang yang akan hasut dan dengki kepadaku ,lantaran kemiskinanku
- Kalau aku dari golongan biasa aku tetap akan bersyukur karena lebih baik aku menjadi pangkal kemuliaan istri dan anak-anakku
- Kalau aku punya sahabat,aku akan tetap bersyukur ,itu tandanya aku di hargai orang lain
- Kalau aku sakit aku tetap beryukur karena sudah terbukti aku adalah mahkluk lemah
-Kalau aku di lupakan orang ,aku tetap bersyukur karena lidah tidak banyka mencercaku,mulut tak banyak mencelaku tak ada orang yang dengki padaku ,tak banyak mata memandangku dan menjatughkanku…….
- Kalau kawanku berkhianat ,aku tetap bersyukur itu tandanya ia telagh memberikan jalan yang lapang buat diriku
- Kalau aku mencintai dan di cintai seseorang aku tetap bersyukur ,itu tandanya hidupku sangat berharga dan diperhatian orang lain
- Kalau aku mempunyai musuh bersyukurlah musuh-musuhmu adalah tangga untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi
- Kalau cintaku tak terbalas aku masih bisa bersyukur karena sesungguhnya orang yang menolakmu akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepadaku setelah jatuh dari matanya cinta yang lebih tinggi derajatnya daripada cinta lantaran hawa….
-Terpencil jauh membawa keuntungan insyaf ,kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan sehingga lantaran itu hati akan bersih laksana bejana kaca yang berisi air suci Yaitu air kekal yang di anugrahkan tuhan dengan itu kamu akan memperoleh juga kelak tempat merupakan “cinta” itu kalau tak ada pada insan akan ada yang lebih besar daripada insan
- Singa-singa bila tak keluar dari buminya tak akan mampu menerkam mangsanya dan anak panah bila tidak meninggalkan busurnya tak akan mampu mengenai sasarannya
- Emas murni laksana debu berserakkan di tempatnya dan kayuGaharu di buminya hanyalah kayu bakar biasa saja
- Bila kayu tersebut berkelana maka akan berharga mahal dan emas murni mengembara maka jadi emas perhiasan yang sangat mahal harganya
- Biarkanlah hari-hari berlalu melakukan apa yang di kehendakinya ,tenangkanlah hatimu apabila Qodho telah di putuskan.
- Janganlah megeluh karena peristiwa di malam yang kelam ,tak satupun peristiwa di dunia itu akan abadi
- Jadikanlah dirimu lalai – lalai yang tabah menghadapi segala cobaan .dan usahakanlah dirimu punya pekerti yang pemaaf dan memenuhi janji
- Rizqimu tidak akan berkurang dengan kehati-hatian dan kepayahanmu tidak akan pula menambah rizqi yang telah di tetapkan
- Bagaimanapu kehidupan itu akan bergulir terus dan terus…………………..
- Kalau aku miskin ,aku tetap bersyukur sebab aku tekah terlepas dari penyakit jiwa penyakit kesombongan yang banyak menimpa orang banyak,aku akan tetap beryukur karena tiada orang yang akan hasut dan dengki kepadaku ,lantaran kemiskinanku
- Kalau aku dari golongan biasa aku tetap akan bersyukur karena lebih baik aku menjadi pangkal kemuliaan istri dan anak-anakku
- Kalau aku punya sahabat,aku akan tetap bersyukur ,itu tandanya aku di hargai orang lain
- Kalau aku sakit aku tetap beryukur karena sudah terbukti aku adalah mahkluk lemah
-Kalau aku di lupakan orang ,aku tetap bersyukur karena lidah tidak banyka mencercaku,mulut tak banyak mencelaku tak ada orang yang dengki padaku ,tak banyak mata memandangku dan menjatughkanku…….
- Kalau kawanku berkhianat ,aku tetap bersyukur itu tandanya ia telagh memberikan jalan yang lapang buat diriku
- Kalau aku mencintai dan di cintai seseorang aku tetap bersyukur ,itu tandanya hidupku sangat berharga dan diperhatian orang lain
- Kalau aku mempunyai musuh bersyukurlah musuh-musuhmu adalah tangga untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi
- Kalau cintaku tak terbalas aku masih bisa bersyukur karena sesungguhnya orang yang menolakmu akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepadaku setelah jatuh dari matanya cinta yang lebih tinggi derajatnya daripada cinta lantaran hawa….
-Terpencil jauh membawa keuntungan insyaf ,kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan sehingga lantaran itu hati akan bersih laksana bejana kaca yang berisi air suci Yaitu air kekal yang di anugrahkan tuhan dengan itu kamu akan memperoleh juga kelak tempat merupakan “cinta” itu kalau tak ada pada insan akan ada yang lebih besar daripada insan
All About "Mbah Mah"
"My Inspiration, Forever and For
Always"
Siapa bilang perempuan
seusianya hanya bisa mengeluh, meratapi nasib sebagai seorang tua yang
seperti tidak ada kerjaan lain selain berpasrah diri menunggu datangnya ajal
menjemput. Di usianya yang sudah 50-an lebih ia masih tetap semangat
menjalani hidup. Senyumnya selalu mengembang, menyapa setiap orang yang biasa
lewat di depan rumahnya. Jalan hidupnya memang tidak seberuntung
perempuan-perempuan lainnya. Ia harus menjadi kepala rumah tangga
menggantikan suaminya, ditambah lagi ketidak mampuannya memberikan seorang
anak semakin menambah bebannya sebagai seorang perempuan. Tapi karena peran
itulah menjadikan ia sebagai sosok perempuan yang tangguh layaknya batu
karang yang tidak pernah lekang dihantam ganasnya ombak dilautan.
Kala itu, semenjak Mbah
Aki divonis stroke oleh dokter segala beban seakan ditimpakan kepadanya yang
terasa amat berat. Apalagi ditambah perkataan dokter yang menyebutkan
penyakit strokenya itu disebabkan karena suatu keinginan yang tidak terwujud
yang pada akhirnya menjadi beban pikiran yang tak mampu untuk ia tanggung
sendiri.
Memang, dari pertama kali
mereka merangkai mimpi dengan cinta hingga dalam ikatan perkawinan, kehadiran
sang buah hatilah yang selalu mereka dambakan. Sang buah hati yang akan
menjadi pewaris kehidupannya, bukti keberadaannya bahwa mereka pernah hidup
di dunia. Tangisannya akan menjadi sumbangsih bagi dunia yang tidak sempat
mereka manfaatkan untuk bisa menjadi makhluk yang berguna. Penyesalan memang
hanya akan datang dikemudian hari tapi kuasa Tuhan adalah sang penentu, maka
tidak ada guna jika masih terus menyesalinya.
Ia merasa masih belum menjadi
wanita seutuhnya. Seorang ibu yang diamanahi Tuhan untuk bisa merasakan jerih
payahnya melahirkan, merawatnya serta membesarkannya dengan kasih sayang dan
penuh perjuangan hingga sang buah hati tumbuh sesuai harapan.
"Mbah tidak terlalu
banayak berharap...!!!", ucapnya sambil membawakan sepiring nasi
untukku.
"Mbah cuma masih
merasa bersalah kepada Mbah Aki, karena semenjak kami menikah tidak ada
keinginan lain kecuali hadirnya sang buah hati sebagai wujud buah dari pohon
cinta yang telah kami tanam", smabari duduk menemaniku makan. Tak jauh
dari tempat ia duduk, sang suami hanya diam membisu. Penyakitnya itu telah
membuat ia kehilangan kata-kata. Pendengarannya pun tidak begitu jelas,
kesehariannya hanya bisa duduk menatap nanar tanpa bisa berbuat apa-apa.
Hanya itulah yang bisa ia lakukan sebagai kepala rumah tangga sambil terus
berharap dengan sisa tenaga seorang tua untuk bisa sembuh dari penyakit
strokenya.
"Mbah tidak akan
sanggup menggugat Tuhan karena dengan segala kemurahan-Nya Mbah tidak akan
pernah mampu untuk menghitungnya. Tapi kenapa harus ini..??, kenapa harus
seorang anakyang selalu menjadi penghalang rasa syukur Mbah
kepada-Nya..???".
"Sudahlah...
Mbah", ucapku.
"Hidup ini tidak
mesti sempurna, Tuhan berkehendak terhadap makhluk-Nya yang seringakali
kehendaknya itu tidak sesuai dengan keinginan mereka, tapi sejatinya itulah
yang terbaik bagi mereka".
Aku mencoba menenangkan
gejolak jiwanya yang kerap kali datang, dan seringkali mengundang tangisan
yang tanpa terasa akan keluar membasahi kulit keriput di sekitar matanya.
Gejolak jiwanya akan melakukan protes, dan seperti biasanya tanpa sadar ia
seperti orang kerasukan, perkataanya dibumbui amarah sambil menyalahkan
setiap orang yang tidak sependapat dengannya seperti pendapatku kali ini.
"Apanya yang
terbaik..???, yang terbaik bagi Mbah sebagai seorang istri hanyalah mendengar
tangisan bayi yang akan membangunkan Mbah ditengah malam. Kemudian Mbah akan
menyusuinya agar ia bisa tidur kembali, sambil mendendangkan syair-syair
pengantar tidur sehingga ia tertidur dengan lelap, kemudian tangisan itu
kembali terdengar kala sinar pagi menyilaukan matanya yang masih
terkatup-katup serta menyinari anggota badannya yang masih
kemerah-merahan".
Kalau sudah seperti itu
aku harus buru-buru membuyarkan lamunannya dengan mengeluarkan bebrapa lembar
ribuan kemudian pamit pergi meninggalkannya seorang diri. Yah, ia kadang
seperti orang labil bila menyangkut seorang anak yang akan membuat hatinya
sakit. Rasa bersalahnya tiba-tiba muncul mengahantui perasaannya.
ITapi bagiku ia tetap
seorang pahlawan yang tidak kenal menyerah, kesabarannya dalam menjalani
hidup patut diacungi jempol walaupun bagi sebagian perempuan adalah pekerjaan
yang membosankan.
######
Hidupnya terasa hampa
mulai dari dulu sampai sekarang seperti tidak ada bedanya, berjalan seiring
waktu tapi entah sampai kapan..??? entah apakah ia masih sanggup menjadi
suami bagi Mbah Aki..??? entah pakah ia cukup kuat melihat perempuan
seusianya begitu dimanja oleh anak-anaknya..??? dikelilingi derai tawa
cucu-cucunya..???. Terkadang suara taw aanak-anak kecil yang setiap saat
bermain-main di sekitar rumahnya menambah perih perasaannya akan hadirnya
seorang anak. Mungkin kerena kesetiaannya kepada Mbah Aki yang membuatnya
masih tetap bertahan sampai kapanpun, kesetiaan yang mengatas namakan cinta
bukan karena nafsu belaka.
Aku mengaguminya sebagai
sosok seorang ibu. Pengganti ibuku yang jauh d seberang sana. Sebagai seorang
rantau begitu mengaguminya bukan karena ia sebagai tempat pelarian jika
kirimanku terlambat datang. Bukan juga kedermawanannya yang seringkali
membikinkan aku kolak pisang, tapi ketegarannya dalam menghadapi hidup, serta
perjuangannya yang tidak mengenal batas usia begitu menginspirasiku, bahkan
terkadang membuatku malu sebagi seorang pria.
"Kamu itu laki-laki
atau perempuan sih..??", tanya ia kepadaku waktu itu.
"Kiriman lambat satu
hari saja sudah kayak cacing kepanasan".
Perkataannya seringkali
membuatku malu dengan sikapku. Aku memang tidak segan-segan meminta
nasehatnya jika sedang ada masalah sekecil apapun ia akan memberi pendapatnya
sambil sesekali menyindirku.
Ia adalah sosok yang
tangguh sekaligus guru yang bijak didalam menjalani hidup ini. Ia bukan
seorang tua yang hanya duduk-duduk di kursi depan rumahnya sambil menikmati
indahnya masa tua. Bukan pula seperti di penampungan lanjut usia yang tak
ubahnya rumah kematian baginya Ia bukan tipe pemalas yang suka memanfaatkan
otot-otot tuanya yang sudaj kendur. Ia tidak mau mengeluh meminta balas jasa
terhadap siapapun, apalagi dengan tidak adanya seorang anak semakin menambah
pendiriannya untuk tetap berdiri dengan kaki sendiri tanpa menyusahkan orang
lain. Ia sangat yakin Tuhan tidak akan membiarkannya seorang diri, ia percaya
masa tua adalah masa pensiunnya nafsu keinginan dunia agar memanfaatkan
kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menyembah kepada-Nya sebagai bekal
sangu ketika ajal menjemput.
"Kamu tidak perlu
memuji Mbah seperti itu, Mbah tidak sebaik yang kamu katakan. Kebaikan Mbah
karena bentuk tanggung jawab seorang istri sekaligus sebagai suami yang mau
tidak mau harus Mbah jalani. Perempuan-perempuan lain akan melakukan seperti
itu juga jika memang kondisinya sama seperti Mbah. Mbah hanyalah seorang
perempuan tua yang sedang putus asa karena dituntut keadaan yang mau tidak
mau harus Mbah kerjakan".
"Tapi Mbah
malakukannya dengan ikhlaskan...???", tanyaku mencoba membantahnya.
"Ikhlas apa enggak
Mbah tidak bisa menjelaskannya, tapi mbah akan tetap mencoba bertahan semampu
Mbah. Semampu Mbah bisa merawat Mbah Aki tanpa berharap ia akan memaafkan
Mbah, karena ketidak mampuan Mbah memberinya seorang anak. Mbah akan
melakukannya hingga menajdi suatu kebiasaan dan kebiasaan itu akan menjadi
ketergantungan yang menjadi wajib untuk Mbah laksanakan. Maka dengan seperti
itu ikhlas akan muncul dengan sendirinya,s eiring dengan kebiasaan-kebiasaan
yang telah Mbah lakukan".
"Lantas dimana letak
keikhlasan itu Mbah..???", tanyaku.
" Segala sesuatunya
itu butuh proses, penciptaan manusiapun butuh proses, dan itu merupakan
petunjuk Tuhan kepada hamba-Nya, untuk melakukan sesuatu harus melalui
proses. Begitu juga dengan ikhlas, suatu perbuatan tidak bisa dikatakan
ikhlas jika hanya dengan satu sikap yang mencerminkan ikhlas. Tapi butuh
banyak sikap yang pada akhirnya tidak membutuhkan cermin untuk bisa
menyikapinya".
Jawabannya begitu indah
laksana bahsa sang penyair dengan berjuta kandungan makna didalamnya. Manusia
memang terlalu pongah tanpa melalui proses terlebih dulu. Kita kadangkala
terlalu sulit untuk mengakuinya bahwa ia memang lebih baik dari kita. Kita
terlalu enggan untuk mengatakan bahwa kita memang labih bodoh, lebih jelek,
bahkan lebih buruk ketimbang dia. Kita masih lebih mengedepankan gengsi
daripada bukti nyata. KIta lebih menghalalkan segala cara daripada dianggap
hina, toh, kehinaan itu hanya di hadapan manusia. Manusia hanyalah sebagian
dari hewan yang apabila tidak bisa menggunakan otaknya mereka layaknya hewan
buas yang sok berkuasa, bertindak semaunya, memangsa terhadap yang lemah,
tidak punya rasa malu serta hewan yang rakus dan penuh tipu daya.
"Berarti keikhlasan
itu butuh kesetiaan juga Mbah..???",
"Antara keduanya
memang saling membutuhkan. Keikhlasan akan membutuhkan kesetiaan yang amat
panjang dan melelahkan".
"Apalah... Mbah ini,
Mbah hanyalah hamba yang labil dan mudah goyah, yang gampang sekali mengeluh.
Bahkan seringkali menuntut diluar kesadaran Mbah. Apalah.... Mbah ini,
sebagai seorang istri dari suami yang sama sekali tidak berfungsi. Apalah...
Mbah ini, yang kesehariannya hanya menjual nasi dan itupun kalau ada yang mau
beli. Apalah... Mbah yang sampai setua ini harus melakukan segala sesuatunya
seorang diri, dan apalah artinya semua ini, jika tanpa sebuah kesetiaan yang
membuat Mbah bisa berjalan sampai sejauh ini. Kesetiaan yang tidak hanya Mbah
ikrarkan untuk mengabdi kepada suami, tapi kesetiaan seorang hamba untuk
tetap melaksanakan petunjuk dan ketentuan Tuhan-Nya. Laksana matahari yang tanpa
henti memberi energi kepada segenap makhluk di muka bumi. Laksana sinar
rembulan sebagai penunjuk jalan di kala malam beranjak petang, serta
makhluk-makhluk ciptaan yang tidak pernah berhenti ataupun bosan mengabdi
dengan patuh, sambil mendendangkan syair-syair pujian atas sifat-sifat
keagungan serta ke-Esaan sang penciptan-Nya".
Kesetiaan inilah yang
menadi kunci kedua pasangan ini untuk menjelajahi hidup, berpetualang
didalamnya sambil menyelam mencari titik temu, dari berbagai macam misteri
dan rahasia Ilahi yang membutuhkan ujung pangkal dari segala persoalan yang
tidak pernah kunung usai.
######
Dulu sewaktu Mbah Aki
divonis stroke, ia telah memberi lampu hijau kepada Mbah agar kawin lagi.
Mbah disuruh mencari pengganti sang arjuna yang bisa membuatnya menjadi
wanita seutuhnya. Tapi buat Mbah tidak seperti pepatah bilang; "Habis
manis sepah dibuang", yang menurutnya walau bagaimanapun sepah itu telah
berjasa memberinya rasa manis semanis gula sebagai penghantar dikala ia
dahaga. Begitu juga ketika ia divonis mandul oleh dokter, ia tidak pernah
meliaht ketukusan Mbah Ali jadi berkurang. Mbah Aki tidak pernah sedikitpun
menampakkan kekecewaannya walaupun sebenarnya ia tahu Mbah Aki memendamnya
sedalam mungkin. Mbah Aki malah seringkali memujinya bahwa ia adalah
satu-satunya perempuan di dunia yang Tuhan ciptakan sebagai pendampingnya di
surga. Ia tidak aka rela jika sang arjuna yang begitu memujinya harus ia
korbankan demi sebuah keinginan yang menjadi dambaan setiap perempuan. Ia
ingin seperti Kartini yang menjadi inspirasi dengan emansipasinya. Ia ingin
seperti Rabi'ah Al-Adawiyah dengan kemurnian cintanya, atau seperti Sitti
Khadijah dengan pengorbanan dan ketulusannya yang tanpa pamrih.
Siapa bilang perempuan
seusianya hanya bisa mengeluh, meratapi nasib sebagai seorang tua yang
seperti tidak ada kerjaan lain selain berpasrah diri menunggu datangnya ajal
menjemput.
Lasem, Rembang, Jawa Tengah, 07
Januari 2008
|
Tanda Kematian
Hujan seakan menumpahkan
segala keluh kesahnya akan kemarau. Gemuruhnya laksana raungan Marfuah,
tetangga desa sebelah yang dua hari yang lalu ditinggal mati sang suami,
mengerang layaknya orang kesurupan. Bukan karena ia kerasukan arwah Jamal
yang menurut cerita tidak jelas asal muasalnya; bukan pula masalah perbedaan
usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Jamal, sehingga secara akal-akalan
matinya pun lebih cepat.
Untuk urusan yang satu ini
Marfuah cukup tahu diri dan sadar sesadar-sadarnya, bahwa wajahnya yang
kurang diminati-sebagaimana kebiasaan para wanita di kampung yang nikahnya
dengan lelaki yang umurnya terpaut jauh darinya, karena salah satunya adalah
faktor itu- harus Marfuah terima dengan lapang dada dan mesti ia pertanggung
jawabkan dengan jalan tidak pilah pilih pasangan hidup.
Marfuah menangis karena ia
merasa sangat kehilangan suaminya yang begitu mencintainya dan sanggup
menerima kekurangannya lebih dari siapapun. Ia merasa telah kehilangan
satu-satunya orang yang telah menjadikan dirinya layaknya permaisuri raja, di
kerajaan dunia yang hanya milik mereka berdua. Kepergian Jamal serasa bagai
gemuruh petir yang disertai angin kencang, suasana hati Marfuah yang lara
dengan hujan yang acapkali menyajikan pesan kematian.
Ibu masih berbaring di
atas kasur, suhu badannya masih belum turun, masih seperti hari-hari
sebelumnya. Penyakit kencing manis yang diidapnya tiba-tiba kambuh sejak ia
melayat Marfuah yang ditinggal mati suaminya itu, dan disusul kemudian
kematian Bibi yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumahku. Dokter bilang
kadar gulanya naik hingga beberapa persen dan dokter menganjurkan agar Ibu
mengurangi makanan-makanan pedas dan berlemak kesukaannya.
Penyakit memang terkadang
suka menyesuaikan keberadaannya dengan objek pesakitannya. Ia tidak hanya
bisa menggantungkan eksistensinya pada kondisi cuaca yang tidak menentu saja,
atau pada saat melihat keponakanku yang sedang bermain hujan-hujanan seperti
saat ini. Ia terkadang menyerupai syahwat, ketika kebutuhannya akan gairah,
tidak ada yang mampu mengikatnya kecuali pikirannya sendiri.
Kematian Bibi hanya
beberapa hari setelah kedatangannya dari tanah suci. Usianya yang tidak
begitu jauh dari ibuku meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang sebayanya,
terlebih ibuku yang seketika merasa kurang percaya diri, menjalani jamannya
yang sepi ditinggal pergi teman-teman sepermainan semasa kecil, yang satu per
satu seperti rontok layaknya daun berguguran seiring usia yang
menggerogotinya.
Ya, maut pun seakan
menyesuaikan keberadaannya dengan musim penghujan, ia datang bagaikan
mendung, seringkali ketika kita harus mencari perlindungannya tanpa menyadari
kita malah sudah direnggut olehnya.
######
Bibiku orang yang baik,
hal itu bisa dinilai dari banyaknya orang yang datang untuk melayat
kematiannya. Walau menurutku terkesan tragis, karena di antara orang yang
melayat sebagian dari mereka banyak yang masih belum sempat bertamu untuk
menyambut kedatangannya dari tanah suci sekaligus juga untuk meminta doanya,
sebagaimana kepercayaan masyarakat bahwa orang yang baru datang dari tanah
suci itu layaknya bayi yang baru dilahirkan kembali, bersih dari dosa-dosa
tanggungan sehingga doanya pun dikabulkan. Prihatin dan mengundang iba,
karena mereka harus menyatukannya menyambut kedatangan Bibi sekaligus juga
melepas kepergiannya untuk selama lamanya.
Kesakralan Kabah yang
mampu melebur dosa-dosa tanggungan badan, mengulitinya berganti kulit baru
sehingga doa-doa pun begitu mudahnya didengar, diterima kemudian dipertanggung
jawabkannya dalam tingkah laku keseharian.
Hal yang menimpa bibi
dengan kematiannya yang disepakati sebagai khusnul khotimah-sebagai hasil
penilaian di mata manusia dari petualangan hidup yang berakhir dengan bagus,
yang senantiasa terucap disetiap doa-doa yang kita mohon- dan sekaligus juga
ia seakan mewasiatkan sesuatu. Setidaknya hal tersebut tergambar jelas dengan
melihat kondisi ibuku dengan penyakitnya yang tiba-tiba kambuh.
Ibu memang tidak akan
pernah mengungkapkannya secara langsung bahwa sesungguhnya ia sedang dilanda
ketakutan akan datangnya kematian. Semua orang pasti akan setuju jika
terjadinya musibah itu adalah suatu pertanda bagi yang hidup. Begitupun ibuku
yang merasakan pertanda itu seperti kentut yang tidak tahu kapan dan bagaimana
ia datang. Tapi kehadirannya betul-betul terasa dekat dan mencekam.
Apalagi dengan kematian
Bibi semakin menjadikan pertanda itu kian terasa dekat. Menghantui
mimpi-mimpi dalam tidurnya, memecut kesadarannya yang lengah dan menggelisahi
jiwanya yang membuat Ibu seringkali murung.
"Bibimu mewasiatkan
kepadaku, bahwa tidak akan lama lagi akan tiba giliranku menyusul
kepergiannya." Prasangka yang mudah dibaca yang acapkali menggerayangi
pikirannya tentang kematian. Wajah murung Ibu dengan rona kekhawatiran yang
serapat mungkin ia tutup-tutupi diusianya yang menjelang senja.
Sebenarnya wasiat itu bisa
berbentuk apapun, bisa dengan ucapan atau tingkah laku keseharian. Tidak
perlu ada hitam di atas putih untuk membuktikan kebenarannya, kita hanya
perlu kepekaan batin sebagai perantara wasiat itu dapat kita baca dan bisa
dipahami maksud dan tujuannya, dan ia pun dapat dimengerti ketika menjadi
rangkaian cerita yang sudah berlalu, serupa ending dalam pementasan sebuah
drama. Hasil akhir yang tentu tidak bisa dengan seenaknya saja kita tebak
layaknya lakon drama itu sendiri, ia membutuhkan tangis Marfuah dan kondisi
Ibu yang tiba-tiba sakit.
Menurut anak paling bungsu
bibiku sekaligus saudara sepupuku, yang pemakaman Bibi ditangguhkan karena
menunggu kedatangannya dari tanah rantau hingga sampai jam 00.23 malam,
sembari berkaca-kaca ia bercerita; bahwa setelah kedatangannya dari tanah
suci ada yang aneh dari Bibi, keanehan itu ketika para tamu meminta doa
barokah kedatangannya. Entah disengaja atau tidak, Bibi mengubah setiap
kalimat yang harusnya dibaca Na (dalam bahasa Arab yang berarti
"Kami") malah dibaca Ni (dalam bahasa Arab yang berarti
"Saya"). Salah peletakan kata sandang yang dalam bahasa Arab
dikenal dengan istilah dlomir itu sebenarnya akan segera ditegur, karena
makna dari doa tersebut akan mengubah maksud yang lebih condong untuk pribadi
bukan untuk orang banyak sebagaimana yang diharapkan. Namun hingga setelah
kematiannya, teguran itu tidak sempat diutarakan, dan menurut sepupuku
keanehan itu adalah sebagai bagian dari tanda-tanda kepergiannya itu.
Masih menurut cerita
sepupuku itu, berdasarkan kitab yang ia baca, sebenarnya empat puluh hari
sebelum seseorang itu meninggal, orang tersebut sudah berupa mayat hidup
dengan mata batin yang sanggup melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang
kebanyakan. Selama empat puluh hari tersebut keanehan kerap kali muncul,
semisal melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan seperti apa yang telah
Bibi lakukan, dan biasanya keanehan tersebut akan kita sadari setelah orang
tersebut meninggal.
Kematian Jamal pun
meninggalkan cerita aneh. Menurut Marfuah sebelum kepergiannya itu Jamal
acapkali berperilaku tidak seperti biasanya, semisal ia begitu perhatian
kepada dirinya dan kedua anaknya. Seminggu sebelum kematiannya Jamal sempat
membelikan dirinya dan kedua anaknya itu baju baru, bahkan Jamal mengajaknya
langsung ke toko dan menyuruhnya memilih sesuai keinginan dengan harga
berapapun. Marfuah sempat protes ketika itu, karena menurutnya lebih baik
uangnya ditabung atau digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih
bermanfaat, untuk urusan baju baru ia dan kedua anaknya sudah terbiasa
membelinya setahun sekali ketika menjelang hari raya tiba. Namun Jamal
memaksa dan menenangkan kekhawatirannya, sehingga mau tidak mau Marfuah pun
harus menuruti keinginan suami tercintanya itu.
######
Ibu yang harus menanggung
keempat anaknya yang masih sekolah, seperti memanggul beban berat di usianya
yang memasuki renta. Kematian Bapak sabagai pemimpin keluarga secara otomatis
akan dialihkan kepadanya, beban yang harus ia pikul walau tidak sepenuhnya ia
menanggungnya seorang diri.
"Sar, cobalah kau
bersabar dulu Sar, apa salahnya kau bersabar...!!!"
Kata-kata itu kerap kali
keluar dari kedua bibirnya yang mudah pasrah, untuk melakukan tindakan yang
lebih jauh lagi melampaui kodrat kewanitaannya. Beban psikologis sekaligus
beban tanggungan yang harus ia emban membuatnya menjadi wanita seutuhnya.
Sebenarnya tidak hanya
kematian Marfuah dan kematian bibiku sebagai efek dari kekhawatiran Ibu.
Selama setahun ini berita duka di desaku seperti suara Sri teman kampusku
yang kuliah sembari bekerja sebagai asisten sorang bidan. Tugasnya yang
memanggil para pasien yang sedang antri untuk berobat, seperti suara
panggilan ajal di desaku yang seakan silih berganti memanggil secara
bergiliran para pemilik ruh untuk membawanya berkalang tanah.
Di setiap beberapa bulan,
berita duka itu acapkali terdengar membuat anak-anak kecil menangis ketakutan.
Bahkan tidak sampai satu bulan pun berita itu terdengar hingga menjadikan
anak-anak kecil itu kini malah tidak lagi ketakutan. Sasarannya pun hampir
bisa dipastikan, para petualang tua yang sudah lelah dan penat mengarungi
dunia, dan hanya sebagian dari para pemula yang patut bersyukur karena tidak
harus berlelah-lelah dan berpenat-penat ria mengarungi dunia. Seperti
keponakanku misalnya yang tidak perlu lelah mengarungi dunia, karena sejak
lahir ia sudah sakit-sakitan dan beragam usaha telah dilakukan, mulai dari
yang berbau takhayul sampai yang riil, hingga usaha puncak ketika ia harus
dibawa ke Surabaya karena rumah sakit setempat sudah tidak sanggup lagi
mengobatinya.
Wajar saja jika hantu
kematian bagi Ibu kini seperti bau tanah pekuburan bibiku yang baru kemarin
dikebumikan, semerbaknya yang khas seharum tanah gersang sehabis dibasahi
hujan. Keberadaannya yang gaib seakan-akan menggerayangi pikiran Ibu,
merantainya dalam kisaran waktu yang di luar kendalinya, terperangkap dalam
ruang serupa dalam sel tahanan yang memenjarakan jiwanya yang berbadan
manusia.
Karena Ibu sudah tidak
lagi muda. Raut mulus dan kencang sisa kecantikan di wajahnya yang membuat
Bapak termehek-mehek perlahan mengkerut berganti keriput, hanya kulit putih
sebagai bawaan gen yang masih menjadikannya tetap bersinar layaknya mentari
di pagi hari sehabis semalaman bergelut dengan petang. Gigi-giginya pun tidak
lagi berderet rapi, ompong di sana sini dengan senyum jarang yang seringkali
dipaksakan. Rambutnya yang menjuntai panjang, perlahan digerogoti rontok dan
tak terurus acak-acakan, dan uban telah mengganti pewarna rambutnya yang
hitam.
Rambut memutih yang
mempunyai cerita, dan cerita yang masih berdasarkan kitab yang sama dengan
kitab yang dibaca sepupuku itu. Cerita tentang Izrail yang melakukan
perjanjian dengan seseorang dan sebut saja si fulan yang berjanji untuk
memberitahu kapan datangnya kematian itu. Si fulan meminta agar sebelum ia
mati ia diberitahu terlebih dulu agar ia bisa mempersiapkan diri sebelum
kematian menjemputnya.
Setelah hari berlalu
dengan terburu-buru menjadi seminggu seakan-akan dikejar sesuatu, dan bulan
pun berlari cepat mengikuti langkah hari menjadi tahun, dan tahun pun saling
berkejaran tanpa terasa. Namun Izrail tidak pernah lagi mendatanginya, hingga
ia tua dengan uban di kepalanya yang mulai banyak tumbuh. Suaranya tidak lagi
terdengar nyaring seperti di waktu ia muda dulu. Tulang-tulangnya yang kuat
mulai rapuh, otot-ototnya yang kekar sudah tidak lagi mampu menanggung beban
berat semisal cangkul yang sewaktu muda dulu ia dengan mudahnya membawanya
dengan hanya memakai tangan kiri. Hingga ia pun merasa ajalnya sudah dekat,
dan tanda-tanda kedatangan Izrail yang ia tunggu-tunggu untuk memberitahu
kapan kematiannya tiba masih juga belum ada tanda.
Ketika
ketidak-berdayaannya telah mencapai puncak, tiba-tiba Izrail mendatanginya.
Tapi kedatangannya kini tidak sesuai harapan si fulan, Izrail datang untuk
mencabut nyawanya. Ia pun protes dan menyalahkan Izrail karena tidak memenuhi
janjinya itu, dan baginya hukum alam pun berlaku sebagaimana ketentuannya,
penyesalannya yang terlambat tidak akan berarti apa-apa.
Setelah ia menyampaikan
protesnya yang dibumbui amarah sembari menyumpahi Izrail yang menurutnya
tidak bisa dipercaya, Izrail pun secara panjang lebar menjelaskan bahwa
tanda-tanda itu sebenarnya sudah sejak dulu telah ia kabarkan kepadanya.
Salah satu tanda itu adalah rambutnya yang memutih, suaranya yang tidak lagi
lantang, kulit yang berganti keriput, dan lain-lainnya yang berkaitan dengan
keberadaan anggota badan si fulan yang begitu ia agung-agungkan. Selang
setelah itu Izrail pun mencabut nyawa si fulan dengan membawa penyesalannya
karena ia tidak sempat membaca tanda-tanda yang telah dikirimkan Izrail itu.
Izrail akan terus
mengisyaratkan tanda-tanda itu agar kejadian yang sama tidak terulang kembali
seperti yang telah menimpa si fulan. Keinginan Izrail yang terbukti ampuh
dengan melihat kondisi ibuku saat ini, keinginan yang seketika direspon
dengan antusiasme tinggi yang membebani pikiran Ibu.
Pesan kematian itu
layaknya bom waktu yang setiap saat meminta tumbal. Tidak ada seremonial,
tidak ada ritual-ritual perpisahan untuk menyambut kedatangan Izrail
sekaligus juga sebagai upaya merayunya untuk sedikit berbelas kasihan
mencabut nyawa kita dengan cara damai.
"Kita tidak akan
pernah tahu apa yang akan terjadi besok..??"
"Tidak banyak amal
baik yang bisa aku bawa untuk menghadap-Nya..?? Hidup ini berat"
"Siapa yang akan
membiayai adik-adikmu itu jika aku meninggal..?? Mereka masih belum bisa
mandiri dan masih butuh banyak bimbingan."
Pertanyaan-pertanyaan yang
tidak pernah sekali pun ia ungkapkan, namun dapat kubaca dengan jelas dari
raut wajahnya yang seringkali ia paksakan agar tetap secerah senyum mentari
di pagi hari. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, karena jawaban yang
diinginkannya masih berupa mendung yang menggantung, entah apakah akan turun
hujan atau tidak. Sedangkan Ibu masih berbaring di atas kasur, dengan suhu
badannya yang masih belum juga turun.
|
Berdiri Di Atas Liang
Lahatnya
yang Belum Digali
Sudah sekian lama Umar
berada di tengah hutan belantara ini. Tapi entah mengapa baru kali ini ia
merasa tersesat. Hutan yang sekarang ia tempati kini berubah angker. Padahal
dulu, hutan ini adalah surga yang telah menjadikannya seorang raja, dengan
gelimang harta serta keelokan para bidadarinya yang tiada rupa. Tapi sekarang,
nafsu berpetualangnya telah menjadikan nyalinya berubah ciut. Tempat-tempat
yang dulu pernah ia singgahi, kini baginya seperti pekuburan, berbagai macam
dedemit bergentayangan.
Sedangkan ia dikelilingi
gelap yang merambat semakin pekat, hanyalah hitam yang mencoba merangkulnya
kian dekat. Mungkin, ia juga akan dicekiknya sampai tidak mampu bernafas.
Hawa dingin menggelitik sekujur tubuhnya, Umar menggelinjang dihantui
ketakutan. Umar mendekap tubuhnya begitu erat, andai ia di rumah ia akan membungkus
badannya dengan selimut tebal, setebal mungkin sampai ia tidak bisa merasakan
apapun.
Tapi dimana jalan itu agar
ia bisa pulang..?? ia sudah lupa jalan untuk pulang. Jalan yang di sisinya
ditumbuhi pepohonan pisang, hingga memasuki halaman depan rumahnya. Ia rindu
sewaktu kecil, ketika sang Bapak seringkali memarahinya agar ia shalat. Ia
rindu sang Ibu yang tidak pernah bosan memberi wejangan makna hidup,
menjalani hidup sesuai tuntutan agama. Umar rindu ketika semuanya itu ia
seringkali membandel, mencari-cari alasan agar ia bisa menghindar dari ocehan
mereka.
Kengerian semakin
menjadi-jadi. Kini baginya tampak jelas, disekelilingnya para dedemit tertawa
terkekeh-kekeh. Tidak seperti dulu wajah dedemit-dedemit itu kini berubah
menyeramkan, dipenuhi hawa nafsu memburu. Hanya baju kebesarannya yang masih
tetap sama, bermahkotakan emas permata serta para bidadari yang telanjang
sambil bergelayut mesra.
Umar ditawari secangkir
minuman sebagai penghangat badan, Umar merasa ragu untuk mengambilnya.
Jangan-jangan, ini hanyalah akal-akalan mereka menawarinya tuak, sehingga ia
semakin terperosok kedalam jurang yang di dalamnya seperti api neraka..??.
Umar tidak mau dipanggang hidup-hidup, dan dijadikan tumbal para dedemit
sebagai pelampiasan jiwa mereka yang dilaknat. Lekas-lekas Umar tolak tawaran
mereka, walau ia sangat menginginkannya. Mereka semakin terkekeh sembari lari
terbirit-birit, semakin keras tawa mereka dari kejauhan karena kesal.
Kini ia merasa sebagai
anak durhaka yang telah menelantarkan Ibu Bapaknya seorang diri. Entah apakah
mereka masih menjadi penghuni bumi, atau sudah menjadi bagian yang terkubur
di dalamnya..??. Rasa bersalahnya berlipat berganda-ganda, semakin berlipat
hingga Umar terlipat didalamnya. Apakah ia akan seperti Malin Kundang, dan
sebentar lagi menjadi batu..??. Atau mungkin tersesat di tengah belantara
hutan ini, hingga ia menjadi bagian dari dedemit yang tidak mempunyai tempat
peraduan..??.
Lalu kemudian para dedemit
itu kembali membawa sederet pasukan, lengkap dengan segala kesenangan dan
kemewahan istana hutan. Tapi tetap saja wajah mereka yang seram semakin
bertambah seram. Malah sebagian dari pasukan itu tidak berkepala, buntung di
lehernya menyisakan urat-urat yang terjulur keluar, menyembur darah yang
membuat merah sekujur tubuhnya. Hanya kedua tangan mereka yang membawa segala
pernak pernik istana hutan membuat Umar agak tergiur. Apalagi sebuah selimut
tebal yang diusung para bidadari yang berjalan lenggak lenggok, semakin
tubuhnya menggigil kedinginan. Ingin sekali Umar mengambil selimut itu untuk
menutupi tubuhnya, lalu menghangatinya dengan kemolekan tubuh sang bidadari.
######
Tidak..!!, Umar bilang
tidak dengan mantap. Untuk yang kedua kalinya Umar menolak tawaran itu.
Sebersit cahaya mulai tampak walaupun agak remang-remang. Tapi Umar
berkeyakinan bahwa cahaya itu akan semakin terang, seperti di kala subuh
menapaki pagi perlahan-lahan. Umar hanya tinggal menunggu mentari pagi itu
menyilaukan sepasang mata dari kantuknya. Pagi yang penuh energy, memasok
semangat baru bagi para penghuni bumi untuk beraktivitas kembali.
“Tapi sekarang masih
terlalu malam”, sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya.
“Cahaya itu secercah sang
fajar yang awal munculnya adalah bohong. Cahayanya seringkali membuat kasat
mata, menjadikan kita tertipu, lalu kemudian membungkuk kepada sesuatu yang
sia-sia. Tidakkah patut disayangkan, ketika cahayanya yang sengaja
bersembunyi dibalik malam membohongimu untuk menyembah dihadapan-Nya..??.
Padahal sebentar kemudian ia akan mengejekmu sambil memamerkan cahaya
kebenarannya”. Umar bingung. Jangan-jangan suara para dedemit yang memang
sengaja membuatnya bimbang.
“Tunggulah sebentar lagi,
bersabarlah..!! Jadikanlah ini sebuah awal layaknya manusia yang telah
dilahirkan untuk yang kedua kali. Sambil menunggu putarlah kembali ingatanmu,
seakan-akan engkau duduk di dalam sebuah gedung yang di depannya tersedia
sebuah layar, yang akan membuatmu menangis tersedu-sedu.
Atau di depan sebuah
komputer yang di dalamnya tersimpan file-file. Engkau membukanya dengan
perasaan menyesal, lalu engkau menghiddennya untuk sementara waktu atau
membuangnya sekalian”, perintahnya kemudian, semakin membuat Umar bimbang.
“Jangan engkau menoleh
kebelakang, karena para dedemit itu akan memasukkan virus di komputermu, dan
menjadikanmu virus yang akan menghapus file-file yang menjadi pijakanmu,
menanti kelahiranmu kembali”.
“Tidak mungkin”, bathin
Umar. Para dedemit tidak akan sebijak itu. Ini suara langit yang menyuruhnya
untuk menunggu. “Namun menunggu adalah pekerjaan yan membosankan”, keluh
Umar. “Tapi kenapa harus takut kepada bosan, jika pada akhirnya berbuah
kebaikan..??. Menunggu sama saja dengan sabar, walau beda pengertian pada
intinya melatih mental dan kepribadian seseorang”, pikirnya.
Sembari menunggu Umar
merasa cukup bangga karena telah menjadi bagian dari hutan ini. Ia telah
banyak menorehkan noktah didalmnya, file-file ini sudah cukup memberinya
bukti bahwa ia adalah salah satu pemain dari arena permainan yang dilombakan.
Bahkan tak jarang Umar mengangkat piala kemenangannya dengan bangga.
Umar sudah berpengalaman,
bagaimana ia mendaki sampai puncak tertinggi. Berpetualang di tengah
belantara hutan, tanpa membawa bekal. Ia pun pernah berburu dengan nafsu tak
terkendali, setelah mangsa didapat ia dengan rakus memakannya, melahapnya
dengan tamak sambil mencincangnya tanpa ampun.
Para penghuni hutan
mengeluk-elukkannya ketika ia sedang beraksi. Waktu itu, Umar merasa sebagai
seorang Gladiator layaknya maximus yang gagah berani. Bermacam tantangan ia
hadapi tanpa rasa takut. Beribu-ribu pasang mata menjadi saksi kehebatannya.
Umar disanjung setinggi mungkin. Ia dipuja dengan kerelaan sang pemujanya. Ia
dihormati sembari memohon belas kasihannya. Ia dimuliakan sembari merangkak
mencium kakinya.
Sampai semua keinginannya
terpenuhi. Disaat keberaniannya yang tak tertandingi. Hingga segala hasrat
kemauannya terlayani. Ia berada dipuncak tertinggi, dan hanya bertumpu pada
sebongkah batu yang oleng seukuran kedua kakinya. Ia mencoba cekatan sambil
tetap menjaga keseimbangannya. “Tapi sampai kapan..??”, pikirnya waktu itu.
“Sampai kapan ia akan rentangkan tangannya agar tetap berdiri, jika pada
akhirnya ia akan jatuh juga karena terlalu capek..??, atau menjatuhkan
tubuhnya dengan pasrah karena baginya sudah tidak ada pilihan untuk jalan
keluar..??”.
Pantas saja jika waktu itu
ia merasa kesulitan menemukan pintu keluar di tengah istananya yang begitu
megah. Wajar saja jika kerajaannya seperti belantara hutan yang sekarang ia
tersesat di dalamnya. Jiwanya mati rasa, dan semua yang ia rasakan tidak ada
bedanya. Ia membutuhkan lampu, atau sebatang lilin saja jika tidak ada. Ia
butuh sebuah peta sebagai petunjuk untuk jalan pulang.
######
Dingin telah merontokkan
sendi-sendi urat nadi, hingga tulang-tulangpun terasa retak. Pembungkus raga
betul-betul sudah tidak mampu menahan serangannya yang brutal, seperti
menusuk-nusuk sampai batas kesadaran.
Semakin erat Umar mendekap
tubuhnya. Menciptakan rasa hangat yang sedikit membantu. Setiap penjuru mata
angin seakan tertuju padanya dengan tatapan penuh dendam. Sambil
masing-masing membawa sebilah pisau lalu menancapkannya berulang kali
ketubuhnya. Ia menggelepar serasa di kutub. Ia menahan perih dari hujaman es
yang menghantamnya, hingga batas ia kelimpungan terengah-engah.
“Tidakkah ini hanyalah
hutan belantara yang dinginnya sepanas api neraka..?? Tidakkah ini
keterlaluan, dengan kadar kekebalan manusia yang tercipta sepersekian persen
saja..??? Tidakkah ini dunia, kenapa harus tersiksa sebelum waktunya tiba..??
Atau mungkin raga ini sudah kehilangan jiwanya, alias berada disuatu tempat
yang dihuni oleh gelap, hawa dingin yang setiap saat menyergap..???”, bathin
Umar tak habis pikir.
“Jangan-jangan…????”,
teriak Umar geram.
Ah…!!! lagi-lagi dedemit
itu telah mengibulinya, menyuruhnya untuk menunggu. Tidak..!!, ia masih tegak
berdiri diatas liang lahatnya yang belum digali. Sayup-sayup ia mendengar
suara Muadzin mengumandangkan keagungan sebuah nama yang tidak asing: “ALLAHU
AKBAR, ALLAHU AKBAR”.
Kedengarannya begitu
syahdu, perlahan mengaliri sel-sel penggerak jiwa. Baru kali ini Umar
merasakan kedamaian hati yang luar biasa tentramnya. Baru kali ini ruh
kehidupannya memberi rasa bahwa ia hanyalah bagian kecil dari jagat raya. Ia
hanyalah penghuni bumi yang membutuhkan sebab dan akibat, yang tidak tercipta
dengan sendiri. Tiba-tiba timbul perasaan malu, kenapa bumi yang begitu
luasnya menjadikannya bak seorang raja di tengah hutan belantara ini,
sehingga ia tersesat di dalamnya..???.
Suara itu berasal dari
sebuah surau kecil yang tak jauh dari rumahnya yang menjulang tinggi
mentereng. Alamak…!!! Kenapa baru kali ini ia merasakan keberadaan surau
itu..???. Umar jatuh tersungkur di halaman surau itu. Bunyi nafasnya
tersengal seperti habis berlari dari suatu tempat yang tak tahu dimana.
Masih terdengar merdu
seakan-akan menyuruhnya untuk melepas segala beban yang teramat berat. Umar
pasrah ketika tiba-tiba seperti sebuah tangan memegang pundaknya dan
membawanya masuk kedalam surau itu. Kemudian tangan itu seperti menampar
kedua pipinya agar ia segera menitikkan air matanya. Mengakui segala ketidak
berdayaannya sambil berharap mendapatkan selimut tebal yang akan membuatnya
hangat, dibawah naungan cahaya terang yang akan menuntunnya dari kegelapan.
|
Hapid Beckham
Terasa menjemukan bagi
Hapid yang melalui hari-harinya berdasarkan hitungan manual detik-detik
menjelang even akbar itu diselenggarakan. Debar jantungnya berdesir hebat
meresap hingga keubun-ubun, ketika aksi pemain pujaannya dengan skill
individu kelas wahid, memperagakan teknik mengolah bola profesional, memukau
dengan tampang-tampang keren, lincah menari-menari di atas desain rumput
Gelora Bung Karno dengan kapasitas empat ribuan-an tempak duduk, dipadu
padankan sorot cahaya lampu seperti siang, serasa ia menjadi bagian dari
euforia kemegahan Theatre Of Dreams yang di dalamnya bentangan merah putih
berkibar disetiap sudutnya, lambang kebanggaan yang membuat perasaannya
kembali berdesir, melonjak-lonjak kegirangan.
Walau toh, aksi
mereka hanya sekedar karya visual iklan-iklan yang dipertontonkan dengan
kasat mata. Namun sama sekali tidak membuat Hapid ingsut dari tempat duduknya
hingga selesai karya-karya itu menghipnotis alam bawah sadarnya. Ia tersenyum
geli sekaligus terselip rasa haru ketika Attacante haus gol dengan Insting
siluman Wayne Rooney. Defender kawakan, kokoh nan lugas ala Rio Ferdinand.
Goal Keeper mumpuni dengan refleks yahud, si raja Clean Sheet Edwin Van Der
Sar. Playmaker sekaligus Second Striker jago Solo Run dengan daya jelajah
tinggi khas Ryan Giggs. Defensive Midfielder si pengatur tempo dengan umpan-umpan
tak terduga ala Michael Carrick, dan penyemangat Asia Playmaker tenaga kuda
yang pantang menyerah dengan tackling-tackling bersih tepat sasaran khas Park
Jing Sung, duduk tenang di bangku masing-masing menyimak sembari ternganga,
linglung dalam pesona perempuan Indonesia yang menaklukkannya dengan bahasa
Ibu; “Ini Budi, Ini Ibu Budi”.
Aksi-aksi itu senantiasa
melekat dalam benaknya, keabnormalannya hingga mencapai titik nadir yang
membentuk pola tingkah laku yang menggila. Sejak SMP, kamarnya telah dipenuhi
poster-poster Si Setan Merah, altar pemujaan yang memenuhi tembok kamarnya
dengan legenda-legenda yang menjadikannya angker. Terpampang maskot seumur
hidup The Red Devils, George Best, Eric Cantona si kungfu master yang
bertelanjang dada sehabis memimpin pasukannya dalam salah satu pertandingan.
Pahlawan Treble Winner yang berderet rapi, berdiri dari kiri ke kanan: Peter
Schmeichel, Andy Cole, Ryan Giggs, Jaap Stam, Wesley Brown, Roy Keane, dan
jongkok: Dwight Yorke, Paul Scholes, David Beckham, Gary Neville, Denis
Irwin, dengan cadangan yang kwalitasnya tak jauh beda: Teddy Sheringham, Ole
Gunnar Solksjaer, Nicky Butt, Philipe Neville, Mikhael Silvestre.
Belum gambar-gambar dengan
beragam style sang idola David Beckham, si raja Free Kick penghuni sayap
kanan, si Albert Einstein Modern, sosok jenius spesialis tendangan bebas
dengan akurasi umpan yang mengagumkan, bertampang bak selebritas yang
beristrikan penyanyi kenamaan. Ada “The Dutchman” The Little Marco Van
Basten, peraih Golden Boot Ruud “Van The Man” Nistelrooy, pembunuh
bayaran pengoyak jala lawan dengan style dan dribbling khas Negeri Total
Football. Ataupun si penari Tango Juan “The Little Witch” Sebastian
Veron, palang pintu Les Blues Laurent Blanc sekaligus si plontos Fabian Barthez,
hingga si penyihir Cristiano Ronaldo, si bengal Carlos Tevez, si pembunuh
berdarah dingin Dimitar Berbatov, si penggangu tak kenal lelah Darren
Fletcher sekaligus si anak hilang Owen Hargreaves, si Attraktif Nani, si
gimbal penari Samba Denilson, si mungil yang dibekali Sprint diatas rata-rata
Patrice Evra, si anjing penjaga John O’Shea dan Johny Evans serta si tukang
jagal dari Balkan Nemanja Vidic. Merekalah yang telah mendoktrinnya arti
sebuah Fair Play, mencemari otaknya makna dari sikap sportif dan
keprofesionalan, inspirasi tentang kerja keras, kerja sama dan kekompakan,
mengedepankan kwalitas mengesampingkan ras demi sebuah prestasi. Tertanam
lekat dalam tindak tanduk Hapid, menjadi bagian dari pola pikirnya untuk
berkembang, yang sedikit banyak telah membentuk karakter dirinya menjadi
seperti sekarang.
Tak terbayangkan rasanya
walau nun jauh di sana –seperti pepatah bilang jauh dimata dekat dihati- para
pahlawannya itu akan memperagakan skill, yang menurutnya nanti tak ubahnya
akan mengajari para pemain kita cara bermain sepak bola yang benar. Ia
membayangkan bagaimana seorang Bambang Pamungkas beradu heading dengan
Nemanja Vidic, seorang Boaz Salossa mengakali kecermatan Rio Ferdinand.
Bagaimana Firman Utina dengan tendangan gledeknya menguji ketangguhan
antisipasi Edwin Van Der Sar, Budi Sudarsono bersusah payah berkelit dari
incaran pantang menyerah Darren Fletcher, si Ponaryo Astaman berjibaku
mengimbangi ketenangan si Michael Carrick mengatur tempo permainan, atau si
Mahyadi Panggabean yang dibuat kesal dengan aksi tak kenal lelah Park Jing
Sung, Arif Suyono yang terbirit-birit beradu kencang dengan Patrice Evra.
Hapid tersenyum sendiri, geli dan akan terlihat konyol nantinya melihat
Charis Yulianto tampak frustasi jatuh bangun mengawal ketat Wayne Rooney,
Nova Arianto yang kewalahan pontang panting dengan ulah si pembunuh berdarah
dingin Dimitar Berbatov, si Eka Ramdani yang saling pamer visi beradu
kematangan dengan Paul Scholes, belum Markus Horison yang akan dibombardir
habis-habisan oleh tendangan maut Ryan Giggs atau sepakan Nani yang selicin
belut, dan diakhir pertandingan para pemain kita yang saling berebut bertukar
kaos, kenang-kenangan seumur hidup yang sulit terulang untuk yang kedua kali
dalam karir mereka.
Ingin sekali ia menjadi
bagian dari kemegahan Gelora Bung Karno, memakai kostum merah putih milik
Budi Sudarsono idola kebanggaannya yang wajahnya 100% asli Indonesia,
wajah pribumi tanpa campuran sedikitpun. Namun apa hendak dikata? Selain
karena jarak tempuh dengan biaya yang tidak sedikit, serta banyaknya
kebutuhan yang menurutnya lebih bermanfaat dari pada semua itu, ia kubur
mimpinya itu layaknya mimpi tak terbeli, tertancap nisan kekecewaan. Cukuplah
layar 14 inchi menemaninya menjadi saksi sejarah pesepak bolaan negeri
tercinta yang sulit sekali diperhitungkan.
Satu bulanan lagi hitungan
manual itu merangkai harinya menuju hari H, SMS dan panggilan keluar masuk
teman-teman sesama gibol mewarnai harinya terasa menyenangkan. Sekedar
celoteh seputaran kabar terkini klub kesayangannya itu, banyolan seru
kenangan masa lalu, kelakar prediksi hasil akhir yang berat sebelah, skuad
penghuni pasukan Sir Alek mulai dari wajah-wajah baru yang ditunggu-tunggu
kebangkitannya, seperti maskot The Three Lions akhir tahun 90-an Michael
Owen, bakat alami khas Amerika Selatan Antonio Valencia, aksi unjuk kebolehan
pemain proyeksi masa depan insting pencari bakat jempolan, dalam polesan
tangan dingin Sir Alex semisal Frederico Macheda, hingga veteran dengan
loyalitas tinggi yang patut dihargai. Persiapan sebagai tuan rumah juga tak
luput dari obrolannya, seputar penjualan tiket yang ludes jauh-jauh hari,
infra struktur yang perlu dibenahi, polling SMS para pemain yang
diproyeksikan, himbauan, larangan, ancaman, komentar dan sambutan dari
berbagai pihak yang berkepentingan, semakin menambah seru obrolannya.
Hari-harinya bagi Hapid
serasa mempermainkan kesabarannya, detak jarum jam lambat bergulir tidak
seperti biasanya, detik bagai menit, menitpun bagai jam, jam layaknya hari dan
hari serasa bulan, bulanpun seperti tahun yang berdasarkan perasaannya
sengaja berjalan merangkak sembari menertawai ketergesaannya, mengacuhkan
keegoisannya, membiarkannya menggerutu, mengeluh kesal, bersumpah serapah tak
karuan. Ia tak habis pikir hari-harinya begitu tega, kejam, tak berperasaan,
menguji mentalnya untuk senantiasa menerima dengan lapang dada segala
tumpukan mimpi yang telah banyak terbuang tak terbeli.
Setengah bulan lagi dari
satu bulan bagai gersang merindukan hujan, kering di kerongkongannya demi
seteguk air dalam oasis Gelora Bung Karno yang berlandskapkan kasat mata.
Seorang maniak Hapid yang telah membebani namanya sesuai idola yang ia pun
telah siap menanggung segala konsekwensinya, koleksi kaos-kaosnya, pernak
pernik, aksesoris, kliping lengkap dalam setiap perhelatan Liga Primiership,
Even akbar sekelas Piala Champion, Piala UEFA, antar klub dunia hingga Even
sampingan yang seringkali dianak tirikan sebagai ajang uji coba, semisal
Piala FA, Piala Carling, menumpuk di rak lemarinya yang rajin ia bersihkan
setiap sebulan sekali. Belum kepingan-kepingan videonya untuk mengenang sepak
terjang para legenda klub dari setiap jamannya dalam momen indah tak
terlupakan, video dokumentasi profil klub, tentang para pendirinya dan yang melatarbelakanginya,
mengenai manajemen klub hingga sistem pengelolaan untuk pengeluaran dan
pemasukan dalam urusan jual beli pemain, semuanya tertata rapi dalam rak
lemarinya, tersusun indah agar enak dipandang.
######
Sementara itu dalam
remang-remang pentas perhelatan ajang para pemimpin yang tak kalah seru.
Mirip sebuah adagium sebagai seni dari segala kemungkinan, para calon saling
serang, memamerkan kelihaiannya berargumen dengan joke-joke penuh intrik,
menyisipkan sedikit kecurangan yang dilakukan secara berulang-ulang,
memanfaatkan kelemahan dan kelengahan satu sama lainnya. Celoteh dilontarkan
dengan sedikit bumbu sindiran sebagai penyedap air muka merasa paling benar
sendiri, tentunya pledoi-pledoi dengan mimik tak berdosa, lemah lembut, kebijaksanaan
yang diwakilkan dengan dahi mengkerut, tegas yang dibuat-buat, menjadi
semacam tontonan yang menggelikan, konyol, mengundang tawa yang sebenarnya
tidaklah lucu. Sampai akhirnya salah satunya keluar sebagai pemenang, menjadi
“The Winner” yang disambut dengan riang gembira, sebuah amanat yang sejatinya
disambut dengan air mata.
Sementara dalam gelap,
detail rencana telah dimatangkan, tinggal bagaimana kekuatan senjata adalah
satu-satunya hal yang dipentingkan, dan telah melakukan pengendalian terhadap
hal yang direncanakan itu, dan...
“DDEEBBUUUUMMM,,,,AAARRRR
.........!!!!!!!!!
Bom meledak meluluh
lantakkan dua bangunan aset milik asing yang dijaga super ketat dengan
keamanan tingkat tinggi. Layaknya kembang api akhir dari sebuah pementasan
akbar, semua terkesiap, ternganga kaget sekaligus tak percaya, lekas-lekas
terjaga dari euforia kue kekuasaan setahun penuh yang melenakan.
Sementara dalam gelapnya
kegelapan, di negeri “Entah Berantah” seorang cukong duduk mengangkang
di atas singgasana Kapitalismenya. Terkekeh-kekeh menahan perut sembari
sesekali menahan kekehannya dan berceloteh seperti biasa; “Kami sangat
mengecam kejadian yang tidak menghargai demokrasi ini, dan menghimbau untuk
tetap terus memerangi Terorisme”. Setelah ucapan basa basi itu ia
terkekeh lagi, sambil menunggu rencana berikutnya yang akan segera terjadi.
Para Calon yang kalah yang
masih dalam susana berduka, tiba-tiba mereka kebakaran jenggot. Isu
berkembang yang mengaitkan kejadian biadab itu sebagai pelampiasan kekecewaan
dari pihak yang kalah, membuat mereka kesal dan seketika membuat statemen
pembelaan sembari meminta pihak -yang seharusnya mempunyai sikap ksatria
layaknya Gajah Mada dengan bertindak tegas dan berani, agar tidak mudah
dikendalikan- untuk tetap berpikir jernih dan tidak menambah keruh suasana
dengan statemen-statemen bernada menuduh dan terkesan mengada-ada. Cukong itu
pun terkekeh lagi sembari tbatuk-batuk, lagi-lagi rencananya sesuai keinginan
nafsu silumannya.
Karena mendapat bantahan
keras dari para calon yang kalah itu, mau tidak mau tersangka “lawas”
yang selama ini telah di-Stereotip-kan kepada mereka tanpa kejalasan bukti
yang masih simpang siur, tiba-tiba ditangkap secara “publik” -yang
sesungguhnya cara seperti itu menunjukkan watak seremonial kuasa menakutkan
pemerintahan imperial yang menjatuhkan lawan-lawannya yang tidak tunduk-
mereka kemudian dijebloskan dalam tahanan sembari menunggu hukuman tembak
mati seperti yang sudah-sudah.
Cukong itu kembali
terkekeh mengepal tangannya sembari mengayunkannya dengan berucap; “Yes”.
Opini publik yang serba tidak jelas dan terkesan diolah agar anget-anget tahi
kucing itu, menjadikan masyarakat acuh dan tidak terlalu ambil peduli,
membiarkannya berlalu begitu saja. Dan lagi, Cukong itu terkekeh,
terbahak-bahak karena semuanya berjalan lancar, aman, dan terkendali. Tinggal
kini bagaimana rencana selanjutnya; Kapitalisme, Imprealisme dan Liberalisme
tetap beranak pinak di Negeri yang katanya sudah Merdeka ini.
Seperti berkeping-keping
ikut meluluh lantakkan hatinya, Hapid Beckham merengut kesal, mengutuk para
pelaku BOM itu dengan sumpah serapah “Neraka Jahanam”. Ia kecewa,
kesal, marah, geram bercampur baur menjadi satu, Bukan karena banyaknya
korban yang tidak bersalah -sekaligus juga tidak ada alasan kenapa mereka
mesti dibunuh- tapi efek dari kejadian itu, “The Red Devils” tim
pujaannya hingga keronto-ronto itu urung bermain. Setelah kejadian itu
melalui Sir Alex dalam jumpa press langsung, mereka membatalkan rencananya
karena khawatir akan keselamatan para pemainnya. Hapid uring-uringan,
menggerutu ngalor-ngidul tak ada tujuan sembari ngelantur enggak nyambung; “Buru
dan Pancung Teroris..!!” , “Banci para penguasa yang lebay, yang suka
merekayasa kejadian menjadikan momentum untuk kelanggengan dinasti dan nama
baiknya”.
|
Cinta Diujung Pena
“Salsabilla,” kueja
nama itu lirih, entah untuk yang keberapa kali. Memang nama yang bagus untuk
seorang gadis berjilbab seperti dia. Kuhempaskan nafas kuat-kuat, sekedar
untuk menghilangkan kegelisahan yang kini menyelimuti jiwaku. Yach,
beberapa hari ini aku telah dibuat uring-uringan olehnya, sampai-sampai aku
tak mampu untuk memejamkan mata, meski hanya sekejap, meski setelah seharian
penuh aku bergelut dengan aktivitas di kampus yang benar-benar menguras
energi dan pikiranku.
Dia memang baru sekali
bertemu denganku, itupun tak kusengaja. Tapi entah mengapa, pesonanya begitu
mendalam telah merasuki jiwaku. Dia betul-betul sesuai dengan apa yang
dikatakan Leman, teman kuliahku, waktu itu.
Aku mulai berangan pada
tiga hari lalu ketika aku bertemu dengannya, lantas setelah aku iseng
bertanya tentang sosok perempuan yang cocok menjadi pendamping hidupku.
Diapun tegas menjawab: “Gadismu adalah seorang perempuan berjilbab, tinggi
semampai, dan saat kamu bertemu dengannya nanti, kamu akan merasakan sesuatu
yang berbeda.” Saat itu aku hanya setengah hati mempercayainya, karena
menurutku, perkataan itu hanyalah tebakan belaka. Mungkin berdasarkan
pengalaman, atau itu hanyalah perkataan seseorang yang mempunyai kelebihan.
Apalagi gadis yang berjilbab mana mungkin tertarik denganku yang serba biasa
ini?.
######
Waktu itu, aku berencana
melakukan perjalanan ke Semarang untuk menyelesaikan tugas penelitian
skripsiku. Tapi sial bagiku, bis yang aku tumpangi ternyata penuh dengan
penumpang, malah ada sebagian yang berdiri karena tak kebagian tempat duduk.
Maklum, pagi hari seperti itu memang waktu yang selalu ramai. Aku duduk
bersampingan dengan seorang kakek yang sepertinya tak lama lagi akan turun.
Dan benar saja, tepat sebelum pertigaan, kakek itu mempersiapkan diri untuk
turun.
Aku menggeser pantatku,
memberi tempat duduk untuk penumpang yang sejak tadi memang sudah berdiri di
sampingku yang lain.
“Tempatnya kosong,
Mas?” suara itu lembut menyapaku.
“Kosong,” jawabku
singkat sambil menoleh ke arah si empunya suara itu.
“Ohh!” bathinku.
Paras cantiknya sempat membuatku terkesima dalam sepersekian detik. Jantungku
berdegup kencang. Gadis itu tersenyum ramah memandang ke arahku, membuat
hatiku tambah tak karuan. Gadis itu pun duduk di sampingku dengan senyumannya
yang senantiasa mengembang.
Aku masih diam membisu.
Perasaanku bergejolak, tidak biasanya aku merasa seperti ini, seakan
keseharianku yang cuek kalau bersangkutan dengan urusan perempuan tiba-tiba
hilang, berganti salting yang memalukan. Bahkan yang lebih parah lagi,
perbendaharaan kata yang selama ini sering kali aku gunakan sebagai jurus
pamungkas untuk meluluhkan setiap cewek yang aku temui, tiba-tiba pula lenyap
ditelan deru suara mobil yang silih berganti melintas. Aku tak habis fikir,
apa mungkin karena baru kali ini aku berhadapan dengan gadis berjilbab?, yang
kata orang mereka sudah kebal terhadap godaan atau rayuan gombal dari laki-laki
seperti aku ini, padahal di lingkunganku pun tak sedikit yang teguh berjilbab
sepertinya, meski hanya untuk sebuah identitas.
Pandangannya selalu saja
menatap lurus ke depan. Hanya sesekali menoleh ke samping melihat pemandangan
unik yang menarik hatinya, seakan mengacuhkan keberadaanku di sisinya, atau
mungkin ia hanya menganggapku seonggok batu yang tak berguna karena merasa
tak selevel dengannya...???.
Sikapnya itu justru
membuatku semakin tak percaya diri, dan perkataan Leman kala itu mereplay
ingatanku kembali tentang gadis berjilbab, gadis yang katanya pintar, teguh
pendirian. Ternyata kata-kata Leman itu cukup mampu untuk membangkitkan
semangatku kembali. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kubangun kembali semangat
itu, hitung-hitung untuk membuktikan kebenaran prediksi Leman, karena selama
ini dia memang terkenal jitu dan tepat sasaran dalam berprediksi.
Aku mulai mengatur
nafasku, perlahan-lahan mencoba menenangkan gejolak jiwa ini, mencari kata
yang tepat untuk mulai menyapanya.
“Mondok di mana, Mbak?”
akhirnya keluar juga pertanyaanku setelah sekian menit otakku berputar,
mencari kalimat yang masuk akal dan dirasa pantas untuk memulai pembicaraan.
Tak ada jawaban, dia hanya
membisu tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir merahnya itu, tak bereaksi,
menolehpun tidak. Apa mungkin pertanyaanku tadi kurang keras?, atau mungkin
dia sengaja berlagak tuli untuk sekedar membuatku penasaran dan meraba sampai
setinggi mana kekuatanku untuk menggodanya lagi.
Saat itu aku merasa menjadi
orang yang sangat bodoh. Aku harus bertanya sekali lagi, agar beban prasangka
dalam pikiranku dapat terhapus dan tak berlarut-larut lagi, aku hanya ingin
dia tahu bahwa aku memang benar-benar ingin bertanya.
“Turun mana, Mbak?”
tanyaku lagi tapi dengan suara agak keras.
“Oh, iya. Saya mondok
di Situbondo. Mau turun di Tuban, Mas!” akhirnya ia menjawab juga,
sekalian dengan pertanyaanku yang pertama itu.
Aku dibuatnya malu sendiri
saat itu. Dia memang sengaja tak menjawab pertanyaanku tadi, sepertinya dia
memang sudah paham akan maksud basa-basiku. Aku semakin penasaran, gadis ini
memang berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah aku kenal selama ini.
Perkataan Leman semakin mendekati kebenaran saja, pikirku. “Ada sesuatu
yang lain jika kamu nanti bersua dengannya,” aku ingat ucapannya kala
itu. Aku semakin lupa diri, terlena dengan ketakjubanku atas gadis yang kini
duduk di sampingku. Lalu perkataan-perkataan Leman semakin menuntut aku untuk
bertanya lebih jauh, hingga aku menganggap inilah sosok perempuan yang
dikatakan oleh Leman, tak salah lagi.
“Kok diam saja, Mas?!”
ucapnya mengagetkanku.
“Oh, enggak!” aku
tergagap.
“Mondok di Gontor sudah
berapa tahun,?” aku balik bertanya lagi, menutupi sikapku yang mungkin
terlihat seperti orang bodoh.
“Belum lama, kok!.
Sekitar dua tahun,” balasnya mulai bersahabat, dan kesempatan itu tak ku
sia-siakan. Sejurus kemudian aku ajak dia ngobrol panjang lebar, tukar
pengalaman, beradu wawasan. Tapi aku yang memang miskin masalah ilmu keagamaan,
selanjutnya hanya menjadi pendengar setianya saat dia begitu menggebu-gebu
memaparkan tentang masalah itu, apalagi saat aku mencoba mengaitkan masalah
itu dengan perkembangan zaman yang terjadi akhir-akhir ini, dia semakin
gamblang saja menjelaskan akan pentingnya masalah itu sekarang ini.
Aku memang sama sekali
buta tentang hal-hal yang berbau religius seperti itu, dan saat mendengar
pembicaraannya, aku hanya sanggup menganggukkan kepala, seperti sok paham,
padahal sebenarnya aku benar-benar mati kutu.
Tetapi sebagai seorang
mahasiswa, aku tak boleh kalah begitu saja, setidaknya aku harus
mempertahankan diri, aku harus melayaninya dengan logika pengetahuan umum
yang memang sudah menjadi makanan sehari-hariku.
“Apa enggak lebih baik
kalau nilai-nilai agama harus kita sesuaikan dengan keadaan dan perubahan
zaman sekarang ini.???” pancingku mencoba ingin tahu reaksinya.
“Boleh-boleh saja, Mas.
Tapi kan kita ada kalanya tidak harus selalu menjadi budak zaman. Pada
keadaan tertentu kita harus berani berpegang teguh dengan agama yang kita
anut ini,” ucapnya tegas. Aku semakin kagum dibuatnya. Pendiriannya
kokoh, benar-benar sesuai dengan jilbab yang sepertinya selalu menutupi
kepalanya.
“Enggak gerah emang..!!
panas-panas gini pakai jilbab?” tanyaku sekali lagi.
“Gerah sih gerah. Tapi
ini kan termasuk sebagian dari prinsip yang saya katakan tadi,” jawabnya
mulai agak tinggi, seakan menyuruhku untuk tidak lagi mengusik sesuatu yang
sudah menjadi prinsipnya itu. Akupun memaklumi, mengiyakan dalam hati. Aku
sadar, prinsip memang bagian internal dari tiap-tiap individu yang tak boleh
diganggu gugat selama prinsip itu benar dan tidak menyimpang dari norma yang
berlaku, lebih-lebih dikalangan khalayak umum.
Aku harus mengalihkan
pertanyaanku ke masalah lainnya, menanyakan sesuatu tentang jati dirinya
mungkin..??? Atau tentang seseorang misalnya..??? Seseorang yang telah
beruntung menjadi tambatan hatinya, dermaga cintanya setelah sekian lama
bergelut dengan badai, dalam mengarungi samudera hidup yang tak bertepi untuk
menuju pulau bahagia dambaannya.
“Sudah ada yang punya
enggak .???” selidikku memberanikan diri. Tapi.....!!!!!
“Tuban terakhir! Tuban
terakhir! Tuban,” suara kondektur bis terdengar nyaring memberi isyarat
untuk para penumpang. Ia mulai membenahi barang bawaannya, bersiap untuk
turun. Entah, apakah ia mendengar pertanyaanku yang terakhir itu atau tidak.
Aku hanya bisa diam seperti orang tolol yang menanti jawaban dari pertanyaan
yang teracuhkan.
“Cinta itu butuh ruang
dan waktu, Mas!” ucapnya tiba-tiba setelah ia berdiri, lalu pergi dengan
sekilas senyum di bibirnya. Senyum yang meninggalkan segudang penasaran.
Tentang sebuah nama dan alamat yang tersirat dalam kisaran waktu antara
Surabaya-Semarang.
######
Sore itu, aku ke terminal,
bermaksud menjemput Homed, teman sekaligus sahabat karibku sejak SMA, yang
baru pulang dari pesantren. Dengan APV yang baru kudapatkan STNK-nya kemaren
lusa. Aku pergi ke sana, sekedar memberi tahu bahwa mobil inilah hasil jerih
payahku selama ini dari setiap honor tulisan yang aku kirimkan ke
majalah-majalah ibu kota.
Aku pun tak keberatan
ketika ia memintaku juga untuk mengantarkannya sampai rumah. “Hitung-hitung
sekalian silaturrahmi dengan orang tuanya,” bathinku. Beberapa bulan ini,
aku memang sudah tak bercengkerama dengan mereka seperti dahulu. Aku terlalu
sibuk berkutat dengan aktivitas kuliahku. Aku merasa rindu dengan keakraban
mereka padaku.
Sesampainya di sana, aku
langsung ke kamar Homed, membantunya membereskan kamar dan barang-barang yang
dibawanya dari pesantren. Aku lantas tertarik dengan sebuah album foto yang
terselip di antara baju-bajunya.
“Itu koleksiku waktu
ospek dua bulan yang lalu,” hardiknya melihat aku kelihatan serius
membolak-balik album foto yang berisi berbagai macam aktivitas kemahasiswaan
itu. Aku lalu terpaku pada sebuah foto yang ada di situ.
“Sepertinya aku pernah
bertemu dengan gadis ini,” ucapku setengah memekik.
“Siapa?” Homed
kaget, ikut melihat foto itu.
“Namanya Salsabilla,”
ucapnya seperti sudah tahu maksudku.
“Dia sekretarisku di
BEM, primadona kampusku. Kamu mengenalnya?” ia balik bertanya, penasaran
bercampur heran.
“Aku pernah bertemu
dengan gadis ini sekali,” lalu aku mulai menceritakan kisahku di bis itu,
termasuk tentang perkataan Leman atas prediksinya untukku, sampai ketika aku
harus berpisah dengannya, dengan sejuta kesan yang mendalam.
Homed mengangukkan
kepalanya mendengar ceritaku. Ia nampak tersenyum melihatku begitu bersemangat
dalam bercerita.
“Cinta pada pandangan
pertama kan?” ucapnya tiba-tiba mengagetkanku. Sedangkan aku hanya bisa
diam dengan pertanyaannya.
“Kamu suka sama dia
kan?” paksanya sekali lagi.
“Aku hanya mengagumi
kepribadiannya. Baru kali ini aku bertemu cewek teguh seperti dia. Dia begitu
berbeda, unik, dan…...!!!!!”.
“Sudahlah!”
sergahnya memotong kalimatku.
“Serahkan semuanya
padaku. Kamu pasti akan mendapatkan bidadarimu itu,” lanjutnya enteng
seperti tahu maksud yang tersimpan di balik penyanggahanku itu. Aku sama
sekali tak mengerti maksud perkataannya, namun di balik semua itu, aku justru
berharap ucapannya itu bukan sekedar omong kosong, karena harus kuakui, saat
ini memang ada getar-getar aneh tentangnya yang mulai tumbuh di dasar hatiku.
Hari-hariku selanjutnya
kini selalu penuh dengan bayangannya. Anganku melayang, membumbung tinggi
melewati bintang-bintang dan awan yang mengembang. Setiap waktuku penuh
khayal, meski aku pun ragu akan niat sahabatku itu untuk menunaikannya. Aku
hanya yakin kalau sahabatku itu memang selalu mengerti keinginanku.
Hingga suatu hari saat aku
tenggelam dalam khayalku itu, adik kecilku tiba-tiba menghempaskan tubuhnya
ke atasku yang sedang berbaring di tempat tidur.
“Surat untuk Kakak,”
ucapnya menyodorkan amplop berwarna pink itu ke arahku. Aku bangkit duduk,
memeluk anak kecil itu sebentar.
“Dari Tuban.!!!”
aku bersemangat membacanya.
Teruntuk Izza Achamad....!!!!!
Kini aku tahu
namamu, meski dulu waktu kita berjumpa belum sempat saling mengenal. Tapi
takdir telah mempertemukan aku kembali denganmu melalui Homed dan untaian
kata ini.
Homed sudah banyak
bercerita tentang kamu. Dan tentang kebenarannya, aku enggak mau tahu. Terima
kasih atas kekagumanmu akan diriku. Begitu pun sebaliknya, aku juga mengagumi
kedewasaanmu dalam menerima setiap sanggahan pendapatku waktu itu.
Saat ini, sebuah
cinta dalam hatiku sedang menunggu hadirnya ruang dan waktu. Akankah yang di
sana masih tersisa sedikit ruang kosong untuknya tumbuh dan
mewangi……???????????
|
Dawai
Resah
“Kenapa masalah seperti
ini mesti didramatisir? Masih banyak realita yang masih dan musti kita
tunaikan,” hardik Zia, teman sepermainanku di almamater ini.
Mungkin memang ada
benarnya juga ia berkata seperti itu. Sebagai seorang perempuan, aku memang
terlalu perasa, apalagi pada kenyataan yang semestinya tak pantas aku sesali
ini. Aku memang harus lapang dada menerima setiap yang ditentukan untuk
kebaikanku, meski hati nuraniku memberontak. Ya, mungkin hanya karena alasan
klise: "aku tak suka". Bukankah sesuatu yang tidak kita suka
bukan berarti sesuatu yang buruk bagi kita, kan?! Atau justru malah itulah
yang terbaik daripada mengumbar keegoisan nurani.
Hampir genap tiga tahun
aku berdiam diri di tengah bangunan ini, tapi selama itu pula aku sering kali
menatap nanar pada ‘terali’ yang mengurungku ini. Sebuah bangunan yang
kayu-kayunya sudah mulai usang dimakan umur, meski tak mengurangi
kelayakannya untuk sekedar sebagai tempat tidur dan melepas lelah.
Aku lalu teringat ketika
pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang di sepinggir
jalannya berderet toko-toko besar dengan rumah-rumah berarsitektur masa kini.
Namun bangunan tua ini masih sanggup berdiri kokoh tanpa lekang dimakan
rakusnya zaman yang serba modern. Atau mungkinkah justru karena keunikannya
itulah hingga patut untuk dibanggakan dan dilestarikan sebagai nilai sejarah.
Aku adalah sang petualang,
yang datang dari sebuah kepulauan nun jauh di sana. Namun di balik semua itu,
kiranya aku masih punya semangat juga, kan?! Aku ingin seperti mereka yang
berpikiran maju, berjiwa intelek dan menjadi sukses dengan segenap
kemampuanku sendiri. Tapi, ternyata keinginan orang tuaku membuatku sempat
memberontak saat beliau menginginkan aku untuk mendalami pendidikan agama,
yang berorientasi dalam bidang agama saja tanpa embel-embel apapun. Padahal
itu adalah pekerjaan yang paling membosankan bagiku. Mungkin aku memang sudah
terpengaruh oleh gaya hidup sehari-hariku saat itu sebagai seorang mahasiswi.
Orang tuaku beralasan,
bahwa untuk saat ini, hanyalah agama solusi satu-satunya dalam menjalani
hidup dengan kadar seimbang, karena menurut mereka, seringkali generasi muda
banyak yang menganaktirikan agama demi menjalani pendidikan yang lainnya.
Alasan orang tuaku yang
makin membuatku tak terima, bahwa agama adalah urusan ketika kita sudah
memasuki masa-masa tua, masa-masa menjelang ajal tiba. Tapi apakah mereka
sadar bahwa aku sekarang masih sangat muda? Kenapa aku harus pusing-pusing
memikirkan masa tua? Toh apakah mereka pun menyadari bahwa aku akan terus
hidup sampai menjadi tua, atau bisa-bisa malah aku mati dalam khayalanku
menjadi orang tua.
Namun apalah daya, meski
dengan segenap perjuanganku dalam menampik alasan mereka, aku tetap harus
mengalah, dan terpaksa pula aku berangkat dengan harapan semoga ini adalah
pilihan yang terbaik untukku, walau dengan setengah hati aku melakukannya.
######
Aku pun pergi dengan
minimnya informasi tentang kota ini, hanya bermodal tekad dan rasa putus asa
yang memicu kemarahanku, bahwa aku masih sanggup menemukannya sendiri hanya
dengan bekal jiwa petualangku. Hingga akhirnya bis yang aku tumpangi berhenti
di pinggir jalan, yang disitu berderet toko-toko besar dengan rumah
berarsitektur masa kini, yang di sekitarnya dipenuhi penjual-penjual makanan,
ditambah lalu lalang kendaraan yang makin menambah ramai suasana pagi itu.
Aku bingung harus kemana
kaki ini melangkah. Suasana di tempat ini sama sekali tidak sesuai dengan
ciri-ciri yang disampaikan oleh orang tuaku itu. Aku harus bertanya pada
siapa tentang tempat tujuanku? “Ah! Aku harus mencari sosok yang bisa
memberi jawaban tanpa ada paksaan, tanpa kefanatikan yang seringkali dibumbui
dengan kata-kata yang tak menyenangkan. Jawaban yang keluar dari sebuah
kekaguman dan kejujuran sebagai buah dari kekaguman yang begitu saja keluar
dari mulut mereka; dan kepada tukang becaklah akhirnya aku menemukan sosok
itu. Aku hanya berfikir, bahwa mereka pasti takkan menipu atau membujukku.
Dan memang benar, ternyata tukang becak itu malah berkata dengan penuh
semangat, penuh pujian sambil mencoba meyakinkanku tentang tempat ini.
Teman-temannya sesama
penarik becak pun mengamini perkataannya. Aku hanya mampu mengangguk-anggukkan
kepala menyadari kesalahanku dalam berprasangka, apalagi dengan melihat
status mereka yang terpinggirkan, terisolasi oleh nasib yang kurang
beruntung. Jawaban itu murni keluar dari hati nurani mereka, bukan rekayasa
otak yang sering kali mengesampingkan kenyataan dan fakta yang berlaku di
jalanan, tempat mereka sehari-hari menghabiskan waktu di sisa umur mereka.
Dan saat ini pun aku menyadari bahwa semua yang mereka katakan itu memang
benar adanya.
Akhirnya aku sampai ke
tempat tujuanku ini, dengan informasi dari tukang becak tadi yang sekaligus
mengantarkanku tepat di depan bangunan tua ini. Bangunan yang akhirnya pun
selalu membuatku optimis bahwa hidup tak selamanya dunia, tidak juga dunia
akan selalu membuatku tetap hidup. Karena dunia dengan kesombongannya,
nyatanya tidak segan-segan menindas mereka yang lemah dan kalah bersaing
untuk hidup, menghempaskannya layaknya sampah lalu menimbunnya dengan
nisan-nisan orang tak dikenal.
Tidak cuma itu, dunia
acapkali melepas tanggung jawabnya, melahirkan mereka dengan cara tak
bertanggung jawab, mengemis di jalanan, menjarah semena-mena, meratap
tangisan berharap kasih sayang dari para begundal yang sok berkuasa melebihi
tuhan.
Ya, para begundal yang sok
kuasa melebihi Tuhan yang terkadang dunia pun muak dengan tingkah polah
mereka. Ia tidak segan-segan melenyapkan nyawa-nyawa mereka. Awalnya sih ia
memanjakan mereka, menina-bobokannya, lalu seketika itu juga ia terlena. Ia
membuat mereka ketakutan, frustasi, hilang ingatan tanpa arah tujuan. Dunia
telah memperbudak mereka, mengikuti kemauannya, mematuhi perintahnya dan
aturannya yang kejam seringkali membuat mereka tidak diberi pilihan.
“Dunia memang sudah
terbalik, Sayang!” sergah Hanna lalu menyampingiku duduk. “Dulu kau
begitu angkuh hingga menolak dengan takdir ini. Tapi nyatanya?! Sekarang kau
malah tergila-gila pada tempat ini.
“Ada benarnya juga
dia,” bathinku. Tapi tidak! Tidak semuanya benar. Dia masih belum tahu
tentang gejolak perasaan yang selama ini menghantui di setiap detik yang aku
lalui, antara marah dan rasa tidak puas diri yang berlomba saling mendahului
dan menguasai diri ini.
Di sini, di tempat ini,
dunia seakan memusuhiku, menjauhiku dengan menganggapku sok suci, sok alim
karena mencoba untuk tidak mengikuti kemauannya. Bagaimana tidak? Akibat yang
ditimbulkannya saja sudah membuatku pusing tujuh keliling. Aku menginginkan
ketenangan jiwa, ketenangan yang lebih dari sekedar suasana tengah malam
bertabur bintang-bintang yang disirami cahaya rembulan, dan diiringi ritmis
percikan dari tetes embun di pucuk daun. Aku ingin memperbudak dunia agar
mengikuti segala aturan mainku, menjadi tungganganku dikala ajal menjemputku
nanti.
Aku bukan fanatik, aku
tidak egois, aku pun manusia biasa yang butuh kepuasan dunia, tapi bukan
berarti dunia harus mempermainkanku seenaknya. Apalagi jika harusmembunuh
karakterku sebagai hakikat dari seorang manusia yang peduli sesama, peduli
lingkungan dan alam semesta yang telah berjasa membesarkanku dari alam
nisbiku.
Memang jiwa mudaku sering
kali protes sambil berkoar: “Nikmatilah dunia selagi engkau bisa
menikmatinya,” namun suatu saat lantas bathinku justru bertanya,
bagaimana nanti jika aku sudah tidak bisa menikmatinya? sedangkan aku pun
tahu, hidupku hanyalah sementara. Apakah mungkin kenikmatan setelah dunia
bisa kuperoleh tanpa bekal dan usaha untuk memperolehnya?! Sedangkan secara
logis saja, di dunia aku mati-matian untuk mendapat bekal hidup dan usaha
tanpa lelah untuk memperoleh kenikmatannya. Aku tidak habis pikir dengan jiwa
mudaku yang hanya berpikir sesaat tanpa melalui proses dan analisa yang
tepat. Dan mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa orang tuaku
menginginkanku berada di sini.
Hal itu baru terpikir
olehku sekarang, di tempat ini, di bangunan tua ini yang seperti lorong waktu
yang membawaku kembali untuk menapaki jejak-jejak orang terdahulu. Para
pejuang yang demi harkat dan martabat tanah air tercinta, rela bersimbah
darah dengan seluruh jiwa dan raga. Begitu pun para kekasih Tuhan yang tak pernah
lelah untuk membuka tabir gelap, menyingkap keesaan Ilahi dengan segala macam
cara yang ditempuh. Bukankah sejarah telah menjadi bukti bahwa perjuangan
mereka tidak untuk dikenang, tapi naluriah kita malah tak mampu menampik
untuk mengenangnya, karena secara logika saja perasaan kita pasti berpikir
bahwa kita tak sanggup menolak, bahwa semua itu patut untuk dijadikan sebuah
panutan dan teladan hidup bagi kita.
Aku tidak munafik,
kekuatan dunia memang masih tertanam lekat di urat nadi pikiranku ini.
Kenyataannya aku masih sering masturbasi, seperti saat ini setelah kepergian
Zia dan Hanna, sekedar melampiaskan hasrat membara yang bergejolak dalam
dada, yang tidak mungkin terealisasikan mengingat norma dan dosa yang entah
kenapa telah mempengaruhi rasa.
Dunia adalah kehidupan
kedua yang menjadi penentu untuk kehidupan selanjutnya. Aku juga tidak
munafik, bahwa aku masih sangat mengharapkan janji surga seperti layaknya
manusia yang butuh buaian janji-janji dan mimpi-mimpi indah, dalam menggapai
cita-cita dan tujuan hidupnya.
Walaupun toh, mereka
menganggap surga hanyalah dongeng sebelum tidur, sebuah hiperbola yang butuh
waktu lama untuk bisa merengkuhnya. Apalagi persyaratannya yang super berat
dibanding dengan keberadaannya yang masih kasat mata, membuatnya harus
menjadi mimpi indah untuk setiap manusia yang mengharapkannya. Atau mungkin
neraka hanyalah akibat dari surga yang penuh dengan cerita-cerita seram,
siksaan, dan berbagai intimidasi sekaligus cambuk yang akan menghukum siapa
pun. Aku akan tetap berpegang teguh dengan keyakinanku ini, bahwa setiap
perbuatan pasti akan ada akibat yang didapat.
Logika dunia pun mengakui
teori ini, meyakininya sebagai karma dan doktrin dalam menjalani hidup.
Bagiku, Sang Penguasa jagad sudah terlalu baik dan bermurah hati kepada
ciptaan-Nya yang dijadikannya sebagai hamba yang dilahirkan ke dunia,
kemudian diberinya pilihan untuk memilih, memperoleh mimpi-mimpi indah yang
penuh dengan janji-janji, atau pun hukuman dengan ancaman penuh siksa.
Sang Penguasa tidak
memvonis secara langsung si terdakwa dengan hukuman mati ala hakim-hakim
dunia. Tapi dengan sifat kesempurnaan-Nya Dia membuka jalan, menciptakan
peluang-peluang, serta proses yang berkelanjutan sesuai dengan jalan yang
ditentukan oleh sebab dan akibat. Dia pun berhak melakukan itu semua, laksana
juragan kepada anak buahnya, pun kedua orang tuaku dalam mendidik anaknya,
yaitu aku.
######
“Ahhhh.....!!!!”
aku puas, aku mengerang, aku memekik sambil menggelinjang sebagai reflek
bathin dari rasa yang tertunaikan sudah. Hanya saja Zia dan Hanna keburu
memergokiku sedang terpejam menikmati sensasi khayalku. Mereka pasti tahu
bahwa aku sedang terengah-engah dengan suara mendesis. Mereka pasti bisa
menebak bahwa desahan kuatku itu adalah hanya pelampiasan rasa pemberontakan
jiwaku. Untung saja setelah itu mereka tak ambil peduli hingga serta merta
memelukku dengan deraian air mata di atas genangan basah yang menyembul dari
setiap inchi tubuhku.
Sekali lagi aku bukan
fanatik, tidak egois. Aku tetaplah sang petualang yang masih butuh tepian
pantai, sebuah landasan sebagai dermaga untukku bisa berpijak, dan rumah
mungil agar rinduku bisa kembali pulang.
“Has! Hasna! Kenapa
sampai terjadi seperti ini?” ucap Zia sambil terisak oleh tangis dan
menggoyangkan pundakku, bahkan kurasakan payudaraku pun ikut pula bergetar
hebat. Zia mungkin saja sudah tahu akan kebiasaanku itu.
|
Sekaratul
Cinta
Bukankah buah ranum cinta
tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita tanam dan kita rawat dengan segenap
jiwa, raga dan harta?. Harta...??? Ah, tidak, itu tidak masuk, itu tidak mungkin
kamu tidak seperti itu. Aku jadi berprasangka yang tidak-tidak.
“Pulsaku habis”
“Pulsa abang juga habis
sayang”
“Pokoknya aku gak mau
tahu”
“Oke, oke, entar aku
isi”
“Cepetan, aku tunggu”
Ia matikan teleponnya.
Segampang itu ia membuatku kalang kabut. Gila, cinta ini sebuta kedua mata
yang dengan pongah berlagak dalam gelap, tanpa sebatang tongkat sebagai
penunjuk jalannya. Sogel pasti lagi pegang uang, Ia kan..!! baru dapat
kiriman kemarin. Aku akan pinjam dulu, seperti biasa akhir bulan nanti aku
ganti.
Pulsanya udah masuk
Sayang?
Udah.
Lagi-lagi sms singkat.
Tidak biasanya, tanpa ucapan; terima kasih, kamu emang yang terbaik dari
yang terbaik sayang. Atau sekedar kata; aku semakin sayang kamu,
semakin cinta kamu, kamu satu-satunya yang ngertiin aku, aku gak akan pernah
bisa ninggalin kamu, sebagai tanda bahwa kedua matanya juga sama butanya
seperti aku. Akhir-akhir ini kamu agak berubah?.
######
Siti, sekaratul cintaku,
tidak ada kata tidak buat kamu sayang, semuanya harus; ia, oke, baik.
Kamu tidak berhak memperoleh jawaban; tidak, enggak, Jangan bahkan
Tuhan sekalipun tidak berhak sayang. Aku akan mengabulkan semua pintamu,
semua keinginanmu, makanan kesukaan kamu, bahkan maksud dan niat kamupun aku sudah
ngerti, dan dengan senang hati aku akan mewujudkan itu.
Kalau kamu mau aku jadi
jin (jika seandainya kamu takut aku hanya menggombal) aku adalah penghuni jin
lampu ajaib sekaligus sebagai tuannya, bukan tuan Aladin. Tapi hati ini yakin
kamu percaya, tentunya dengan segala pengorbanan yang telah aku berikan untuk
kamu, walaupun toh, aku hanya anak kos yang hobi ngutang sana,
sini.
Buktinya, setiap mau
berangkat kuliah, kamu aku jemput pakai motor, yang demi kamu aku rela
dimarahin Sogel, karena setiap kali aku pakai motornya bensinnya jarang aku
isi. Belum masih malam mingguan, kamu pasti akan marah kalau aku telat atau
pura-pura sakit untuk kau ajak keluar, sekedar nonton, makan-makan, atau
sekedar keliling alun-alun berduaan, yang demi kamu aku rela pontang-panting
cari pinjaman uang, cari pinjaman motor yang susahnya minta ampun.
Itu pun belum lagi jika
penyakit kamu yang tiba-tiba kumat (yang sampai saat ini pun aku masih belum
menemukan ramuan obatnya) bergelayut manja di pundakku, merengek ngegemesin,
memelas mesra minta diajak masuk mal, cari bedak, minyak wangi, dan
keperluan-keperluan kamu yang sekeranjang hampir penuh, atau ketika mata kamu
yang suka gatal ketika melihat butik dengan aneka baju keluaran terbaru
sebagai tambahan koleksi bajumu. Semua itu akan kamu dapatkan sayang, selagi
mengatasnamakan cinta sabagai alasan.
######
Siti, bulan itu adalah
kamu sayang, sedangkan bintang-bintang itu adalah aku yang menjadi banyak
demi apapun yang kamu mau. Maka ketika sinarmu tidak lagi seindah tanggal
lima belas kalender arab. Tanpa kau minta, sinar bintang-bintang (dan itu
adalah aku) akan senantiasa menjaga keindahanmu, sampai kau kembali membulat
indah, pada tanggal lima belas kalender arab berikutnya.
“Halo, ada apa sayang?
Tumben malam-malam nelpon? Malam jum’at lagi.!!”
“Kenapa? Gak boleh?”
“Bukan gitu sayang, apa
sih yang enggak buat kamu?”
“Aku ingin putus..!!”
“Putus? Kamu bercanda?”
“Siapa yang bercanda?
Emang kurang jelas? Putus, tus, tus, titik..!!”
Ia matikan telponnya,
segampang itu Ia membuat aku kalang kabut. Dasar, cinta ini sebuta kedua mata
yang dengan pongah berlagak dalam gelap, tanpa sebatang tongkat sebagai
penunjuk jalannya. Ia pasti bercanda, cuma kata putus yang; tidak, enggak,
jangan buat kamu sayang. Aku harus minta penjelasan.
“Halo.?”
“Apa lagi? Kita putus,
titik, tik, tik..!!”
Lagi-lagi, singkat, tanpa
memberiku kesempatan untuk bertanya; kenapa? Mengapa? Ada apa? Atau
sekedar alasan; aku sudah bosan sama kamu, rasa sayangku sudah tidak
seperti dulu lagi, aku sudah punya pengganti kamu yang lebih baik,
sebagai tanda bahwa kedua matanya sudah tidak sebuta dulu lagi, dan
meninggalkanku tersesat dalam gelap. Seratus lima puluh persen, kamu
betul-betul telah berubah.
######
Siti, sakaratul cintaku,
aku bukanlah Adimanusia yang berjiwa laut, yang di dalamnya kebencianku yang
membara akan tenggelam. Ketulusanku telah engkau racuni secara sepihak. Masa
kegembiraan itu, ketersitaan akal dan segala pengorbanan itu, kini terasa
pahit dan memuakkan. Kau telah membuatku menjadi seorang pembenci, benci
kata-kata cinta sang pujangga yang membutakan mata.
Engkau mungkin menduga
keadaanku sekarang..?!; bersedu sedan meratapi raut wajah bulatmu yang
menjadi dambaan, kemolekan tubuhmu dengan tinggi semampai yang senantiasa
menjadi buah rebutan, cara bicaramu yang beraksen manja meluluhkan jiwa,
keanggunan gerak gemulaimu sesempurna keberadaanmu sebagai bahan gunjingan
dan obrolan yang mengasyikkan. Sekaligus, engkau sekalian juga menertawaiku;
berduka lara ditinggal cinta seketika merubah suasana ceria, hari-hari terasa
hampa sendiri menyukai sunyi menghobikan sepi, terasa membosankan tidak satu
pun masuk diakal, ada yang kurang mengharap kembali datang, kosong yang
terasa menyesakkan.
Engkau salah besar, aku
tidak secengeng itu sayang. Karena aku adalah bintang yang begitu banyak,
walau ketika sinarmu tidak lagi seindah tanggal lima belas kalender arab,
atau sekalipun kau kembali membulat indah, pada tanggal lima belas kalender
arab berikutnya. Tampa peduli, sinar bintang-bintang (dan itu adalah aku)
akan senantiasa terang sampai kapanpun.
Atau salahkan aku jika
menduga, justru engkaulah yang secengeng itu dengan perasaan menyesal. Aku
tahu kamu sayang..!! kamu tentu masih membutuhkan perhatianku. Kamu tidak
akan semudah itu melupakan bentuk wajahku yang babak belur, yang demi menjaga
kamu aku rela jual beli pukulan dengan para pengangguran di pertigaan jalan
menuju kos-kosanmu itu. Apalagi kesukaanku yang seringkali memuja-muji
kesempurnaanmu, aku yakin kamu pasti masih membutuhkan itu. Membutuhkan
kejenakaanku menghapus kesedihanmu, banyolanku yang membuat kamu
terpingkal-pingkal. Aku sangat yakin, semua itu tidak akan pernah kamu
temukan jika bersama orang lain.
Aku jadi serba salah. Jika
memang benar, buah ranum cinta tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita
tanam dan kita rawat dengan segenap jiwa, raga dan harta?. Harta...????? Ya,
benar, itu tidak salah, itu sangat memungkinkan, dan aku menduga kamu seperti
itu. Ah, Aku masih serba salah.
######
Teleponnya angkat
dong..!! Sam, maafin aku!!
Smsku kok gak dibalas?!
Aku benar-benar minta maaf..!!
Sam, maafin aku, aku
butuh kamu sam..!! Aku akan jelasin semuanya. Angkat teleponnya yaa..!!
Kamu gak punya pulsa?
Aku kirimin yaa..?!
Sam maafin aku, aku
ngaku salah, aku gak bakal ngulangin lagi, aku janji. Sam, aku benar-benar
butuh kamu, aku mau ngelakuin apa saja untuk nebus kesalahanku Sam. Maafin
aku yaa..?!
Lagi-lagi, segampang itu
sms kamu membuat aku kalang kabut. Gila, kamu kembali menjelma sekaratul
cintaku, walau seberat nafsu birahi telah kucoba menahan untuk tidak
membalasnya. Kebencian ini seketika menjadi panah-panah keriduan yang melesat
dari busur yang telah engkau siapkan. Menancap tepat, tanpa meleset sedikit
pun.
Kau bilang aku sekaratul
cintamu? Ah, aku tertawa geli mendengarnya. Aku pejantan yang engkau
rindukan? Pria paling baik, paling perhatian yang mengusik kedamaianmu, dan
engkau pun tidak bisa tidur nyenyak? Terima kasih, aku tersanjung.
Kenapa? Engkau masih ingat
Jin lampu ajaib itu? Apa..?!! engkau tidak sanggup berdamai dengan jin
sesamamu, dan jin itu adalah aku yang menghantui malam-malammu? Ah,
kamu ada-ada saja, membuatku sempat merinding, bulu kudukku sempat berdiri.
Lantas, alasanmu meninggalkan aku pergi karena cinta? Cinta yang bagaimana?
Cinta pergi karena cinta, begitu maksudmu? Ah, Engkau membuatku
bingung. Bukankah sudah sejak dulu mata kedua orang tua kamu itu rabun,
karena melihat kegantenganku yang teramat sangat ini? Kamu tertawa, dan
bilang bukan karena itu. Lantas? Masih tetap saja, alasanmu pergi
meninggalkan aku karena cinta. Cinta yang bagaimana? Engkau masih membuatku
bingung.
Kini, kotak masuk di
ponselku berisi penuh namamu, engkau sering kirimi aku pulsa untuk
membalasnya. Malam minggu kemarin, engkau mengajakku jalan, makan-makan,
nonton, yang semuanya kamu yang bayar, bahkan motor si Sogel yang aku pinjam
kau juga yang isikan bensin. Dan malam ini, penyakit lama kamu kembali kumat
(yang sampai saat ini pun aku masih belum menemukan ramuan obatnya)
bergelayut manja di pundakku, merengek ngegemesin, merajuk mesra
karena keenggananku kau ajak masuk mal, tapi engkau malah cari kaos, celana
panjang dan topi, apa? Buat aku? Alamak..!!! dan tentunya masih dengan
keperluan-keperluan kamu yang sekeranjang hampir penuh, yang semuanya kamu
yang bayar.
Apa? Engkau anggap aku
adalah bulan kesayanganmu? Sedangkan bintang-bintang itu adalah kamu yang
menjadi banyak demi apapun yang aku mau? Ah, kamu terlalu mengada-ada,
kamu mulai berlebihan.
Maka ketika sinarmu tidak
lagi seindah tanggal lima belas kalender arab. Tanpa kau minta, sinar
bintang-bintang (dan itu adalah aku) akan senantiasa menjaga keindahanmu,
sampai kau kembali membulat indah, pada tanggal lima belas kalender arab
berikutnya. Sudah, sudahlah..!! kamu benar-benar keterlaluan.
Ya, memang benar; buah
ranum cinta tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita tanam dan kita rawat
dengan segenap jiwa, raga dan harta? Harta...????? Ya, benar sekali, itu
tidak salah, itu sangat memungkinkan, dan aku menduga aku pun seperti itu. Ah,
aku malah menyalahkan diri sendiri.
Siti, sekaratul
cintaku..!! dan kamu bilang; aku sekaratul cintamu. Kita berdua sama-sama
diambang sekaratul cinta, tidak membutuhkan satu pun makhluk yang akan
mengiringi kematian kita, bahkan Tuhan sekali pun? Bukan begitu?.
|
Sepeda
Motor Pinjaman Jaya
"Sayang!! kita
ketemuan yuk..!?? Di Hotel Mawar, Jl Kabupaten, kamar No11. Aku tungguin
jangan sampai telat"
Pikirnya, mungkin
Perempuan itu sudah terlalu lama tidak mendapat belaian kasih sayang. Tentu
ini kesempatan langka yang terlalu sayang jika dilewatkan. Hitung-hitung
sebagai ganti rugi pulsa yang telah mempreteli kantongnya, begadang
semalaman yang menguras tenaga dan pikirannya.Seketika itu juga Jaya
buru-buru membalasnya;
"Oke Sayang!! Kamu
tunggu ya..!! Aku berangkat sekarang".
Pikirnya perempuan itu
mungkin telah terhipnotis dengan rayuan-rayuan gombalnya plus suara yang ia
buat seseksi mungkin. Ia tersenyum bangga sambil bergegas dengan penuh
semangat.
Dengan sepeda motor
langganan yang ia pinjam dari Joko, Jayapun melaju kencang menyusuri jalanan
pinggir kota. Dengan lincah ia mendahului setiap kendaraan yang menghalangi
ketergesaan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Sejuta penasaran berkecamuk
membuatnya ingin segera sampai.
Melewati Jl Kabupaten
hatinya mulai deg-degan. Ia masuki pelataran Hotel Mawar kemudian menuju
tempat parkir. Tiba-tiba Hpnya berdering sebuah sms dari perempuan itu
menanyakan posisinya, ia membalas sedang menuju tempat parkir dan menyuruhnya
agar bersabar. Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba dua orang berbadan
tinggi besar menghampiri Jaya dan menyuruhnya secara paksa menghentikan
sepeda motornya. Di belakang dua orang itu, membuntuti seorang Pria Berkumis
Tebal, dari gerak geriknya Pria itu seperti sedang menahan amarah.
"Ohh.. jadi ini
orangnya yang suka gangguin istri orang!!"
"Ehhh..tunggu
dulu, ada apa ini mas?", Jaya kaget, berusaha membela diri.
Bogem mentah langsung
bersarang diwajahnya. Ia tidak sempat berkelit, posisinya yang sedang duduk
membuat Jaya terjungkal kebelakang.
"Mas ini siapa?
Apa salah saya mas?".
"Hajar lagi sampai
mampus..!! biar tau rasa dia..!!",ajak Pria Berkumis itu kepada
kedua rekannya.
Tanpa sempat untuk membela
diri Jaya kembali diberondong pukulan tanpa ampun oleh tiga orang
sekaligus. Jaya berteriak minta tolong, mereka tidak ambil peduli dengan
teriakan Jaya, mereka terus menghajar Jaya, menendangnya hingga babak belur.
"Sudah..sudah..!!
entar dia malah mampu beneran!!", cegah Si Pria Berkumis, melihat
Jaya yang sudah tak berdaya.
"Kita bawa saja
sepeda motornya", lanjutnya sambil kemudian menghidupkan sepeda
motor itu, kemudian pergi meninggalkan Jaya yang merintih kesakitan.
Semalaman suntuk ia tidak
bisa tidur, bukannya untung malah ketiban buntung. Kini ia harus bertanggung
jawab karena sepeda motor itu ikutan amblas, untungnya, Joko hanya tampak
kesal, ia tidak tega memarahi Jaya setelah melihat wajahnya yang sudah babak
belur. Aku hanya prihatin sekaligus geli dengan musibah yang menimpanya.
Joko menyarankan Jaya
untuk meminta bantuan cak Samsul, seorang rantau yang berprofesi blater teman
yang sudah berpengalaman. Ia cukup disegani di daerah sekitar tempat kos
kami. Karena keblaterannya yang kosohor, sekaligus karena ia mempunyai banyak
relasi yang bisa diandalkan.
"Pyyaaarr....!!".
Sebuah tamparan kembali
mendarat di pipi Jaya yang sudah lebam. Semakin menambah penderitaannya.
Gigi-giginya seperti rontok dari tangkainya, ia meringis kesakitan. Cak
Samsul bukannya iba, ia malah balik menyalahkan prilaku Jaya yang menurutnya
sudah keterlaluan.
"Prilakumu seperti
kampret..!!", hardik Cak Samsul. Jaya hanya manggut-manggut. Ia
sudah pasrah mau diapain saja terserah, ia mengaku salah, ia kapok tidak akan
mengulanginya lagi, apalagi kalau hanya ujung-ujungnya akan seperti ini.
"Oke.!!, aku akan
tetap bantu kamu. Kita ancam orang itu untuk dilaporin ke polisi tentang
penganiayaan, sekaligus perampasan sepeda motor".
"Aku akan minta
bantuan teman-temanku untuk menggertaknya, kamu jangan hapus dulu sms itu
untuk dijadikan bukti".
Asa yang hilang mulai
berbinar di sela-sela kelopak matanya yang lebam. Jaya akan balik menuntut
balas terhadap Si Kumis Tebal, walau tidak sampai se-KO dirinya, tapi
setidaknya pembalasannya ini akan membuat Si Kumis Tebal menyesal seumur
hidup atas apa yang dia lakukan terhadap dirinya.
######
Skenario itupun mulai
dijalankan. Setelah mengetahui kronologis kejadian sesungguhnya yang diakhiri
dengan kesepakatan yang saling menguntungkan, teman Cak Samsul mulai
melakukan penggertakan. Teman-teman Si Kumis Tebal satu persatu diinterogasi,
mereka dimintai penjelasannya mulai dari awal mula kejadian itu.
"Kami berdua tidak
tahu apa-apa..!!", kata salah satu di antara mereka.
"Tapi kalian kan
ikut memukul..?", bentak teman-teman Cak Samsul,
"Kalian akan
menerima akibatnya jika masih tidak mengaku", lanjutnya dengan nada
mengancam.
"Tapi untuk
sementara ini kalian boleh pulang".
Penginterogasian itu
memang sengaja diulur-ulur waktunya untuk menakut-nakuti Si Kumis Tebal,
sekaligus menunggu reaksinya.
Di lain tempat, Cak Samsul
mulai melakukan aksinya dengan meneror Si Kumis Tebal melalui sms. Ia
mengancam akan memperkarakan kasus ini kepada pihak yang berwenang, dengan
bukti sms yang masih tersimpan di Hp Jaya, sekaligus dengan bukti wajah Jaya
yang babak belur beserta sepeda motornya yang hilang.
Teror itu terbukti ampuh,
selang beberapa menit Hp Jaya berdering, sebuah panggilan masuk dari si kumis
tebal. Buru-buru Jaya menyerahkan Hp itu kepada Cak Samsul.
"Bagaimana..? Apa
kamu mau saya perkarakan? Atau mau secara kekeluargaan saja? Tapi dengan
syarat kamu harus menyerahkan uang lima juta", gertak Cak Samsul
tanpa basa-basi.
"Lima juta.? Mas
mau memeras saya? Jelas-jelas dia yang ganggu istri saya kok, berarti dia
kan, yang salah?".
"Kalau mau bicara
salah, kamu juga salah. Kenapa enggak istrimu saja yang dibikin babak belur,
dan kenapa mesti ngambil sepeda motor juga.?”, sergah Cak Samsul.
"Pokoknya saya
nggak mau dengar alasan lagi, kamu harus memenuhi permintaan saya, jika nggak
mau bukti ini saya bawa kepihak yang berwajib".
"Saya dapat dari
mana mas, uang sebanyak itu? Bagaimana kalau dua juta saja mas? Mungkin nanti
bisa saya usahakan". Si Kumis Tebal mulai terdesak, tidak ada jalan
lain baginya kecuali memenuhi permintaan Cak Samsul. Ia mencoba tawar menawar
harga.
"Begini saja, saya
nggak mau banyak bicara, dan mau nggak mau kamu harus mematuhinya. Kamu
ngasih saya tiga juta plus sepeda motor yang kamu ambil harus dikembalikan
dalam keadaan utuh".
Tak ada jawaban dari Si
Kumis Tebal. Lamat-lamat suara dibalik handphone terdengar kisruh. Cak Samsul
menampakkan senyum kemenangannya, Jayamencoba menimpali. Dibenak Cak Samsul
uang tiga juta itu sudah ada dalam genggamannya. Sedangkan Jaya dengan uang
sebanyak itu ia jelas akan kebingungan, karena membayangkannya saja belum,
apalagi sampai memilikinya.
"Oke.. Oke...
mas!! saya akan penuhi permintaan mas, tapi tolong jangan dikasih tahu pihak
yang berwajib, kasihani saya mas, kasihani istri dan tiga anak saya, mereka
mau dikasih makan apa kalau saya sampai masuk bui?".
"Terserah..!! itu
urusan kamu, saya nggak mau tahu. Itu tanggung jawab kamu, saya minta dalam
dua hari uang itu harus secepatnya kamu serahkan, saya nggak mau nunggu",
tegas Cak Samsul, malah saking tegasnya hingga terkesan terlalu berlebihan
bagiku.
Cak Samsul seperti tidak
mempunyai rasa iba. Padahal ia juga mempunyai anak dan istri yang mesti
dilindungi sama seperti Si Kumis Tebal. Sejak awal mula Jaya ditampar hingga
skenario yang Cak Samsul rancang, dengan hasil yang sudah sejauh ini, aku
berpikir Cak Samsul betul-betul telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Entah
apa penyebabnya? Mungkin tuntutan hidup yang sedemikian berat hingga ia bisa
bersikap seperti itu.
######
Pagi harinya Jaya sudah
bangun dengan penuh semangat, senyumnya terus mengembang sembari menuju kamar
mandi. Tak peduli dingin menggigil ia guyur tubuhnya dengan air, sesekali
berdendang nyanyikan lagu kesukaan.
Cak Samsul sudah menunggu
kedatangannya. Jaya hanya tersenyum simpul menyambut tatapan Cak Samsul yang
langsung mempersilahkan Jaya duduk. Di sebelahnya sudah ada teman-teman
sesama blater Cak Samsul yang membalas senyumannya dengan dingin.
"Uangnya sudah ada
sama saya, kemarin Si Kumis Tebal memelas-melas agar tidak dilaporkan kepihak
yang berwajib" jelas Cak Samsul dengan sumringah.
“Sepeda motornya sudah
ada di situ, kamu ambil saja dan langsung pulang” suruh Cak Samsul yang
melihat Jaya masih saja enggan beranjak dari tempat itu.
“Sana, sana pulang,
kamu enggak perlu tahu urusan ini. Yang penting sepeda motor kamu sudah
kembali. Pulang, pulang sana..!!” Jaya pun pulang dengan tangan hampa.
Kami hanya tertawa geli mendengar cerita hasil akhirnya yang tidak sesuai
harapannya, padahal ia sudah memaksa mentraktir kami makan jika nanti ia
mendapat bagian uang itu, dan untung saja gagal, karena aku dan Joko memang
sama sekali tidak berminat dengan ajakannya itu.
Pare, Kediri, 2008
|
Clurit
Tak Bertuan
Kota telah menjadikan
desanya, sebagai pelampiasan ketidak pedulian penduduknya. Ia tidak perlu
disalahkan. Tidak juga nasib yang telah membawanya untuk sebuah pilihan.
Nasib telah menjalankan tugasnya dengan baik.
Aku Adalah Mardi
Siapa yang tidak kenal
Samad. Ia adalah jagoan yang ditakuti karena kelihaiannya memainkan clurit.
Iapun disegani lawan-lawannya karena keberaniannya yang secara jantan
mendatangi langsung siapa saja yang mencoba menantangnya. Ia akan melayaninya
satu lawan satu. Berhadapan langsung dengannya untuk beradu lihai memainkan
clurit, sampai salah satu diantaranya ada yang mati.
Orang-orang kampung sering
juga menyebutnya sebagai Bajing berdarah dingin. Karena tidak segan-segan ia
seringkali menerima upah dari seseorang untuk membunuh, tanpa seorangpun
dapat mengetahui kapan, dan bagaimana ia membunuhnya. Bahkan aparat sekalipun
seringkali kewalahan untuk melacak jejak, serta bukti-bukti keterlibatan
pembunuhan yang ia lakukan. Ia bagai belut dengan akal Bajingnya. Ia bisa
berubah menjadi siapapun untuk menutupi jejak langkah yang ditinggalkan.
Tapi Mardi tetaplah Mardi.
Walaupun ia anak seorang jagoan, ia tidak seperti Samad. Darahnya tidak
mengalir darah Samad yang cepat mendidih jika harga dirinya diinjak-injak. Ia
adalah pemuda lugu yang bercita-cita ingin masuk pesantren. Ia ingin menjadi
seorang Ustadz seperti Ustadz Soleh yang pintar ilmu agama. Ia ingin dengan
masuk pesantren ia bisa berbuat baik kepada keluarga, dan orang-orang
dikampungnya. Tapi impiannya itu musnah seketika dengan kematian Samad.
Kematian sang bapak yang membebani jiwanya teramat sangat.
Kesaksian Malam
Ketika itu, sewaktu malam
pertunjukan adu pencak Samad tiba-tiba sudah berada ditengah-tengah kerumunan
para penonton. Ia memamerkan kelihaiannya bermain pencak mengeluarkan
jurus-jurus andalannya. Sambil sesekali mengeluarkan cluritnya lalu
mengacungkannya dengan pongah. Ia dongakkan kepalanya dengan mata membelalak.
Pertanda ia memancing penonton ketengah-tengah kerumunan untuk beradu lihai
dengannya.
Tapi seperti pertunjukan
pada biasanya, para penonton tidak ada yang berani maju. Sebagian dari mereka
hanya diam, mungkin karena muak melihat sikapnya yang terlalu pongah,
sebagian ada yang bertepuk tangan karena kagum dengan keberaniannya. Sebagian
lagi merasa tertantang, namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dengan
menerima tantangannya berarti sama saja menjual malu dihadapan banyak orang.
Malam merangkak dari
perjalanannya menuju larut. Seperti biasa Mardi dan Ibunya menunggu Samad
pulang, diserambi depan rumahnya sambil tiduran. Pada akhirnya sekitar jam
dua belas lebih keduanya tertidur, dengan berpikiran Samad tidak akan
langsung pulang kerumah. Sebagai seorang Bajing tentunya ia mempunyai banyak
kenalan yang acap kali menyuruhnya mampir untuk sekedar minum-minum, sambil
menikmati dinginnya hawa malam.
Atau mungkin saja ia
sedang menikmati kehidupannya bergelut dengan malam. Mencari mata pencaharian
untuk anak istrinya ditengah lelap orang-orang yang sedang terbuai oleh
mimpi-mimpi indahnya.
Sang Maha Dengan
Kehendak-Nya.
Ceceran darah muncrat
dimana-mana. Samad terbujur kaku bersimbah darah. Cluritnya masih tergenggam
erat ditangannya. Lalat-lalat berhamburan mengerubuti jasadnya yang sudah
tidak berdaya. Mardi terdiam seperti terpaku melihat sang Bapak yang sudah
tergolek berlumuran darah, jiwanya tercekat ditempatnya.
Ia tidak tahu harus
berbuat apa. Ia bingung bercampur marah, tapi pada siapa? Ia tidak tahu
kematian Bapaknya itu karena akibat dari ulah kelakuannya selama ini? Atau
memang sengaja dibunuh dengan kejam?. Selama hidupnya Samad tidak pernah
cerita tentang siapa saja orang-orang yang membencinya. Ia dan Ibunya malah
mendengar desas-desus musuh-musuh Samad dari para penduduk, yang itupun masih
belum terbukti kebenarannya.
Mardi semakin bingung.
Ibunya masih saja tak henti-henti menangis disamping mayat Samad. Sambil
sesekali berteriak meratapi kepergiannya. Ia membuka baju Samad yang
berlumuran darah, kemudian memperlihatkannya kepada orang-orang. Orang-orang
kampung yang melihat itu hanya bisa memandang dengan penuh iba, sambil
sesekali mengusap dada. Mereka melihat Samad sebagai sosok yang ditakuti kini
hanya terbujur kaku dengan luka tebasan yang menganga dibagian bawah
perutnya.
“Lihatlah Mardi..!,
darah harus dibalas dengan darah.!“, ucapnya sambil menunjukkan baju
Samad yang berlumuran darah kepada Mardi.
“Sapri harus
mempertanggung jawabkan perbuatannya.!“. Dengan penuh amarah yang tak
tertahankan.
Kabar burung tentang Sapri
yang memang sejak lama menaruh dendam terhadap Samad. Dendam yang
mengatasnamakan harga diri seorang laki-laki. Sapri tidak rela jika istrinya
seringkali dipelototi oleh Samad. Istri adalah belahan jiwa yang mesti dengan
nyawa untuk mempertaruhkannya.
Namun ketika itu Sapri
tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya seorang Kepala Desa yang kesehariannya
mengurusi warga. Ia harus berpikir berkali-kali untuk menegur Samad secara
langsung. Apalagi sampai menantangnya dan berhadapan langsung dengannya.
Tentu, ia hanya akan mengantar nyawa sebagai tumbal untuk dipersembahkannya
kepada Samad.
Tapi sebagai Seorang
Kepala Desa. Ia mempunyai kekuatan, kalau hanya untuk sekedar membayar
sekelompok Bandit sewaan untuk menghabisi nyawa Samad.
Demikianlah desas-desus
itu semakin membuat Mardi bertambah bingung. Ditambah lagi desakan dari
orang-orang terdekat Samad yang selalu menuntut darah harus dibalas dengan
darah, semakin membuat ia tertekan. Mereka menganggap Mardi sebagai penerus
tahta yang ditinggalkan Samad. Anggapan yang mau tidak mau harus Mardi pikul,
walau pun bertentangan dengan jalan pikirannya.
Belum lagi sang Ibu yang
terus saja mencekoki pikiran Mardi tentang balas dendam. Tentang harga diri
dan martabat keluarga yang sedang diinjak-injak, yang seakan dibebankan
dipundak Mardi untuk segera menuntaskannya.
Jiwa Yang Terkungkung
Sudah berkali-kali Mardi
mencoba tapi nuraninya tetap saja berontak (dan nuraninya memang pantas untuk
berontak, karena ia yang paling tahu tentang Mardi. Ia akan selalu memberikan
yang terbaik untuk Mardi. Ia akan memerintahkan sel-sel kembali menuju otak
untuk menolak dengan tegas segala macam pengaruh asing yang sudah diluar
batas kemampuan Mardi) dan sampai saat itu Mardipun masih mematuhi nuraninya
itu dengan baik. Walaupun tidak dengan cara jantan Mardi mengakuinya untuk
sebuah pembuktian.
Mardi terlalu dibuai
dengan kesadarannya bahwa Ia adalah manusia yang berjiwa kerdil. Bernyali
tikus yang hanya mengejar marah dibalik bayang-bayang semu yang tak mampu
untuk ia gapai dan meraihnya.
Ia seringkali
bertanya-tanya, apakah darah yang mengalir didalam tubuhnya ini benar-benar
darah kedua orang tuanya, yang memang selama ini dikenal orang-orang kampung
sebagai sosok yang berkarakter keras, gampang naik darah dan tidak mengenal
rasa takut..???
Mardi menyalahkan dirinya
kenapa ia tidak terlahir sebagai perempuan saja? Kenapa harus terlahir
sebagai Mardi?. Seorang laki-laki yang berjiwa perempuan yang hanya dengan
melihat darah saja membuat bulu kuduknya berdiri, dan perutnya pun
ikut-ikutan mual ingin muntah. Kenapa ia tidak terlahir seperti Ustadz Soleh?
Yang dikenal orang-orang sebagai seorang yang taat beragama, yang
kewibawaannya muncul bukan karena timbul dari ketakutan tapi karena kebenaran
sikap dan prilakunya yang menjadi teladan.
Seringkali Mardi protes
mendengar ocehan orang-orang yang mempertanyakan kejantanannya. Tatapan
mereka dengan wajah kecut, acuh tak acuh, seakan menganggap keberadaan Mardi
sudah tidak diakui lagi dalam kehidupan mereka. Haruskan ia potong
kemaluannya, lalu menyumbatkannya kemulut mereka? Atau haruskah ia menjajakan
tubuhnya sebagai bukti bahwa ia benar-benar ada?. Mardi rela melakukan apa
saja untuk sebuah pembuktian, bahwa Mardi bukanlah Samad meski ia anaknya,
dan tidak harus menjadi Samad pula. Karena bagi Mardi Samad adalah bagian
dari masa lalu yang dinina-bobokan oleh keangkuhannya sendiri. Kesombongannya
dan kesemena-menaannya harus dikubur seiring kematiannya yang mungkin sebagai
karma atas perbuatannya selama ini.
Tetapi tetap saja, mereka
adalah orang-orang desa yang bagi mereka satu tambah satu tidak akan pernah
menjadi dua. Satu harus tetap menjadi satu. Karena satu agama mereka, satu
harga diri dan pendirian mereka yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Satu
adalah warisan berharga yang sudah turun temurun menjadi doktrin dari sang
leluhur. Satu adalah prinsip yang dipegang teguh dan dijunjung tinggi dengan
keyakinan orang-orang desa.
Berbagai pertanyaan
menyesak tak terbendung. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab
oleh Mardi, seiring senyuman sang nasib yang terus mengejeknya. Senyuman yang
hanya bisa ia gapai dengan kenisbian dan keniscayaan sebagai seorang Mardi
yang baru. (Mardi yang darahnya mengalir darah Samad sebagai seorang jagoan,
alias Bajing Berdarah Dingin yang dipinggangnya selalu terselip clurit,
ditakuti serta disegani lawan-lawannya).
Keniscayaan sebagai
reinkarnasi Samad tak ubahnya kenyataan yang mulai ia rasakan saat ini. Saat
dimana ia menjadikannya satu tanpa perbedaan sedikitpun. Keniscayaan adalah
kenyataan yang ia rangkai sendiri menjadi angan-angan dalam jiwanya, dan
dibingkai dengan ketidakbecusan raganya untuk menerima semua ini.
Kaki Yang Terborgol
Tatapannya kosong.
Seringkali ia tersenyum sendiri memandangi clurit Samad yang menggantung
gagah tanpa perlawanan. Ada sisa-sisa keangkuhan yang meninggalkan bekas
darah disana. Lalu tiba-tiba ia kemudian berteriak mengucap sumpah serapah
dengan amarah yang meledak-ledak. Clurit itu menyuruhnya pergi dan meminta
Mardi meraihnya, menggenggamnya erat lalu membawanya menemui sapri untuk
menuntut balas kematian Samad.
“Apa yang engkau tunggu
Mardi..?, seloroh clurit itu menyuruh Mardi mendekatinya.
“Siapa lagi kalau bukan
kamu yang akan melakukan ini semua..!”
“Ayo Mardi..!!!! bawa
aku segera untuk menebas anggota tubuh Sapri yang engkau mau”, pintanya
melihat gelagat Mardi yang semakin gelisah.
“Ayo Mardi..!!! tebas
batang leher Sapri biar arwah Samad bisa tenang di alam sana”
“Bangkitlah Mardi,
jangan jadi pengecut seperti itu..!”
Tubuh Mardi gemetar. Ia
sudah muak dibilang pengecut. Jiwanya meronta-ronta sambil merengek untuk
segera pergi membawa raganya keluar, dengan membawa clurit itu untuk menebas
batang leher sapri.
“Genggam aku
Mardi..!!!, jangan biarkan Sapri tertawa puas, dengan kemenangannya”
“Ayo pergilah sekarang
juga, darah harus dibalas dengan darah”.
Tapi semuanya sudah
terlambat. Amarah itu hanya bisa meletup-letup setiap saat. Keberanian itu
datang dengan rakusnya disaat nasi telah berubah basi. Dendam Mardi tiba-tiba
membuncah dengan prilaku layaknya sang pemangsa yang melihat korbannya sedang
menari-nari dibalik terali besi. Ia hanya bisa meraung, mengaum dengan
taring-taring yang mulai terasah tajam. Air liurnya mengalir disela-sela
taringnya, membanjiri Raganya yang mulai timbul tenggelam karena
penyesalannya.
Mardi menggigil ketika
matahari menyengat panas. Ia malah kepanasan ketika hujan turun dengan sangat
derasnya. Dunia tak ubahnya pengadilan, yang sedang memvo nis dirinya sebagai
makhluk yang tak berguna.
Maka tidak ada cara lain
kecuali memasung Mardi. Kakinya terborgol diantara balok kayu yang tengahnya
sudah dilubangi sebesar pergelangan kakinya.
Bagi sang Ibu, ia sudah
tidak sama lagi dengan anak-anak lainnya. Mardi sudah tidak mengindahkan
perintahnya lagi. Ia sudah tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang
anak. Kewajiban seorang anak untuk membalas kematian Bapaknya.
Sekali lagi, nasib
tidak mau disalahkan. Ia hanya bisa bilang; bahwa ia telah men jalankan
tugasnya dengan baik.
|
My Big Boz
(Persembahan
terakhir untuk Sang Nakhoda)
Pada akhirnya, Aku bisa
menggenggam balok kayu yang dibawa ombak kearahku. Kemudian Aku membebankan
berat tubuh ini yang semakin lama terasa semakin tertarik kedalam, dan akan
menguburku didasar lautan tanpa nisan. Karena hal sepele sebenarnya hingga
Aku bisa terlempar dari kapal itu, kapal yang besarnya menyerupai titanic
yang mampu menampung ribuan penumpang dengan bermacam latar belakang berbeda,
kepribadian yang unik, serta cita-cita masing-masing, dengan segala fasilitas
modern dan sarana yang serba lengkap.
Tapi ini bukan kapal
titanic yang dengan keangkuhannya menabrak bongkahan es, dan
menenggelamkannya menjadi bagian dari tragedi sejarah yang patut dikenang
untuk sebuah pembelajaran. Ini hanyalah cerita seorang nakhoda perahu yang
bijak, dan Aku yang merasa tidak cocok dengan lingkungan yang akan membentuk
kepribadianku kelak, yang imbasnya Aku seringkali membangkang terhadap segala
pelayanan dan aturan-aturan yang berlaku dikapal itu. Walaupun sejatinya Aku
tetap salah, dan tidak mempunyai hak dengan bersikap seperti itu.
Aku hanya bisa pasrah dan
tidak tahu harus berbuat apa. Deburan ombak setiap saat mengaum dan seakan
melahapku mentah-mentah, tubuh ini diombang-ambingkannya seiring angin
mencari tempat terdampar. Disinilah bermacam rasa takut menghantui indera
manusiawiku, rasa hati yang tidak terima jika Aku harus mati dengan cara
seperti ini, mati tertimbun air dan menjadi santapan ikan-ikan.
Sebuah perahu (lebih mirip
perahu bobrok kalau dilihat dari jauh) tiba-tiba menuju kearahku seperti ada
yang mengkomando, seakan mengerti penderitaan yang sedang menimpaku. Setelah
didekatku (perahu itu malah terlihat kokoh, tapi tidak mengurangi kesederhanaannya
sebagai perahu kelas menengah ke bawah) Sang nakhoda dengan senyum ramah
menjulurkan tangannya, lalu menarik tubuhku kedalam perahunya.
Aku merasa beruntung,
karena Tuhan masih berkenan mendengar keluh kesah jiwaku, memberiku
kesempatan untuk bangkit walaupun Aku tidak tahu apakah Aku sanggup
melakukannya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya, jika Aku masih
tetap berada ditengah samudera yang mengombang-ambingkan raga dan jiwaku.
Mungkin akan seperti manusia kebanyakan yang telah disesatkan oleh
kelalaiannya sendiri, yang akhirnya terjerumus oleh perbuatan buruk yang akan
disesalkannya dikemudian hari.
Selang beberapa hari
kemudian, sang nakhoda memberiku minuman rohani yang entah kenapa jiwa ini
sesaat menjadi tentram (jiwa yang gersang dibasahi setetes segarnya rintik
hujan dimusim kemarau). Kemudian sekitar lima orang yang berada di perahu itu
menyuruhku menyantap sepiring jasmani, yang lagi-lagi entah kenapa semakin
membuat jiwaku bertambah nyaman (lebatnya hujan membasuh raga yang kering
kerontang).
Aku merasa nyaman berada
diperahu ini, tidak ada peraturan yang mengikat, mungkin karena hanya perahu
kecil dengan sang nakhoda yang setiap saat menjadi teman yang mengasyikkan
bagi kami. Menjadi figur bapak yang mengayomi kami, dan teladan layaknya guru
kepada muridnya, sehingga kesadaran dari masing-masing orang untuk
pendewasaannya betul-betul dikedepankan.
Mereka berlima
memberitahuku agar senantiasa menjaga sikapku selama beada didalam perahu
Sang nakhoda (yang biasa mereka panggil Boz), karena menurut mereka Boz
seringkali menguji mental kita sebatas mana kita bisa bertahan, dan kalau
kita tidak pandai menyikapinya, kita akan dibuat kesal dan selalu
berprasangka buruk tentang Boz.
Ebes, (salah satu yang
paling senior diantara mereka berlima dan yang paling lama bersama boz)
bercerita: bahwa dulu ketika ia ingin sekali untuk satu perahu bersama Boz,
ia harus berenang dulu dibelakang perahu itu dan berusaha sekuat mungkin
mengejarnya. Bukannya Boz tidak tahu atas usaha super keras yang telah
dilakukan Ebes, tapi menurut Ebes Boz memang sengaja memperlambat mesin
perahu lalu setelah Ebes hampir mendekatinya Boz kemudian mempercepat kembali
laju perahu itu. Hal itu berlangsung cukup lama dan sempat membuat Ebes putus
asa dan merasa dipermainkan. Tapi anehnya kata Ebes, disaat ia merasa seperti
itu seringkali Boz tiba-tiba ikut nyebur dan menemani Ebes berenang,
lalu kemudian menaiki kembali perahu itu tanpa sepatah katapun, dan
membiarkan Ebes kembali berenang seperti biasanya.
Lain lagi kisah si Kacong,
ambisinya menjadi seorang saudagar ikan membuat ia paling nafsu dalam urusan
menjala ikan. Ia yang selalu pertama mempersiapkan segala peralatan menjala.
Pernah suatu waktu ia mendapatkan hasil yang melimpah, dan membuat seisi
perahu kegirangan bukan kepalang termasuk si Boz, tapi tak lama kemudian Boz
malah menyuruh melepas kembali ikan-ikan itu kelaut, kata Boz perahu ini
terlalu berat menanggung beban untuk bisa sampai ketujuan, bawalah sekedar
bekal kebutuhan, karena perjalanan ini masih terlalu panjang. katanya.
Begitu juga si Tole (ia
yang paling muda diantara mereka berlima) seringkali dibuat jengkel dan
acapkali melawan jika diperintah Boz. Seperti ketika Boz menyuruhnya nyebur
kelaut, padahal ia sudah berkali-kali bilang ia tidak bisa berenang. Saat ia
sedang mengeluh, Boz tiba-tiba mendorongnya dari belakang tanpa
sepengetahuannya, ia kaget bukan main, ia gelagapan sekuat tenaga
sambil berusaha menggapai-gapaikan kedua tangannya, ia berteriak cengeng agar
dinaikkan kembali keperahu. Tapi Boz tetap membiarkannya tetap seperti itu,
sampai ia bisa berusaha sendiri bagaimana cara untuk ia bisa naik kembali
keperahu.
Akupun tidak luput dari
perintah si Boz, tapi tidak seperti biasa layaknya mereka diatas yang
kesemuanya bertentangan dengan keinginan nafsu mereka. Walaupun Aku masih
baru, Boz seperti sudah tahu karakterku yang liar, pemberontak, alias susah
diatur. Tapi yang tak kumengerti beliau malah menyuruhku untuk berdiam diri
diperahu itu tanpa melakukan sesuatu apapun. Aku diperlakukan bak pangeran
dengan segala kebutuhan dan keinginan nafsuku. Tentu saja awal mulanya
keadaan ini membuatku senang, tapi setelah melihat mereka berlima yang tidak
diperlakukan sama denganku, Aku mulai tidak nyaman dan Aku merasa ini terlalu
berlebihan. Disinilah pada akhirnya Aku sadar bahwa ternyata Boz selama ini
menina bobokan nafsuku berkeliaran tak tentu arah, sampai Aku bosan dan
mencari jalan keluar sendiri.
Begitulah si boz,
seringkali beliau memerintahkan kami melakukan hal-hal yang berseberangan
dengan kemauan kami, pekerjaan yang membuat kami merasa tidak pantas untuk
melakukannya. Perintah boz seperti mendiskreditkan kami yang lebih sering
mengedepankan gengsi dari pada manfaat untuk kepribadiaan dan mental kami.
Maklum kami adalah anak-anak metropolitan yang telah dibentuk dengan nama
besar kota kami, sehingga diantara kami masih ada yang lebih mengedepankan
status sosial tempat tinggal kami diatas segala-galanya.
Boz tak ubahnya musafir
yang memungut kami dari hantaman ombak yang menghanyutkan kami tak tentu
arah. Beliau mencoba memahami kami dengan perahu kecilnya, mengarungi
samudera luas yang dikedalamannya tersimpan permata nan indah yang masih
tertutup rapat. Menjadikan kami sebagai penumpang kesayangannya, untuk digembleng
tentang makna hidup untuk lebih bijak dan apa adanya.
Nasib memang tidak ada
seorangpun yang berhak tahu, Aku hanya bisa membandingkan perubahan besar
yang terjadi kepadaku dalam bimbingan boz, dengan dulu. Ketika keadaan dapat
merubahku menjadi orang lain, menjadikanku sampah ketika hidup hanya bisa
dihargai dengan uang. Begitupun waktu dikapal besar itu, Aku tak lebih
seperti benalu yang menggerogoti tanaman untuk berkembang dan berbuah lebat.
Semisal penumpang yang membuat resah seisi kapal, menjadikan geger
dengan ulah liarku, hingga Aku menganggap keberadaanku sama halnya raga tanpa
jiwa seorang malaikat, sebagai penolongnya.
######
Awal mula ketika mendengar
kabar bahwa Boz sedang sakit. Rabu, 14 Mei 2008 Aku meresponnya biasa saja
(dan disinilah letak sesungguhnya sebuah teladan dari Boz, yang sampai saat
ini Aku masih belum bisa mencontohnya), karena aku tahu sejak dulu beliau
selalu sakit, tapi beliau tidak pernah mengeluh akan sakitnya. Disaat beliau
batukpun dan kami tahu batuknya itu menandakan sakitnya yang parah, beliau
masih dengan kekukuhannya untuk tidak membebani orang lain. Boz begitu
menikmatinya seorang diri, diantara kami sewaktu-waktu hanya membantu
memijatnya, itupun kalau kami disuruh. Sekian lama beliau mampu menanggung
rasa sakit itu seorang diri, sehingga kamipun berpikiran mungkin disitulah
sejatinya sebuah penghambaan kepada Sang Khalik, menerima dengan sepenuh jiwa
dan raga sebagai bentuk cobaan, atau teguran, atau sebagai pelantara yang membawa
hikmah kepada orang lain..??? Entahlah...!!??
Minggu Malam, 18 Mei 2008,
kabar mengenai Boz yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit membuatku
sedikit heran. Sekian lama Aku bersama Boz, beliau selalu enggan berurusan
dengan yang namanya rumah sakit, bahkan untuk membeli obat ditokopun beliau
selalu menolaknya, dan seringkali dengan nada guyon beliau bilang,
tidak ada seorang dokterpun atau obat apapun yang mampu menyembuhkan
penyakitnya itu, karena kata beliau penyakitnya itu termasuk jenis penyakit
yang langka, alias seribu satu didunia.
Rasa khawatir ini mulai
timbul pada Senin Malam, 19 Mei 2008, Boz harus rawat inap dirumah sakit itu
sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku bingung apakah aku harus berangkat
sekarang..??, atau tetap berpegang kepada keyakinanku bahwa Boz akan sembuh?.
Karena sesuai dengan kebiasaan Boz, beliau mungkin saja kerumah sakit karena
merasa tidak enak kepada orang-orang yang telah memintanya, jadi bisa saja
itu adalah bentuk penghargaan baliau kepada orang-orang yang begitu
menyayanginya. Akupun mengurungkan niatku untuk berangkat malam ini, karena
selain jarak yang terlalu jauh, kondisi badanku juga tidak begitu mendukung
untuk kesana. Tapi perasaan gelisah itu masih terus menyelimuti pikiranku
hingga keesokan harinya.
Selasa Siang, 11-30 Wib,
20 Mei 2008, membuatku sempat tercekat sesaat, setengah tidak percaya
mendengar kabar bahwa Boz telah menghembuskan nafas terakhir. Aku mencoba
mengontak teman-teman yang menemani Boz dirumah sakit itu. Tapi HP mereka
tidak ada yang aktif, Aku jadi semakin gelisah dan bingung, Aku segera
mengambil keputusan untuk berangkat sekarang juga agar semuanya menjadi jelas
dan tidak membuatku gelisah.
Malam Rabu, 17-30 Wib, 21
Mei 2008, Boz telah selesai dikebumikan, teman-teman menyambutku tanpa
sepatah kata, mata mereka terlihat sembab pertanda duka yang amat sangat.
Akupun larut terbawa suasana itu, sosok Boz tiba-tiba terbayang sedemikian
rupa, Aku merasa menyesal karena tidak sempat berada disisinya ketika disaat-saat
terakhir beliau membutuhkan kehadiran anak-anaknya.
######
Boz telah meninggalkan
kami didalam perahu yang seperti dikagetkan oleh gelombang besar yang
tiba-tiba datang menghempaskan kami. Kami tak ubahnya anak buah kapal yang
kehilangan nakhoda sebagai penuntun layar, pembimbing mencari ikan, pendidik
kami ketika belajar berenang, ditengah hamparan samudera yang setiap saat
akan menenggelamkan kami, badai besar yang senantiasa membawa kami terdampar
disebuah pulau tak berpenghuni, dengan bermacam keindahan didalamnya yang
akan membuat kami terhanyut. Beliau telah menyelesaikan petualangannya dengan
sempurna, walaupun tanpa kehadiran seorang permaisuri sebagai bagian dari
jalan hidup yang telah ditempuhnya, belahan jiwa yang meratapi kepergiannya
dengan linangan air mata cinta, sekaligus bidadari dunia yang akan
mendampinginya disurga.
Tapi kami adalah anak
kesayangan, anak-anak Boz yang dipungut dari keterpurukan. Setelah
kepergiannya kami akan berusaha semampu kami untuk terus berlayar dengan
segenap bimbingan dan teladan yang telah beliau ajarkan kepada kami, untuk
sekedar menunjukkan bahwa kami juga menyayanginya.
|
Jalur
Alternatif
Beberapa kilo lagi kami
akan keluar dari tol, tiba-tiba perutku mual ingin muntah, ini pasti karena
sembarangnya makanan yang masuk keperutku. Mulai dari baso pas berada dikapal
tadi, buah-buahan dan jajanan pinggir jalan yang dijajakan asongan, belum
sudah berapa bungkus batang rokok yang telah aku hisap, membuat isi dalam
perut ini tidak karu-karuan, dan pada akhirnya akupun muntah tak tertahankan
lagi.
Jajanan itu kini berbentuk
cairan busuk, tidak seperti jajanan yang sebelum masuk keperutku, yang
menggugah seleraku untuk mencicipinya. Aroma busuknya membuat disekelilingku
ingin muntah, walaupun keadaan perut mereka tidak seperti perutku saat ini.
Mereka tadi sempat memperingatkanku agar jangan terlalu serakah, mengikuti
nafsu selera makanku. Tapi dasar!!, aku memang manusia yang terlalu tamak,
yang tidak pernah puas dan tidak pernah merasa cukup.
“Mau saya antar mas? “
“Jalur utamanya macet!!,
bisa berjam-jam kalau nunggu. Gimana kalau saya antar lewat jalur alternatif
saja?, cuma dua puluh ribu kok!!“
Tidak banyak orang tahu
jalur alternatif ini, dan mungkin memang sengaja tidak dikasih tahu. Kami
saja bermodal nekat, walaupun beberapa orang tadi menawarkan jasanya,
mengantar kami untuk melewati jalur ini. Untung saja kami menolak, karena
setelah kami lewat, hampir disetiap belokan jalur yang melewati depan rumah
penduduk ini, kami menjumpai banyak yang seperti mereka, yang mengatas
namakan dirinya sebagai penunjuk jalan. Dan mau tidak mau kami harus
mengeluarkan rupiah sebagai imbalan, dari setiap mereka yang kami temui. Yang
menurut kami sama saja dengan pungli, toh!! walaupun tanpa jasa mereka, sudah
banyak terpampang plang-plang yang memberi petunjuk arah jalur ini sampai
ketujuan.
Malam menyelimuti jalanan,
diterangi sepasang lampu sorot mobil yang melewati jalur alternatif
Surabaya-Pasuruan. Perut ini masih saja mual, seakan ingin mengeluarkan
segala isi yang ada didalamnya, hingga sampai terkuras tanpa tersisa
sedikitpun. Karena mungkin hanya dengan cara itulah perut ini bisa kembali
lega seperti sebelumnya.
“kita berhenti dulu, biar
mualnya kau muntahkan diluar sana” suruh kakakku memberi solusi, Ia mungkin
sudah tidak tahan lagi, dan takut perutnya ikut-ikutan mual.
Kamipun akhirnya berhenti
dijalur yang agak sepi, jauh dari rumah penduduk. Jauh disebelah kanan jalur
ini mungkin dulunya terhampar sawah atau rumah-rumah, yang kini sudah
digenangi lumpur yang secara perlahan semakin merambat, memperlambat
aliran-aliran sungai, menutupi selokan-selokan yang akan terus menjalar
hingga mencapai permukaan.
Wilayah ini mungkin tidak
akan lama lagi seperti wilayah-wilayah lainnya yang sudah terendam, dan kini
hanya tinggal kenangannya saja yang selamanya akan membekas dibenak
masing-masing para penghuninya.
Gara-gara muntahanku ini
membuat mereka tidak habis pikir, apa yang telah aku makan tadi?, apa yang
salah dengan makanan yang ada dalam perutku ini?. Jangan-jangan!! baso tadi,
mungkin saja bercampur barang najis?. Atau jajanan-jajanan itu sisa seminggu
yang dibuat awet dan dikemas secara menarik, lalu dijual kembali?. Atau
mungkin uang yang telah aku belanjakan ini yang statusnya memang membuatku
bimbang?. Atau malah memang tubuhku yang kurang kebal diterpa angin malam,
yang memang selama ini aku kurang merawatnya dengan baik, sebagai bentuk rasa
syukurku kepada-Nya?, entahlah...!! aku jadi berprasangka macam-macam.
Dihamparan luas yang serba
hitam, hanya bintik-bintik putih kecil tak beraturan tampak dari kejauhan,
lampu-lampu rumah penduduk yang menandakan secercah kehidupan mereka melawan
pekatnya malam. Asap mengepul dari semburan lumpur yang tampa henti,
mengeluarkan isi perut bumi berupa cairan panas yang mengendap didalamnya.
“Mungkin perut bumi sedang
mual?!, sama sepertiku saat ini. Jadi, ia harus memuntahkannya lewat mulut
sampai betul-betul plong, hingga tidak tersisa eneg yang mengganjal
diperutnya“
“Tapi kemana ia akan
mengeluh?, pada siapa ia akan mengadu akan keluhannya itu?, sedangkan ia
tercipta dengan segenap jiwa dan raga yang sama sekali berbeda dengan kita?“
Masalahnya mungkin tidak
jauh beda, antara perutku dan perut bumi sama-sama korban dari keserakahan
tuannya yang tidak pernah puas, alias terlalu tamak. Bukan hanya karena
terlalu kenyang kemudian buang air besar!!, tapi sang tuan tidak pernah
merasa perutnya kenyang, bahkan enggan untuk sekedar buang air besar.
Ibuku memijat-mijat
leherku untuk memperlancar rasa mualku agar bisa kumuntahkan semua, sambil
mengoles-oleskan balsem disekujur tubuhku, membuat rasa hangat dari terpaan
angin malam. Kakakku menyuruhku pindah duduk dikursi belakang, agar bisa
istirahat sambil tiduran. Ia memberi saran agar jangan terlalu banyak makan
ketika dalam perjalanan, makanlah sekedarnya sebagai pengganjal perut yang
kosong. Jadikanlah bekal sewaktu-waktu ketika perut ini membutuhkannya,
karena perjalanan ini masih sangat jauh, dan tidak hanya bermodal makanan
untuk bisa sampai ketujuan.
Apakah perut bumi juga
perlu dipijat leher tuannya?, serta diolesi balsem agar sang tuan sadar bahwa
perut besarnya sedang mual?. Tapi!! sungguh keterlaluan jika sampai saat ini
ia belum sadar. Sedangkan muntahannya sudah terlalu banyak keluar, bahkan
telah membawa korban.
Muntahannya tidak hanya
cukup berhenti ditengah jalan, hampir disetiap perjalanannya ia terus muntah
dan muntah, seperti meminta-minta belas kasihan dengan mimik bahwa ia sedang
butuh pertolongan. Ia seperti butuh perhatian dari tuannya, perhatian yang
lebih dari sekedar merawat dan menjaganya agar sembuh dari mualnya, tapi sang
tuan harus berjanji kepadanya untuk tidak terlalu tamak menguras habis isi
didalam perutnya.
Perutku sudah agak
mendingan, rasa mual ini sudah tidak lagi memaksaku untuk mengeluarkan cairan
busuknya, akupun akhirnya tertidur pulas disamping ibuku yang senantiasa
menjagaku.
######
Rabu siang 26-03-08 :
Kini kami dalam perjalanan
pulang, setelah sebagian dari perjalanan yang begitu panjang telah selesai
kami penuhi. Terik matahari siang serasa kami layaknya kue didalam oven,
belum lagi suara bising kendaraan, hingar bingar orang-orang tak ubahnya
rengekan anak-anak kecil, yang tak sabaran ingin segera mencicipi kue-kue itu
yang sebentar lagi matang.
Selang beberapa kilo
setelah kami masuk tol, dan melewati jalur alternatif itu. Kini kami
dipusingkan oleh segerombolan para pendemo dengan berbagai macam atribut,
dengan tulisan-tulisan yang mewakilkan keluh-kesah mereka:
“Ini adalah kesalahan
bukan fenomena alam“.
“Kami adalah korban yang
dikambing hitamkan”.
Antrian kendaraanpun
menjadi panjang karena harus melewati jalur satu arah secara bergantian:
“Kami ini orang susah,
jangan malah ditambah susah”.
“Berikan kami ganti rugi
yang semestinya, karena itu adalah hak kami“.
Mereka memblokir jalan
meminta perhatian kepada para pengendara yang lewat. Mulai dari ibu-ibu
sambil membawa bayi dalam gendongannya, sampai nenek-kakek begitu bersemangat
meneriakkan keluh-kesah mereka akan nasibnya. Bahkan banyak diantara mereka
menangis sesungukan, memohon belas kasihan kepada siapa saja yang merasa
mempunyai hati nurani:
“Para tuan tanah telah
membajak hasil karya bumi tampa seijin kami“.
“Tentu tidak hanya bumi
yang marah kamipun ikut marah, karena sebuah karya adalah anugerah untuk
makhluk dari Sang Maha Berkarya“.
“Dan sekarang!!, tidak ada
seorangpun yang mau disalahkan, semuanya merasa benar sendiri dan saling
menyalahkan“.
“Hingga mungkin, pada
suatu saat nanti tidak hanya bumi saja yang mual, semuanya pun ikut-ikutan
mual mengeluarkan muntahannya karena terlalu muak“.
Ya..!! mereka adalah
korban muntahan bumi, yang mempunyai andil besar ngopeni perut bumi agar
senantiasa bermurah hati menghamparkan perutnya untuk kita tempati. Tapi
pengorbanan mereka seakan sia-sia. Segelintir dari mereka yang mempunyai
tujuan ikhlas, masih kalah kuat dengan para tuan perut yang hanya memikirkan
kotoran yang akan keluar dari perutnya.
Kemana kini mereka akan
berpijak, setelah kehangatan tawa canda, kebersamaan suka dan duka mulai
hilang dari pelupuk mata? Dimana mereka akan berteduh ketika semangat kerja
keras menggelora, peraduan disaat lelah dan penat membungkuk sebagai hamba
yang hina sudah tidak lagi menjadi sandaran mereka?
Kami hanya mampu menatap
mereka dengan mata telanjang, ketika semua mata sudah terkontaminasi oleh
ketidakadilan. Kami hanya bisa merasa dengan setengah hati, disaat hati ini
telah beralih fungsi. Disaat raga ini hanya memikirkan dirinya sendiri, tampa
jiwa yang dinina bobokan duniawi, dan ruh hanyalah segumpal daging yang
merasa akan selamanya berdenyut.
Mungkin disaat ini setelah
memasuki kapal, aku bisa berpikir sejenak sambil memandangi samudera luas
yang menghampar, menyeberanginya menuju pelabuhan:
Ketika seandainya saja
tanpa kami duga, tiba-tiba gelombang laut berubah menjadi besar,
menggulung-gulung lalu menghantam kapal ini hingga oleng. Angin bertiup
begitu kencang hingga kami terombang-ambing layaknya kaleng kosong yang
terdengar gaduh. Secara bersamaan hujanpun turun dengan sangat lebatnya,
disertai pekikan kilat yang menyambar-nyambar, gemuruhnya seperti menvonis
kami sebagai pesakitan. Tidak ada kata selain ketidak berdayaan kami. Tidak
ada seruan selain lengkingan jeritan kami. Tidak ada upaya selain rasa
bersalah. Ketika ada yang terlupakan, mungkin hanya disaat seperti itulah
kami bisa mengingat Tuhan.
|
Kursi Kosong
Rumus-rumus itulah biang
reaksi kimiawi dengan getaran hebat yang saling tarik menarik.
Sinyal-sinyalnya terasa aneh? Menggugah jiwa dalam kadar tertentu, dan entah
kenapa raga yang tiba-tiba blingsatan, ketika kamu duduk di sebelahku.
Kau tahu rumus tenses njlimet waktu itu? Sekedar memanipulasi kaku aku
bertanya dan kamupun menjawabnya dengan anggun.
Master English Man
kita tak ubahnya pria kesetrum. Efek dari komposisi kimiawi yang membuatku
hilang kesadaran. Namun setelah itu? Masing-masing diantara kita saling
menyimpan rahasia untuk dirinya sendiri. Rahasia yang tidak akan pernah
diketahui oleh siapapun, bahkan di kelas fundamental ini rahasia itu
berpendar misterius, mengabur diantara rumus-rumus nan nlimet.
"Ras, tidakkah
sekuntum mawar telah memekarkan kembangnya untuk kau petik?".
"aku ragu Ir..??.
."Kenapa Ras.?
Bukankah cinta itu tidak ditentukan kadarnya, tidak diungkapkan
rahasia-rahasianya, tidak digemakan bunyi senar-senarnya dan tidak dinyalakan
apinya? Kenapa engkau mesti ragu?".
"Jangan Ir, jangan
kau paksa aku untuk memetik sekuntum kembang menur itu. Karena dengan begitu
engkau sama saja dengan membunuhku sebagai kumbang yang telah kehilangan
sengatnya".
Rahasia itu hanya bisa
dibahasakan dengan diam, melebur suasananya membentuk arasemen musik terindah
yang menghanyutkan dua jiwa dalam imajinasi-imajinasi liar. Mendengarkan
detak jantung dan debaran-debaran hati, melihat hantu pikirannya, dan perasaan
halus yang senantiasa membelainya.
Kesunyian menjadi
rangkaian dua jiwa setiap kali jika salah satu memandang wajah yang lain.
Timbul tanya apa yang sedang dirasakan hati? Mendengarkan suara-suara
tersembunyi dalam denyut nafas masing-masing yang saling memburu. Sama-sama
mendengar suara tanpa kata dan melihat hantu jiwa bergetayangan melalui
sepasang mata.
"Kenapa engkau takut
mati sebagai kumbang itu Ras? Kau jangan membohongi perasaanmu. Tidakkah
engkau merasa muak melihat kumbang lain berceloteh sumbang, bermanis-manis
kata di dekatnya?".
"Aku mengagumi
keindahan materialnya Ir, tapi secara nalar ia sama sekali tidak ideal".
"Alaahhh.... persetan
dengan nalar Ras, sampai kapan engkau akan seperti itu? Cinta adalah anugerah
Ilahi yang akan menuntun kita tanpa kita tahu tujuannya. Kita mestinya
berterima kasih pada-Nya yang membuat kita berada dalam kedamaian walau kita
hidup dalam derita".
"Sudahlah Ras, segera
kau petik kembang menur itu, kau pantas mendapatkan keindahannya yang tiada
tara yang belum pernah engkau rasakan".
Mulut tergagap, menanti
dengan harap-harap cemas. Sama-sama menunggu siapa yang akan memulai terlebih
dahulu. Bertanya tentang sesuatu apapun yang senantiasa membuat hati gundah
gulana. Namun sebuah jawaban tidak berarti pemahaman, rangkaian kata dari
irama bibir belaka, lidah-lidah tak bertulang tidak selalu membawa sepasang
hati bersama.
Kesunyian itu masih
menyimpan misteri yang mengasyikkan. Master English Man dengan gaya
kocaknya memaparkan rumus-rumus nan njlimet sambil sesekali membuatku
kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaannya. Kau hanya tersenyum geli melihat
tingkahku di saat kelabakan seperti itu.
Tapi tiba-tiba secara
fantastis, engkau memecah kesunyian itu, menggodaku dengan guyonan yang
sebenarnya tidaklah lucu. Tapi apalah manfaat lucu? Jika tatap matamu seiring
sisa-sisa tawa kecilmu yang engkau paksakan, sanggup memacu detak jantung
hingga sepersekian detik. Sehabis terengah-engah, ada hawa dingin berdesir
sepoi, menjalar di sekujur tubuh melalui urat-urat nadi. Merangsang pembuluh
darah, memompa kembali denyut jantung, berganti hangat melelehkan peluh,
sekujur tubuhpun menjadi panas dingin.
######
Secara perlahan engkau
mulai menghindar dari celoteh sumbang itu. Celoteh yang tidak kenal menyerah
membuntuti tempat dudukmu, engkau sisihkan dengan muslihat kewanitaanmu.
Dasar, ia memang
lihai bermanis kata, dan sanggup membuatmu tertawa dari jarak yang tidak
sepantasnya ia berceloteh. Hati ini meradang melonjak marah, ingin sekali aku
membungkam celoteh sumbang itu dengan bogem mentah. Untung saja Master
English Man membuyarkan semua dan memberinya kesempatan bagi celoteh
sumbang mengelus dada. Sebelum amarahku diujung tanduk, sebelum beliau mulai
berumus-rumus ria.
Tersisa kursi kosong si
celoteh sumbang yang sedari tadi engkau harap sedemikian rupa agar tetap
melompong. Harapan itu terkabul, kursi itu seperti dimantera, dan tak
seorangpun dengan jantan berani mendekatinya, sesaat, ketika aku ingin sekali
mendudukinya.
######
Tidak ada motormu di
parkiran sana. Apa mungkin karena terlalu pagi aku berangkat? Ahh..
tidak, jam-jam segini seperti biasa aku terlambat, kelas Master
English Manpun sudah dimulai, dan engkau tidak pernah terlambat.
Engkau tidak masuk hari
ini, engkau sakit?, (celoteh sumbang menjawab pertanyaanku dengan nada
kurang senang, berwajah masam, entah kenapa dengannya?) Engkau
muntah-muntah? Benarkah? Apakah mungkin engkau muak melihat sikapku kemarin
yang sedingin kutub? Ya, kutub? Hawa kutub yang mungkin baru kali ini
engkau merasakan dinginnya. Bahkan jika memelototi kesempurnaanmu, engkau
sama sekali tidak pernah membayangkannya. Ataukah mungkinkah hanya sekedar
masuk angin saja? Aku harap begitu..!!.
Esok hari hingga hari-hari
terakhir, engkau menghilang. Kemana? Ada apa? Masih sakitkah? Wajah bulan
itu? Binar mata mahkota bulu lentik itu? Rambut lurusmu ketika engkau gelung?
Sikapmu ketika kesal karena lagakku yang sok pintar? Atau di saat sunyi
melebur dua jiwa dalam imajinasi-imajinasi liar. Mendengarkan detak jantung
dan debaran-debaran hati, melihat hantu pikirannya dan perasaan halus yang
senantiasa membelainya. Mendengar suara-suara tersembunyi dalam denyut nafas
masing-masing yang saling memburu. Sama-sama mendengar suara tanpa kata, dan
melihat hantu jiwa bergentayangan melalui sepasang mata.
Rasionalkah semua
ini, ketika engkau dipaksa untuk mengirasionalkannya? Atau Irasionalkah,
ketika engkau dipaksa untuk merasionalkannya? Entahlah...!!! aku mencintai
perempuan ini, aku mencintainya karena aku tidak punya satupun bayangan
sesuatu yang indah tentang hidup
Kediri, 2008
|
Gagak-Gagak
Hitam
Entah kenapa? Atau
mungkinkah ia telah punah? Burung itu tidak lagi terbang meraung-raung di
awang-awang sana dengan bunyinya yang menyayat. Tetangga sebelah yang mantan
pegawai meregang nyawasetelah siangnya habis menerima gaji pensiunan. Hanya
berselang empat hari, tetangga yang seorang tokoh wafat tanpa seseorang yang
berada di sisinya. Menyusul dua hari kemudian ibu penjual nasi di seberang
jalan, dan yang tak kalah mengejutkan, kematian tragis tetangga desa yang
katanya diguna-guna.
Sekitar lima belas tahun
sudah, semenjak anak-anak kecil yang nyungsep di ketiak ibunya itu
kini telah berumur dua puluh enam tahun. Selama itu pula gagak-gagak itu
tidak pernah muncul lagi terbang meraung-raung di langit kampungnya, hinggap
dari satu dahan ke dahan lainnya, dan membuatnya lari tunggang langgang.
Semenjak itu kematian betul-betul laksana mendung.
Seperti seorang yang
sedang dilanda rindu, kemanakah kiranya gagak-gagak itu? Benarkah gagak-gagak
itu telah terbang jauh, menyelematkan spesiesnya dari para pemburu kematian
yang menaruh dendam? Karena hanya ditangan pemburulah keberadaannya sebagai
makhluk menjadi tidak berguna. Atau jangan-jangan gagak-gagak itupun saat ini
sama seperti dirinya, rindu akan pesan kemtian? Lantas dimanakah ia kini?
Masihkah ia tetap menjadi peliharaan kesayangan Izrail, yang mungkin saja menaruh
iba dan memborgol kakinya dalam sangkar yang berada entah dimana..??
Kerinduan akan raungan iba
gagak-gagak menangisi kepergian ruh menanggung beban raga yang pongah. Ketika
ketidak berdayaan raga mencapai puncak, memblepoti mulutnya dengan Asma-asma
Tuhan, sembari menunggu pesan kematian menjemputnya. Rindu disaat lapangnya
raga dihadapan takdir, memanfaatkan detak demi detak jantung yang tersisa,
tanpa tangis, tanpa sesal kemudian, tanpa sesuatu yang berlebihan. Ia rindu
masa kecil, membayangkan malam mencekam hantu-hantu bergentayangan dalam
ketiak ibunya, arwah penasaran orang-orang yang tidak mengindahkan pesan
kematian gagak-gagak hitam.
Mungkinkah karena waktu
yang kian melaju cepat? Sehingga tidak ada kesempatan bagi gagak-gagak itu
untuk berpacu dalam putarannya. Gagak-gagak itu mungkin lebih memilih untuk
menyerah, memborgol kakinya dalam sangkar yang entah dimana sembari menunggu
pesan kematian menjemputnya. Atau jangan-jangan izrail telah memasrahkannya
pada alam? Sungguh tugas yang amat berat, karena alam sendiripun adalah ruang
yang dihuni waktu, waktu yang terus melaju kencang membuat penghuninya hilang
ingatan.
Pesan kematian itu
layaknya bom waktu yang setiap saat meminta tumbal, tidak ada lagi
seremonial, tidak ada lagi ritual-ritual perpisahan menyambut kedatangan
izrail sebagai upaya merayunya untuk sedikit berbelas kasihan mencabut
nyawanya dengan cara damai.
Kini ia harus sebatang
kara menyumpahi hidup, hidup yang tidak mengenal waktu, bahkan terhadap
kematianpun ia tidak mau menyerah. Sang ibu tertimbun reruntuhan bangunan
dalam posisi telungkup, di tangannya masih tergenggam erat sutil. Tak jauh
dari sang ibu sang bapak ditemukan dalam keadaan tanpa sehelai benangpun
dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Kedua adiknya yang sewaktu kejadian
biasa bermain di sekitar rumahnya sampai saat ini masih dalam proses
evakuasi.
Kampung kawah kelahirannya
itu kini rata dengan tanah. Hanya menyisakan bangunan masjid yang masih tegap
berdiri pongah dengan lagak sok sucinya. Sebagian penghuninya yang tersisa
teronggok di pengungsian, menatap kosong lalu lalang simpatisan yang
bersliweran. Ia adalah bagian dari tatapan kosong itu yang tidak tahu harus
berbuat apa. Haruskah ia menyalahkan kedua orang tuanya yang acapkali berceloteh
tentang Tuhan hingga membuatnya sering keluyuran??.
Ataukah ia harus
menyalahkan para tuan tanah yang lalai karena terlalu sibuk memikirkan
perutnya? Atau haruskah bersyukur, karena sebab itu ia telah terpilih sebagai
yang terselamatkan? Tapi apa guna sebagai yang terselamatkan, jika saat ini
ia sebatang kara? Apa yang akan ia makan nanti? Dimana ia akan tinggal?
Bagaimana dengan masa depannya? Ia sama sekali tidak sanggup, jiwanya
terngiang-ngiang rindu akan pesan kematian gagak-gagak hitam, karena mungkin
dengan pesan itu ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya beserta
ritual-ritual penyambutannya.
Pamekasan, 2008
|
Daun Emas
Aku pikir mereka terlalu
kekanak-kanakan. Tanah kerontang di belakang rumah itu terlalu naif jika
harus disengketakan. Aku juga terkadang menyalahkan bapak dengan tanah
peninggalannya itu tanpa ada hitam diatas putih. Bapak terlalu percaya penuh,
Mat Surat dapat bertindak adil terhadap adik-adiknya. Padahal itu dulu,
sebelum anak-anaknya beranak pinak seperti saat ini.
Tanah kehausan itu..? Ah,
untuk apa aku harus bersusah payah mencarikannya minum disaat musim kemarau
berkepanjangan..? Kulit uang sudah hitam tidak ingin bertambah legam,
berpanas-panas ria dibawah terik angkuh sang mentari. Lebih baik mengadu
nasib di tanah orang. Toh, walaupun menggelandang, gengsi sebagai orang
rantau jelas membanggakan.
Justru karena tembakau
itulah persoalannya. Entah sampai kapan kita bisa menjadi tuan di tanah
sendiri..? Lepas dari para cukong di singgasana gudang-gudang mereka sedang
mengangkangi kita..? Sampai kapan kilau daun emasnya sebanding dengan jerih
payah kita..? Menjadi harta tak ternilai untuk diharapkan. Kita terlalu mudah
dikadali.
Ohh,, alangkah malang
saudaraku yang satu ini. Baginya segala sesuatu harus dibumbui kekerasan,
karakter bapak yang melekat mewarisi tindak tanduknya dalam bersikap dalam
bersikap. Mudah dikadali dan seringakli ceroboh, tanpa pikir panjang
mengakhirinya dengan senjata tajam. Clurit yang selalu dalam genggamannya
sewaktu-waktu teracung pongah, menimbulkan tanda tanya untuk sekedar
menggertak..?? Atau entah..??.
Sedangkan aku terlalu
banyak diam, karakter ibu dalam nina bobo bapak. Jiwa berontak dengan nyali
ciut seringkali hanya terkulai pasrah dalam belaian nasib, keinginan untuk
merantaupun sebenarnya tak lepas dari desakan istriku yang senantiasa
menuntuk banyak.
Lagi-lagi tanah kerontang
itu..? Untuk apa aku harus bersusah payah mencarikannya minum..?? Kulit yang
sudah hitam tidak ingin bertambah legam, berpanas-panas ria dibawah terik
angkuh sang mentari. Namun apa boleh buat..? Mata sattar mulai memerah
memelototiku, aku harus menuruti kemauannya.
Seperti biasa mat surat
dengan celotehnya piciknya, acapkali ia berlagak seperti itu ketika sattar
menuntut tanah itu dengan penuh amarah. Lalu setenagh acuh ia melanjutkan
celotehnya lagi.
"Seringkali aku
katakan, untuk apa tanah mandul itu tar..?? Kamu mau tanah itu dijual, lalu
uangnya kita bagi..? Berarti engkau tidak mengindahkan keinginan bapak agar
tanah itu tetap menjadi warisan keluarga yang tidak bisa diganggu
gugat".
Keinginan yang bapak
wasiatkan sewaktu aku dan sattar masih berupa orok. Alasan yang sungguh tidak
masuk akal, karena setelah aku besarpun bapak tidak pernah mengungkit-ungkit
tentang wasiatnya itu. Namun apa boleh buat, mat surat sudah terlanjur
menjejalkan kepercayaan semu itu tanpa kami sanggup menggugatnya. Karena dengan
begitu ia bisa leluasa menggarap tanah itu seprang diri.
Alahh... sejak kapan
engaku peduli dengan kematian mat..??Kenapa baru sekarang kesadaran itu
menggerayangimu dengan mimik muka yang sungguh memuakkan itu..? Kenapa tidak
sejak dulu penyesalan itu kau taruh dalam bungkusan rokok yang saat ini
tergeletak berserakan di hadapanmu itu..? Lantas mau kau pakan tanah
kerontang itu, jika kemunafikan kau hirup sedalam mungkin disetiap asap yang
mengepul dari kedua bibirmu yang legam itu..? Hanya daun itu mat, yang akan
membuat para petani senantiasa selalu mempunyai harapan, dan tanah itu enggan
berbuah uang jika lembar daun emasnya tidak engkau tanam di kala musim
kemarau tiba.
Aku marah pada diri
sendiri, marah akan kilau daun emasnya, pada tanah peninggalan bapak
satu-satunya itu, tanah kerontang yang mandul. Pada sattar yang gampang naik
darah, tingkah mat surat yang selicin belut.
******
Setahun hidupku di tanah
rantau, kabar tentang mereka masih saja soal tanah itu yang tetap menjadi sengketa.
Hingga pada pertengahan tahun kedua, kabar memilukan yang membuatku kaget
sekaligus merinding, mengenai sattar yang kalap menghabisi mat surat dengan
cara membacoknya. Namun aku tidak berani pulang, karena kabar berikutnya yang
aku dengar sattar juga mengincarku dengan menyewa seorang blater. Entah apa
yang merasuki otaknya hingga ia pun berniat ingin menghabisiku juga. Kabar
itu tak terbukti tapi senantiasa membuatku selalu waspada.
Tiga bulan setelah
kematian mat surat, peristiwa nan tragis kembali mengiris perih hati ini.
Pedih nian mendengar kabar kematian sattar ditangan dua blater sewaan istri
mat surat yang menaruh dendam. Keluarga besarku berantakan, aku bingung harus
berbuat apa. Suasananya berubah semakin mencekam, dua keluarga satu induk itu
saling bersitegang, sama-sama tidak mau disalahkan, menunggu saat yang tepat
dari masing-masing sanak keluarganya untuk sebuah pembalasan yang sama-sama
dirasa cukup setimpal.
Puncaknya ketika keluarga
mat surat tidak memperkenankan jasad sattar di kebumikan bersebelahan dengan
mat surat, keluarga sattar tentu tidak menerima perlakuan yang dianggap tidak
adil itu. Hingga aku pun akhirnya didesak ibuku untuk segra pulang, ibu sudah
tidak sanggup lagi menengahinya, hari tuanya berubah kelam seiring tubuh
rentanya yang semakin tak berdaya menopang beban hidup yang kini menimpa
keluarga besarnya.
Kini, dua nisan itu
teronggok di tengah pemakaman keluarga. Mungkin pada akhirnya hanya dengan
berkalang tanahlah yang bisa membuat mereka hidup berdampingan. Tanah yang
gersang nan kerontang, dengan kilau lembar daun emasnya yang sanggup
membutakan para penghuninya.
|
Riwayat Sebuah
Perahu
Seratus abad, ketika
Palestina meletakkan batu pertama Bait Al-Maqdis, membingkai Tembok Ratapan,
membunyikan Lonceng Bethlehem, serta melahirkan orok Revolusioner Arafat,
hingga tragedi remuk redam rudal-rudal nyasar. Nuh, Sang Nakhoda Tuhan telah
sedemikian melegenda bersama Perahu fenomenalnya. Tapi ini bukan Kan’an,
sarang manusia tak berakal yang dimurkai Tuhan. Desa ini bernama Sumber,
Sumber organ kehidupan sekaligus jantung bagi Penduduk keseluruhan, dan Dia
berdasarkan desas-desus sebagai pewaris Nuh, adalah bagian dari mereka yang
sangat berakal dan serba masuk akal.
“Ini adalah proyek
fenomenal yang akan melegenda” khotbahnya.
“Sebuah Perahu Nuh”
Ia berdiri dengan seutas senyum mengembang di tengah-tengah hamparan gundul
tanah warisan bapaknya.
Tanah keriput itu
akan disulap layaknya Jabal Nuh. Tanah kerontang kehausan yang Ia anggap
sakral untuk menjadi landasan berlayar Perahu Nuh. Menurut khotbahnya perahu
itu akan membawanya mengelilingi negeri ini yang sudah terendam air, dan akan
berlabuh dengan sendirinya ketika air itu surut. Di situlah Ia akan seperti
Musa sehabis mengubur Fir’aun tampa nisan. Orang-orang yang enggan menaiki
Perahunya, nasibnya akan seperti Fir’aun, Orang-orang yang mengacuhkannya berarti
telah meremehkan keampuhan tongkat Musa. Ia mangaku telah mendapat isyarat
langsung dari tumbuh-tumbuhan, tanda terima dari alam dan bumi pun telah
memberikan restu untuknya. Ia berharap agar semua orang mempercayainya,
sebagaimana Sulaiman dengan bahasa binatangnya. Ia tidak mau disebut nabi,
tapi Ia mengakui Ia adalah pengagum berat Nietzshe, Si nabi kecil dengan
Adimanusianya. Tak heran khotbahnya itu telah membuat telinga-telinga
terhormat kepanasan. Karena memang seperti itulah telinga-telinga besar yang
menggemari pujian, suplemen penyemangat mengimpikan surga.
“Setan apa yang
merasukimu sehingga engkau merasa sebagai pewaris Nuh?”
“Setan akal..!!”
jawabnya tegas.
“Maksud kamu apa?”
“Setan yang menghuni
akal, yang engkau usir dengan wirid-wirid bernada ketakutan dan kini telah
menjelma iblis merasuki akalku”
“Kamu bilang Aku
takut? Apa tidak terbalik?”
“Sama sekali tidak,
karena sejatinya engkau tidak benar-benar mengusirnya. engkau sekedar
menyuruhnya pergi, kini, iblis itu telah merasuki akalku”
“Aku tidak mengerti
apa yang kamu katakan, perkataanmu menyerupai iblis”
“Terserah, tugasku
hanya menawarimu, dan untuk yang terakhir kali, apakah kamu masih bersedia
untuk menjadi penumpang kapalku?”
“Tidak..!! sekali
tidak, tetap tidak. Bertobatlah..!!!! Bertobatlah segera..!!” Ia tidak
memperdulikan anjuran itu, Ia sudah menduga penolakan yang sama yang akan Ia
dapat, telinga-telinga besar sudah kadung mengecapnya sesat, dan hanya
merekalah yang berhak memvonis itu.
Tapi Ia tidak
segampang itu menyerah, karena Ia pewaris Nuh utusan Tuhan yang menjadi
teladan. Jiwanya adalah semangat Palestina dengan keyakinan dan keteguhannya
hingga rela bersimbah darah. Tapi sejatinya Ia tidak mau terluka, melihat
darah saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri, Ia merindukan kedamaian dalam
nina bobo semesta alam.
****
Pantang menyerah,
itulah Si nabi kecil mempertontonkan kebajikannya setinggi mungkin bagi
keakraban nama-nama. Sambil tergagap Ia berceloteh:
“Inilah kebaikanku
yang Aku cintai, yang memuaskan Aku seluruhnya dan hanya dengan cara inilah
Aku menginginkannya” selorohnya di hadapan ratusan pasang mata para perancang
perahu. Kemudian, sambil berlagak konseptor Ia mengamati para perancang
bekerja yang Ia datangkan dari berbagai penjuru daerah. Mereka berpakaian
sangat rapi, hampir kecele menilai mereka, tak ubahnya idealis kawakan yang
pasrah bekerja serabutan. Di hadapan mereka Ia berkhotbah:
“Nanti kalian semua
akan menjadi penumpangku”
“Tidak usahlah
tuan..!! Kami di rumah saja”
Ia kaget dengan
penolakan yang tiba-tiba itu. Ia tidak menduga mereka yang selama ini menjadi
bahan tertawaan, sosok yang memalukan dan menyedihkan bagi Si nabi kecil,
telah berani-beraninya makar. Ia pun membentaknya dengan muka merah padam:
“Sejak kapan kalian
berani berkata tidak? Bukankah itu bukan sifat asli kalian?”
“Apa kalian tidak
ingin menjadi bagian dari sebuah peradaban yang baru?”
“Apa kalian tidak
ingin selamat?”
“Dengan bekerja,
dapat uang, bisa makan, kami akan selamat tuan..!!” jawab mereka
materialistis.
“Ini tidak ada
kaitannya dengan itu, semua itu tidak ada gunanya jika nanti waktu nya telah
tiba”
“Tidak ada waktu yang
tidak berguna bagi kami tuan, waktu adalah uang, uang, dan uang, titik
tuan..!!” Lagi-lagi Si nabi kecil seperti kena tampar, mereka benar-benar
telah gelap mata, pikirnya.
“Apa kalian tidak
menyesal dengan perkataan kalian itu?”
“Apa yang mesti
disesali tuan? Toh, kenyataannya hidup kami memang seperti itu?” jawabnya
diplomatis, sembari diamini oleh rekan-rekan mereka yang lain.
“Apa yang lainnya
cuma bisa mengamini? Kenapa kalian tidak berani mengambil keputusan sendiri?”
“Mereka tidak berhak
berkomentar tuan, komentar mereka tidak akan didengar, mereka berkomentar
melalui hati dan itu adalah harapan dan do’a mereka”
Mereka menjawabnya
dengan cerdas. Ia dibuat kelu, tak tersisa lagi pertanyaan karena selalu
dijawab dengan benar. Maka lidah yang kelu hanya terucap:
“Terserah ka....!!”
yang itu pun disambar dengan permintaan mereka,
“Kami butuh kayu
lagi Tuan..!!” sembari diamini rekan-rekannya.
Baru terpikirkan,
uang dari hasil tabungannya menjadi Si nabi kecil sudah menipis dan tidak
akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kayu yang mendesak. Selama ini tenaga dan
pikirannya terforsir, matanya berwarna coklat kering dedaunan, badannya hitam
legam kepanasan, baunya mengganggu saluran pernafasan, sedangkan di otaknya
terisi penuh Perahu Nuh. Sembari Ia memberi nasehat terakhir untuk mereka
yang enggan diselamatkan:
“Aku tidak
menasihatimu untuk bekerja tapi berjuang, bukan perdamaian tapi kemenangan.
Biar kerjamu menjadi sebuah perjuangan, biar perdamaianmu menjadi sebuah
kemenangan”
Proposal. Ya,
proposal jalur alternatif populer yang akan Ia coba, bubuhan paraf Para
cukong dengan segepok uang, demi sebuah misi mulia. Karena ini bukanlah
Kan’an, sarang manusia tak berakal yang dimurkai Tuhan, pikirnya.
Maka Si nabi kecil
pun dengan nyali ciut memasuki pelataran berpagar marmer. Bangunan angker, Ia
berpikir seperti itu ketika berada di depan pintu. Mempersilahkan nya duduk
sambil tergopoh-gopoh, Babu itu mengambilkannya minuman yang baru sekali itu
Ia mencicipinya. Berperut buncit, ciri-ciri kekenyangan yang saat ini berada
di hadapannya.
“Proyek kamu sungguh
luar biasa, mencerminkan kejeniusan anak bangsa menyikapi masa depan. Sangat
signifikan..!!” Bersinekdose Totem Proparte, setelah sekilas membaca daftar
acara yang di ajukan Si nabi kecil.
“Kamu butuh berapa,
orang jenius?” pintanya. Si nabi kecil kelimpungan. Memposisikan Arafat di
bawah tekanan Zionis. Diplo masi mengagumkan, demi Palestina, tanah Perahu
Nuh dirancang.
“Baiklah..!!
investasi ini cukup, sampai proyek kamu rampung”
“Atas nama Adikuasa,
kau taruh dalam daftar nama pendanamu. Kalau perlu kau pahat nama Adikuasa
dengan ukiran njlimet”
Buru-buru Ia teguk
minuman itu, keringat dingin membuatnya gerah. Merinding hawa terkutuk,
lekas-lekas Ia pamit dan berterima kasih.
Untuk sementara Si
nabi kecil bisa bernapas lega di seberang jalan. Sambil memandangi bangunan
angker itu, Ia mendengus, mengembalikan denyut nafasnya satu persatu yang tercecer.
Maka Ia pun berkhotbah dengan nafas tersengal-sengal:
“Itulah kegilaan
mereka yang berlomba merengkuh singgasana, kebahagiaan seolah duduk
diatasnya, seringkali di atas singgasana adalah kotoran, dan seringkali pula
tahta duduk di atas kotoran”
Tiba-tiba dari
sebelah kanan, Si nabi kecil melihat poster yang di usung segerombolan massa
dengan semangat menggelora, poster bergambar telanjang yang di perjuangkan
tampa sehelai benang pun. Serta semangat menggebu-gebu sang pemberani yang
mengatas namakan nurani hak-hak yang dikebiri oleh para tiran-tiran bermuka
banyak.
Di sebelah kiri
arak-arakan dengan spanduk, memakai kaos yang bernada konfesi, mereka
terlihat menonjol dengan plastron di dada mereka, terkesan ekstrim, terdengar
merasa paling benar sendiri. Ia berpikir dua gelombang massa itu untuk
menemui dirinya, mendengarkan khotbah dan menjadi penumpangnya. Ia pun
berkhotbah:
“Hal-hal moral tidak
akan ada harganya jika tidak ada yang menyajikannya, dan para penyaji inilah
oleh orang banyak disebut orang besar, tapi sayangnya mereka sedemikian gila
pada semua penyaji dan aktor-aktor dari hal-hal moral” khotbah yang pertama.
“Ya, engkau
sesungguhnya adalah nurani yang mengganggu sesamamu, sebab mereka tidak
sepadan denganmu, karena itulah mereka menindasmu dan ingin menghisap
darahmu” khotbahnya yang kedua.
“Dan bagi kalian
yang merasa kesucian itu terlalu sulit dilakukan, janganlah memaksa diri,
supaya kalian tidak menjadi jalan menuju neraka, menuju kotoran dan nafsu
jiwa” khotbah yang ketiga.
“Atas apa yang telah
Aku sebutkan tadi, apakah kalian semua bersedia menjadi penumpang kapalku?
Berlayar menuju kehidupan yang baru dan lebih baik?” pintanya.
Tidak ada jawaban,
dua gerombolan itu tidak memperdulikannya sama sekali, tidak ada respon. Ia
kecele, semisal Nuh yang mengelus dada diacuhkan istri tercinta, atau ketika
Musa menuruni puncak tursina melihat iba, kaum yang tidak becus dengan
keyakinannya. Tapi Ia tidak segampang itu berputus asa, karena Ia adalah Nuh
atau pun Musa.
Ia harus segera
bergegas menuju proyek Perahu Nuh yang sedang pailit. Jika tidak, proyek
Perahu Nuh akan semakin molor, sedangkan tanda-tanda datangnya bah semakin
mendekati kenyataan. Dana itu sudah ada dalam genggamannya, tinggal bagaimana
Ia bersikap jujur terhadap semua orang bahwa dana itu Ia dapat dengan cara
menipu, memanfaatkan ketidak acuhan para Adikuasa tentang proyek Perahu Nuh.
Tapi apa peduli Si
nabi kecil dengan ketidak percayaan mereka, toh, ketidak percayaan itu pada
akhirnya akan mereka sesali, dan apa artinya uang sebanyak itu, jika nantinya
tidak bisa menyelamatkan Adikuasa dari banjir bandang.
****
Setengah jadi Perahu
Nuh itu sudah membuat Si nabi kecil terkagum-kagum. Penduduk sumber menganggapnya
fenomenal sekaligus karya seorang sinting. Kabar angin disertai badai semakin
mengaduk-aduk telinga penduduk desa sumber, Kapal Nuh serasa
diombang-ambingkan amukan mulut-mulut bau, iseng.
Kabar itu seketika
mengundang laki-laki paruh baya berpakaian lusuh. Laki-laki itu tampak
kelelahan, dari raut wajahnya yang kusut, seperti sudah seharian penuh Ia
bergelut melawan terik panas siang.
Di lehernya
menggantung sebuah kamera, harga sekitar delapan jutaan atau kurang. Ia
melangkah penuh percaya diri, raut mukanya yang lusuh seketika berubah riang
setelah melihat Si nabi kecil menyambutnya ramah. Sebuah walkman Ia keluarkan
dari kantong jaketnya, kemudian Ia sodorkan kemuka Si nabi kecil persis di
depan mulutnya. Opini tentang Perahu Nuh yang sedang laris manis bak kacang
goreng, Ia lontarkan dengan logat khas, tegas dan simpel. Si nabi kecil pun
berargumen dengan memakai logat yang sama.
“Perahu Nuh adalah
wahyu dari Tuhan, karena ulah alien-alien bumi yang memakan jantungnya sendiri”
“Apa maksud tuan?”
tanya laki-laki itu dengan sorot mata serius.
“Disaat daun-daun
berguguran, kau tahu? dialah sang mujahid sesungguhnya, dia telah berjuang
sesuai kodratnya sebagai makhluk. Ranting-ranting, batang-batangnya hingga keakar,
seperti itulah jiwa-jiwa yang bersiklus.”
“Tapi, kita tidak
terlalu pintar menghargai siklus itu. Sama saja sari pati tebu telah kita
peras habis, kemudian menjadi sepah. Kita terlalu rakus bukan? Dan mereka
yang mengangkang di atas ketidak pedulian kita, membentuk siklus sendiri
dengan kepentingannya mengekploitasi hidup.”
“Ya, asap-asap
mengepul yang mengalahkan mendung. Kemana asap itu akan lari? Kita tentu
tidak akan mau nafas-nafas kita tersumbat menjadi asma, hujan-hujan pun
sebenarnya enggan menjadi banjir. Sedangkan akar-akar, batang, ranting,
dedaunan adalah asap itu sendiri, mengepul mengalahkan mendung.”
“Bagaimana nasib
kita tuan?” cerca laki-laki itu dengan sorot mata semakin tajam.
“Kegerahan. Ya,
tentu saja. Kamu merasakan itu kan? Keringat meleleh disaat kita seharusnya
menggigil kedinginan dengan selimut tebal. Kegerahan sepanjang waktu,
kedinginan hanya melintas sesaat. Tidakkah itu menyiksamu mengais hidup di
jalanan? Lihat, mereka yang mengangkang di sana, berselimut emisi buatan di
istana-istana megah yang menjulang.”
“Bukti-bukti yang
logis?” tanya laki-laki itu dengan sorot mata memerah.
“Kamu tidak usah
marah, karena sebentar lagi kita akan mencairkan hegemoni kerajaan kutub.
Kita akan membuatnya takluk. Kita bakar dia hingga Ia sudi berbagi, menggigil
bersama kita. Kamu tidak perlu khawatir, Perahu Nuh siap menampung
keselamatan semua, jika kerajaan kutub berencana melakukan pembalasan”
“Menurut prediksiku
Ia akan menenggelamkan kita hingga tak tersisa dan segala milik kita akan
lenyap, kita harus rela, siap siaga menghadapi kenyataan itu.”
“Bagaimana? Kamu mau
menjadi penumpang Perahuku? Perahunya masih melompong, banyak tempat kosong
yang enggan di tempati. Sebelum terlambat, sebelum Aku menutup pintu untuk
kamu dan semua orang. Seperti Nuh dengan sedikit penumpang, membiarkan tangis
penyesalan dalam gulungan gelombang, ratapan pertolongan timbul tenggelam.
Bahkan air mata darah pun tidak akan membuatku iba, untuk menjulurkan tangan
dan meraihnya.”
“Sudah.. sudah cukup
tuan, terima kasih atas waktunya” sergah laki-laki itu sembari menuju Perahu
Nuh, kemudian menjepretnya. Setelah itu Ia pun pergi tampa sepatah kata.
“Heii..!! Laki-laki
Paruh Baya..!!” panggilan Si nabi kecil, membuat laki-laki itu menoleh.
“Aku adalah Nakhoda
Perahu itu, Aku adalah Nuh” ucapnya.
“Perahu Nuh adalah
Tongkat Musa, kemegahan Istana Sulaiman, kesakralan Palestina sebagai tanah
Kan’an, asal muasal Perahu Nuh dirancang” imbuhnya.
“Oke..!!” sahut
laki-laki paruh baya itu, terselip senyum kecut di sela-sela kedua bibirnya.
Pamekasan, 2008
|
· All About The Short Story
(3)
Tradisi
"carok" (caro'), seakan menjadi menu tahunan yang kerap kali
terjadi mewarnai kehidupan sebagian rakyat Madura. Perihal penyelesaian dalam
hal ''Tengka" (Tingkah laku bermasyarakat) yang menjadi acuan nilai
moral seseorang yang sangat dijunjung tinggi oleh mayoritas masyarakat
Madura, seringkali harus berakhir diujung mata clurit, dengan cara saling
tebas, beradu kelihaian memainkan clurit, yang sejatinya hanyalah wujud
pentahbisan "diri" agar dianggap "layak" sebagai sang
jagoan (Penguasa daerah tempat tinggalnya yang disegani) yang sekaligus juga
dianggap sebagai bentuk kebanggaan dan suatu kehormatan bagi si pemenang.
"Carok" adalah identitas laki-laki Madura, harga diri dan sanak
keluarga tidak bisa ditawar dengan apapun, lebih baik; "pote tolang
e-tembeng pote matah" (Putih tulang dari pada putih mata), istilah
yang pembenarannya tidak bisa diganggu gugat sekaligus dijadikan alasan yang
tidak bisa dirasionalkan.
Inspirasi
ini muncul di tengah tradisi yang telah sekian lama mengakar, mendarah daging
dan menjadi bawaan orok hingga terdengar keseantero Nusantara. Tradisi itu
seringkali dijadikan modal para perantau demi sebuah pengakuan yang acapkali
menjadi bumerang, stereotip yang tidak enak didengar, berupa imej negatif
yang berat sebelah. Ceritera cekak ini berawal dari seorang teman yang
runutan muasal ceritanya dari mulut kemulut, serupa dongeng yang kebenarannya
telah mendapat pengakuan secara langsung dari mulut anak kecil, entah sebagai
pengantar tidur? atau hanya sekedar bentuk pelanggengan sebuah hegemoni
tradisi agar tidak punah?.
Namun
terlepas dari itu semua, "carok" tetaplah tradisi kriminal yang
mesti dimanifestasikan dalam media yang lain (Tanpa merubah esensi yang
terkandung dalam tradisi "carok" itu sendiri, yakni sebagai wujud
pengejawantahan identitas laki-laki Madura), semisal dalam media pertunjukan
yang dikemas secara kolosal serta profesional, yang pada akhirnya akan
menjadi aset daya tarik tradisi Madura (Seperti halnya Karapan Sapi). Untuk
itu tepat kiranya apa yang dikatakan W. Durant; "A great civilazation
is not conguered from without until it has destroyed itself from within",
"sebuah peradaban belum benar-benar dijajah sebelum hancur dari
dalam".
Celoteh Sumbang
Kembali ke laptop......!!!!!!
Hukum
dunia telah mengetokkan palu godamnya akan harga diri para penghuninya yang
tidak bisa ditukar dengan apapun. Harga diri adalah tiang penyangga untuk
kita mampu berdiri sebagai makhluk yang bernama manusia, ia adalah mutiara di
dasar lautan yang tidak boleh terjamah, ia adalah emas yang hanya bagi orang
tertentu saja dapat memilikinya, sekaligus juga ia hanyalah barang yang bisa
diperjual belikan di pasaran. Akan tetapi alangkah jumawanya ketika mutiara
itu telah direnggut, kita dengan seenak diri menebusnya dengan menghilangkan
nyawa (Bunuh diri atau membunuh). Nyawa adalah hak prerogatif Tuhan,
bagaimana dan kapan ia dapat menghirup udara segar atau berkalang tanah?.
Karena Tuhan tidak akan menebus hamba-hambanya dengan cara apapun, walau toh,
hamba itu sendiri seringkali menginjak-injak harga diri Tuhannya, (Maha suci
Tuhan atas segala tindak tanduk hambanya). So, biarpun "katrok"
atau "ndeso" sekalipun, tidak ada alasan untuk menebus harga
diri kita (Yang diinjak-injak) dengan cara apapun, selama laptop Tukul Arwana
akan senantiasa mengembalikan kita untuk bersujud menyembah ke-Maha
kuasaan-Nya.
ALAS JATI
""Ghost My
Imagination""
© Radar Madura. Minggu 2 Agustus 2009.
Beberapa pasang mata
itu telah sedemikian akrab bercumbu dalam belai malam. Lambai bayang daun
pohon jati dalam pangkuan angin temaram bulan. Sorot lampu mobil yang
melintas, menjadikan pasang mata itu semakin awas, deru mesin mobil tidak
mengurangi pendengarannya, setajam clurit yang terselip di pinggangnya.
Malam mendekati
separuh manzilahnya merambah pekat, hanya sesekali mobil-mobil pelat nomor
pribadi melaju kencang membelah pekatnya dengan sorot lampu mencorong. Para
pengemudi tentu tidak mau ambil resiko melintasi alas jati dengan perasaan
was-was, sembari menutup jendela rapat-rapat. Truk-truk besar merapatkan
muatannya di pelabuhan, mereka memilih melanjutkan perjalanannya esok hari.
Hanya bis-bis yang tetap melaju dengan banyak penumpang dan membuatnya aman.
Pasang mata itu penghuni pekat, memelototi para pengendara dalam gelap.
Sebelum berangkat
Nalap mewanti-wanti jika nanti harus sampai jam dua belas malam, ia harus
menunda kepulangannya esok pagi. Pa'at menyadari alas jati itulah yang
menjadi kekhawatiran bapaknya. Jam menunjukkan pukul; 22-15 menit,
masih cukup waktu sekitar satu jam setengah bagi Pa'at untuk menggeber sepeda
motornya sampai di rumah. Ia harus segera menyerahkan uang hasil tagihannya
itu kepada bapaknya.
Sepeda motor butut yang
ia kendarai perlahan menyusuri jalanan, sesekali ia menoleh kebelakang
mengharap sebuah kendaraan menyalipnya. Tak lama kemudian sebuah bis malam
dengan kecepatan penuh meliuk-liuk anggun, ia segera mempersiapkan sepeda
bututnya untuk membuntuti bis itu dengan kecepatan seimbang, karena hanya
dengan cara itulah ketika memasuki alas jati ia bisa bersembunyi dari incaran
para Blater.
Setelah upaya yang
setengah dipaksa, bis malam itu dengan angkuh telah meninggalkan Pa'at dengan
sepeda bututnya yang terengah-engah. Laju sepeda motor tua itu sudah tidak
sanggup lagi memenuhi target satu jam setengahnya, daya gebernya tidak mampu
menandingi keegoisan bis yang kebelet. Sepeda motor bobrok lambang
kebanggaan Sang Bapak karena bunyinya yang menderu-deru itu kini terkulai
pasrah, beberapa meter di depannya berderet pohon jati menjulang lebat,
berjejer bak tembok raksasa di kedua sisinya dengan cabang-cabang dan ranting
yang saling berangkulan, dibelah jalanan aspal di tengahnya membentuk
layaknya sebuah gerbang yang melingkar untuk menyambut kedatangan Pa'at.
Jarum jam berada tepat pada angka; 12-20 menit.
Nyalinya ciut, tapi
tidak menjadikannya surut. Clurit di pinggangnya sudah kadung terselip,
pantang baginya jika harus mundur. Ia matikan lampu motornya berharap temaram
bulan menyamarkan keberadaannya dari intaian Blater. Selang beberapa kilo
ketika ia sudah berada di tengah alas jati itu, sesosok bayangan berkelebat
dengan cepat, secepat kesadarannya akan bahaya yang mengancam Pa'at
memperlambat sepeda motornya, mau tidak mau ia mesti siap, baginya sudah
kepalang basah. Seketika tiga sosok berperawakan sedang sudah berada di
depannya, wajah mereka diselimuti gelap, baju dengan celana hitam-hitam dan
sarung yang melilit di perutnya. Merekalah penghuni pekat, clurit di
tangannya berpejaran dalam temaram bulan.
"Saya
harap sampeyan sudah mengerti apa yang kami inginkan...!!". ujar
sosok yang berada di tengah, dengan nada khas Blater.
"Kalian
menginginkan clurit ini..??". sergah Pa'at tanpa basa-basi sembari
mengeluarkan cluritnya dalam posisi siaga.
Seakan sudah saling
mengerti satu sama lain, tanpa ba, bi, bu, ketiga Blater itu mengepung
Pa'at. Pa'at menggeletakkan sepeda motornya begitu saja. Dengan sekali ayun,
salah satu Blater berusaha menebaskan cluritnya ke arah perut Pa'at. Seketika
Pa'at melonjak mundur, tebesan itu meleset, Pa'at mencoba menyerang balik,
dengan setengah meloncat mengayunkan cluritnya ke arah Blater itu, Blater itu
dengan gesit berkelit ke arah samping. Kedua Blater lainnya dengan serempak
menyerang Pa'at secara serampangan. Dalam posisi terdesak, Pa'at menghindar
dari ancaman kedua Blater kesurupan itu dengan langkah mundur.
Pa'at merasakan
perih, clurit salah satu Blater itu menggoreskan nyeri di lengan kanannya.
Tanpa sempat mengeluh, Blater yang pertama tiba-tiba meloncat mengincar
lehernya, seketika ia menunduk setengah kelimpungan. Namun, ketika ia
mendongakkan kepalanya, di hadapannya kedua Blater yang lain sudah berdiri
berdampingan bak Malaikat pencabut nyawa. Tanpa ampun Blater pertama
mengekskusi Pa'at dengan sekali tebasan.
Ia merasakan
tubuhnya seringan angin dalam hempasan malam, mulutnya bungkam tergagap-gagap
dari sakit tak terkira. Suara jangkrik mengerik bersahutan di balik semak rimbun
pohon jati. Angin malam tak lagi menggigil, menyelimutinya menghempaskan
dedaunan rapuh dari tangkainya. Ia terhuyung-huyung kemudian tergeletak
menggelepar dengan luka tebasan yang menganga di perutnya. Darah berceceran
membercaki aspal, bersimbah merah sekujur tubuh Pa'at bersama clurit yang
masih tergenggam erat di tangannya.
Ketiga Blater
mengangkat tubuh Pa'at, dan menyembunyikannya dalam semak di tengah alas jati
itu. Uang satu juta dalam saku Pa'at mereka sikat, beserta sepeda bututnya yang
tergeletak. Salah satu dari ketiga Blater itu tertawa puas, kemudian diikuti
kedua rekannya sembari menggeber sepeda butut itu membelah pekat malam dengan
sorot lampu mencorong, menyilaukan sepasang mata dari angkuhnya.
******
Apa yang mesti dirisaukan
dari anak kesayangannya itu. Nalap membentak istrinya yang tak henti-hentinya
menggelisahi Pa'at. Pa'at telah mewarisi segala kebanggaan yang dimilikinya,
uang itu sudah pasti ada dalam genggamannya. Ia pasti telah mengancam Kardi
untuk membayar lebih utangnya, Kardi pasti tidak akan berkutik. Ataupun toh,,
jika seandainya isu tentang La'i yang berniat menuntut darah terhadap
dirinya, benar adanya dan beralih menghabisi Pa'at, ia yakin anaknya itu
sanggup mengatasinya. Keberanian Pa'at tidak bisa dibanding dengan La'i yang
bernyali tikus. Pa'at adalah jelmaan keberingasan yang dibungkus kelihaian
pola pikirnya, titisan dari darah yang senantiasa mendidih demi sebuah harga
diri dan martabat keluarga. Ia adalah pewaris tunggal hegemoni kesohor seorang
Nalap yang ditakuti.
Tarip membonceng
Ningrah dengan mulut sumringah. Nalap menyambutnya tak kalah sumringah.
Tarip memarkir sepeda motornya itu sambil berlagak pongah. Nalap terperanjat,
sepeda motor itu miliknya yang di kendarai Pa'at semalam. Ia buru-buru
mengamatinya lebih dekat. tak salah lagi, ya, sepeda motor butut
miliknya, seketika ia blingsatan, hatinya tak karu-karuan.
Motor tua itu dengan
segera menderu-deru menuju alas jati, Tarip hanya membisu dalam bocengannya.
Nalap melaju kesetanan, keringat dingin mengalir perlahan dari lekuk
raut wajahnya yang tegang. Matanya memerah terpancar amarah, entah,,,
pada apa ia akan melampiaskannya. Pada pekat malam yang mencumbui
penglihatannya? Pada temaram bulan? Atau pada daun-daun yang menghalangi
berkas cahayanya? Hingga bayang-bayang samar yang sama saja dengan bohong?
Karena justru Pa'at yang harus menjadi tumbalnya?. Deru nafasnya memburu,
alam bawah sadarnya digerayangi wajah Pa'at yang menghantui.
"Kau
taruh mana mayat itu Rip?" dengan sedikit membentak, membuat Tarip
segera menunjuk semak yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Nalap mematung dalam
pahatan nasib, keblaterannya seketika membekukan urat-urat nadinya,
menggigilkan tulang-tulang dalam tubuh angkuhnya memucat pasi, membungkam
mulutnya megap-megap menahan nafas yang sesak. Pa'at terkapar dengan mulut
menganga, matanya membelalak ke arah Nalap yang mengucur deras air mata,
memandangi bekas tebasan cluritnya di perut Pa'at yang mulai dikerubungi
lalat.
******
Dari balik kaca
jendela, alas jati itu masih menyisakan bau anyir darah Pa'at yang menyusup
menggerayangi bulu kuduk para penumpang. Bis yang aku tumpangi melaju pelan,
meliuk-liuk anggun di setiap belokannya. Di tengah-tengah alas jati itu, kini
berdiri terang pos polisi yang dijaga hampir dua puluh empat jam. Tak jauh
berdempet, sebuah warung kopi dengan beberapa pengendara terlihat asyik
menghilangkan lelah.
Sebagian penumpang
bergumul dalam lamunannya masing-masing, sebagian berusaha pulas seperti
kenek bis sembari terantuk-antuk menahan kantuk. Sebagian berbincang-bincang
dengan alsen orang rantau yang dipaksakan. Mereka melawat tanah kelahiran,
lahan tandus yang ditinggalkan demi segepok rupiah. Meninggalkan jejak-jejak keblateran
yang di huni sepasang mata dalam pekat malam, lahan-lahan gersang yang
terbengkalai.
©
Pamekasan, 2009
|
· Ini adalah cerpen kedua yang inspirasi
didalamnya muncul secara spontan, yang sedikit banyak di latar belakangi dari
kalutnya akal oleh kesemrawutan hidup yang menyajikan banyak pilihan.
Disatu sisi; masa depan yang membingungkan, sandiwara hidup yang berjalan
dinamis sekaligus memuakkan, hingga anugerah cinta yang senantiasa menggoda
untukku dibuai dalam perangkap mainannya.
Masa
depan yang menurut Budayawan Emha Ainun Najib; "Remaja sekarang
mendapat tantangan yang lebih berat dibanding remaja-remaja terdahulu. Mereka
harus hati-hati dalam menentukan pilihan, bila salah memilih kalian akan
menjadi sampah". Ataupun istilah Hidup ala Sindhunata dalam
"Anak Bajang Menggiring Angin-nya"; "Sebenarnya hidup ini
menipu, hidup ini seakan mengantar orang ketempat yang baru, padahal ia
mengembalikan orang pada asalnya yang semula. Dan Cinta ala Husain
Al-Jisr dalam "Para Pencari Tuhan-nya"; "Cinta adalah gambaran
yang paling indah, paling manis dan paling suci yang telah diciptakan oleh
Allah SWT di kerjaan langit dan buminya. Seandainya seorang laki-laki
memasukkan seekor binatang kedalam cinta, maka binatang itu akan berubah
menjadi manusia. Demikian pula seandainya seorang perempuan memasukkan suatu
permainan kedalam cinta, maka perempuan itu akan menjadi surga yang berada di
bawah telapak kakinya".
Dari
ketiga aspek tersebut, yang kemudian bersinergi dalam putaran kenyataan hidup
yang saling tumpang tindih, saling berebut jatah satu sama lain, dan diakhiri
dengan keterbatasan sebagai Makhluk Ciptaan, maka tidak ada jalan lain
kecuali menumpahkannya dalam sebuah tulisan, oret-oretan pelampiasan yang
terasa mengasyikkan.
Seperti
istilah Albert Camus dalam novel "La Chute-nya" tentang seorang
wanita (hehehehe.heeee....), yang orientasi secara kenyataannya
menurutku bisa dikaitkan dengan hal di atas, bahwasanya; "Diluar
nafsu , wanita-wanita membuat saya jemu melebihi yang saya perkirakan dan
nyata sekali saya pun membuat mereka jemu, tidak ada lagi permainan, tidak
ada lagi teater, tidak diragukan lagi saya berada dalam kenyataan, tetapi
kenyataan itu sahabat membosankan". (heheheee.... lagi).
KETIKA
KINI..!!!
© Radar Madura. Minggu 6 April 2008.
Ingatanku masih
sangat jelas, ketika Itu..!, ketika pesonamu membuat mataku rabun minus satu.
Sekejap pun tak bisa lepas, ketika senyuman itu masih denganmu yang
malu-malu, rontok hati ini dari tangkainya, lalu berserakan sambil berharap
kamu berkenan untuk membersihkannya. Ketika mata itu, mungkin sekejap karena
lalai memandangku, jiwa ini pun tiba-tiba melayang meninggalkan raga yang
tergolek tampa daya.
Ketika kehadiranmu,
biasanya sekitar pukul delapan kamu pulang sehabis ngaji di mushalla.
Bergetar seperti ada gempa yang tiba-tiba datang, menggigil seperti diterpa
angin laut, keringat basah bercucuran seperti habis lelah. Seketika tak
kumengerti, menjadi demam tubuh ini, ketika tak kusengaja mungkin waktu itu
kamu masih ingat, sepedaku onthelku nyasar masuk selokan. Berpapasan
denganmu otot-otot tanganku, sumpah..! waktu itu terasa kaku. Ketika Itu..!,
ketika hati ini, entah kenapa, selalu memikirkan kamu??.
Waktu itu ketika aku
berani bersumpah..! hanya kamu bidadari surgaku. Ketika bersumpah..!! mungkin
kamu yang telah tercipta dari tulang rusukku. Bersumpah..! waktu itu aku
Adam, kamu Hawaku, sumpahku..! aku Yusuf, kamu Zulaikhaku. Sumpah..! aku
Romeo, kamu Julietku, aku Ken Arok kamu Ken Dedesku, aku Rangga kamu Cintaku.
Tapi sumpahku..! ketika Itu; “Aku sungguh mati cinta kamu.”
Ketika itu, ketika
kantukku terlalu lelah memikirkanmu, hingga kutertidur. Ketika jiwa ini
terbang, merangkulmu dalam dua sayap yang hanya bisa terbang jika saling
berpelukan. Mendatangi taman penuh bintang-bintang disetiap mimpi-mimpi
malamku. Ketika cahaya menyilaukan rasa kantukku, wajahmu menyapaku dikala
pagi dengan penuh semangat.
Ketika lahapku
dengan rakus menumbuhkan energi kembali hanya untuk sekedar berjumpa kamu,
energi ini rela kubagi. Ketika bersolek mematut diri demi sang pujaan hati,
seluruh raga ini kubagi. Ketika esok, kenapa begitu lama serasa setahun?,
ketika di dekatmu tidak seperti biasanya dunia ini berputar begitu cepat,
ketika ragamu lepas jiwaku resah menghantui raga bergentayangan tak tentu
arah. Ketika dua raga dalam satu jiwa, ketika satu jiwa dalam satu hati,
ketika satu hati dalam cinta, ketika itu, ketika; “Aku masih Lugu.”
Ketika aku melihatmu
diusia rentanku. Ketika aku memandangmu dengan mata anak kecil yang sedang
telanjang, enggan waktu disuruh berpakaian. Ketika menatapmu, ketika masa
remaja yang terus menggodaku, merayuku dengan belaian angan-angan belaka.
Ketika kamu bulan menerangi malam, dari tak terhitung bintang berserakan.
Ketika sejuta mimpiku hanya bayangmu yang membuatku enggan beranjak dari
nyenyak tidurku.
Ketika tentangmu
pertama kali, menanyaimu dari mulut kemulut, dan segala-galanya ketika itu,
ketika kamu mampu merubah hari-hariku. Ketika tidak ada kata membedakanmu
dari kebanyakan, menghalangi hati untuk berubah pikiran. Ketika itu, ketika
pertama kali aku memberanikan diri, ketika hati tak tertahankan lagi; “Aku
mencintaimu dengan sepenuh hati.”
Aku tahu karena
terlalu percaya diri alias sok mau tahu. Aku yakin karena menurutku tidak ada
yang tidak mungkin. Aku menduga walau sebenarnya ada pemaksaan prasangka,
ketika bibir manismu itu sambil malu-malu terucap; “I love you too..!!!.”.
Ketika itu serasa ditimpa durian runtuh, terasa sakit memang..!, tapi dimana
rasa sakit itu.? ketika isi di dalamnya memanjakan rasa seperti dsurga, tapi
dimana surga itu.? ketika usaha manusia telah diterima dengan lapang dada,
ketika manusia sudah merasa sebagai budak suruhan-Nya, ketika kesejatian ruh
telah menyatu dengan jiwanya, tidak ada guna dan daya apapun jua.
Ketika itu, serasa
terkabul kembali doa Adam agar tercipta seorang Hawa mengisi
kenangan-kenangan indah penghuni surga sebagai catatan kaki,
lembaran-lembaran tampa batas yang di dalamnya tertulis cerita cinta umat manusia,
tentang dua insan yang sedang dimabuk asmara.
******
Aku memaklumi
keputusanmu, aku mencoba dengan beratnya hati yang setengah mati tertimpa
berkilo-kilo besi. Menanggung beban rasa yang tertumpuk sebesar gunung
merapi, seakan mau meletus sampai ketika asa ini mencapai puncak tertinggi.
Saat itu, sepucuk surat menjadi saksi bisu sekaligus sebuah palu yang telah
diketok, memenjarakanku sebagai pesakitan yang membutuhkan dokter secepatnya
dan mengakui segala keluhan hati yang entah apa obatnya..?.
Saat ketika kamu
mendorongku jatuh hingga kebawah jurang yang begitu curam tampa dasar. Aku
kaget bukan kepalang, aku tertegun berhenti detak jantung, sesaat..!, sebelum
ajal mengingatkanku untuk kembali sadar. Tapi apa yang mesti aku perbuat..?
hakikat manusia yang serba terbatas, ketika kelemahanku saat itu, ketika aku
dipaksa mengerti, berlagak sok memahami, ketika keputusanmu bulat, berniat
melanjutkan asa sebuah cita-cita di pesantren. Penjara suci yang akan engkau
diami, ketika niatmu ingin menempa diri, ketika diri beresiko tinggi menjadi
fitnah, terbawa kenikmatan duniawi, ketika itu, ketika ketulusanmu mengabdi,
menata bentuk pribadi hamba yang terpuji.
Ketika itu, ketika
aku merelakanmu pergi, ketika air mata sama-sama tumpah tak terbendung,
membasahi raga hingga menjadi becek, membanjiri relung-relung hati yang
rapuh, menggenangi segenap permukaan jiwa yang entah mau lari kemana.?,
ketika sedu-sedan sekitar tiga jam setengah, ketika isak tangis membengkakkan
mata sambil tersedu-sedu menahan pilu ketika itu..!!!.
Ketika perkataan
yang tidak mau aku dengar memasuki gendang telingaku, perkataan yang aku
mohon dengan harap tidak akan pernah menimpaku, mengiris-iris hatiku lalu
kemudian hati ini tercincang sedemikian rupa, sedemikian hina hingga tak
berarti, menjadi makanan anjing yang telah merebutnya dari lalat-lalat yang
mengerubutinya.
Kata-kata yang sama
ketika Zulaikha menjadi seorang hina, ketika Qois yang berubah menjadi
Majnun, ketika Romeo harus mengakhiri hidup dengan belati yang tertancap di
jantung, ketika Cinta ditinggal pergi oleh Rangga,. ketika itu, ketika kamu
bilang; “Cerita tentang kita harus berakhir sampai di sini.”
******
Aku ingin bertanya
kepada siang, apa yang akan ia perbuat jika tiba-tiba malam tidak mau
mengerti untuk menjadikan hari-harimu terang benderang?!. Aku juga ingin
bertanya kepada malam, apa yang akan ia perbuat jika siang tidak
mengizinkanmu melihat keindahan rembulan?!. Apa yang akan siang dan malam
lakukan?? Ketika seluruh penghuninya tampak layu, lemah tampa tenaga
membutuhkan pasokan energi yang bisa membuatnya hidup kembali, bagaimana jika
mereka kering kerontang?? Hingar bingar yang tak kunjung usai, dipenuhi
kemunafikan, dihantui keresahan, kegelisahan hati yang membutuhkan tempat
pengaduan.
Apa yang akan aku
perbuat.?? Katika hati tidak ada tempat berbagi, ketika pikiran tumpul tak
tercurahkan, ketika raga yang ditinggal seorang diri, ketika jiwa menambah
beban raga tampa fungsi, ketika ruh memendam raga terkubur, memanggil jiwa
untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, ketika semua makhluk hanya
bisa bertanya, ketika itu, ketika aku hanya bisa bertanya; “Apa yang mesti
aku perbuat???.”
Ketika tempat
manusia berkeluh kesah, mengadu karena habis kena tipu sebab mereka memang
terlalu dungu. Ketika manzilah, peraduan ketika lelah, siang dan malam saling
berjaga bergantian. Ketika laut menjadi surut, nun jauh disana berubah pasang.
Ketika aneka hewan berada di sarang, rakus berkeliaran mencari makan. Ketika
kapal telah merapat di pelabuhan, ketika pesawat telah memasuki landasan,
mobil-mobil sudah didalam kandang, ketika semuanya beranjak pulang. Bersujud,
mengakui ke-Maha dari segala ke-Maha-an, membungkuk dengan segala kepasrahan
sebagai makhluk ciptaan untuk menyembah-Nya.
Ketika cintamu
adalah penyembuh luka hatiku dan ketika tampamu aku tak lebih dari sekedar
sayap patah. Ketika cinta tidak dapat dilihat atau diukur sebatas mana,
tetapi cukup ampuh untuk mengubah diriku dalam sekejap. Ketika cintamu hanya
bisa kurasakan dengan hati, maka ketika itu, ketika hati ini ditinggal
seorang diri; “Aku telah siap untuk membawanya pergi.”
Tanah seberang
adalah pelarian ketika tanah kelahiran tidak memberi kesempatan untukmu
sanggup berdiri dengan kaki sendiri. Ketika mereka hanya menjadikanmu
layaknya sampah dibakar, sehabis manis telah mereka jilati dengan lidah api.
Ketika tanah kelahiran melahirkan kemunafikan, kenyataan mereka yang
dikambing hitamkan. Ketika kelestarian desa yang masih perawan, tak seindah
penghuninya yang berbaju kemuliaan. Ketika itu, ketika aku menyisakan hati
yang retak untuk kau simpan dilemari besi, ketika suatu saat nanti, ketika
kunci itu mungkin masih bisa untuk membukanya kembali.
******
Ketika kini aku
telah kembali dengan membawa hasil rantau, sekedar bukti selama delapan tahun
lamanya aku mengais di tanah orang, ketika kini masih tidak jauh beda ketika
itu. Hanya teman seumuran tampak sudah dipasrahi tanggung jawab kehidupan
walau sebenarnya mereka belum waktunya kumisan.
Ketika kini, ketika
mereka menganggapku anak kebanggaan, anak desa yang telah mengharumkan
desanya sebagai seorang kaya. Ketika semua mata berbinar-binar menatapku,
ketika banyak mulut memuji-puji ditelingaku, ketika prilaku mereka menaruh
hormat di dekatku. Maka ketika kini, ketika semuanya itu membuatku muak ingin
muntah, membuat lingkaran pusing beribu-ribu keliling, membuatku ingin pergi
lebih jauh lagi meninggalkan tanah kelahiran layaknya janin yang teronggok
tampa kasih sayang.
Tapi ketika kini,
ketika sore ini aku melihatmu di pematang sawah, yang ketika itu, ketika di
tempat itulah untuk yang pertama kali kita mengikat janji sebagai sejoli,
merangkai mimpi-mimpi yang apakah mimpi itu bisa terangkai sempurna, sampai
kita terbangun untuk mewujudkannya??. Waktu itu, secara bersamaan kita
bilang; ” Entahhhhh..??! ”
Maka ketika kini,
ketika mungkin janji itu masih bisa kita sambung kembali, lalu kita ikat
dengan erat sekuat hati. Ketika mimpi-mimpi itu, bisa kita susun kembali
menjadi rangkaian cerita hingga tercipta kisah abadi tentang cinta. Ketika
hati yang retak berkenan untukmu menyatukannya kembali, maka itulah kunci
untuk membuka lemari besi. Ketika kini; “Ketika aku masih menunggumu tanpa
pasti”.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar