Jumat, 10 Februari 2012

Cerpen 1

Berpergian maka kau akan mendapatkan ganti dari orang yang kamu tinggalkan berusahalah ,sesungguhnya kau dalam kehidupan adalah keberhasilan dalam usaha
- Ibarat genangan air akan merusaknya bila mengalir maka akan banyak manfaatnya dan bila dak mengalir akan busuk.

- Singa-singa bila tak keluar dari buminya tak akan mampu menerkam mangsanya dan anak panah bila tidak meninggalkan busurnya tak akan mampu mengenai sasarannya

- Emas murni laksana debu berserakkan di tempatnya dan kayuGaharu di buminya hanyalah kayu bakar biasa saja

- Bila kayu tersebut berkelana maka akan berharga mahal dan emas murni mengembara maka jadi emas perhiasan yang sangat mahal harganya

- Biarkanlah hari-hari berlalu melakukan apa yang di kehendakinya ,tenangkanlah hatimu apabila Qodho telah di putuskan.

- Janganlah megeluh karena peristiwa di malam yang kelam ,tak satupun peristiwa di dunia itu akan abadi

- Jadikanlah dirimu lalai – lalai yang tabah menghadapi segala cobaan .dan usahakanlah dirimu punya pekerti yang pemaaf dan memenuhi janji

- Rizqimu tidak akan berkurang dengan kehati-hatian dan kepayahanmu tidak akan pula menambah rizqi yang telah di tetapkan

- Bagaimanapu kehidupan itu akan bergulir terus dan terus…………………..

- Kalau aku miskin ,aku tetap bersyukur sebab aku tekah terlepas dari penyakit jiwa penyakit kesombongan yang banyak menimpa orang banyak,aku akan tetap beryukur karena tiada orang yang akan hasut dan dengki kepadaku ,lantaran kemiskinanku

- Kalau aku dari golongan biasa aku tetap akan bersyukur karena lebih baik aku menjadi pangkal kemuliaan istri dan anak-anakku

- Kalau aku punya sahabat,aku akan tetap bersyukur ,itu tandanya aku di hargai orang lain

- Kalau aku sakit aku tetap beryukur karena sudah terbukti aku adalah mahkluk lemah

-Kalau aku di lupakan orang ,aku tetap bersyukur karena lidah tidak banyka mencercaku,mulut tak banyak mencelaku tak ada orang yang dengki padaku ,tak banyak mata memandangku dan menjatughkanku…….

- Kalau kawanku berkhianat ,aku tetap bersyukur itu tandanya ia telagh memberikan jalan yang lapang buat diriku

- Kalau aku mencintai dan di cintai seseorang aku tetap bersyukur ,itu tandanya hidupku sangat berharga dan diperhatian orang lain

- Kalau aku mempunyai musuh bersyukurlah musuh-musuhmu adalah tangga untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi

- Kalau cintaku tak terbalas aku masih bisa bersyukur karena sesungguhnya orang yang menolakmu akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepadaku setelah jatuh dari matanya cinta yang lebih tinggi derajatnya daripada cinta lantaran hawa….

-Terpencil jauh membawa keuntungan insyaf ,kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan sehingga lantaran itu hati akan bersih laksana bejana kaca yang berisi air suci Yaitu air kekal yang di anugrahkan tuhan dengan itu kamu akan memperoleh juga kelak tempat merupakan “cinta” itu kalau tak ada pada insan akan ada yang lebih besar daripada insan











All About "Mbah Mah"

      "My Inspiration, Forever and For Always"
     Siapa bilang perempuan seusianya hanya bisa mengeluh, meratapi nasib sebagai seorang tua yang seperti tidak ada kerjaan lain selain berpasrah diri menunggu datangnya ajal menjemput. Di usianya yang sudah 50-an lebih ia masih tetap semangat menjalani hidup. Senyumnya selalu mengembang, menyapa setiap orang yang biasa lewat di depan rumahnya. Jalan hidupnya memang tidak seberuntung perempuan-perempuan lainnya. Ia harus menjadi kepala rumah tangga menggantikan suaminya, ditambah lagi ketidak mampuannya memberikan seorang anak semakin menambah bebannya sebagai seorang perempuan. Tapi karena peran itulah menjadikan ia sebagai sosok perempuan yang tangguh layaknya batu karang yang tidak pernah lekang dihantam ganasnya ombak dilautan.
     Kala itu, semenjak Mbah Aki divonis stroke oleh dokter segala beban seakan ditimpakan kepadanya yang terasa amat berat. Apalagi ditambah perkataan dokter yang menyebutkan penyakit strokenya itu disebabkan karena suatu keinginan yang tidak terwujud yang pada akhirnya menjadi beban pikiran yang tak mampu untuk ia tanggung sendiri.
     Memang, dari pertama kali mereka merangkai mimpi dengan cinta hingga dalam ikatan perkawinan, kehadiran sang buah hatilah yang selalu mereka dambakan. Sang buah hati yang akan menjadi pewaris kehidupannya, bukti keberadaannya bahwa mereka pernah hidup di dunia. Tangisannya akan menjadi sumbangsih bagi dunia yang tidak sempat mereka manfaatkan untuk bisa menjadi makhluk yang berguna. Penyesalan memang hanya akan datang dikemudian hari tapi kuasa Tuhan adalah sang penentu, maka tidak ada guna jika masih terus menyesalinya.
     Ia merasa masih belum menjadi wanita seutuhnya. Seorang ibu yang diamanahi Tuhan untuk bisa merasakan jerih payahnya melahirkan, merawatnya serta membesarkannya dengan kasih sayang dan penuh perjuangan hingga sang buah hati tumbuh sesuai harapan.
     "Mbah tidak terlalu banayak berharap...!!!", ucapnya sambil membawakan sepiring nasi untukku.
     "Mbah cuma masih merasa bersalah kepada Mbah Aki, karena semenjak kami menikah tidak ada keinginan lain kecuali hadirnya sang buah hati sebagai wujud buah dari pohon cinta yang telah kami tanam", smabari duduk menemaniku makan. Tak jauh dari tempat ia duduk, sang suami hanya diam membisu. Penyakitnya itu telah membuat ia kehilangan kata-kata. Pendengarannya pun tidak begitu jelas, kesehariannya hanya bisa duduk menatap nanar tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya itulah yang bisa ia lakukan sebagai kepala rumah tangga sambil terus berharap dengan sisa tenaga seorang tua untuk bisa sembuh dari penyakit strokenya.
     "Mbah tidak akan sanggup menggugat Tuhan karena dengan segala kemurahan-Nya Mbah tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya. Tapi kenapa harus ini..??, kenapa harus seorang anakyang selalu menjadi penghalang rasa syukur Mbah kepada-Nya..???".
     "Sudahlah... Mbah", ucapku.
     "Hidup ini tidak mesti sempurna, Tuhan berkehendak terhadap makhluk-Nya yang seringakali kehendaknya itu tidak sesuai dengan keinginan mereka, tapi sejatinya itulah yang terbaik bagi mereka".
     Aku mencoba menenangkan gejolak jiwanya yang kerap kali datang, dan seringkali mengundang tangisan yang tanpa terasa akan keluar membasahi kulit keriput di sekitar matanya. Gejolak jiwanya akan melakukan protes, dan seperti biasanya tanpa sadar ia seperti orang kerasukan, perkataanya dibumbui amarah sambil menyalahkan setiap orang yang tidak sependapat dengannya seperti pendapatku kali ini.
     "Apanya yang terbaik..???, yang terbaik bagi Mbah sebagai seorang istri hanyalah mendengar tangisan bayi yang akan membangunkan Mbah ditengah malam. Kemudian Mbah akan menyusuinya agar ia bisa tidur kembali, sambil mendendangkan syair-syair pengantar tidur sehingga ia tertidur dengan lelap, kemudian tangisan itu kembali terdengar kala sinar pagi menyilaukan matanya yang masih terkatup-katup serta menyinari anggota badannya yang masih kemerah-merahan".
     Kalau sudah seperti itu aku harus buru-buru membuyarkan lamunannya dengan mengeluarkan bebrapa lembar ribuan kemudian pamit pergi meninggalkannya seorang diri. Yah, ia kadang seperti orang labil bila menyangkut seorang anak yang akan membuat hatinya sakit. Rasa bersalahnya tiba-tiba muncul mengahantui perasaannya.
     ITapi bagiku ia tetap seorang pahlawan yang tidak kenal menyerah, kesabarannya dalam menjalani hidup patut diacungi jempol walaupun bagi sebagian perempuan adalah pekerjaan yang membosankan.
######
     Hidupnya terasa hampa mulai dari dulu sampai sekarang seperti tidak ada bedanya, berjalan seiring waktu tapi entah sampai kapan..??? entah apakah ia masih sanggup menjadi suami bagi Mbah Aki..??? entah pakah ia cukup kuat melihat perempuan seusianya begitu dimanja oleh anak-anaknya..??? dikelilingi derai tawa cucu-cucunya..???. Terkadang suara taw aanak-anak kecil yang setiap saat bermain-main di sekitar rumahnya menambah perih perasaannya akan hadirnya seorang anak. Mungkin kerena kesetiaannya kepada Mbah Aki yang membuatnya masih tetap bertahan sampai kapanpun, kesetiaan yang mengatas namakan cinta bukan karena nafsu belaka.
     Aku mengaguminya sebagai sosok seorang ibu. Pengganti ibuku yang jauh d seberang sana. Sebagai seorang rantau begitu mengaguminya bukan karena ia sebagai tempat pelarian jika kirimanku terlambat datang. Bukan juga kedermawanannya yang seringkali membikinkan aku kolak pisang, tapi ketegarannya dalam menghadapi hidup, serta perjuangannya yang tidak mengenal batas usia begitu menginspirasiku, bahkan terkadang membuatku malu sebagi seorang pria.
     "Kamu itu laki-laki atau perempuan sih..??", tanya ia kepadaku waktu itu.
     "Kiriman lambat satu hari saja sudah kayak cacing kepanasan".
     Perkataannya seringkali membuatku malu dengan sikapku. Aku memang tidak segan-segan meminta nasehatnya jika sedang ada masalah sekecil apapun ia akan memberi pendapatnya sambil sesekali menyindirku.
     Ia adalah sosok yang tangguh sekaligus guru yang bijak didalam menjalani hidup ini. Ia bukan seorang tua yang hanya duduk-duduk di kursi depan rumahnya sambil menikmati indahnya masa tua. Bukan pula seperti di penampungan lanjut usia yang tak ubahnya rumah kematian baginya Ia bukan tipe pemalas yang suka memanfaatkan otot-otot tuanya yang sudaj kendur. Ia tidak mau mengeluh meminta balas jasa terhadap siapapun, apalagi dengan tidak adanya seorang anak semakin menambah pendiriannya untuk tetap berdiri dengan kaki sendiri tanpa menyusahkan orang lain. Ia sangat yakin Tuhan tidak akan membiarkannya seorang diri, ia percaya masa tua adalah masa pensiunnya nafsu keinginan dunia agar memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menyembah kepada-Nya sebagai bekal sangu ketika ajal menjemput.
     "Kamu tidak perlu memuji Mbah seperti itu, Mbah tidak sebaik yang kamu katakan. Kebaikan Mbah karena bentuk tanggung jawab seorang istri sekaligus sebagai suami yang mau tidak mau harus Mbah jalani. Perempuan-perempuan lain akan melakukan seperti itu juga jika memang kondisinya sama seperti Mbah. Mbah hanyalah seorang perempuan tua yang sedang putus asa karena dituntut keadaan yang mau tidak mau harus Mbah kerjakan".
     "Tapi Mbah malakukannya dengan ikhlaskan...???", tanyaku mencoba membantahnya.
     "Ikhlas apa enggak Mbah tidak bisa menjelaskannya, tapi mbah akan tetap mencoba bertahan semampu Mbah. Semampu Mbah bisa merawat Mbah Aki tanpa berharap ia akan memaafkan Mbah, karena ketidak mampuan Mbah memberinya seorang anak. Mbah akan melakukannya hingga menajdi suatu kebiasaan dan kebiasaan itu akan menjadi ketergantungan yang menjadi wajib untuk Mbah laksanakan. Maka dengan seperti itu ikhlas akan muncul dengan sendirinya,s eiring dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah Mbah lakukan".
     "Lantas dimana letak keikhlasan itu Mbah..???", tanyaku.
     " Segala sesuatunya itu butuh proses, penciptaan manusiapun butuh proses, dan itu merupakan petunjuk Tuhan kepada hamba-Nya, untuk melakukan sesuatu harus melalui proses. Begitu juga dengan ikhlas, suatu perbuatan tidak bisa dikatakan ikhlas jika hanya dengan satu sikap yang mencerminkan ikhlas. Tapi butuh banyak sikap yang pada akhirnya tidak membutuhkan cermin untuk bisa menyikapinya".
     Jawabannya begitu indah laksana bahsa sang penyair dengan berjuta kandungan makna didalamnya. Manusia memang terlalu pongah tanpa melalui proses terlebih dulu. Kita kadangkala terlalu sulit untuk mengakuinya bahwa ia memang lebih baik dari kita. Kita terlalu enggan untuk mengatakan bahwa kita memang labih bodoh, lebih jelek, bahkan lebih buruk ketimbang dia. Kita masih lebih mengedepankan gengsi daripada bukti nyata. KIta lebih menghalalkan segala cara daripada dianggap hina, toh, kehinaan itu hanya di hadapan manusia. Manusia hanyalah sebagian dari hewan yang apabila tidak bisa menggunakan otaknya mereka layaknya hewan buas yang sok berkuasa, bertindak semaunya, memangsa terhadap yang lemah, tidak punya rasa malu serta hewan yang rakus dan penuh tipu daya.
     "Berarti keikhlasan itu butuh kesetiaan juga Mbah..???",
     "Antara keduanya memang saling membutuhkan. Keikhlasan akan membutuhkan kesetiaan yang amat panjang dan melelahkan".
     "Apalah... Mbah ini, Mbah hanyalah hamba yang labil dan mudah goyah, yang gampang sekali mengeluh. Bahkan seringkali menuntut diluar kesadaran Mbah. Apalah.... Mbah ini, sebagai seorang istri dari suami yang sama sekali tidak berfungsi. Apalah... Mbah ini, yang kesehariannya hanya menjual nasi dan itupun kalau ada yang mau beli. Apalah... Mbah yang sampai setua ini harus melakukan segala sesuatunya seorang diri, dan apalah artinya semua ini, jika tanpa sebuah kesetiaan yang membuat Mbah bisa berjalan sampai sejauh ini. Kesetiaan yang tidak hanya Mbah ikrarkan untuk mengabdi kepada suami, tapi kesetiaan seorang hamba untuk tetap melaksanakan petunjuk dan ketentuan Tuhan-Nya. Laksana matahari yang tanpa henti memberi energi kepada segenap makhluk di muka bumi. Laksana sinar rembulan sebagai penunjuk jalan di kala malam beranjak petang, serta makhluk-makhluk ciptaan yang tidak pernah berhenti ataupun bosan mengabdi dengan patuh, sambil mendendangkan syair-syair pujian atas sifat-sifat keagungan serta ke-Esaan sang penciptan-Nya".
     Kesetiaan inilah yang menadi kunci kedua pasangan ini untuk menjelajahi hidup, berpetualang didalamnya sambil menyelam mencari titik temu, dari berbagai macam misteri dan rahasia Ilahi yang membutuhkan ujung pangkal dari segala persoalan yang tidak pernah kunung usai.
######
     Dulu sewaktu Mbah Aki divonis stroke, ia telah memberi lampu hijau kepada Mbah agar kawin lagi. Mbah disuruh mencari pengganti sang arjuna yang bisa membuatnya menjadi wanita seutuhnya. Tapi buat Mbah tidak seperti pepatah bilang; "Habis manis sepah dibuang", yang menurutnya walau bagaimanapun sepah itu telah berjasa memberinya rasa manis semanis gula sebagai penghantar dikala ia dahaga. Begitu juga ketika ia divonis mandul oleh dokter, ia tidak pernah meliaht ketukusan Mbah Ali jadi berkurang. Mbah Aki tidak pernah sedikitpun menampakkan kekecewaannya walaupun sebenarnya ia tahu Mbah Aki memendamnya sedalam mungkin. Mbah Aki malah seringkali memujinya bahwa ia adalah satu-satunya perempuan di dunia yang Tuhan ciptakan sebagai pendampingnya di surga. Ia tidak aka rela jika sang arjuna yang begitu memujinya harus ia korbankan demi sebuah keinginan yang menjadi dambaan setiap perempuan. Ia ingin seperti Kartini yang menjadi inspirasi dengan emansipasinya. Ia ingin seperti Rabi'ah Al-Adawiyah dengan kemurnian cintanya, atau seperti Sitti Khadijah dengan pengorbanan dan ketulusannya yang tanpa pamrih.
     Siapa bilang perempuan seusianya hanya bisa mengeluh, meratapi nasib sebagai seorang tua yang seperti tidak ada kerjaan lain selain berpasrah diri menunggu datangnya ajal menjemput.
      Lasem, Rembang, Jawa Tengah, 07 Januari 2008





Tanda Kematian
     Hujan seakan menumpahkan segala keluh kesahnya akan kemarau. Gemuruhnya laksana raungan Marfuah, tetangga desa sebelah yang dua hari yang lalu ditinggal mati sang suami, mengerang layaknya orang kesurupan. Bukan karena ia kerasukan arwah Jamal yang menurut cerita tidak jelas asal muasalnya; bukan pula masalah perbedaan usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Jamal, sehingga secara akal-akalan matinya pun lebih cepat.
     Untuk urusan yang satu ini Marfuah cukup tahu diri dan sadar sesadar-sadarnya, bahwa wajahnya yang kurang diminati-sebagaimana kebiasaan para wanita di kampung yang nikahnya dengan lelaki yang umurnya terpaut jauh darinya, karena salah satunya adalah faktor itu- harus Marfuah terima dengan lapang dada dan mesti ia pertanggung jawabkan dengan jalan tidak pilah pilih pasangan hidup.
     Marfuah menangis karena ia merasa sangat kehilangan suaminya yang begitu mencintainya dan sanggup menerima kekurangannya lebih dari siapapun. Ia merasa telah kehilangan satu-satunya orang yang telah menjadikan dirinya layaknya permaisuri raja, di kerajaan dunia yang hanya milik mereka berdua. Kepergian Jamal serasa bagai gemuruh petir yang disertai angin kencang, suasana hati Marfuah yang lara dengan hujan yang acapkali menyajikan pesan kematian.
     Ibu masih berbaring di atas kasur, suhu badannya masih belum turun, masih seperti hari-hari sebelumnya. Penyakit kencing manis yang diidapnya tiba-tiba kambuh sejak ia melayat Marfuah yang ditinggal mati suaminya itu, dan disusul kemudian kematian Bibi yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumahku. Dokter bilang kadar gulanya naik hingga beberapa persen dan dokter menganjurkan agar Ibu mengurangi makanan-makanan pedas dan berlemak kesukaannya.
     Penyakit memang terkadang suka menyesuaikan keberadaannya dengan objek pesakitannya. Ia tidak hanya bisa menggantungkan eksistensinya pada kondisi cuaca yang tidak menentu saja, atau pada saat melihat keponakanku yang sedang bermain hujan-hujanan seperti saat ini. Ia terkadang menyerupai syahwat, ketika kebutuhannya akan gairah, tidak ada yang mampu mengikatnya kecuali pikirannya sendiri.
     Kematian Bibi hanya beberapa hari setelah kedatangannya dari tanah suci. Usianya yang tidak begitu jauh dari ibuku meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang sebayanya, terlebih ibuku yang seketika merasa kurang percaya diri, menjalani jamannya yang sepi ditinggal pergi teman-teman sepermainan semasa kecil, yang satu per satu seperti rontok layaknya daun berguguran seiring usia yang menggerogotinya.
     Ya, maut pun seakan menyesuaikan keberadaannya dengan musim penghujan, ia datang bagaikan mendung, seringkali ketika kita harus mencari perlindungannya tanpa menyadari kita malah sudah direnggut olehnya.
######
     Bibiku orang yang baik, hal itu bisa dinilai dari banyaknya orang yang datang untuk melayat kematiannya. Walau menurutku terkesan tragis, karena di antara orang yang melayat sebagian dari mereka banyak yang masih belum sempat bertamu untuk menyambut kedatangannya dari tanah suci sekaligus juga untuk meminta doanya, sebagaimana kepercayaan masyarakat bahwa orang yang baru datang dari tanah suci itu layaknya bayi yang baru dilahirkan kembali, bersih dari dosa-dosa tanggungan sehingga doanya pun dikabulkan. Prihatin dan mengundang iba, karena mereka harus menyatukannya menyambut kedatangan Bibi sekaligus juga melepas kepergiannya untuk selama lamanya.
     Kesakralan Kabah yang mampu melebur dosa-dosa tanggungan badan, mengulitinya berganti kulit baru sehingga doa-doa pun begitu mudahnya didengar, diterima kemudian dipertanggung jawabkannya dalam tingkah laku keseharian.
     Hal yang menimpa bibi dengan kematiannya yang disepakati sebagai khusnul khotimah-sebagai hasil penilaian di mata manusia dari petualangan hidup yang berakhir dengan bagus, yang senantiasa terucap disetiap doa-doa yang kita mohon- dan sekaligus juga ia seakan mewasiatkan sesuatu. Setidaknya hal tersebut tergambar jelas dengan melihat kondisi ibuku dengan penyakitnya yang tiba-tiba kambuh.
     Ibu memang tidak akan pernah mengungkapkannya secara langsung bahwa sesungguhnya ia sedang dilanda ketakutan akan datangnya kematian. Semua orang pasti akan setuju jika terjadinya musibah itu adalah suatu pertanda bagi yang hidup. Begitupun ibuku yang merasakan pertanda itu seperti kentut yang tidak tahu kapan dan bagaimana ia datang. Tapi kehadirannya betul-betul terasa dekat dan mencekam.
     Apalagi dengan kematian Bibi semakin menjadikan pertanda itu kian terasa dekat. Menghantui mimpi-mimpi dalam tidurnya, memecut kesadarannya yang lengah dan menggelisahi jiwanya yang membuat Ibu seringkali murung.
     "Bibimu mewasiatkan kepadaku, bahwa tidak akan lama lagi akan tiba giliranku menyusul kepergiannya." Prasangka yang mudah dibaca yang acapkali menggerayangi pikirannya tentang kematian. Wajah murung Ibu dengan rona kekhawatiran yang serapat mungkin ia tutup-tutupi diusianya yang menjelang senja.
     Sebenarnya wasiat itu bisa berbentuk apapun, bisa dengan ucapan atau tingkah laku keseharian. Tidak perlu ada hitam di atas putih untuk membuktikan kebenarannya, kita hanya perlu kepekaan batin sebagai perantara wasiat itu dapat kita baca dan bisa dipahami maksud dan tujuannya, dan ia pun dapat dimengerti ketika menjadi rangkaian cerita yang sudah berlalu, serupa ending dalam pementasan sebuah drama. Hasil akhir yang tentu tidak bisa dengan seenaknya saja kita tebak layaknya lakon drama itu sendiri, ia membutuhkan tangis Marfuah dan kondisi Ibu yang tiba-tiba sakit.
     Menurut anak paling bungsu bibiku sekaligus saudara sepupuku, yang pemakaman Bibi ditangguhkan karena menunggu kedatangannya dari tanah rantau hingga sampai jam 00.23 malam, sembari berkaca-kaca ia bercerita; bahwa setelah kedatangannya dari tanah suci ada yang aneh dari Bibi, keanehan itu ketika para tamu meminta doa barokah kedatangannya. Entah disengaja atau tidak, Bibi mengubah setiap kalimat yang harusnya dibaca Na (dalam bahasa Arab yang berarti "Kami") malah dibaca Ni (dalam bahasa Arab yang berarti "Saya"). Salah peletakan kata sandang yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah dlomir itu sebenarnya akan segera ditegur, karena makna dari doa tersebut akan mengubah maksud yang lebih condong untuk pribadi bukan untuk orang banyak sebagaimana yang diharapkan. Namun hingga setelah kematiannya, teguran itu tidak sempat diutarakan, dan menurut sepupuku keanehan itu adalah sebagai bagian dari tanda-tanda kepergiannya itu.
     Masih menurut cerita sepupuku itu, berdasarkan kitab yang ia baca, sebenarnya empat puluh hari sebelum seseorang itu meninggal, orang tersebut sudah berupa mayat hidup dengan mata batin yang sanggup melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang kebanyakan. Selama empat puluh hari tersebut keanehan kerap kali muncul, semisal melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan seperti apa yang telah Bibi lakukan, dan biasanya keanehan tersebut akan kita sadari setelah orang tersebut meninggal.
     Kematian Jamal pun meninggalkan cerita aneh. Menurut Marfuah sebelum kepergiannya itu Jamal acapkali berperilaku tidak seperti biasanya, semisal ia begitu perhatian kepada dirinya dan kedua anaknya. Seminggu sebelum kematiannya Jamal sempat membelikan dirinya dan kedua anaknya itu baju baru, bahkan Jamal mengajaknya langsung ke toko dan menyuruhnya memilih sesuai keinginan dengan harga berapapun. Marfuah sempat protes ketika itu, karena menurutnya lebih baik uangnya ditabung atau digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih bermanfaat, untuk urusan baju baru ia dan kedua anaknya sudah terbiasa membelinya setahun sekali ketika menjelang hari raya tiba. Namun Jamal memaksa dan menenangkan kekhawatirannya, sehingga mau tidak mau Marfuah pun harus menuruti keinginan suami tercintanya itu.
######
     Ibu yang harus menanggung keempat anaknya yang masih sekolah, seperti memanggul beban berat di usianya yang memasuki renta. Kematian Bapak sabagai pemimpin keluarga secara otomatis akan dialihkan kepadanya, beban yang harus ia pikul walau tidak sepenuhnya ia menanggungnya seorang diri.
     "Sar, cobalah kau bersabar dulu Sar, apa salahnya kau bersabar...!!!"
     Kata-kata itu kerap kali keluar dari kedua bibirnya yang mudah pasrah, untuk melakukan tindakan yang lebih jauh lagi melampaui kodrat kewanitaannya. Beban psikologis sekaligus beban tanggungan yang harus ia emban membuatnya menjadi wanita seutuhnya.
     Sebenarnya tidak hanya kematian Marfuah dan kematian bibiku sebagai efek dari kekhawatiran Ibu. Selama setahun ini berita duka di desaku seperti suara Sri teman kampusku yang kuliah sembari bekerja sebagai asisten sorang bidan. Tugasnya yang memanggil para pasien yang sedang antri untuk berobat, seperti suara panggilan ajal di desaku yang seakan silih berganti memanggil secara bergiliran para pemilik ruh untuk membawanya berkalang tanah.
     Di setiap beberapa bulan, berita duka itu acapkali terdengar membuat anak-anak kecil menangis ketakutan. Bahkan tidak sampai satu bulan pun berita itu terdengar hingga menjadikan anak-anak kecil itu kini malah tidak lagi ketakutan. Sasarannya pun hampir bisa dipastikan, para petualang tua yang sudah lelah dan penat mengarungi dunia, dan hanya sebagian dari para pemula yang patut bersyukur karena tidak harus berlelah-lelah dan berpenat-penat ria mengarungi dunia. Seperti keponakanku misalnya yang tidak perlu lelah mengarungi dunia, karena sejak lahir ia sudah sakit-sakitan dan beragam usaha telah dilakukan, mulai dari yang berbau takhayul sampai yang riil, hingga usaha puncak ketika ia harus dibawa ke Surabaya karena rumah sakit setempat sudah tidak sanggup lagi mengobatinya.
     Wajar saja jika hantu kematian bagi Ibu kini seperti bau tanah pekuburan bibiku yang baru kemarin dikebumikan, semerbaknya yang khas seharum tanah gersang sehabis dibasahi hujan. Keberadaannya yang gaib seakan-akan menggerayangi pikiran Ibu, merantainya dalam kisaran waktu yang di luar kendalinya, terperangkap dalam ruang serupa dalam sel tahanan yang memenjarakan jiwanya yang berbadan manusia.
     Karena Ibu sudah tidak lagi muda. Raut mulus dan kencang sisa kecantikan di wajahnya yang membuat Bapak termehek-mehek perlahan mengkerut berganti keriput, hanya kulit putih sebagai bawaan gen yang masih menjadikannya tetap bersinar layaknya mentari di pagi hari sehabis semalaman bergelut dengan petang. Gigi-giginya pun tidak lagi berderet rapi, ompong di sana sini dengan senyum jarang yang seringkali dipaksakan. Rambutnya yang menjuntai panjang, perlahan digerogoti rontok dan tak terurus acak-acakan, dan uban telah mengganti pewarna rambutnya yang hitam.
     Rambut memutih yang mempunyai cerita, dan cerita yang masih berdasarkan kitab yang sama dengan kitab yang dibaca sepupuku itu. Cerita tentang Izrail yang melakukan perjanjian dengan seseorang dan sebut saja si fulan yang berjanji untuk memberitahu kapan datangnya kematian itu. Si fulan meminta agar sebelum ia mati ia diberitahu terlebih dulu agar ia bisa mempersiapkan diri sebelum kematian menjemputnya.
     Setelah hari berlalu dengan terburu-buru menjadi seminggu seakan-akan dikejar sesuatu, dan bulan pun berlari cepat mengikuti langkah hari menjadi tahun, dan tahun pun saling berkejaran tanpa terasa. Namun Izrail tidak pernah lagi mendatanginya, hingga ia tua dengan uban di kepalanya yang mulai banyak tumbuh. Suaranya tidak lagi terdengar nyaring seperti di waktu ia muda dulu. Tulang-tulangnya yang kuat mulai rapuh, otot-ototnya yang kekar sudah tidak lagi mampu menanggung beban berat semisal cangkul yang sewaktu muda dulu ia dengan mudahnya membawanya dengan hanya memakai tangan kiri. Hingga ia pun merasa ajalnya sudah dekat, dan tanda-tanda kedatangan Izrail yang ia tunggu-tunggu untuk memberitahu kapan kematiannya tiba masih juga belum ada tanda.
     Ketika ketidak-berdayaannya telah mencapai puncak, tiba-tiba Izrail mendatanginya. Tapi kedatangannya kini tidak sesuai harapan si fulan, Izrail datang untuk mencabut nyawanya. Ia pun protes dan menyalahkan Izrail karena tidak memenuhi janjinya itu, dan baginya hukum alam pun berlaku sebagaimana ketentuannya, penyesalannya yang terlambat tidak akan berarti apa-apa.
     Setelah ia menyampaikan protesnya yang dibumbui amarah sembari menyumpahi Izrail yang menurutnya tidak bisa dipercaya, Izrail pun secara panjang lebar menjelaskan bahwa tanda-tanda itu sebenarnya sudah sejak dulu telah ia kabarkan kepadanya. Salah satu tanda itu adalah rambutnya yang memutih, suaranya yang tidak lagi lantang, kulit yang berganti keriput, dan lain-lainnya yang berkaitan dengan keberadaan anggota badan si fulan yang begitu ia agung-agungkan. Selang setelah itu Izrail pun mencabut nyawa si fulan dengan membawa penyesalannya karena ia tidak sempat membaca tanda-tanda yang telah dikirimkan Izrail itu.
     Izrail akan terus mengisyaratkan tanda-tanda itu agar kejadian yang sama tidak terulang kembali seperti yang telah menimpa si fulan. Keinginan Izrail yang terbukti ampuh dengan melihat kondisi ibuku saat ini, keinginan yang seketika direspon dengan antusiasme tinggi yang membebani pikiran Ibu.
     Pesan kematian itu layaknya bom waktu yang setiap saat meminta tumbal. Tidak ada seremonial, tidak ada ritual-ritual perpisahan untuk menyambut kedatangan Izrail sekaligus juga sebagai upaya merayunya untuk sedikit berbelas kasihan mencabut nyawa kita dengan cara damai.
     "Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok..??"
     "Tidak banyak amal baik yang bisa aku bawa untuk menghadap-Nya..?? Hidup ini berat"
     "Siapa yang akan membiayai adik-adikmu itu jika aku meninggal..?? Mereka masih belum bisa mandiri dan masih butuh banyak bimbingan."
     Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah sekali pun ia ungkapkan, namun dapat kubaca dengan jelas dari raut wajahnya yang seringkali ia paksakan agar tetap secerah senyum mentari di pagi hari. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, karena jawaban yang diinginkannya masih berupa mendung yang menggantung, entah apakah akan turun hujan atau tidak. Sedangkan Ibu masih berbaring di atas kasur, dengan suhu badannya yang masih belum juga turun.




Berdiri Di Atas Liang Lahatnya
yang Belum Digali


     Sudah sekian lama Umar berada di tengah hutan belantara ini. Tapi entah mengapa baru kali ini ia merasa tersesat. Hutan yang sekarang ia tempati kini berubah angker. Padahal dulu, hutan ini adalah surga yang telah menjadikannya seorang raja, dengan gelimang harta serta keelokan para bidadarinya yang tiada rupa. Tapi sekarang, nafsu berpetualangnya telah menjadikan nyalinya berubah ciut. Tempat-tempat yang dulu pernah ia singgahi, kini baginya seperti pekuburan, berbagai macam dedemit bergentayangan.
     Sedangkan ia dikelilingi gelap yang merambat semakin pekat, hanyalah hitam yang mencoba merangkulnya kian dekat. Mungkin, ia juga akan dicekiknya sampai tidak mampu bernafas. Hawa dingin menggelitik sekujur tubuhnya, Umar menggelinjang dihantui ketakutan. Umar mendekap tubuhnya begitu erat, andai ia di rumah ia akan membungkus badannya dengan selimut tebal, setebal mungkin sampai ia tidak bisa merasakan apapun.
     Tapi dimana jalan itu agar ia bisa pulang..?? ia sudah lupa jalan untuk pulang. Jalan yang di sisinya ditumbuhi pepohonan pisang, hingga memasuki halaman depan rumahnya. Ia rindu sewaktu kecil, ketika sang Bapak seringkali memarahinya agar ia shalat. Ia rindu sang Ibu yang tidak pernah bosan memberi wejangan makna hidup, menjalani hidup sesuai tuntutan agama. Umar rindu ketika semuanya itu ia seringkali membandel, mencari-cari alasan agar ia bisa menghindar dari ocehan mereka.
     Kengerian semakin menjadi-jadi. Kini baginya tampak jelas, disekelilingnya para dedemit tertawa terkekeh-kekeh. Tidak seperti dulu wajah dedemit-dedemit itu kini berubah menyeramkan, dipenuhi hawa nafsu memburu. Hanya baju kebesarannya yang masih tetap sama, bermahkotakan emas permata serta para bidadari yang telanjang sambil bergelayut mesra.
     Umar ditawari secangkir minuman sebagai penghangat badan, Umar merasa ragu untuk mengambilnya. Jangan-jangan, ini hanyalah akal-akalan mereka menawarinya tuak, sehingga ia semakin terperosok kedalam jurang yang di dalamnya seperti api neraka..??. Umar tidak mau dipanggang hidup-hidup, dan dijadikan tumbal para dedemit sebagai pelampiasan jiwa mereka yang dilaknat. Lekas-lekas Umar tolak tawaran mereka, walau ia sangat menginginkannya. Mereka semakin terkekeh sembari lari terbirit-birit, semakin keras tawa mereka dari kejauhan karena kesal.
     Kini ia merasa sebagai anak durhaka yang telah menelantarkan Ibu Bapaknya seorang diri. Entah apakah mereka masih menjadi penghuni bumi, atau sudah menjadi bagian yang terkubur di dalamnya..??. Rasa bersalahnya berlipat berganda-ganda, semakin berlipat hingga Umar terlipat didalamnya. Apakah ia akan seperti Malin Kundang, dan sebentar lagi menjadi batu..??. Atau mungkin tersesat di tengah belantara hutan ini, hingga ia menjadi bagian dari dedemit yang tidak mempunyai tempat peraduan..??.
     Lalu kemudian para dedemit itu kembali membawa sederet pasukan, lengkap dengan segala kesenangan dan kemewahan istana hutan. Tapi tetap saja wajah mereka yang seram semakin bertambah seram. Malah sebagian dari pasukan itu tidak berkepala, buntung di lehernya menyisakan urat-urat yang terjulur keluar, menyembur darah yang membuat merah sekujur tubuhnya. Hanya kedua tangan mereka yang membawa segala pernak pernik istana hutan membuat Umar agak tergiur. Apalagi sebuah selimut tebal yang diusung para bidadari yang berjalan lenggak lenggok, semakin tubuhnya menggigil kedinginan. Ingin sekali Umar mengambil selimut itu untuk menutupi tubuhnya, lalu menghangatinya dengan kemolekan tubuh sang bidadari.
######
     Tidak..!!, Umar bilang tidak dengan mantap. Untuk yang kedua kalinya Umar menolak tawaran itu. Sebersit cahaya mulai tampak walaupun agak remang-remang. Tapi Umar berkeyakinan bahwa cahaya itu akan semakin terang, seperti di kala subuh menapaki pagi perlahan-lahan. Umar hanya tinggal menunggu mentari pagi itu menyilaukan sepasang mata dari kantuknya. Pagi yang penuh energy, memasok semangat baru bagi para penghuni bumi untuk beraktivitas kembali.
     “Tapi sekarang masih terlalu malam”, sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya.
     “Cahaya itu secercah sang fajar yang awal munculnya adalah bohong. Cahayanya seringkali membuat kasat mata, menjadikan kita tertipu, lalu kemudian membungkuk kepada sesuatu yang sia-sia. Tidakkah patut disayangkan, ketika cahayanya yang sengaja bersembunyi dibalik malam membohongimu untuk menyembah dihadapan-Nya..??. Padahal sebentar kemudian ia akan mengejekmu sambil memamerkan cahaya kebenarannya”. Umar bingung. Jangan-jangan suara para dedemit yang memang sengaja membuatnya bimbang.
     “Tunggulah sebentar lagi, bersabarlah..!! Jadikanlah ini sebuah awal layaknya manusia yang telah dilahirkan untuk yang kedua kali. Sambil menunggu putarlah kembali ingatanmu, seakan-akan engkau duduk di dalam sebuah gedung yang di depannya tersedia sebuah layar, yang akan membuatmu menangis tersedu-sedu.
     Atau di depan sebuah komputer yang di dalamnya tersimpan file-file. Engkau membukanya dengan perasaan menyesal, lalu engkau menghiddennya untuk sementara waktu atau membuangnya sekalian”, perintahnya kemudian, semakin membuat Umar bimbang.
     “Jangan engkau menoleh kebelakang, karena para dedemit itu akan memasukkan virus di komputermu, dan menjadikanmu virus yang akan menghapus file-file yang menjadi pijakanmu, menanti kelahiranmu kembali”.
     “Tidak mungkin”, bathin Umar. Para dedemit tidak akan sebijak itu. Ini suara langit yang menyuruhnya untuk menunggu. “Namun menunggu adalah pekerjaan yan membosankan”, keluh Umar. “Tapi kenapa harus takut kepada bosan, jika pada akhirnya berbuah kebaikan..??. Menunggu sama saja dengan sabar, walau beda pengertian pada intinya melatih mental dan kepribadian seseorang”, pikirnya.
     Sembari menunggu Umar merasa cukup bangga karena telah menjadi bagian dari hutan ini. Ia telah banyak menorehkan noktah didalmnya, file-file ini sudah cukup memberinya bukti bahwa ia adalah salah satu pemain dari arena permainan yang dilombakan. Bahkan tak jarang Umar mengangkat piala kemenangannya dengan bangga.
     Umar sudah berpengalaman, bagaimana ia mendaki sampai puncak tertinggi. Berpetualang di tengah belantara hutan, tanpa membawa bekal. Ia pun pernah berburu dengan nafsu tak terkendali, setelah mangsa didapat ia dengan rakus memakannya, melahapnya dengan tamak sambil mencincangnya tanpa ampun.
     Para penghuni hutan mengeluk-elukkannya ketika ia sedang beraksi. Waktu itu, Umar merasa sebagai seorang Gladiator layaknya maximus yang gagah berani. Bermacam tantangan ia hadapi tanpa rasa takut. Beribu-ribu pasang mata menjadi saksi kehebatannya. Umar disanjung setinggi mungkin. Ia dipuja dengan kerelaan sang pemujanya. Ia dihormati sembari memohon belas kasihannya. Ia dimuliakan sembari merangkak mencium kakinya.
     Sampai semua keinginannya terpenuhi. Disaat keberaniannya yang tak tertandingi. Hingga segala hasrat kemauannya terlayani. Ia berada dipuncak tertinggi, dan hanya bertumpu pada sebongkah batu yang oleng seukuran kedua kakinya. Ia mencoba cekatan sambil tetap menjaga keseimbangannya. “Tapi sampai kapan..??”, pikirnya waktu itu. “Sampai kapan ia akan rentangkan tangannya agar tetap berdiri, jika pada akhirnya ia akan jatuh juga karena terlalu capek..??, atau menjatuhkan tubuhnya dengan pasrah karena baginya sudah tidak ada pilihan untuk jalan keluar..??”.
     Pantas saja jika waktu itu ia merasa kesulitan menemukan pintu keluar di tengah istananya yang begitu megah. Wajar saja jika kerajaannya seperti belantara hutan yang sekarang ia tersesat di dalamnya. Jiwanya mati rasa, dan semua yang ia rasakan tidak ada bedanya. Ia membutuhkan lampu, atau sebatang lilin saja jika tidak ada. Ia butuh sebuah peta sebagai petunjuk untuk jalan pulang.
######
     Dingin telah merontokkan sendi-sendi urat nadi, hingga tulang-tulangpun terasa retak. Pembungkus raga betul-betul sudah tidak mampu menahan serangannya yang brutal, seperti menusuk-nusuk sampai batas kesadaran.
     Semakin erat Umar mendekap tubuhnya. Menciptakan rasa hangat yang sedikit membantu. Setiap penjuru mata angin seakan tertuju padanya dengan tatapan penuh dendam. Sambil masing-masing membawa sebilah pisau lalu menancapkannya berulang kali ketubuhnya. Ia menggelepar serasa di kutub. Ia menahan perih dari hujaman es yang menghantamnya, hingga batas ia kelimpungan terengah-engah.
     “Tidakkah ini hanyalah hutan belantara yang dinginnya sepanas api neraka..?? Tidakkah ini keterlaluan, dengan kadar kekebalan manusia yang tercipta sepersekian persen saja..??? Tidakkah ini dunia, kenapa harus tersiksa sebelum waktunya tiba..?? Atau mungkin raga ini sudah kehilangan jiwanya, alias berada disuatu tempat yang dihuni oleh gelap, hawa dingin yang setiap saat menyergap..???”, bathin Umar tak habis pikir.
     “Jangan-jangan…????”, teriak Umar geram.
     Ah…!!! lagi-lagi dedemit itu telah mengibulinya, menyuruhnya untuk menunggu. Tidak..!!, ia masih tegak berdiri diatas liang lahatnya yang belum digali. Sayup-sayup ia mendengar suara Muadzin mengumandangkan keagungan sebuah nama yang tidak asing: “ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR”.
     Kedengarannya begitu syahdu, perlahan mengaliri sel-sel penggerak jiwa. Baru kali ini Umar merasakan kedamaian hati yang luar biasa tentramnya. Baru kali ini ruh kehidupannya memberi rasa bahwa ia hanyalah bagian kecil dari jagat raya. Ia hanyalah penghuni bumi yang membutuhkan sebab dan akibat, yang tidak tercipta dengan sendiri. Tiba-tiba timbul perasaan malu, kenapa bumi yang begitu luasnya menjadikannya bak seorang raja di tengah hutan belantara ini, sehingga ia tersesat di dalamnya..???.
     Suara itu berasal dari sebuah surau kecil yang tak jauh dari rumahnya yang menjulang tinggi mentereng. Alamak…!!! Kenapa baru kali ini ia merasakan keberadaan surau itu..???. Umar jatuh tersungkur di halaman surau itu. Bunyi nafasnya tersengal seperti habis berlari dari suatu tempat yang tak tahu dimana.
     Masih terdengar merdu seakan-akan menyuruhnya untuk melepas segala beban yang teramat berat. Umar pasrah ketika tiba-tiba seperti sebuah tangan memegang pundaknya dan membawanya masuk kedalam surau itu. Kemudian tangan itu seperti menampar kedua pipinya agar ia segera menitikkan air matanya. Mengakui segala ketidak berdayaannya sambil berharap mendapatkan selimut tebal yang akan membuatnya hangat, dibawah naungan cahaya terang yang akan menuntunnya dari kegelapan.
      








Hapid Beckham

     Terasa menjemukan bagi Hapid yang melalui hari-harinya berdasarkan hitungan manual detik-detik menjelang even akbar itu diselenggarakan. Debar jantungnya berdesir hebat meresap hingga keubun-ubun, ketika aksi pemain pujaannya dengan skill individu kelas wahid, memperagakan teknik mengolah bola profesional, memukau dengan tampang-tampang keren, lincah menari-menari di atas desain rumput Gelora Bung Karno dengan kapasitas empat ribuan-an tempak duduk, dipadu padankan sorot cahaya lampu seperti siang, serasa ia menjadi bagian dari euforia kemegahan Theatre Of Dreams yang di dalamnya bentangan merah putih berkibar disetiap sudutnya, lambang kebanggaan yang membuat perasaannya kembali berdesir, melonjak-lonjak kegirangan.
     Walau toh, aksi mereka hanya sekedar karya visual iklan-iklan yang dipertontonkan dengan kasat mata. Namun sama sekali tidak membuat Hapid ingsut dari tempat duduknya hingga selesai karya-karya itu menghipnotis alam bawah sadarnya. Ia tersenyum geli sekaligus terselip rasa haru ketika Attacante haus gol dengan Insting siluman Wayne Rooney. Defender kawakan, kokoh nan lugas ala Rio Ferdinand. Goal Keeper mumpuni dengan refleks yahud, si raja Clean Sheet Edwin Van Der Sar. Playmaker sekaligus Second Striker jago Solo Run dengan daya jelajah tinggi khas Ryan Giggs. Defensive Midfielder si pengatur tempo dengan umpan-umpan tak terduga ala Michael Carrick, dan penyemangat Asia Playmaker tenaga kuda yang pantang menyerah dengan tackling-tackling bersih tepat sasaran khas Park Jing Sung, duduk tenang di bangku masing-masing menyimak sembari ternganga, linglung dalam pesona perempuan Indonesia yang menaklukkannya dengan bahasa Ibu; “Ini Budi, Ini Ibu Budi”.
     Aksi-aksi itu senantiasa melekat dalam benaknya, keabnormalannya hingga mencapai titik nadir yang membentuk pola tingkah laku yang menggila. Sejak SMP, kamarnya telah dipenuhi poster-poster Si Setan Merah, altar pemujaan yang memenuhi tembok kamarnya dengan legenda-legenda yang menjadikannya angker. Terpampang maskot seumur hidup The Red Devils, George Best, Eric Cantona si kungfu master yang bertelanjang dada sehabis memimpin pasukannya dalam salah satu pertandingan. Pahlawan Treble Winner yang berderet rapi, berdiri dari kiri ke kanan: Peter Schmeichel, Andy Cole, Ryan Giggs, Jaap Stam, Wesley Brown, Roy Keane, dan jongkok: Dwight Yorke, Paul Scholes, David Beckham, Gary Neville, Denis Irwin, dengan cadangan yang kwalitasnya tak jauh beda: Teddy Sheringham, Ole Gunnar Solksjaer, Nicky Butt, Philipe Neville, Mikhael Silvestre.
     Belum gambar-gambar dengan beragam style sang idola David Beckham, si raja Free Kick penghuni sayap kanan, si Albert Einstein Modern, sosok jenius spesialis tendangan bebas dengan akurasi umpan yang mengagumkan, bertampang bak selebritas yang beristrikan penyanyi kenamaan. Ada “The Dutchman” The Little Marco Van Basten, peraih Golden Boot Ruud “Van The Man” Nistelrooy, pembunuh bayaran pengoyak jala lawan dengan style dan dribbling khas Negeri Total Football. Ataupun si penari Tango Juan “The Little Witch” Sebastian Veron, palang pintu Les Blues Laurent Blanc sekaligus si plontos Fabian Barthez, hingga si penyihir Cristiano Ronaldo, si bengal Carlos Tevez, si pembunuh berdarah dingin Dimitar Berbatov, si penggangu tak kenal lelah Darren Fletcher sekaligus si anak hilang Owen Hargreaves, si Attraktif Nani, si gimbal penari Samba Denilson, si mungil yang dibekali Sprint diatas rata-rata Patrice Evra, si anjing penjaga John O’Shea dan Johny Evans serta si tukang jagal dari Balkan Nemanja Vidic. Merekalah yang telah mendoktrinnya arti sebuah Fair Play, mencemari otaknya makna dari sikap sportif dan keprofesionalan, inspirasi tentang kerja keras, kerja sama dan kekompakan, mengedepankan kwalitas mengesampingkan ras demi sebuah prestasi. Tertanam lekat dalam tindak tanduk Hapid, menjadi bagian dari pola pikirnya untuk berkembang, yang sedikit banyak telah membentuk karakter dirinya menjadi seperti sekarang.
     Tak terbayangkan rasanya walau nun jauh di sana –seperti pepatah bilang jauh dimata dekat dihati- para pahlawannya itu akan memperagakan skill, yang menurutnya nanti tak ubahnya akan mengajari para pemain kita cara bermain sepak bola yang benar. Ia membayangkan bagaimana seorang Bambang Pamungkas beradu heading dengan Nemanja Vidic, seorang Boaz Salossa mengakali kecermatan Rio Ferdinand. Bagaimana Firman Utina dengan tendangan gledeknya menguji ketangguhan antisipasi Edwin Van Der Sar, Budi Sudarsono bersusah payah berkelit dari incaran pantang menyerah Darren Fletcher, si Ponaryo Astaman berjibaku mengimbangi ketenangan si Michael Carrick mengatur tempo permainan, atau si Mahyadi Panggabean yang dibuat kesal dengan aksi tak kenal lelah Park Jing Sung, Arif Suyono yang terbirit-birit beradu kencang dengan Patrice Evra. Hapid tersenyum sendiri, geli dan akan terlihat konyol nantinya melihat Charis Yulianto tampak frustasi jatuh bangun mengawal ketat Wayne Rooney, Nova Arianto yang kewalahan pontang panting dengan ulah si pembunuh berdarah dingin Dimitar Berbatov, si Eka Ramdani yang saling pamer visi beradu kematangan dengan Paul Scholes, belum Markus Horison yang akan dibombardir habis-habisan oleh tendangan maut Ryan Giggs atau sepakan Nani yang selicin belut, dan diakhir pertandingan para pemain kita yang saling berebut bertukar kaos, kenang-kenangan seumur hidup yang sulit terulang untuk yang kedua kali dalam karir mereka.
     Ingin sekali ia menjadi bagian dari kemegahan Gelora Bung Karno, memakai kostum merah putih milik Budi Sudarsono idola kebanggaannya yang wajahnya 100% asli Indonesia, wajah pribumi tanpa campuran sedikitpun. Namun apa hendak dikata? Selain karena jarak tempuh dengan biaya yang tidak sedikit, serta banyaknya kebutuhan yang menurutnya lebih bermanfaat dari pada semua itu, ia kubur mimpinya itu layaknya mimpi tak terbeli, tertancap nisan kekecewaan. Cukuplah layar 14 inchi menemaninya menjadi saksi sejarah pesepak bolaan negeri tercinta yang sulit sekali diperhitungkan.
     Satu bulanan lagi hitungan manual itu merangkai harinya menuju hari H, SMS dan panggilan keluar masuk teman-teman sesama gibol mewarnai harinya terasa menyenangkan. Sekedar celoteh seputaran kabar terkini klub kesayangannya itu, banyolan seru kenangan masa lalu, kelakar prediksi hasil akhir yang berat sebelah, skuad penghuni pasukan Sir Alek mulai dari wajah-wajah baru yang ditunggu-tunggu kebangkitannya, seperti maskot The Three Lions akhir tahun 90-an Michael Owen, bakat alami khas Amerika Selatan Antonio Valencia, aksi unjuk kebolehan pemain proyeksi masa depan insting pencari bakat jempolan, dalam polesan tangan dingin Sir Alex semisal Frederico Macheda, hingga veteran dengan loyalitas tinggi yang patut dihargai. Persiapan sebagai tuan rumah juga tak luput dari obrolannya, seputar penjualan tiket yang ludes jauh-jauh hari, infra struktur yang perlu dibenahi, polling SMS para pemain yang diproyeksikan, himbauan, larangan, ancaman, komentar dan sambutan dari berbagai pihak yang berkepentingan, semakin menambah seru obrolannya.
     Hari-harinya bagi Hapid serasa mempermainkan kesabarannya, detak jarum jam lambat bergulir tidak seperti biasanya, detik bagai menit, menitpun bagai jam, jam layaknya hari dan hari serasa bulan, bulanpun seperti tahun yang berdasarkan perasaannya sengaja berjalan merangkak sembari menertawai ketergesaannya, mengacuhkan keegoisannya, membiarkannya menggerutu, mengeluh kesal, bersumpah serapah tak karuan. Ia tak habis pikir hari-harinya begitu tega, kejam, tak berperasaan, menguji mentalnya untuk senantiasa menerima dengan lapang dada segala tumpukan mimpi yang telah banyak terbuang tak terbeli.
     Setengah bulan lagi dari satu bulan bagai gersang merindukan hujan, kering di kerongkongannya demi seteguk air dalam oasis Gelora Bung Karno yang berlandskapkan kasat mata. Seorang maniak Hapid yang telah membebani namanya sesuai idola yang ia pun telah siap menanggung segala konsekwensinya, koleksi kaos-kaosnya, pernak pernik, aksesoris, kliping lengkap dalam setiap perhelatan Liga Primiership, Even akbar sekelas Piala Champion, Piala UEFA, antar klub dunia hingga Even sampingan yang seringkali dianak tirikan sebagai ajang uji coba, semisal Piala FA, Piala Carling, menumpuk di rak lemarinya yang rajin ia bersihkan setiap sebulan sekali. Belum kepingan-kepingan videonya untuk mengenang sepak terjang para legenda klub dari setiap jamannya dalam momen indah tak terlupakan, video dokumentasi profil klub, tentang para pendirinya dan yang melatarbelakanginya, mengenai manajemen klub hingga sistem pengelolaan untuk pengeluaran dan pemasukan dalam urusan jual beli pemain, semuanya tertata rapi dalam rak lemarinya, tersusun indah agar enak dipandang.
######
     Sementara itu dalam remang-remang pentas perhelatan ajang para pemimpin yang tak kalah seru. Mirip sebuah adagium sebagai seni dari segala kemungkinan, para calon saling serang, memamerkan kelihaiannya berargumen dengan joke-joke penuh intrik, menyisipkan sedikit kecurangan yang dilakukan secara berulang-ulang, memanfaatkan kelemahan dan kelengahan satu sama lainnya. Celoteh dilontarkan dengan sedikit bumbu sindiran sebagai penyedap air muka merasa paling benar sendiri, tentunya pledoi-pledoi dengan mimik tak berdosa, lemah lembut, kebijaksanaan yang diwakilkan dengan dahi mengkerut, tegas yang dibuat-buat, menjadi semacam tontonan yang menggelikan, konyol, mengundang tawa yang sebenarnya tidaklah lucu. Sampai akhirnya salah satunya keluar sebagai pemenang, menjadi “The Winner” yang disambut dengan riang gembira, sebuah amanat yang sejatinya disambut dengan air mata.
     Sementara dalam gelap, detail rencana telah dimatangkan, tinggal bagaimana kekuatan senjata adalah satu-satunya hal yang dipentingkan, dan telah melakukan pengendalian terhadap hal yang direncanakan itu, dan...
     “DDEEBBUUUUMMM,,,,AAARRRR .........!!!!!!!!!
     Bom meledak meluluh lantakkan dua bangunan aset milik asing yang dijaga super ketat dengan keamanan tingkat tinggi. Layaknya kembang api akhir dari sebuah pementasan akbar, semua terkesiap, ternganga kaget sekaligus tak percaya, lekas-lekas terjaga dari euforia kue kekuasaan setahun penuh yang melenakan.
     Sementara dalam gelapnya kegelapan, di negeri “Entah Berantah” seorang cukong duduk mengangkang di atas singgasana Kapitalismenya. Terkekeh-kekeh menahan perut sembari sesekali menahan kekehannya dan berceloteh seperti biasa; “Kami sangat mengecam kejadian yang tidak menghargai demokrasi ini, dan menghimbau untuk tetap terus memerangi Terorisme”. Setelah ucapan basa basi itu ia terkekeh lagi, sambil menunggu rencana berikutnya yang akan segera terjadi.
     Para Calon yang kalah yang masih dalam susana berduka, tiba-tiba mereka kebakaran jenggot. Isu berkembang yang mengaitkan kejadian biadab itu sebagai pelampiasan kekecewaan dari pihak yang kalah, membuat mereka kesal dan seketika membuat statemen pembelaan sembari meminta pihak -yang seharusnya mempunyai sikap ksatria layaknya Gajah Mada dengan bertindak tegas dan berani, agar tidak mudah dikendalikan- untuk tetap berpikir jernih dan tidak menambah keruh suasana dengan statemen-statemen bernada menuduh dan terkesan mengada-ada. Cukong itu pun terkekeh lagi sembari tbatuk-batuk, lagi-lagi rencananya sesuai keinginan nafsu silumannya.
     Karena mendapat bantahan keras dari para calon yang kalah itu, mau tidak mau tersangka “lawas” yang selama ini telah di-Stereotip-kan kepada mereka tanpa kejalasan bukti yang masih simpang siur, tiba-tiba ditangkap secara “publik” -yang sesungguhnya cara seperti itu menunjukkan watak seremonial kuasa menakutkan pemerintahan imperial yang menjatuhkan lawan-lawannya yang tidak tunduk- mereka kemudian dijebloskan dalam tahanan sembari menunggu hukuman tembak mati seperti yang sudah-sudah.
     Cukong itu kembali terkekeh mengepal tangannya sembari mengayunkannya dengan berucap; “Yes”. Opini publik yang serba tidak jelas dan terkesan diolah agar anget-anget tahi kucing itu, menjadikan masyarakat acuh dan tidak terlalu ambil peduli, membiarkannya berlalu begitu saja. Dan lagi, Cukong itu terkekeh, terbahak-bahak karena semuanya berjalan lancar, aman, dan terkendali. Tinggal kini bagaimana rencana selanjutnya; Kapitalisme, Imprealisme dan Liberalisme tetap beranak pinak di Negeri yang katanya sudah Merdeka ini.
     Seperti berkeping-keping ikut meluluh lantakkan hatinya, Hapid Beckham merengut kesal, mengutuk para pelaku BOM itu dengan sumpah serapah “Neraka Jahanam”. Ia kecewa, kesal, marah, geram bercampur baur menjadi satu, Bukan karena banyaknya korban yang tidak bersalah -sekaligus juga tidak ada alasan kenapa mereka mesti dibunuh- tapi efek dari kejadian itu, “The Red Devils” tim pujaannya hingga keronto-ronto itu urung bermain. Setelah kejadian itu melalui Sir Alex dalam jumpa press langsung, mereka membatalkan rencananya karena khawatir akan keselamatan para pemainnya. Hapid uring-uringan, menggerutu ngalor-ngidul tak ada tujuan sembari ngelantur enggak nyambung; “Buru dan Pancung Teroris..!!” , “Banci para penguasa yang lebay, yang suka merekayasa kejadian menjadikan momentum untuk kelanggengan dinasti dan nama baiknya”.
 








Cinta Diujung Pena

     “Salsabilla,” kueja nama itu lirih, entah untuk yang keberapa kali. Memang nama yang bagus untuk seorang gadis berjilbab seperti dia. Kuhempaskan nafas kuat-kuat, sekedar untuk menghilangkan kegelisahan yang kini menyelimuti jiwaku. Yach, beberapa hari ini aku telah dibuat uring-uringan olehnya, sampai-sampai aku tak mampu untuk memejamkan mata, meski hanya sekejap, meski setelah seharian penuh aku bergelut dengan aktivitas di kampus yang benar-benar menguras energi dan pikiranku.
     Dia memang baru sekali bertemu denganku, itupun tak kusengaja. Tapi entah mengapa, pesonanya begitu mendalam telah merasuki jiwaku. Dia betul-betul sesuai dengan apa yang dikatakan Leman, teman kuliahku, waktu itu.
     Aku mulai berangan pada tiga hari lalu ketika aku bertemu dengannya, lantas setelah aku iseng bertanya tentang sosok perempuan yang cocok menjadi pendamping hidupku. Diapun tegas menjawab: “Gadismu adalah seorang perempuan berjilbab, tinggi semampai, dan saat kamu bertemu dengannya nanti, kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda.” Saat itu aku hanya setengah hati mempercayainya, karena menurutku, perkataan itu hanyalah tebakan belaka. Mungkin berdasarkan pengalaman, atau itu hanyalah perkataan seseorang yang mempunyai kelebihan. Apalagi gadis yang berjilbab mana mungkin tertarik denganku yang serba biasa ini?.
######
     Waktu itu, aku berencana melakukan perjalanan ke Semarang untuk menyelesaikan tugas penelitian skripsiku. Tapi sial bagiku, bis yang aku tumpangi ternyata penuh dengan penumpang, malah ada sebagian yang berdiri karena tak kebagian tempat duduk. Maklum, pagi hari seperti itu memang waktu yang selalu ramai. Aku duduk bersampingan dengan seorang kakek yang sepertinya tak lama lagi akan turun. Dan benar saja, tepat sebelum pertigaan, kakek itu mempersiapkan diri untuk turun.
     Aku menggeser pantatku, memberi tempat duduk untuk penumpang yang sejak tadi memang sudah berdiri di sampingku yang lain.
     “Tempatnya kosong, Mas?” suara itu lembut menyapaku.
     “Kosong,” jawabku singkat sambil menoleh ke arah si empunya suara itu.
     “Ohh!” bathinku. Paras cantiknya sempat membuatku terkesima dalam sepersekian detik. Jantungku berdegup kencang. Gadis itu tersenyum ramah memandang ke arahku, membuat hatiku tambah tak karuan. Gadis itu pun duduk di sampingku dengan senyumannya yang senantiasa mengembang.
     Aku masih diam membisu. Perasaanku bergejolak, tidak biasanya aku merasa seperti ini, seakan keseharianku yang cuek kalau bersangkutan dengan urusan perempuan tiba-tiba hilang, berganti salting yang memalukan. Bahkan yang lebih parah lagi, perbendaharaan kata yang selama ini sering kali aku gunakan sebagai jurus pamungkas untuk meluluhkan setiap cewek yang aku temui, tiba-tiba pula lenyap ditelan deru suara mobil yang silih berganti melintas. Aku tak habis fikir, apa mungkin karena baru kali ini aku berhadapan dengan gadis berjilbab?, yang kata orang mereka sudah kebal terhadap godaan atau rayuan gombal dari laki-laki seperti aku ini, padahal di lingkunganku pun tak sedikit yang teguh berjilbab sepertinya, meski hanya untuk sebuah identitas.
     Pandangannya selalu saja menatap lurus ke depan. Hanya sesekali menoleh ke samping melihat pemandangan unik yang menarik hatinya, seakan mengacuhkan keberadaanku di sisinya, atau mungkin ia hanya menganggapku seonggok batu yang tak berguna karena merasa tak selevel dengannya...???.
     Sikapnya itu justru membuatku semakin tak percaya diri, dan perkataan Leman kala itu mereplay ingatanku kembali tentang gadis berjilbab, gadis yang katanya pintar, teguh pendirian. Ternyata kata-kata Leman itu cukup mampu untuk membangkitkan semangatku kembali. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kubangun kembali semangat itu, hitung-hitung untuk membuktikan kebenaran prediksi Leman, karena selama ini dia memang terkenal jitu dan tepat sasaran dalam berprediksi.
     Aku mulai mengatur nafasku, perlahan-lahan mencoba menenangkan gejolak jiwa ini, mencari kata yang tepat untuk mulai menyapanya.
     “Mondok di mana, Mbak?” akhirnya keluar juga pertanyaanku setelah sekian menit otakku berputar, mencari kalimat yang masuk akal dan dirasa pantas untuk memulai pembicaraan.
     Tak ada jawaban, dia hanya membisu tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir merahnya itu, tak bereaksi, menolehpun tidak. Apa mungkin pertanyaanku tadi kurang keras?, atau mungkin dia sengaja berlagak tuli untuk sekedar membuatku penasaran dan meraba sampai setinggi mana kekuatanku untuk menggodanya lagi.
     Saat itu aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Aku harus bertanya sekali lagi, agar beban prasangka dalam pikiranku dapat terhapus dan tak berlarut-larut lagi, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku memang benar-benar ingin bertanya.
     “Turun mana, Mbak?” tanyaku lagi tapi dengan suara agak keras.
     “Oh, iya. Saya mondok di Situbondo. Mau turun di Tuban, Mas!” akhirnya ia menjawab juga, sekalian dengan pertanyaanku yang pertama itu.
     Aku dibuatnya malu sendiri saat itu. Dia memang sengaja tak menjawab pertanyaanku tadi, sepertinya dia memang sudah paham akan maksud basa-basiku. Aku semakin penasaran, gadis ini memang berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah aku kenal selama ini. Perkataan Leman semakin mendekati kebenaran saja, pikirku. “Ada sesuatu yang lain jika kamu nanti bersua dengannya,” aku ingat ucapannya kala itu. Aku semakin lupa diri, terlena dengan ketakjubanku atas gadis yang kini duduk di sampingku. Lalu perkataan-perkataan Leman semakin menuntut aku untuk bertanya lebih jauh, hingga aku menganggap inilah sosok perempuan yang dikatakan oleh Leman, tak salah lagi.
     “Kok diam saja, Mas?!” ucapnya mengagetkanku.
     “Oh, enggak!” aku tergagap.
     “Mondok di Gontor sudah berapa tahun,?” aku balik bertanya lagi, menutupi sikapku yang mungkin terlihat seperti orang bodoh.
     “Belum lama, kok!. Sekitar dua tahun,” balasnya mulai bersahabat, dan kesempatan itu tak ku sia-siakan. Sejurus kemudian aku ajak dia ngobrol panjang lebar, tukar pengalaman, beradu wawasan. Tapi aku yang memang miskin masalah ilmu keagamaan, selanjutnya hanya menjadi pendengar setianya saat dia begitu menggebu-gebu memaparkan tentang masalah itu, apalagi saat aku mencoba mengaitkan masalah itu dengan perkembangan zaman yang terjadi akhir-akhir ini, dia semakin gamblang saja menjelaskan akan pentingnya masalah itu sekarang ini.
     Aku memang sama sekali buta tentang hal-hal yang berbau religius seperti itu, dan saat mendengar pembicaraannya, aku hanya sanggup menganggukkan kepala, seperti sok paham, padahal sebenarnya aku benar-benar mati kutu.
     Tetapi sebagai seorang mahasiswa, aku tak boleh kalah begitu saja, setidaknya aku harus mempertahankan diri, aku harus melayaninya dengan logika pengetahuan umum yang memang sudah menjadi makanan sehari-hariku.
     “Apa enggak lebih baik kalau nilai-nilai agama harus kita sesuaikan dengan keadaan dan perubahan zaman sekarang ini.???” pancingku mencoba ingin tahu reaksinya.
     “Boleh-boleh saja, Mas. Tapi kan kita ada kalanya tidak harus selalu menjadi budak zaman. Pada keadaan tertentu kita harus berani berpegang teguh dengan agama yang kita anut ini,” ucapnya tegas. Aku semakin kagum dibuatnya. Pendiriannya kokoh, benar-benar sesuai dengan jilbab yang sepertinya selalu menutupi kepalanya.
     “Enggak gerah emang..!! panas-panas gini pakai jilbab?” tanyaku sekali lagi.
     “Gerah sih gerah. Tapi ini kan termasuk sebagian dari prinsip yang saya katakan tadi,” jawabnya mulai agak tinggi, seakan menyuruhku untuk tidak lagi mengusik sesuatu yang sudah menjadi prinsipnya itu. Akupun memaklumi, mengiyakan dalam hati. Aku sadar, prinsip memang bagian internal dari tiap-tiap individu yang tak boleh diganggu gugat selama prinsip itu benar dan tidak menyimpang dari norma yang berlaku, lebih-lebih dikalangan khalayak umum.
     Aku harus mengalihkan pertanyaanku ke masalah lainnya, menanyakan sesuatu tentang jati dirinya mungkin..??? Atau tentang seseorang misalnya..??? Seseorang yang telah beruntung menjadi tambatan hatinya, dermaga cintanya setelah sekian lama bergelut dengan badai, dalam mengarungi samudera hidup yang tak bertepi untuk menuju pulau bahagia dambaannya.
     “Sudah ada yang punya enggak .???” selidikku memberanikan diri. Tapi.....!!!!!
     “Tuban terakhir! Tuban terakhir! Tuban,” suara kondektur bis terdengar nyaring memberi isyarat untuk para penumpang. Ia mulai membenahi barang bawaannya, bersiap untuk turun. Entah, apakah ia mendengar pertanyaanku yang terakhir itu atau tidak. Aku hanya bisa diam seperti orang tolol yang menanti jawaban dari pertanyaan yang teracuhkan.
     “Cinta itu butuh ruang dan waktu, Mas!” ucapnya tiba-tiba setelah ia berdiri, lalu pergi dengan sekilas senyum di bibirnya. Senyum yang meninggalkan segudang penasaran. Tentang sebuah nama dan alamat yang tersirat dalam kisaran waktu antara Surabaya-Semarang.
######
     Sore itu, aku ke terminal, bermaksud menjemput Homed, teman sekaligus sahabat karibku sejak SMA, yang baru pulang dari pesantren. Dengan APV yang baru kudapatkan STNK-nya kemaren lusa. Aku pergi ke sana, sekedar memberi tahu bahwa mobil inilah hasil jerih payahku selama ini dari setiap honor tulisan yang aku kirimkan ke majalah-majalah ibu kota.
     Aku pun tak keberatan ketika ia memintaku juga untuk mengantarkannya sampai rumah. “Hitung-hitung sekalian silaturrahmi dengan orang tuanya,” bathinku. Beberapa bulan ini, aku memang sudah tak bercengkerama dengan mereka seperti dahulu. Aku terlalu sibuk berkutat dengan aktivitas kuliahku. Aku merasa rindu dengan keakraban mereka padaku.
     Sesampainya di sana, aku langsung ke kamar Homed, membantunya membereskan kamar dan barang-barang yang dibawanya dari pesantren. Aku lantas tertarik dengan sebuah album foto yang terselip di antara baju-bajunya.
     “Itu koleksiku waktu ospek dua bulan yang lalu,” hardiknya melihat aku kelihatan serius membolak-balik album foto yang berisi berbagai macam aktivitas kemahasiswaan itu. Aku lalu terpaku pada sebuah foto yang ada di situ.
     “Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis ini,” ucapku setengah memekik.
     “Siapa?” Homed kaget, ikut melihat foto itu.
     “Namanya Salsabilla,” ucapnya seperti sudah tahu maksudku.
     “Dia sekretarisku di BEM, primadona kampusku. Kamu mengenalnya?” ia balik bertanya, penasaran bercampur heran.
     “Aku pernah bertemu dengan gadis ini sekali,” lalu aku mulai menceritakan kisahku di bis itu, termasuk tentang perkataan Leman atas prediksinya untukku, sampai ketika aku harus berpisah dengannya, dengan sejuta kesan yang mendalam.
     Homed mengangukkan kepalanya mendengar ceritaku. Ia nampak tersenyum melihatku begitu bersemangat dalam bercerita.
     “Cinta pada pandangan pertama kan?” ucapnya tiba-tiba mengagetkanku. Sedangkan aku hanya bisa diam dengan pertanyaannya.
     “Kamu suka sama dia kan?” paksanya sekali lagi.
     “Aku hanya mengagumi kepribadiannya. Baru kali ini aku bertemu cewek teguh seperti dia. Dia begitu berbeda, unik, dan…...!!!!!”.
     “Sudahlah!” sergahnya memotong kalimatku.
     “Serahkan semuanya padaku. Kamu pasti akan mendapatkan bidadarimu itu,” lanjutnya enteng seperti tahu maksud yang tersimpan di balik penyanggahanku itu. Aku sama sekali tak mengerti maksud perkataannya, namun di balik semua itu, aku justru berharap ucapannya itu bukan sekedar omong kosong, karena harus kuakui, saat ini memang ada getar-getar aneh tentangnya yang mulai tumbuh di dasar hatiku.
     Hari-hariku selanjutnya kini selalu penuh dengan bayangannya. Anganku melayang, membumbung tinggi melewati bintang-bintang dan awan yang mengembang. Setiap waktuku penuh khayal, meski aku pun ragu akan niat sahabatku itu untuk menunaikannya. Aku hanya yakin kalau sahabatku itu memang selalu mengerti keinginanku.
     Hingga suatu hari saat aku tenggelam dalam khayalku itu, adik kecilku tiba-tiba menghempaskan tubuhnya ke atasku yang sedang berbaring di tempat tidur.
     “Surat untuk Kakak,” ucapnya menyodorkan amplop berwarna pink itu ke arahku. Aku bangkit duduk, memeluk anak kecil itu sebentar.
     “Dari Tuban.!!!” aku bersemangat membacanya.

Teruntuk Izza Achamad....!!!!!
     Kini aku tahu namamu, meski dulu waktu kita berjumpa belum sempat saling mengenal. Tapi takdir telah mempertemukan aku kembali denganmu melalui Homed dan untaian kata ini.
     Homed sudah banyak bercerita tentang kamu. Dan tentang kebenarannya, aku enggak mau tahu. Terima kasih atas kekagumanmu akan diriku. Begitu pun sebaliknya, aku juga mengagumi kedewasaanmu dalam menerima setiap sanggahan pendapatku waktu itu.
     Saat ini, sebuah cinta dalam hatiku sedang menunggu hadirnya ruang dan waktu. Akankah yang di sana masih tersisa sedikit ruang kosong untuknya tumbuh dan mewangi……???????????






    

Dawai Resah

     “Kenapa masalah seperti ini mesti didramatisir? Masih banyak realita yang masih dan musti kita tunaikan,” hardik Zia, teman sepermainanku di almamater ini.
     Mungkin memang ada benarnya juga ia berkata seperti itu. Sebagai seorang perempuan, aku memang terlalu perasa, apalagi pada kenyataan yang semestinya tak pantas aku sesali ini. Aku memang harus lapang dada menerima setiap yang ditentukan untuk kebaikanku, meski hati nuraniku memberontak. Ya, mungkin hanya karena alasan klise: "aku tak suka". Bukankah sesuatu yang tidak kita suka bukan berarti sesuatu yang buruk bagi kita, kan?! Atau justru malah itulah yang terbaik daripada mengumbar keegoisan nurani.
     Hampir genap tiga tahun aku berdiam diri di tengah bangunan ini, tapi selama itu pula aku sering kali menatap nanar pada ‘terali’ yang mengurungku ini. Sebuah bangunan yang kayu-kayunya sudah mulai usang dimakan umur, meski tak mengurangi kelayakannya untuk sekedar sebagai tempat tidur dan melepas lelah.
     Aku lalu teringat ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang di sepinggir jalannya berderet toko-toko besar dengan rumah-rumah berarsitektur masa kini. Namun bangunan tua ini masih sanggup berdiri kokoh tanpa lekang dimakan rakusnya zaman yang serba modern. Atau mungkinkah justru karena keunikannya itulah hingga patut untuk dibanggakan dan dilestarikan sebagai nilai sejarah.
     Aku adalah sang petualang, yang datang dari sebuah kepulauan nun jauh di sana. Namun di balik semua itu, kiranya aku masih punya semangat juga, kan?! Aku ingin seperti mereka yang berpikiran maju, berjiwa intelek dan menjadi sukses dengan segenap kemampuanku sendiri. Tapi, ternyata keinginan orang tuaku membuatku sempat memberontak saat beliau menginginkan aku untuk mendalami pendidikan agama, yang berorientasi dalam bidang agama saja tanpa embel-embel apapun. Padahal itu adalah pekerjaan yang paling membosankan bagiku. Mungkin aku memang sudah terpengaruh oleh gaya hidup sehari-hariku saat itu sebagai seorang mahasiswi.
     Orang tuaku beralasan, bahwa untuk saat ini, hanyalah agama solusi satu-satunya dalam menjalani hidup dengan kadar seimbang, karena menurut mereka, seringkali generasi muda banyak yang menganaktirikan agama demi menjalani pendidikan yang lainnya.
     Alasan orang tuaku yang makin membuatku tak terima, bahwa agama adalah urusan ketika kita sudah memasuki masa-masa tua, masa-masa menjelang ajal tiba. Tapi apakah mereka sadar bahwa aku sekarang masih sangat muda? Kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan masa tua? Toh apakah mereka pun menyadari bahwa aku akan terus hidup sampai menjadi tua, atau bisa-bisa malah aku mati dalam khayalanku menjadi orang tua.
     Namun apalah daya, meski dengan segenap perjuanganku dalam menampik alasan mereka, aku tetap harus mengalah, dan terpaksa pula aku berangkat dengan harapan semoga ini adalah pilihan yang terbaik untukku, walau dengan setengah hati aku melakukannya.
######
     Aku pun pergi dengan minimnya informasi tentang kota ini, hanya bermodal tekad dan rasa putus asa yang memicu kemarahanku, bahwa aku masih sanggup menemukannya sendiri hanya dengan bekal jiwa petualangku. Hingga akhirnya bis yang aku tumpangi berhenti di pinggir jalan, yang disitu berderet toko-toko besar dengan rumah berarsitektur masa kini, yang di sekitarnya dipenuhi penjual-penjual makanan, ditambah lalu lalang kendaraan yang makin menambah ramai suasana pagi itu.
     Aku bingung harus kemana kaki ini melangkah. Suasana di tempat ini sama sekali tidak sesuai dengan ciri-ciri yang disampaikan oleh orang tuaku itu. Aku harus bertanya pada siapa tentang tempat tujuanku? “Ah! Aku harus mencari sosok yang bisa memberi jawaban tanpa ada paksaan, tanpa kefanatikan yang seringkali dibumbui dengan kata-kata yang tak menyenangkan. Jawaban yang keluar dari sebuah kekaguman dan kejujuran sebagai buah dari kekaguman yang begitu saja keluar dari mulut mereka; dan kepada tukang becaklah akhirnya aku menemukan sosok itu. Aku hanya berfikir, bahwa mereka pasti takkan menipu atau membujukku. Dan memang benar, ternyata tukang becak itu malah berkata dengan penuh semangat, penuh pujian sambil mencoba meyakinkanku tentang tempat ini.
     Teman-temannya sesama penarik becak pun mengamini perkataannya. Aku hanya mampu mengangguk-anggukkan kepala menyadari kesalahanku dalam berprasangka, apalagi dengan melihat status mereka yang terpinggirkan, terisolasi oleh nasib yang kurang beruntung. Jawaban itu murni keluar dari hati nurani mereka, bukan rekayasa otak yang sering kali mengesampingkan kenyataan dan fakta yang berlaku di jalanan, tempat mereka sehari-hari menghabiskan waktu di sisa umur mereka. Dan saat ini pun aku menyadari bahwa semua yang mereka katakan itu memang benar adanya.
     Akhirnya aku sampai ke tempat tujuanku ini, dengan informasi dari tukang becak tadi yang sekaligus mengantarkanku tepat di depan bangunan tua ini. Bangunan yang akhirnya pun selalu membuatku optimis bahwa hidup tak selamanya dunia, tidak juga dunia akan selalu membuatku tetap hidup. Karena dunia dengan kesombongannya, nyatanya tidak segan-segan menindas mereka yang lemah dan kalah bersaing untuk hidup, menghempaskannya layaknya sampah lalu menimbunnya dengan nisan-nisan orang tak dikenal.
     Tidak cuma itu, dunia acapkali melepas tanggung jawabnya, melahirkan mereka dengan cara tak bertanggung jawab, mengemis di jalanan, menjarah semena-mena, meratap tangisan berharap kasih sayang dari para begundal yang sok berkuasa melebihi tuhan.
     Ya, para begundal yang sok kuasa melebihi Tuhan yang terkadang dunia pun muak dengan tingkah polah mereka. Ia tidak segan-segan melenyapkan nyawa-nyawa mereka. Awalnya sih ia memanjakan mereka, menina-bobokannya, lalu seketika itu juga ia terlena. Ia membuat mereka ketakutan, frustasi, hilang ingatan tanpa arah tujuan. Dunia telah memperbudak mereka, mengikuti kemauannya, mematuhi perintahnya dan aturannya yang kejam seringkali membuat mereka tidak diberi pilihan.
     “Dunia memang sudah terbalik, Sayang!” sergah Hanna lalu menyampingiku duduk. “Dulu kau begitu angkuh hingga menolak dengan takdir ini. Tapi nyatanya?! Sekarang kau malah tergila-gila pada tempat ini.
     “Ada benarnya juga dia,” bathinku. Tapi tidak! Tidak semuanya benar. Dia masih belum tahu tentang gejolak perasaan yang selama ini menghantui di setiap detik yang aku lalui, antara marah dan rasa tidak puas diri yang berlomba saling mendahului dan menguasai diri ini.
     Di sini, di tempat ini, dunia seakan memusuhiku, menjauhiku dengan menganggapku sok suci, sok alim karena mencoba untuk tidak mengikuti kemauannya. Bagaimana tidak? Akibat yang ditimbulkannya saja sudah membuatku pusing tujuh keliling. Aku menginginkan ketenangan jiwa, ketenangan yang lebih dari sekedar suasana tengah malam bertabur bintang-bintang yang disirami cahaya rembulan, dan diiringi ritmis percikan dari tetes embun di pucuk daun. Aku ingin memperbudak dunia agar mengikuti segala aturan mainku, menjadi tungganganku dikala ajal menjemputku nanti.
     Aku bukan fanatik, aku tidak egois, aku pun manusia biasa yang butuh kepuasan dunia, tapi bukan berarti dunia harus mempermainkanku seenaknya. Apalagi jika harusmembunuh karakterku sebagai hakikat dari seorang manusia yang peduli sesama, peduli lingkungan dan alam semesta yang telah berjasa membesarkanku dari alam nisbiku.
     Memang jiwa mudaku sering kali protes sambil berkoar: “Nikmatilah dunia selagi engkau bisa menikmatinya,” namun suatu saat lantas bathinku justru bertanya, bagaimana nanti jika aku sudah tidak bisa menikmatinya? sedangkan aku pun tahu, hidupku hanyalah sementara. Apakah mungkin kenikmatan setelah dunia bisa kuperoleh tanpa bekal dan usaha untuk memperolehnya?! Sedangkan secara logis saja, di dunia aku mati-matian untuk mendapat bekal hidup dan usaha tanpa lelah untuk memperoleh kenikmatannya. Aku tidak habis pikir dengan jiwa mudaku yang hanya berpikir sesaat tanpa melalui proses dan analisa yang tepat. Dan mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa orang tuaku menginginkanku berada di sini.
     Hal itu baru terpikir olehku sekarang, di tempat ini, di bangunan tua ini yang seperti lorong waktu yang membawaku kembali untuk menapaki jejak-jejak orang terdahulu. Para pejuang yang demi harkat dan martabat tanah air tercinta, rela bersimbah darah dengan seluruh jiwa dan raga. Begitu pun para kekasih Tuhan yang tak pernah lelah untuk membuka tabir gelap, menyingkap keesaan Ilahi dengan segala macam cara yang ditempuh. Bukankah sejarah telah menjadi bukti bahwa perjuangan mereka tidak untuk dikenang, tapi naluriah kita malah tak mampu menampik untuk mengenangnya, karena secara logika saja perasaan kita pasti berpikir bahwa kita tak sanggup menolak, bahwa semua itu patut untuk dijadikan sebuah panutan dan teladan hidup bagi kita.
     Aku tidak munafik, kekuatan dunia memang masih tertanam lekat di urat nadi pikiranku ini. Kenyataannya aku masih sering masturbasi, seperti saat ini setelah kepergian Zia dan Hanna, sekedar melampiaskan hasrat membara yang bergejolak dalam dada, yang tidak mungkin terealisasikan mengingat norma dan dosa yang entah kenapa telah mempengaruhi rasa.
     Dunia adalah kehidupan kedua yang menjadi penentu untuk kehidupan selanjutnya. Aku juga tidak munafik, bahwa aku masih sangat mengharapkan janji surga seperti layaknya manusia yang butuh buaian janji-janji dan mimpi-mimpi indah, dalam menggapai cita-cita dan tujuan hidupnya.
     Walaupun toh, mereka menganggap surga hanyalah dongeng sebelum tidur, sebuah hiperbola yang butuh waktu lama untuk bisa merengkuhnya. Apalagi persyaratannya yang super berat dibanding dengan keberadaannya yang masih kasat mata, membuatnya harus menjadi mimpi indah untuk setiap manusia yang mengharapkannya. Atau mungkin neraka hanyalah akibat dari surga yang penuh dengan cerita-cerita seram, siksaan, dan berbagai intimidasi sekaligus cambuk yang akan menghukum siapa pun. Aku akan tetap berpegang teguh dengan keyakinanku ini, bahwa setiap perbuatan pasti akan ada akibat yang didapat.
     Logika dunia pun mengakui teori ini, meyakininya sebagai karma dan doktrin dalam menjalani hidup. Bagiku, Sang Penguasa jagad sudah terlalu baik dan bermurah hati kepada ciptaan-Nya yang dijadikannya sebagai hamba yang dilahirkan ke dunia, kemudian diberinya pilihan untuk memilih, memperoleh mimpi-mimpi indah yang penuh dengan janji-janji, atau pun hukuman dengan ancaman penuh siksa.
     Sang Penguasa tidak memvonis secara langsung si terdakwa dengan hukuman mati ala hakim-hakim dunia. Tapi dengan sifat kesempurnaan-Nya Dia membuka jalan, menciptakan peluang-peluang, serta proses yang berkelanjutan sesuai dengan jalan yang ditentukan oleh sebab dan akibat. Dia pun berhak melakukan itu semua, laksana juragan kepada anak buahnya, pun kedua orang tuaku dalam mendidik anaknya, yaitu aku.
######
     “Ahhhh.....!!!!” aku puas, aku mengerang, aku memekik sambil menggelinjang sebagai reflek bathin dari rasa yang tertunaikan sudah. Hanya saja Zia dan Hanna keburu memergokiku sedang terpejam menikmati sensasi khayalku. Mereka pasti tahu bahwa aku sedang terengah-engah dengan suara mendesis. Mereka pasti bisa menebak bahwa desahan kuatku itu adalah hanya pelampiasan rasa pemberontakan jiwaku. Untung saja setelah itu mereka tak ambil peduli hingga serta merta memelukku dengan deraian air mata di atas genangan basah yang menyembul dari setiap inchi tubuhku.
     Sekali lagi aku bukan fanatik, tidak egois. Aku tetaplah sang petualang yang masih butuh tepian pantai, sebuah landasan sebagai dermaga untukku bisa berpijak, dan rumah mungil agar rinduku bisa kembali pulang.
     “Has! Hasna! Kenapa sampai terjadi seperti ini?” ucap Zia sambil terisak oleh tangis dan menggoyangkan pundakku, bahkan kurasakan payudaraku pun ikut pula bergetar hebat. Zia mungkin saja sudah tahu akan kebiasaanku itu.






Sekaratul Cinta

     Bukankah buah ranum cinta tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita tanam dan kita rawat dengan segenap jiwa, raga dan harta?. Harta...??? Ah, tidak, itu tidak masuk, itu tidak mungkin kamu tidak seperti itu. Aku jadi berprasangka yang tidak-tidak.
     “Pulsaku habis”
     “Pulsa abang juga habis sayang”
     “Pokoknya aku gak mau tahu”
     “Oke, oke, entar aku isi”
     “Cepetan, aku tunggu”
     Ia matikan teleponnya. Segampang itu ia membuatku kalang kabut. Gila, cinta ini sebuta kedua mata yang dengan pongah berlagak dalam gelap, tanpa sebatang tongkat sebagai penunjuk jalannya. Sogel pasti lagi pegang uang, Ia kan..!! baru dapat kiriman kemarin. Aku akan pinjam dulu, seperti biasa akhir bulan nanti aku ganti.
     Pulsanya udah masuk Sayang?
     Udah.
     Lagi-lagi sms singkat. Tidak biasanya, tanpa ucapan; terima kasih, kamu emang yang terbaik dari yang terbaik sayang. Atau sekedar kata; aku semakin sayang kamu, semakin cinta kamu, kamu satu-satunya yang ngertiin aku, aku gak akan pernah bisa ninggalin kamu, sebagai tanda bahwa kedua matanya juga sama butanya seperti aku. Akhir-akhir ini kamu agak berubah?.
######

     Siti, sekaratul cintaku, tidak ada kata tidak buat kamu sayang, semuanya harus; ia, oke, baik. Kamu tidak berhak memperoleh jawaban; tidak, enggak, Jangan bahkan Tuhan sekalipun tidak berhak sayang. Aku akan mengabulkan semua pintamu, semua keinginanmu, makanan kesukaan kamu, bahkan maksud dan niat kamupun aku sudah ngerti, dan dengan senang hati aku akan mewujudkan itu.
     Kalau kamu mau aku jadi jin (jika seandainya kamu takut aku hanya menggombal) aku adalah penghuni jin lampu ajaib sekaligus sebagai tuannya, bukan tuan Aladin. Tapi hati ini yakin kamu percaya, tentunya dengan segala pengorbanan yang telah aku berikan untuk kamu, walaupun toh, aku hanya anak kos yang hobi ngutang sana, sini.
     Buktinya, setiap mau berangkat kuliah, kamu aku jemput pakai motor, yang demi kamu aku rela dimarahin Sogel, karena setiap kali aku pakai motornya bensinnya jarang aku isi. Belum masih malam mingguan, kamu pasti akan marah kalau aku telat atau pura-pura sakit untuk kau ajak keluar, sekedar nonton, makan-makan, atau sekedar keliling alun-alun berduaan, yang demi kamu aku rela pontang-panting cari pinjaman uang, cari pinjaman motor yang susahnya minta ampun.
     Itu pun belum lagi jika penyakit kamu yang tiba-tiba kumat (yang sampai saat ini pun aku masih belum menemukan ramuan obatnya) bergelayut manja di pundakku, merengek ngegemesin, memelas mesra minta diajak masuk mal, cari bedak, minyak wangi, dan keperluan-keperluan kamu yang sekeranjang hampir penuh, atau ketika mata kamu yang suka gatal ketika melihat butik dengan aneka baju keluaran terbaru sebagai tambahan koleksi bajumu. Semua itu akan kamu dapatkan sayang, selagi mengatasnamakan cinta sabagai alasan.
######

     Siti, bulan itu adalah kamu sayang, sedangkan bintang-bintang itu adalah aku yang menjadi banyak demi apapun yang kamu mau. Maka ketika sinarmu tidak lagi seindah tanggal lima belas kalender arab. Tanpa kau minta, sinar bintang-bintang (dan itu adalah aku) akan senantiasa menjaga keindahanmu, sampai kau kembali membulat indah, pada tanggal lima belas kalender arab berikutnya.
     “Halo, ada apa sayang? Tumben malam-malam nelpon? Malam jum’at lagi.!!”
     “Kenapa? Gak boleh?”
     “Bukan gitu sayang, apa sih yang enggak buat kamu?”
     “Aku ingin putus..!!”
     “Putus? Kamu bercanda?”
     “Siapa yang bercanda? Emang kurang jelas? Putus, tus, tus, titik..!!”
     Ia matikan telponnya, segampang itu Ia membuat aku kalang kabut. Dasar, cinta ini sebuta kedua mata yang dengan pongah berlagak dalam gelap, tanpa sebatang tongkat sebagai penunjuk jalannya. Ia pasti bercanda, cuma kata putus yang; tidak, enggak, jangan buat kamu sayang. Aku harus minta penjelasan.
     “Halo.?”
     “Apa lagi? Kita putus, titik, tik, tik..!!”
     Lagi-lagi, singkat, tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya; kenapa? Mengapa? Ada apa? Atau sekedar alasan; aku sudah bosan sama kamu, rasa sayangku sudah tidak seperti dulu lagi, aku sudah punya pengganti kamu yang lebih baik, sebagai tanda bahwa kedua matanya sudah tidak sebuta dulu lagi, dan meninggalkanku tersesat dalam gelap. Seratus lima puluh persen, kamu betul-betul telah berubah.
######

     Siti, sakaratul cintaku, aku bukanlah Adimanusia yang berjiwa laut, yang di dalamnya kebencianku yang membara akan tenggelam. Ketulusanku telah engkau racuni secara sepihak. Masa kegembiraan itu, ketersitaan akal dan segala pengorbanan itu, kini terasa pahit dan memuakkan. Kau telah membuatku menjadi seorang pembenci, benci kata-kata cinta sang pujangga yang membutakan mata.
     Engkau mungkin menduga keadaanku sekarang..?!; bersedu sedan meratapi raut wajah bulatmu yang menjadi dambaan, kemolekan tubuhmu dengan tinggi semampai yang senantiasa menjadi buah rebutan, cara bicaramu yang beraksen manja meluluhkan jiwa, keanggunan gerak gemulaimu sesempurna keberadaanmu sebagai bahan gunjingan dan obrolan yang mengasyikkan. Sekaligus, engkau sekalian juga menertawaiku; berduka lara ditinggal cinta seketika merubah suasana ceria, hari-hari terasa hampa sendiri menyukai sunyi menghobikan sepi, terasa membosankan tidak satu pun masuk diakal, ada yang kurang mengharap kembali datang, kosong yang terasa menyesakkan.
     Engkau salah besar, aku tidak secengeng itu sayang. Karena aku adalah bintang yang begitu banyak, walau ketika sinarmu tidak lagi seindah tanggal lima belas kalender arab, atau sekalipun kau kembali membulat indah, pada tanggal lima belas kalender arab berikutnya. Tampa peduli, sinar bintang-bintang (dan itu adalah aku) akan senantiasa terang sampai kapanpun.
     Atau salahkan aku jika menduga, justru engkaulah yang secengeng itu dengan perasaan menyesal. Aku tahu kamu sayang..!! kamu tentu masih membutuhkan perhatianku. Kamu tidak akan semudah itu melupakan bentuk wajahku yang babak belur, yang demi menjaga kamu aku rela jual beli pukulan dengan para pengangguran di pertigaan jalan menuju kos-kosanmu itu. Apalagi kesukaanku yang seringkali memuja-muji kesempurnaanmu, aku yakin kamu pasti masih membutuhkan itu. Membutuhkan kejenakaanku menghapus kesedihanmu, banyolanku yang membuat kamu terpingkal-pingkal. Aku sangat yakin, semua itu tidak akan pernah kamu temukan jika bersama orang lain.
     Aku jadi serba salah. Jika memang benar, buah ranum cinta tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita tanam dan kita rawat dengan segenap jiwa, raga dan harta?. Harta...????? Ya, benar, itu tidak salah, itu sangat memungkinkan, dan aku menduga kamu seperti itu. Ah, Aku masih serba salah.
######

     Teleponnya angkat dong..!! Sam, maafin aku!!
     Smsku kok gak dibalas?! Aku benar-benar minta maaf..!!
     Sam, maafin aku, aku butuh kamu sam..!! Aku akan jelasin semuanya. Angkat teleponnya yaa..!!
     Kamu gak punya pulsa? Aku kirimin yaa..?!
     Sam maafin aku, aku ngaku salah, aku gak bakal ngulangin lagi, aku janji. Sam, aku benar-benar butuh kamu, aku mau ngelakuin apa saja untuk nebus kesalahanku Sam. Maafin aku yaa..?!
     Lagi-lagi, segampang itu sms kamu membuat aku kalang kabut. Gila, kamu kembali menjelma sekaratul cintaku, walau seberat nafsu birahi telah kucoba menahan untuk tidak membalasnya. Kebencian ini seketika menjadi panah-panah keriduan yang melesat dari busur yang telah engkau siapkan. Menancap tepat, tanpa meleset sedikit pun.
     Kau bilang aku sekaratul cintamu? Ah, aku tertawa geli mendengarnya. Aku pejantan yang engkau rindukan? Pria paling baik, paling perhatian yang mengusik kedamaianmu, dan engkau pun tidak bisa tidur nyenyak? Terima kasih, aku tersanjung.
     Kenapa? Engkau masih ingat Jin lampu ajaib itu? Apa..?!! engkau tidak sanggup berdamai dengan jin sesamamu, dan jin itu adalah aku yang menghantui malam-malammu? Ah, kamu ada-ada saja, membuatku sempat merinding, bulu kudukku sempat berdiri. Lantas, alasanmu meninggalkan aku pergi karena cinta? Cinta yang bagaimana? Cinta pergi karena cinta, begitu maksudmu? Ah, Engkau membuatku bingung. Bukankah sudah sejak dulu mata kedua orang tua kamu itu rabun, karena melihat kegantenganku yang teramat sangat ini? Kamu tertawa, dan bilang bukan karena itu. Lantas? Masih tetap saja, alasanmu pergi meninggalkan aku karena cinta. Cinta yang bagaimana? Engkau masih membuatku bingung.
     Kini, kotak masuk di ponselku berisi penuh namamu, engkau sering kirimi aku pulsa untuk membalasnya. Malam minggu kemarin, engkau mengajakku jalan, makan-makan, nonton, yang semuanya kamu yang bayar, bahkan motor si Sogel yang aku pinjam kau juga yang isikan bensin. Dan malam ini, penyakit lama kamu kembali kumat (yang sampai saat ini pun aku masih belum menemukan ramuan obatnya) bergelayut manja di pundakku, merengek ngegemesin, merajuk mesra karena keenggananku kau ajak masuk mal, tapi engkau malah cari kaos, celana panjang dan topi, apa? Buat aku? Alamak..!!! dan tentunya masih dengan keperluan-keperluan kamu yang sekeranjang hampir penuh, yang semuanya kamu yang bayar.
     Apa? Engkau anggap aku adalah bulan kesayanganmu? Sedangkan bintang-bintang itu adalah kamu yang menjadi banyak demi apapun yang aku mau? Ah, kamu terlalu mengada-ada, kamu mulai berlebihan.
     Maka ketika sinarmu tidak lagi seindah tanggal lima belas kalender arab. Tanpa kau minta, sinar bintang-bintang (dan itu adalah aku) akan senantiasa menjaga keindahanmu, sampai kau kembali membulat indah, pada tanggal lima belas kalender arab berikutnya. Sudah, sudahlah..!! kamu benar-benar keterlaluan.
     Ya, memang benar; buah ranum cinta tak bisa lepas dari pengorbanan yang kita tanam dan kita rawat dengan segenap jiwa, raga dan harta? Harta...????? Ya, benar sekali, itu tidak salah, itu sangat memungkinkan, dan aku menduga aku pun seperti itu. Ah, aku malah menyalahkan diri sendiri.
     Siti, sekaratul cintaku..!! dan kamu bilang; aku sekaratul cintamu. Kita berdua sama-sama diambang sekaratul cinta, tidak membutuhkan satu pun makhluk yang akan mengiringi kematian kita, bahkan Tuhan sekali pun? Bukan begitu?.
      





Sepeda Motor Pinjaman Jaya

     "Sayang!! kita ketemuan yuk..!?? Di Hotel Mawar, Jl Kabupaten, kamar No11. Aku tungguin jangan sampai telat"
     Pikirnya, mungkin Perempuan itu sudah terlalu lama tidak mendapat belaian kasih sayang. Tentu ini kesempatan langka yang terlalu sayang jika dilewatkan. Hitung-hitung sebagai ganti rugi pulsa yang telah mempreteli kantongnya, begadang semalaman yang menguras tenaga dan pikirannya.Seketika itu juga Jaya buru-buru membalasnya;
     "Oke Sayang!! Kamu tunggu ya..!! Aku berangkat sekarang".
     Pikirnya perempuan itu mungkin telah terhipnotis dengan rayuan-rayuan gombalnya plus suara yang ia buat seseksi mungkin. Ia tersenyum bangga sambil bergegas dengan penuh semangat.
     Dengan sepeda motor langganan yang ia pinjam dari Joko, Jayapun melaju kencang menyusuri jalanan pinggir kota. Dengan lincah ia mendahului setiap kendaraan yang menghalangi ketergesaan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Sejuta penasaran berkecamuk membuatnya ingin segera sampai.
     Melewati Jl Kabupaten hatinya mulai deg-degan. Ia masuki pelataran Hotel Mawar kemudian menuju tempat parkir. Tiba-tiba Hpnya berdering sebuah sms dari perempuan itu menanyakan posisinya, ia membalas sedang menuju tempat parkir dan menyuruhnya agar bersabar. Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba dua orang berbadan tinggi besar menghampiri Jaya dan menyuruhnya secara paksa menghentikan sepeda motornya. Di belakang dua orang itu, membuntuti seorang Pria Berkumis Tebal, dari gerak geriknya Pria itu seperti sedang menahan amarah.
     "Ohh.. jadi ini orangnya yang suka gangguin istri orang!!"
     "Ehhh..tunggu dulu, ada apa ini mas?", Jaya kaget, berusaha membela diri.
     Bogem mentah langsung bersarang diwajahnya. Ia tidak sempat berkelit, posisinya yang sedang duduk membuat Jaya terjungkal kebelakang.
     "Mas ini siapa? Apa salah saya mas?".
     "Hajar lagi sampai mampus..!! biar tau rasa dia..!!",ajak Pria Berkumis itu kepada kedua rekannya.
     Tanpa sempat untuk membela diri Jaya kembali diberondong pukulan tanpa ampun oleh tiga orang sekaligus. Jaya berteriak minta tolong, mereka tidak ambil peduli dengan teriakan Jaya, mereka terus menghajar Jaya, menendangnya hingga babak belur.
     "Sudah..sudah..!! entar dia malah mampu beneran!!", cegah Si Pria Berkumis, melihat Jaya yang sudah tak berdaya.
     "Kita bawa saja sepeda motornya", lanjutnya sambil kemudian menghidupkan sepeda motor itu, kemudian pergi meninggalkan Jaya yang merintih kesakitan.
      Semalaman suntuk ia tidak bisa tidur, bukannya untung malah ketiban buntung. Kini ia harus bertanggung jawab karena sepeda motor itu ikutan amblas, untungnya, Joko hanya tampak kesal, ia tidak tega memarahi Jaya setelah melihat wajahnya yang sudah babak belur. Aku hanya prihatin sekaligus geli dengan musibah yang menimpanya.
     Joko menyarankan Jaya untuk meminta bantuan cak Samsul, seorang rantau yang berprofesi blater teman yang sudah berpengalaman. Ia cukup disegani di daerah sekitar tempat kos kami. Karena keblaterannya yang kosohor, sekaligus karena ia mempunyai banyak relasi yang bisa diandalkan.
     "Pyyaaarr....!!".
     Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Jaya yang sudah lebam. Semakin menambah penderitaannya. Gigi-giginya seperti rontok dari tangkainya, ia meringis kesakitan. Cak Samsul bukannya iba, ia malah balik menyalahkan prilaku Jaya yang menurutnya sudah keterlaluan.
     "Prilakumu seperti kampret..!!", hardik Cak Samsul. Jaya hanya manggut-manggut. Ia sudah pasrah mau diapain saja terserah, ia mengaku salah, ia kapok tidak akan mengulanginya lagi, apalagi kalau hanya ujung-ujungnya akan seperti ini.
     "Oke.!!, aku akan tetap bantu kamu. Kita ancam orang itu untuk dilaporin ke polisi tentang penganiayaan, sekaligus perampasan sepeda motor".
     "Aku akan minta bantuan teman-temanku untuk menggertaknya, kamu jangan hapus dulu sms itu untuk dijadikan bukti".
      Asa yang hilang mulai berbinar di sela-sela kelopak matanya yang lebam. Jaya akan balik menuntut balas terhadap Si Kumis Tebal, walau tidak sampai se-KO dirinya, tapi setidaknya pembalasannya ini akan membuat Si Kumis Tebal menyesal seumur hidup atas apa yang dia lakukan terhadap dirinya.
######

     Skenario itupun mulai dijalankan. Setelah mengetahui kronologis kejadian sesungguhnya yang diakhiri dengan kesepakatan yang saling menguntungkan, teman Cak Samsul mulai melakukan penggertakan. Teman-teman Si Kumis Tebal satu persatu diinterogasi, mereka dimintai penjelasannya mulai dari awal mula kejadian itu.
     "Kami berdua tidak tahu apa-apa..!!", kata salah satu di antara mereka.
     "Tapi kalian kan ikut memukul..?", bentak teman-teman Cak Samsul,
     "Kalian akan menerima akibatnya jika masih tidak mengaku", lanjutnya dengan nada mengancam.
     "Tapi untuk sementara ini kalian boleh pulang".
     Penginterogasian itu memang sengaja diulur-ulur waktunya untuk menakut-nakuti Si Kumis Tebal, sekaligus menunggu reaksinya.
     Di lain tempat, Cak Samsul mulai melakukan aksinya dengan meneror Si Kumis Tebal melalui sms. Ia mengancam akan memperkarakan kasus ini kepada pihak yang berwenang, dengan bukti sms yang masih tersimpan di Hp Jaya, sekaligus dengan bukti wajah Jaya yang babak belur beserta sepeda motornya yang hilang.
     Teror itu terbukti ampuh, selang beberapa menit Hp Jaya berdering, sebuah panggilan masuk dari si kumis tebal. Buru-buru Jaya menyerahkan Hp itu kepada Cak Samsul.
     "Bagaimana..? Apa kamu mau saya perkarakan? Atau mau secara kekeluargaan saja? Tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan uang lima juta", gertak Cak Samsul tanpa basa-basi.
     "Lima juta.? Mas mau memeras saya? Jelas-jelas dia yang ganggu istri saya kok, berarti dia kan, yang salah?".
     "Kalau mau bicara salah, kamu juga salah. Kenapa enggak istrimu saja yang dibikin babak belur, dan kenapa mesti ngambil sepeda motor juga.?”, sergah Cak Samsul.
     "Pokoknya saya nggak mau dengar alasan lagi, kamu harus memenuhi permintaan saya, jika nggak mau bukti ini saya bawa kepihak yang berwajib".
     "Saya dapat dari mana mas, uang sebanyak itu? Bagaimana kalau dua juta saja mas? Mungkin nanti bisa saya usahakan". Si Kumis Tebal mulai terdesak, tidak ada jalan lain baginya kecuali memenuhi permintaan Cak Samsul. Ia mencoba tawar menawar harga.
     "Begini saja, saya nggak mau banyak bicara, dan mau nggak mau kamu harus mematuhinya. Kamu ngasih saya tiga juta plus sepeda motor yang kamu ambil harus dikembalikan dalam keadaan utuh".
     Tak ada jawaban dari Si Kumis Tebal. Lamat-lamat suara dibalik handphone terdengar kisruh. Cak Samsul menampakkan senyum kemenangannya, Jayamencoba menimpali. Dibenak Cak Samsul uang tiga juta itu sudah ada dalam genggamannya. Sedangkan Jaya dengan uang sebanyak itu ia jelas akan kebingungan, karena membayangkannya saja belum, apalagi sampai memilikinya.
     "Oke.. Oke... mas!! saya akan penuhi permintaan mas, tapi tolong jangan dikasih tahu pihak yang berwajib, kasihani saya mas, kasihani istri dan tiga anak saya, mereka mau dikasih makan apa kalau saya sampai masuk bui?".
     "Terserah..!! itu urusan kamu, saya nggak mau tahu. Itu tanggung jawab kamu, saya minta dalam dua hari uang itu harus secepatnya kamu serahkan, saya nggak mau nunggu", tegas Cak Samsul, malah saking tegasnya hingga terkesan terlalu berlebihan bagiku.
     Cak Samsul seperti tidak mempunyai rasa iba. Padahal ia juga mempunyai anak dan istri yang mesti dilindungi sama seperti Si Kumis Tebal. Sejak awal mula Jaya ditampar hingga skenario yang Cak Samsul rancang, dengan hasil yang sudah sejauh ini, aku berpikir Cak Samsul betul-betul telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Entah apa penyebabnya? Mungkin tuntutan hidup yang sedemikian berat hingga ia bisa bersikap seperti itu.
######

     Pagi harinya Jaya sudah bangun dengan penuh semangat, senyumnya terus mengembang sembari menuju kamar mandi. Tak peduli dingin menggigil ia guyur tubuhnya dengan air, sesekali berdendang nyanyikan lagu kesukaan.
     Cak Samsul sudah menunggu kedatangannya. Jaya hanya tersenyum simpul menyambut tatapan Cak Samsul yang langsung mempersilahkan Jaya duduk. Di sebelahnya sudah ada teman-teman sesama blater Cak Samsul yang membalas senyumannya dengan dingin.
     "Uangnya sudah ada sama saya, kemarin Si Kumis Tebal memelas-melas agar tidak dilaporkan kepihak yang berwajib" jelas Cak Samsul dengan sumringah.
     “Sepeda motornya sudah ada di situ, kamu ambil saja dan langsung pulang” suruh Cak Samsul yang melihat Jaya masih saja enggan beranjak dari tempat itu.
     “Sana, sana pulang, kamu enggak perlu tahu urusan ini. Yang penting sepeda motor kamu sudah kembali. Pulang, pulang sana..!!” Jaya pun pulang dengan tangan hampa. Kami hanya tertawa geli mendengar cerita hasil akhirnya yang tidak sesuai harapannya, padahal ia sudah memaksa mentraktir kami makan jika nanti ia mendapat bagian uang itu, dan untung saja gagal, karena aku dan Joko memang sama sekali tidak berminat dengan ajakannya itu.
      Pare, Kediri, 2008















Clurit Tak Bertuan

     Kota telah menjadikan desanya, sebagai pelampiasan ketidak pedulian penduduknya. Ia tidak perlu disalahkan. Tidak juga nasib yang telah membawanya untuk sebuah pilihan. Nasib telah menjalankan tugasnya dengan baik.
     Aku Adalah Mardi
     Siapa yang tidak kenal Samad. Ia adalah jagoan yang ditakuti karena kelihaiannya memainkan clurit. Iapun disegani lawan-lawannya karena keberaniannya yang secara jantan mendatangi langsung siapa saja yang mencoba menantangnya. Ia akan melayaninya satu lawan satu. Berhadapan langsung dengannya untuk beradu lihai memainkan clurit, sampai salah satu diantaranya ada yang mati.
     Orang-orang kampung sering juga menyebutnya sebagai Bajing berdarah dingin. Karena tidak segan-segan ia seringkali menerima upah dari seseorang untuk membunuh, tanpa seorangpun dapat mengetahui kapan, dan bagaimana ia membunuhnya. Bahkan aparat sekalipun seringkali kewalahan untuk melacak jejak, serta bukti-bukti keterlibatan pembunuhan yang ia lakukan. Ia bagai belut dengan akal Bajingnya. Ia bisa berubah menjadi siapapun untuk menutupi jejak langkah yang ditinggalkan.
     Tapi Mardi tetaplah Mardi. Walaupun ia anak seorang jagoan, ia tidak seperti Samad. Darahnya tidak mengalir darah Samad yang cepat mendidih jika harga dirinya diinjak-injak. Ia adalah pemuda lugu yang bercita-cita ingin masuk pesantren. Ia ingin menjadi seorang Ustadz seperti Ustadz Soleh yang pintar ilmu agama. Ia ingin dengan masuk pesantren ia bisa berbuat baik kepada keluarga, dan orang-orang dikampungnya. Tapi impiannya itu musnah seketika dengan kematian Samad. Kematian sang bapak yang membebani jiwanya teramat sangat.
     Kesaksian Malam
     Ketika itu, sewaktu malam pertunjukan adu pencak Samad tiba-tiba sudah berada ditengah-tengah kerumunan para penonton. Ia memamerkan kelihaiannya bermain pencak mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Sambil sesekali mengeluarkan cluritnya lalu mengacungkannya dengan pongah. Ia dongakkan kepalanya dengan mata membelalak. Pertanda ia memancing penonton ketengah-tengah kerumunan untuk beradu lihai dengannya.
     Tapi seperti pertunjukan pada biasanya, para penonton tidak ada yang berani maju. Sebagian dari mereka hanya diam, mungkin karena muak melihat sikapnya yang terlalu pongah, sebagian ada yang bertepuk tangan karena kagum dengan keberaniannya. Sebagian lagi merasa tertantang, namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dengan menerima tantangannya berarti sama saja menjual malu dihadapan banyak orang.
     Malam merangkak dari perjalanannya menuju larut. Seperti biasa Mardi dan Ibunya menunggu Samad pulang, diserambi depan rumahnya sambil tiduran. Pada akhirnya sekitar jam dua belas lebih keduanya tertidur, dengan berpikiran Samad tidak akan langsung pulang kerumah. Sebagai seorang Bajing tentunya ia mempunyai banyak kenalan yang acap kali menyuruhnya mampir untuk sekedar minum-minum, sambil menikmati dinginnya hawa malam.
     Atau mungkin saja ia sedang menikmati kehidupannya bergelut dengan malam. Mencari mata pencaharian untuk anak istrinya ditengah lelap orang-orang yang sedang terbuai oleh mimpi-mimpi indahnya.
     Sang Maha Dengan Kehendak-Nya.
     Ceceran darah muncrat dimana-mana. Samad terbujur kaku bersimbah darah. Cluritnya masih tergenggam erat ditangannya. Lalat-lalat berhamburan mengerubuti jasadnya yang sudah tidak berdaya. Mardi terdiam seperti terpaku melihat sang Bapak yang sudah tergolek berlumuran darah, jiwanya tercekat ditempatnya.
     Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bingung bercampur marah, tapi pada siapa? Ia tidak tahu kematian Bapaknya itu karena akibat dari ulah kelakuannya selama ini? Atau memang sengaja dibunuh dengan kejam?. Selama hidupnya Samad tidak pernah cerita tentang siapa saja orang-orang yang membencinya. Ia dan Ibunya malah mendengar desas-desus musuh-musuh Samad dari para penduduk, yang itupun masih belum terbukti kebenarannya.
     Mardi semakin bingung. Ibunya masih saja tak henti-henti menangis disamping mayat Samad. Sambil sesekali berteriak meratapi kepergiannya. Ia membuka baju Samad yang berlumuran darah, kemudian memperlihatkannya kepada orang-orang. Orang-orang kampung yang melihat itu hanya bisa memandang dengan penuh iba, sambil sesekali mengusap dada. Mereka melihat Samad sebagai sosok yang ditakuti kini hanya terbujur kaku dengan luka tebasan yang menganga dibagian bawah perutnya.
     “Lihatlah Mardi..!, darah harus dibalas dengan darah.!“, ucapnya sambil menunjukkan baju Samad yang berlumuran darah kepada Mardi.
     “Sapri harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.!“. Dengan penuh amarah yang tak tertahankan.
     Kabar burung tentang Sapri yang memang sejak lama menaruh dendam terhadap Samad. Dendam yang mengatasnamakan harga diri seorang laki-laki. Sapri tidak rela jika istrinya seringkali dipelototi oleh Samad. Istri adalah belahan jiwa yang mesti dengan nyawa untuk mempertaruhkannya.
     Namun ketika itu Sapri tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya seorang Kepala Desa yang kesehariannya mengurusi warga. Ia harus berpikir berkali-kali untuk menegur Samad secara langsung. Apalagi sampai menantangnya dan berhadapan langsung dengannya. Tentu, ia hanya akan mengantar nyawa sebagai tumbal untuk dipersembahkannya kepada Samad.
     Tapi sebagai Seorang Kepala Desa. Ia mempunyai kekuatan, kalau hanya untuk sekedar membayar sekelompok Bandit sewaan untuk menghabisi nyawa Samad.
     Demikianlah desas-desus itu semakin membuat Mardi bertambah bingung. Ditambah lagi desakan dari orang-orang terdekat Samad yang selalu menuntut darah harus dibalas dengan darah, semakin membuat ia tertekan. Mereka menganggap Mardi sebagai penerus tahta yang ditinggalkan Samad. Anggapan yang mau tidak mau harus Mardi pikul, walau pun bertentangan dengan jalan pikirannya.
     Belum lagi sang Ibu yang terus saja mencekoki pikiran Mardi tentang balas dendam. Tentang harga diri dan martabat keluarga yang sedang diinjak-injak, yang seakan dibebankan dipundak Mardi untuk segera menuntaskannya.
     Jiwa Yang Terkungkung
     Sudah berkali-kali Mardi mencoba tapi nuraninya tetap saja berontak (dan nuraninya memang pantas untuk berontak, karena ia yang paling tahu tentang Mardi. Ia akan selalu memberikan yang terbaik untuk Mardi. Ia akan memerintahkan sel-sel kembali menuju otak untuk menolak dengan tegas segala macam pengaruh asing yang sudah diluar batas kemampuan Mardi) dan sampai saat itu Mardipun masih mematuhi nuraninya itu dengan baik. Walaupun tidak dengan cara jantan Mardi mengakuinya untuk sebuah pembuktian.
     Mardi terlalu dibuai dengan kesadarannya bahwa Ia adalah manusia yang berjiwa kerdil. Bernyali tikus yang hanya mengejar marah dibalik bayang-bayang semu yang tak mampu untuk ia gapai dan meraihnya.
     Ia seringkali bertanya-tanya, apakah darah yang mengalir didalam tubuhnya ini benar-benar darah kedua orang tuanya, yang memang selama ini dikenal orang-orang kampung sebagai sosok yang berkarakter keras, gampang naik darah dan tidak mengenal rasa takut..???
     Mardi menyalahkan dirinya kenapa ia tidak terlahir sebagai perempuan saja? Kenapa harus terlahir sebagai Mardi?. Seorang laki-laki yang berjiwa perempuan yang hanya dengan melihat darah saja membuat bulu kuduknya berdiri, dan perutnya pun ikut-ikutan mual ingin muntah. Kenapa ia tidak terlahir seperti Ustadz Soleh? Yang dikenal orang-orang sebagai seorang yang taat beragama, yang kewibawaannya muncul bukan karena timbul dari ketakutan tapi karena kebenaran sikap dan prilakunya yang menjadi teladan.
     Seringkali Mardi protes mendengar ocehan orang-orang yang mempertanyakan kejantanannya. Tatapan mereka dengan wajah kecut, acuh tak acuh, seakan menganggap keberadaan Mardi sudah tidak diakui lagi dalam kehidupan mereka. Haruskan ia potong kemaluannya, lalu menyumbatkannya kemulut mereka? Atau haruskah ia menjajakan tubuhnya sebagai bukti bahwa ia benar-benar ada?. Mardi rela melakukan apa saja untuk sebuah pembuktian, bahwa Mardi bukanlah Samad meski ia anaknya, dan tidak harus menjadi Samad pula. Karena bagi Mardi Samad adalah bagian dari masa lalu yang dinina-bobokan oleh keangkuhannya sendiri. Kesombongannya dan kesemena-menaannya harus dikubur seiring kematiannya yang mungkin sebagai karma atas perbuatannya selama ini.
     Tetapi tetap saja, mereka adalah orang-orang desa yang bagi mereka satu tambah satu tidak akan pernah menjadi dua. Satu harus tetap menjadi satu. Karena satu agama mereka, satu harga diri dan pendirian mereka yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Satu adalah warisan berharga yang sudah turun temurun menjadi doktrin dari sang leluhur. Satu adalah prinsip yang dipegang teguh dan dijunjung tinggi dengan keyakinan orang-orang desa.
     Berbagai pertanyaan menyesak tak terbendung. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab oleh Mardi, seiring senyuman sang nasib yang terus mengejeknya. Senyuman yang hanya bisa ia gapai dengan kenisbian dan keniscayaan sebagai seorang Mardi yang baru. (Mardi yang darahnya mengalir darah Samad sebagai seorang jagoan, alias Bajing Berdarah Dingin yang dipinggangnya selalu terselip clurit, ditakuti serta disegani lawan-lawannya).
     Keniscayaan sebagai reinkarnasi Samad tak ubahnya kenyataan yang mulai ia rasakan saat ini. Saat dimana ia menjadikannya satu tanpa perbedaan sedikitpun. Keniscayaan adalah kenyataan yang ia rangkai sendiri menjadi angan-angan dalam jiwanya, dan dibingkai dengan ketidakbecusan raganya untuk menerima semua ini.
     Kaki Yang Terborgol
     Tatapannya kosong. Seringkali ia tersenyum sendiri memandangi clurit Samad yang menggantung gagah tanpa perlawanan. Ada sisa-sisa keangkuhan yang meninggalkan bekas darah disana. Lalu tiba-tiba ia kemudian berteriak mengucap sumpah serapah dengan amarah yang meledak-ledak. Clurit itu menyuruhnya pergi dan meminta Mardi meraihnya, menggenggamnya erat lalu membawanya menemui sapri untuk menuntut balas kematian Samad.
     “Apa yang engkau tunggu Mardi..?, seloroh clurit itu menyuruh Mardi mendekatinya.
     “Siapa lagi kalau bukan kamu yang akan melakukan ini semua..!”
     “Ayo Mardi..!!!! bawa aku segera untuk menebas anggota tubuh Sapri yang engkau mau”, pintanya melihat gelagat Mardi yang semakin gelisah.
     “Ayo Mardi..!!! tebas batang leher Sapri biar arwah Samad bisa tenang di alam sana”
     “Bangkitlah Mardi, jangan jadi pengecut seperti itu..!”
     Tubuh Mardi gemetar. Ia sudah muak dibilang pengecut. Jiwanya meronta-ronta sambil merengek untuk segera pergi membawa raganya keluar, dengan membawa clurit itu untuk menebas batang leher sapri.
     “Genggam aku Mardi..!!!, jangan biarkan Sapri tertawa puas, dengan kemenangannya”
     “Ayo pergilah sekarang juga, darah harus dibalas dengan darah”.
     Tapi semuanya sudah terlambat. Amarah itu hanya bisa meletup-letup setiap saat. Keberanian itu datang dengan rakusnya disaat nasi telah berubah basi. Dendam Mardi tiba-tiba membuncah dengan prilaku layaknya sang pemangsa yang melihat korbannya sedang menari-nari dibalik terali besi. Ia hanya bisa meraung, mengaum dengan taring-taring yang mulai terasah tajam. Air liurnya mengalir disela-sela taringnya, membanjiri Raganya yang mulai timbul tenggelam karena penyesalannya.
     Mardi menggigil ketika matahari menyengat panas. Ia malah kepanasan ketika hujan turun dengan sangat derasnya. Dunia tak ubahnya pengadilan, yang sedang memvo nis dirinya sebagai makhluk yang tak berguna.
     Maka tidak ada cara lain kecuali memasung Mardi. Kakinya terborgol diantara balok kayu yang tengahnya sudah dilubangi sebesar pergelangan kakinya.
     Bagi sang Ibu, ia sudah tidak sama lagi dengan anak-anak lainnya. Mardi sudah tidak mengindahkan perintahnya lagi. Ia sudah tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak. Kewajiban seorang anak untuk membalas kematian Bapaknya.
     Sekali lagi, nasib tidak mau disalahkan. Ia hanya bisa bilang; bahwa ia telah men jalankan tugasnya dengan baik.
      

My Big Boz
(Persembahan terakhir untuk Sang Nakhoda)

     Pada akhirnya, Aku bisa menggenggam balok kayu yang dibawa ombak kearahku. Kemudian Aku membebankan berat tubuh ini yang semakin lama terasa semakin tertarik kedalam, dan akan menguburku didasar lautan tanpa nisan. Karena hal sepele sebenarnya hingga Aku bisa terlempar dari kapal itu, kapal yang besarnya menyerupai titanic yang mampu menampung ribuan penumpang dengan bermacam latar belakang berbeda, kepribadian yang unik, serta cita-cita masing-masing, dengan segala fasilitas modern dan sarana yang serba lengkap.
     Tapi ini bukan kapal titanic yang dengan keangkuhannya menabrak bongkahan es, dan menenggelamkannya menjadi bagian dari tragedi sejarah yang patut dikenang untuk sebuah pembelajaran. Ini hanyalah cerita seorang nakhoda perahu yang bijak, dan Aku yang merasa tidak cocok dengan lingkungan yang akan membentuk kepribadianku kelak, yang imbasnya Aku seringkali membangkang terhadap segala pelayanan dan aturan-aturan yang berlaku dikapal itu. Walaupun sejatinya Aku tetap salah, dan tidak mempunyai hak dengan bersikap seperti itu.
     Aku hanya bisa pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa. Deburan ombak setiap saat mengaum dan seakan melahapku mentah-mentah, tubuh ini diombang-ambingkannya seiring angin mencari tempat terdampar. Disinilah bermacam rasa takut menghantui indera manusiawiku, rasa hati yang tidak terima jika Aku harus mati dengan cara seperti ini, mati tertimbun air dan menjadi santapan ikan-ikan.
     Sebuah perahu (lebih mirip perahu bobrok kalau dilihat dari jauh) tiba-tiba menuju kearahku seperti ada yang mengkomando, seakan mengerti penderitaan yang sedang menimpaku. Setelah didekatku (perahu itu malah terlihat kokoh, tapi tidak mengurangi kesederhanaannya sebagai perahu kelas menengah ke bawah) Sang nakhoda dengan senyum ramah menjulurkan tangannya, lalu menarik tubuhku kedalam perahunya.
     Aku merasa beruntung, karena Tuhan masih berkenan mendengar keluh kesah jiwaku, memberiku kesempatan untuk bangkit walaupun Aku tidak tahu apakah Aku sanggup melakukannya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya, jika Aku masih tetap berada ditengah samudera yang mengombang-ambingkan raga dan jiwaku. Mungkin akan seperti manusia kebanyakan yang telah disesatkan oleh kelalaiannya sendiri, yang akhirnya terjerumus oleh perbuatan buruk yang akan disesalkannya dikemudian hari.
     Selang beberapa hari kemudian, sang nakhoda memberiku minuman rohani yang entah kenapa jiwa ini sesaat menjadi tentram (jiwa yang gersang dibasahi setetes segarnya rintik hujan dimusim kemarau). Kemudian sekitar lima orang yang berada di perahu itu menyuruhku menyantap sepiring jasmani, yang lagi-lagi entah kenapa semakin membuat jiwaku bertambah nyaman (lebatnya hujan membasuh raga yang kering kerontang).
     Aku merasa nyaman berada diperahu ini, tidak ada peraturan yang mengikat, mungkin karena hanya perahu kecil dengan sang nakhoda yang setiap saat menjadi teman yang mengasyikkan bagi kami. Menjadi figur bapak yang mengayomi kami, dan teladan layaknya guru kepada muridnya, sehingga kesadaran dari masing-masing orang untuk pendewasaannya betul-betul dikedepankan.
     Mereka berlima memberitahuku agar senantiasa menjaga sikapku selama beada didalam perahu Sang nakhoda (yang biasa mereka panggil Boz), karena menurut mereka Boz seringkali menguji mental kita sebatas mana kita bisa bertahan, dan kalau kita tidak pandai menyikapinya, kita akan dibuat kesal dan selalu berprasangka buruk tentang Boz.
     Ebes, (salah satu yang paling senior diantara mereka berlima dan yang paling lama bersama boz) bercerita: bahwa dulu ketika ia ingin sekali untuk satu perahu bersama Boz, ia harus berenang dulu dibelakang perahu itu dan berusaha sekuat mungkin mengejarnya. Bukannya Boz tidak tahu atas usaha super keras yang telah dilakukan Ebes, tapi menurut Ebes Boz memang sengaja memperlambat mesin perahu lalu setelah Ebes hampir mendekatinya Boz kemudian mempercepat kembali laju perahu itu. Hal itu berlangsung cukup lama dan sempat membuat Ebes putus asa dan merasa dipermainkan. Tapi anehnya kata Ebes, disaat ia merasa seperti itu seringkali Boz tiba-tiba ikut nyebur dan menemani Ebes berenang, lalu kemudian menaiki kembali perahu itu tanpa sepatah katapun, dan membiarkan Ebes kembali berenang seperti biasanya.
     Lain lagi kisah si Kacong, ambisinya menjadi seorang saudagar ikan membuat ia paling nafsu dalam urusan menjala ikan. Ia yang selalu pertama mempersiapkan segala peralatan menjala. Pernah suatu waktu ia mendapatkan hasil yang melimpah, dan membuat seisi perahu kegirangan bukan kepalang termasuk si Boz, tapi tak lama kemudian Boz malah menyuruh melepas kembali ikan-ikan itu kelaut, kata Boz perahu ini terlalu berat menanggung beban untuk bisa sampai ketujuan, bawalah sekedar bekal kebutuhan, karena perjalanan ini masih terlalu panjang. katanya.
     Begitu juga si Tole (ia yang paling muda diantara mereka berlima) seringkali dibuat jengkel dan acapkali melawan jika diperintah Boz. Seperti ketika Boz menyuruhnya nyebur kelaut, padahal ia sudah berkali-kali bilang ia tidak bisa berenang. Saat ia sedang mengeluh, Boz tiba-tiba mendorongnya dari belakang tanpa sepengetahuannya, ia kaget bukan main, ia gelagapan sekuat tenaga sambil berusaha menggapai-gapaikan kedua tangannya, ia berteriak cengeng agar dinaikkan kembali keperahu. Tapi Boz tetap membiarkannya tetap seperti itu, sampai ia bisa berusaha sendiri bagaimana cara untuk ia bisa naik kembali keperahu.
     Akupun tidak luput dari perintah si Boz, tapi tidak seperti biasa layaknya mereka diatas yang kesemuanya bertentangan dengan keinginan nafsu mereka. Walaupun Aku masih baru, Boz seperti sudah tahu karakterku yang liar, pemberontak, alias susah diatur. Tapi yang tak kumengerti beliau malah menyuruhku untuk berdiam diri diperahu itu tanpa melakukan sesuatu apapun. Aku diperlakukan bak pangeran dengan segala kebutuhan dan keinginan nafsuku. Tentu saja awal mulanya keadaan ini membuatku senang, tapi setelah melihat mereka berlima yang tidak diperlakukan sama denganku, Aku mulai tidak nyaman dan Aku merasa ini terlalu berlebihan. Disinilah pada akhirnya Aku sadar bahwa ternyata Boz selama ini menina bobokan nafsuku berkeliaran tak tentu arah, sampai Aku bosan dan mencari jalan keluar sendiri.
     Begitulah si boz, seringkali beliau memerintahkan kami melakukan hal-hal yang berseberangan dengan kemauan kami, pekerjaan yang membuat kami merasa tidak pantas untuk melakukannya. Perintah boz seperti mendiskreditkan kami yang lebih sering mengedepankan gengsi dari pada manfaat untuk kepribadiaan dan mental kami. Maklum kami adalah anak-anak metropolitan yang telah dibentuk dengan nama besar kota kami, sehingga diantara kami masih ada yang lebih mengedepankan status sosial tempat tinggal kami diatas segala-galanya.
     Boz tak ubahnya musafir yang memungut kami dari hantaman ombak yang menghanyutkan kami tak tentu arah. Beliau mencoba memahami kami dengan perahu kecilnya, mengarungi samudera luas yang dikedalamannya tersimpan permata nan indah yang masih tertutup rapat. Menjadikan kami sebagai penumpang kesayangannya, untuk digembleng tentang makna hidup untuk lebih bijak dan apa adanya.
     Nasib memang tidak ada seorangpun yang berhak tahu, Aku hanya bisa membandingkan perubahan besar yang terjadi kepadaku dalam bimbingan boz, dengan dulu. Ketika keadaan dapat merubahku menjadi orang lain, menjadikanku sampah ketika hidup hanya bisa dihargai dengan uang. Begitupun waktu dikapal besar itu, Aku tak lebih seperti benalu yang menggerogoti tanaman untuk berkembang dan berbuah lebat. Semisal penumpang yang membuat resah seisi kapal, menjadikan geger dengan ulah liarku, hingga Aku menganggap keberadaanku sama halnya raga tanpa jiwa seorang malaikat, sebagai penolongnya.
######

     Awal mula ketika mendengar kabar bahwa Boz sedang sakit. Rabu, 14 Mei 2008 Aku meresponnya biasa saja (dan disinilah letak sesungguhnya sebuah teladan dari Boz, yang sampai saat ini Aku masih belum bisa mencontohnya), karena aku tahu sejak dulu beliau selalu sakit, tapi beliau tidak pernah mengeluh akan sakitnya. Disaat beliau batukpun dan kami tahu batuknya itu menandakan sakitnya yang parah, beliau masih dengan kekukuhannya untuk tidak membebani orang lain. Boz begitu menikmatinya seorang diri, diantara kami sewaktu-waktu hanya membantu memijatnya, itupun kalau kami disuruh. Sekian lama beliau mampu menanggung rasa sakit itu seorang diri, sehingga kamipun berpikiran mungkin disitulah sejatinya sebuah penghambaan kepada Sang Khalik, menerima dengan sepenuh jiwa dan raga sebagai bentuk cobaan, atau teguran, atau sebagai pelantara yang membawa hikmah kepada orang lain..??? Entahlah...!!??
     Minggu Malam, 18 Mei 2008, kabar mengenai Boz yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit membuatku sedikit heran. Sekian lama Aku bersama Boz, beliau selalu enggan berurusan dengan yang namanya rumah sakit, bahkan untuk membeli obat ditokopun beliau selalu menolaknya, dan seringkali dengan nada guyon beliau bilang, tidak ada seorang dokterpun atau obat apapun yang mampu menyembuhkan penyakitnya itu, karena kata beliau penyakitnya itu termasuk jenis penyakit yang langka, alias seribu satu didunia.
     Rasa khawatir ini mulai timbul pada Senin Malam, 19 Mei 2008, Boz harus rawat inap dirumah sakit itu sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku bingung apakah aku harus berangkat sekarang..??, atau tetap berpegang kepada keyakinanku bahwa Boz akan sembuh?. Karena sesuai dengan kebiasaan Boz, beliau mungkin saja kerumah sakit karena merasa tidak enak kepada orang-orang yang telah memintanya, jadi bisa saja itu adalah bentuk penghargaan baliau kepada orang-orang yang begitu menyayanginya. Akupun mengurungkan niatku untuk berangkat malam ini, karena selain jarak yang terlalu jauh, kondisi badanku juga tidak begitu mendukung untuk kesana. Tapi perasaan gelisah itu masih terus menyelimuti pikiranku hingga keesokan harinya.
     Selasa Siang, 11-30 Wib, 20 Mei 2008, membuatku sempat tercekat sesaat, setengah tidak percaya mendengar kabar bahwa Boz telah menghembuskan nafas terakhir. Aku mencoba mengontak teman-teman yang menemani Boz dirumah sakit itu. Tapi HP mereka tidak ada yang aktif, Aku jadi semakin gelisah dan bingung, Aku segera mengambil keputusan untuk berangkat sekarang juga agar semuanya menjadi jelas dan tidak membuatku gelisah.
     Malam Rabu, 17-30 Wib, 21 Mei 2008, Boz telah selesai dikebumikan, teman-teman menyambutku tanpa sepatah kata, mata mereka terlihat sembab pertanda duka yang amat sangat. Akupun larut terbawa suasana itu, sosok Boz tiba-tiba terbayang sedemikian rupa, Aku merasa menyesal karena tidak sempat berada disisinya ketika disaat-saat terakhir beliau membutuhkan kehadiran anak-anaknya.
######

     Boz telah meninggalkan kami didalam perahu yang seperti dikagetkan oleh gelombang besar yang tiba-tiba datang menghempaskan kami. Kami tak ubahnya anak buah kapal yang kehilangan nakhoda sebagai penuntun layar, pembimbing mencari ikan, pendidik kami ketika belajar berenang, ditengah hamparan samudera yang setiap saat akan menenggelamkan kami, badai besar yang senantiasa membawa kami terdampar disebuah pulau tak berpenghuni, dengan bermacam keindahan didalamnya yang akan membuat kami terhanyut. Beliau telah menyelesaikan petualangannya dengan sempurna, walaupun tanpa kehadiran seorang permaisuri sebagai bagian dari jalan hidup yang telah ditempuhnya, belahan jiwa yang meratapi kepergiannya dengan linangan air mata cinta, sekaligus bidadari dunia yang akan mendampinginya disurga.
     Tapi kami adalah anak kesayangan, anak-anak Boz yang dipungut dari keterpurukan. Setelah kepergiannya kami akan berusaha semampu kami untuk terus berlayar dengan segenap bimbingan dan teladan yang telah beliau ajarkan kepada kami, untuk sekedar menunjukkan bahwa kami juga menyayanginya.


Jalur Alternatif

      
     Beberapa kilo lagi kami akan keluar dari tol, tiba-tiba perutku mual ingin muntah, ini pasti karena sembarangnya makanan yang masuk keperutku. Mulai dari baso pas berada dikapal tadi, buah-buahan dan jajanan pinggir jalan yang dijajakan asongan, belum sudah berapa bungkus batang rokok yang telah aku hisap, membuat isi dalam perut ini tidak karu-karuan, dan pada akhirnya akupun muntah tak tertahankan lagi.
     Jajanan itu kini berbentuk cairan busuk, tidak seperti jajanan yang sebelum masuk keperutku, yang menggugah seleraku untuk mencicipinya. Aroma busuknya membuat disekelilingku ingin muntah, walaupun keadaan perut mereka tidak seperti perutku saat ini. Mereka tadi sempat memperingatkanku agar jangan terlalu serakah, mengikuti nafsu selera makanku. Tapi dasar!!, aku memang manusia yang terlalu tamak, yang tidak pernah puas dan tidak pernah merasa cukup.
     “Mau saya antar mas? “
     “Jalur utamanya macet!!, bisa berjam-jam kalau nunggu. Gimana kalau saya antar lewat jalur alternatif saja?, cuma dua puluh ribu kok!!“
     Tidak banyak orang tahu jalur alternatif ini, dan mungkin memang sengaja tidak dikasih tahu. Kami saja bermodal nekat, walaupun beberapa orang tadi menawarkan jasanya, mengantar kami untuk melewati jalur ini. Untung saja kami menolak, karena setelah kami lewat, hampir disetiap belokan jalur yang melewati depan rumah penduduk ini, kami menjumpai banyak yang seperti mereka, yang mengatas namakan dirinya sebagai penunjuk jalan. Dan mau tidak mau kami harus mengeluarkan rupiah sebagai imbalan, dari setiap mereka yang kami temui. Yang menurut kami sama saja dengan pungli, toh!! walaupun tanpa jasa mereka, sudah banyak terpampang plang-plang yang memberi petunjuk arah jalur ini sampai ketujuan.
     Malam menyelimuti jalanan, diterangi sepasang lampu sorot mobil yang melewati jalur alternatif Surabaya-Pasuruan. Perut ini masih saja mual, seakan ingin mengeluarkan segala isi yang ada didalamnya, hingga sampai terkuras tanpa tersisa sedikitpun. Karena mungkin hanya dengan cara itulah perut ini bisa kembali lega seperti sebelumnya.
     “kita berhenti dulu, biar mualnya kau muntahkan diluar sana” suruh kakakku memberi solusi, Ia mungkin sudah tidak tahan lagi, dan takut perutnya ikut-ikutan mual.
     Kamipun akhirnya berhenti dijalur yang agak sepi, jauh dari rumah penduduk. Jauh disebelah kanan jalur ini mungkin dulunya terhampar sawah atau rumah-rumah, yang kini sudah digenangi lumpur yang secara perlahan semakin merambat, memperlambat aliran-aliran sungai, menutupi selokan-selokan yang akan terus menjalar hingga mencapai permukaan.
     Wilayah ini mungkin tidak akan lama lagi seperti wilayah-wilayah lainnya yang sudah terendam, dan kini hanya tinggal kenangannya saja yang selamanya akan membekas dibenak masing-masing para penghuninya.
     Gara-gara muntahanku ini membuat mereka tidak habis pikir, apa yang telah aku makan tadi?, apa yang salah dengan makanan yang ada dalam perutku ini?. Jangan-jangan!! baso tadi, mungkin saja bercampur barang najis?. Atau jajanan-jajanan itu sisa seminggu yang dibuat awet dan dikemas secara menarik, lalu dijual kembali?. Atau mungkin uang yang telah aku belanjakan ini yang statusnya memang membuatku bimbang?. Atau malah memang tubuhku yang kurang kebal diterpa angin malam, yang memang selama ini aku kurang merawatnya dengan baik, sebagai bentuk rasa syukurku kepada-Nya?, entahlah...!! aku jadi berprasangka macam-macam.
     Dihamparan luas yang serba hitam, hanya bintik-bintik putih kecil tak beraturan tampak dari kejauhan, lampu-lampu rumah penduduk yang menandakan secercah kehidupan mereka melawan pekatnya malam. Asap mengepul dari semburan lumpur yang tampa henti, mengeluarkan isi perut bumi berupa cairan panas yang mengendap didalamnya.
     “Mungkin perut bumi sedang mual?!, sama sepertiku saat ini. Jadi, ia harus memuntahkannya lewat mulut sampai betul-betul plong, hingga tidak tersisa eneg yang mengganjal diperutnya“
     “Tapi kemana ia akan mengeluh?, pada siapa ia akan mengadu akan keluhannya itu?, sedangkan ia tercipta dengan segenap jiwa dan raga yang sama sekali berbeda dengan kita?“
     Masalahnya mungkin tidak jauh beda, antara perutku dan perut bumi sama-sama korban dari keserakahan tuannya yang tidak pernah puas, alias terlalu tamak. Bukan hanya karena terlalu kenyang kemudian buang air besar!!, tapi sang tuan tidak pernah merasa perutnya kenyang, bahkan enggan untuk sekedar buang air besar.
     Ibuku memijat-mijat leherku untuk memperlancar rasa mualku agar bisa kumuntahkan semua, sambil mengoles-oleskan balsem disekujur tubuhku, membuat rasa hangat dari terpaan angin malam. Kakakku menyuruhku pindah duduk dikursi belakang, agar bisa istirahat sambil tiduran. Ia memberi saran agar jangan terlalu banyak makan ketika dalam perjalanan, makanlah sekedarnya sebagai pengganjal perut yang kosong. Jadikanlah bekal sewaktu-waktu ketika perut ini membutuhkannya, karena perjalanan ini masih sangat jauh, dan tidak hanya bermodal makanan untuk bisa sampai ketujuan.
     Apakah perut bumi juga perlu dipijat leher tuannya?, serta diolesi balsem agar sang tuan sadar bahwa perut besarnya sedang mual?. Tapi!! sungguh keterlaluan jika sampai saat ini ia belum sadar. Sedangkan muntahannya sudah terlalu banyak keluar, bahkan telah membawa korban.
     Muntahannya tidak hanya cukup berhenti ditengah jalan, hampir disetiap perjalanannya ia terus muntah dan muntah, seperti meminta-minta belas kasihan dengan mimik bahwa ia sedang butuh pertolongan. Ia seperti butuh perhatian dari tuannya, perhatian yang lebih dari sekedar merawat dan menjaganya agar sembuh dari mualnya, tapi sang tuan harus berjanji kepadanya untuk tidak terlalu tamak menguras habis isi didalam perutnya.
     Perutku sudah agak mendingan, rasa mual ini sudah tidak lagi memaksaku untuk mengeluarkan cairan busuknya, akupun akhirnya tertidur pulas disamping ibuku yang senantiasa menjagaku.
######

     Rabu siang 26-03-08 :
     Kini kami dalam perjalanan pulang, setelah sebagian dari perjalanan yang begitu panjang telah selesai kami penuhi. Terik matahari siang serasa kami layaknya kue didalam oven, belum lagi suara bising kendaraan, hingar bingar orang-orang tak ubahnya rengekan anak-anak kecil, yang tak sabaran ingin segera mencicipi kue-kue itu yang sebentar lagi matang.
     Selang beberapa kilo setelah kami masuk tol, dan melewati jalur alternatif itu. Kini kami dipusingkan oleh segerombolan para pendemo dengan berbagai macam atribut, dengan tulisan-tulisan yang mewakilkan keluh-kesah mereka:
     “Ini adalah kesalahan bukan fenomena alam“.
     “Kami adalah korban yang dikambing hitamkan”.
      Antrian kendaraanpun menjadi panjang karena harus melewati jalur satu arah secara bergantian:
     “Kami ini orang susah, jangan malah ditambah susah”.
     “Berikan kami ganti rugi yang semestinya, karena itu adalah hak kami“.
     Mereka memblokir jalan meminta perhatian kepada para pengendara yang lewat. Mulai dari ibu-ibu sambil membawa bayi dalam gendongannya, sampai nenek-kakek begitu bersemangat meneriakkan keluh-kesah mereka akan nasibnya. Bahkan banyak diantara mereka menangis sesungukan, memohon belas kasihan kepada siapa saja yang merasa mempunyai hati nurani:
     “Para tuan tanah telah membajak hasil karya bumi tampa seijin kami“.
     “Tentu tidak hanya bumi yang marah kamipun ikut marah, karena sebuah karya adalah anugerah untuk makhluk dari Sang Maha Berkarya“.
     “Dan sekarang!!, tidak ada seorangpun yang mau disalahkan, semuanya merasa benar sendiri dan saling menyalahkan“.
     “Hingga mungkin, pada suatu saat nanti tidak hanya bumi saja yang mual, semuanya pun ikut-ikutan mual mengeluarkan muntahannya karena terlalu muak“.
     Ya..!! mereka adalah korban muntahan bumi, yang mempunyai andil besar ngopeni perut bumi agar senantiasa bermurah hati menghamparkan perutnya untuk kita tempati. Tapi pengorbanan mereka seakan sia-sia. Segelintir dari mereka yang mempunyai tujuan ikhlas, masih kalah kuat dengan para tuan perut yang hanya memikirkan kotoran yang akan keluar dari perutnya.
     Kemana kini mereka akan berpijak, setelah kehangatan tawa canda, kebersamaan suka dan duka mulai hilang dari pelupuk mata? Dimana mereka akan berteduh ketika semangat kerja keras menggelora, peraduan disaat lelah dan penat membungkuk sebagai hamba yang hina sudah tidak lagi menjadi sandaran mereka?
     Kami hanya mampu menatap mereka dengan mata telanjang, ketika semua mata sudah terkontaminasi oleh ketidakadilan. Kami hanya bisa merasa dengan setengah hati, disaat hati ini telah beralih fungsi. Disaat raga ini hanya memikirkan dirinya sendiri, tampa jiwa yang dinina bobokan duniawi, dan ruh hanyalah segumpal daging yang merasa akan selamanya berdenyut.
     Mungkin disaat ini setelah memasuki kapal, aku bisa berpikir sejenak sambil memandangi samudera luas yang menghampar, menyeberanginya menuju pelabuhan:
     Ketika seandainya saja tanpa kami duga, tiba-tiba gelombang laut berubah menjadi besar, menggulung-gulung lalu menghantam kapal ini hingga oleng. Angin bertiup begitu kencang hingga kami terombang-ambing layaknya kaleng kosong yang terdengar gaduh. Secara bersamaan hujanpun turun dengan sangat lebatnya, disertai pekikan kilat yang menyambar-nyambar, gemuruhnya seperti menvonis kami sebagai pesakitan. Tidak ada kata selain ketidak berdayaan kami. Tidak ada seruan selain lengkingan jeritan kami. Tidak ada upaya selain rasa bersalah. Ketika ada yang terlupakan, mungkin hanya disaat seperti itulah kami bisa mengingat Tuhan.
      







Kursi Kosong


     Rumus-rumus itulah biang reaksi kimiawi dengan getaran hebat yang saling tarik menarik. Sinyal-sinyalnya terasa aneh? Menggugah jiwa dalam kadar tertentu, dan entah kenapa raga yang tiba-tiba blingsatan, ketika kamu duduk di sebelahku. Kau tahu rumus tenses njlimet waktu itu? Sekedar memanipulasi kaku aku bertanya dan kamupun menjawabnya dengan anggun.
     Master English Man kita tak ubahnya pria kesetrum. Efek dari komposisi kimiawi yang membuatku hilang kesadaran. Namun setelah itu? Masing-masing diantara kita saling menyimpan rahasia untuk dirinya sendiri. Rahasia yang tidak akan pernah diketahui oleh siapapun, bahkan di kelas fundamental ini rahasia itu berpendar misterius, mengabur diantara rumus-rumus nan nlimet.
     "Ras, tidakkah sekuntum mawar telah memekarkan kembangnya untuk kau petik?".
     "aku ragu Ir..??.
     ."Kenapa Ras.? Bukankah cinta itu tidak ditentukan kadarnya, tidak diungkapkan rahasia-rahasianya, tidak digemakan bunyi senar-senarnya dan tidak dinyalakan apinya? Kenapa engkau mesti ragu?".
     "Jangan Ir, jangan kau paksa aku untuk memetik sekuntum kembang menur itu. Karena dengan begitu engkau sama saja dengan membunuhku sebagai kumbang yang telah kehilangan sengatnya".
     Rahasia itu hanya bisa dibahasakan dengan diam, melebur suasananya membentuk arasemen musik terindah yang menghanyutkan dua jiwa dalam imajinasi-imajinasi liar. Mendengarkan detak jantung dan debaran-debaran hati, melihat hantu pikirannya, dan perasaan halus yang senantiasa membelainya.
     Kesunyian menjadi rangkaian dua jiwa setiap kali jika salah satu memandang wajah yang lain. Timbul tanya apa yang sedang dirasakan hati? Mendengarkan suara-suara tersembunyi dalam denyut nafas masing-masing yang saling memburu. Sama-sama mendengar suara tanpa kata dan melihat hantu jiwa bergetayangan melalui sepasang mata.
     "Kenapa engkau takut mati sebagai kumbang itu Ras? Kau jangan membohongi perasaanmu. Tidakkah engkau merasa muak melihat kumbang lain berceloteh sumbang, bermanis-manis kata di dekatnya?".
     "Aku mengagumi keindahan materialnya Ir, tapi secara nalar ia sama sekali tidak ideal".
     "Alaahhh.... persetan dengan nalar Ras, sampai kapan engkau akan seperti itu? Cinta adalah anugerah Ilahi yang akan menuntun kita tanpa kita tahu tujuannya. Kita mestinya berterima kasih pada-Nya yang membuat kita berada dalam kedamaian walau kita hidup dalam derita".
     "Sudahlah Ras, segera kau petik kembang menur itu, kau pantas mendapatkan keindahannya yang tiada tara yang belum pernah engkau rasakan".
     Mulut tergagap, menanti dengan harap-harap cemas. Sama-sama menunggu siapa yang akan memulai terlebih dahulu. Bertanya tentang sesuatu apapun yang senantiasa membuat hati gundah gulana. Namun sebuah jawaban tidak berarti pemahaman, rangkaian kata dari irama bibir belaka, lidah-lidah tak bertulang tidak selalu membawa sepasang hati bersama.
     Kesunyian itu masih menyimpan misteri yang mengasyikkan. Master English Man dengan gaya kocaknya memaparkan rumus-rumus nan njlimet sambil sesekali membuatku kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaannya. Kau hanya tersenyum geli melihat tingkahku di saat kelabakan seperti itu.
     Tapi tiba-tiba secara fantastis, engkau memecah kesunyian itu, menggodaku dengan guyonan yang sebenarnya tidaklah lucu. Tapi apalah manfaat lucu? Jika tatap matamu seiring sisa-sisa tawa kecilmu yang engkau paksakan, sanggup memacu detak jantung hingga sepersekian detik. Sehabis terengah-engah, ada hawa dingin berdesir sepoi, menjalar di sekujur tubuh melalui urat-urat nadi. Merangsang pembuluh darah, memompa kembali denyut jantung, berganti hangat melelehkan peluh, sekujur tubuhpun menjadi panas dingin.
######

     Secara perlahan engkau mulai menghindar dari celoteh sumbang itu. Celoteh yang tidak kenal menyerah membuntuti tempat dudukmu, engkau sisihkan dengan muslihat kewanitaanmu.
     Dasar, ia memang lihai bermanis kata, dan sanggup membuatmu tertawa dari jarak yang tidak sepantasnya ia berceloteh. Hati ini meradang melonjak marah, ingin sekali aku membungkam celoteh sumbang itu dengan bogem mentah. Untung saja Master English Man membuyarkan semua dan memberinya kesempatan bagi celoteh sumbang mengelus dada. Sebelum amarahku diujung tanduk, sebelum beliau mulai berumus-rumus ria.
     Tersisa kursi kosong si celoteh sumbang yang sedari tadi engkau harap sedemikian rupa agar tetap melompong. Harapan itu terkabul, kursi itu seperti dimantera, dan tak seorangpun dengan jantan berani mendekatinya, sesaat, ketika aku ingin sekali mendudukinya.
######

     Tidak ada motormu di parkiran sana. Apa mungkin karena terlalu pagi aku berangkat? Ahh.. tidak, jam-jam segini seperti biasa aku terlambat, kelas Master English Manpun sudah dimulai, dan engkau tidak pernah terlambat.
     Engkau tidak masuk hari ini, engkau sakit?, (celoteh sumbang menjawab pertanyaanku dengan nada kurang senang, berwajah masam, entah kenapa dengannya?) Engkau muntah-muntah? Benarkah? Apakah mungkin engkau muak melihat sikapku kemarin yang sedingin kutub? Ya, kutub? Hawa kutub yang mungkin baru kali ini engkau merasakan dinginnya. Bahkan jika memelototi kesempurnaanmu, engkau sama sekali tidak pernah membayangkannya. Ataukah mungkinkah hanya sekedar masuk angin saja? Aku harap begitu..!!.
     Esok hari hingga hari-hari terakhir, engkau menghilang. Kemana? Ada apa? Masih sakitkah? Wajah bulan itu? Binar mata mahkota bulu lentik itu? Rambut lurusmu ketika engkau gelung? Sikapmu ketika kesal karena lagakku yang sok pintar? Atau di saat sunyi melebur dua jiwa dalam imajinasi-imajinasi liar. Mendengarkan detak jantung dan debaran-debaran hati, melihat hantu pikirannya dan perasaan halus yang senantiasa membelainya. Mendengar suara-suara tersembunyi dalam denyut nafas masing-masing yang saling memburu. Sama-sama mendengar suara tanpa kata, dan melihat hantu jiwa bergentayangan melalui sepasang mata.
     Rasionalkah semua ini, ketika engkau dipaksa untuk mengirasionalkannya? Atau Irasionalkah, ketika engkau dipaksa untuk merasionalkannya? Entahlah...!!! aku mencintai perempuan ini, aku mencintainya karena aku tidak punya satupun bayangan sesuatu yang indah tentang hidup
      Kediri, 2008






Gagak-Gagak Hitam


     Entah kenapa? Atau mungkinkah ia telah punah? Burung itu tidak lagi terbang meraung-raung di awang-awang sana dengan bunyinya yang menyayat. Tetangga sebelah yang mantan pegawai meregang nyawasetelah siangnya habis menerima gaji pensiunan. Hanya berselang empat hari, tetangga yang seorang tokoh wafat tanpa seseorang yang berada di sisinya. Menyusul dua hari kemudian ibu penjual nasi di seberang jalan, dan yang tak kalah mengejutkan, kematian tragis tetangga desa yang katanya diguna-guna.
     Sekitar lima belas tahun sudah, semenjak anak-anak kecil yang nyungsep di ketiak ibunya itu kini telah berumur dua puluh enam tahun. Selama itu pula gagak-gagak itu tidak pernah muncul lagi terbang meraung-raung di langit kampungnya, hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya, dan membuatnya lari tunggang langgang. Semenjak itu kematian betul-betul laksana mendung.
     Seperti seorang yang sedang dilanda rindu, kemanakah kiranya gagak-gagak itu? Benarkah gagak-gagak itu telah terbang jauh, menyelematkan spesiesnya dari para pemburu kematian yang menaruh dendam? Karena hanya ditangan pemburulah keberadaannya sebagai makhluk menjadi tidak berguna. Atau jangan-jangan gagak-gagak itupun saat ini sama seperti dirinya, rindu akan pesan kemtian? Lantas dimanakah ia kini? Masihkah ia tetap menjadi peliharaan kesayangan Izrail, yang mungkin saja menaruh iba dan memborgol kakinya dalam sangkar yang berada entah dimana..??
     Kerinduan akan raungan iba gagak-gagak menangisi kepergian ruh menanggung beban raga yang pongah. Ketika ketidak berdayaan raga mencapai puncak, memblepoti mulutnya dengan Asma-asma Tuhan, sembari menunggu pesan kematian menjemputnya. Rindu disaat lapangnya raga dihadapan takdir, memanfaatkan detak demi detak jantung yang tersisa, tanpa tangis, tanpa sesal kemudian, tanpa sesuatu yang berlebihan. Ia rindu masa kecil, membayangkan malam mencekam hantu-hantu bergentayangan dalam ketiak ibunya, arwah penasaran orang-orang yang tidak mengindahkan pesan kematian gagak-gagak hitam.
     Mungkinkah karena waktu yang kian melaju cepat? Sehingga tidak ada kesempatan bagi gagak-gagak itu untuk berpacu dalam putarannya. Gagak-gagak itu mungkin lebih memilih untuk menyerah, memborgol kakinya dalam sangkar yang entah dimana sembari menunggu pesan kematian menjemputnya. Atau jangan-jangan izrail telah memasrahkannya pada alam? Sungguh tugas yang amat berat, karena alam sendiripun adalah ruang yang dihuni waktu, waktu yang terus melaju kencang membuat penghuninya hilang ingatan.
     Pesan kematian itu layaknya bom waktu yang setiap saat meminta tumbal, tidak ada lagi seremonial, tidak ada lagi ritual-ritual perpisahan menyambut kedatangan izrail sebagai upaya merayunya untuk sedikit berbelas kasihan mencabut nyawanya dengan cara damai.
     Kini ia harus sebatang kara menyumpahi hidup, hidup yang tidak mengenal waktu, bahkan terhadap kematianpun ia tidak mau menyerah. Sang ibu tertimbun reruntuhan bangunan dalam posisi telungkup, di tangannya masih tergenggam erat sutil. Tak jauh dari sang ibu sang bapak ditemukan dalam keadaan tanpa sehelai benangpun dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Kedua adiknya yang sewaktu kejadian biasa bermain di sekitar rumahnya sampai saat ini masih dalam proses evakuasi.
     Kampung kawah kelahirannya itu kini rata dengan tanah. Hanya menyisakan bangunan masjid yang masih tegap berdiri pongah dengan lagak sok sucinya. Sebagian penghuninya yang tersisa teronggok di pengungsian, menatap kosong lalu lalang simpatisan yang bersliweran. Ia adalah bagian dari tatapan kosong itu yang tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia menyalahkan kedua orang tuanya yang acapkali berceloteh tentang Tuhan hingga membuatnya sering keluyuran??.
     Ataukah ia harus menyalahkan para tuan tanah yang lalai karena terlalu sibuk memikirkan perutnya? Atau haruskah bersyukur, karena sebab itu ia telah terpilih sebagai yang terselamatkan? Tapi apa guna sebagai yang terselamatkan, jika saat ini ia sebatang kara? Apa yang akan ia makan nanti? Dimana ia akan tinggal? Bagaimana dengan masa depannya? Ia sama sekali tidak sanggup, jiwanya terngiang-ngiang rindu akan pesan kematian gagak-gagak hitam, karena mungkin dengan pesan itu ia bisa mempersiapkan segala sesuatunya beserta ritual-ritual penyambutannya.
      Pamekasan, 2008








Daun Emas


     Aku pikir mereka terlalu kekanak-kanakan. Tanah kerontang di belakang rumah itu terlalu naif jika harus disengketakan. Aku juga terkadang menyalahkan bapak dengan tanah peninggalannya itu tanpa ada hitam diatas putih. Bapak terlalu percaya penuh, Mat Surat dapat bertindak adil terhadap adik-adiknya. Padahal itu dulu, sebelum anak-anaknya beranak pinak seperti saat ini.
     Tanah kehausan itu..? Ah, untuk apa aku harus bersusah payah mencarikannya minum disaat musim kemarau berkepanjangan..? Kulit uang sudah hitam tidak ingin bertambah legam, berpanas-panas ria dibawah terik angkuh sang mentari. Lebih baik mengadu nasib di tanah orang. Toh, walaupun menggelandang, gengsi sebagai orang rantau jelas membanggakan.
     Justru karena tembakau itulah persoalannya. Entah sampai kapan kita bisa menjadi tuan di tanah sendiri..? Lepas dari para cukong di singgasana gudang-gudang mereka sedang mengangkangi kita..? Sampai kapan kilau daun emasnya sebanding dengan jerih payah kita..? Menjadi harta tak ternilai untuk diharapkan. Kita terlalu mudah dikadali.
     Ohh,, alangkah malang saudaraku yang satu ini. Baginya segala sesuatu harus dibumbui kekerasan, karakter bapak yang melekat mewarisi tindak tanduknya dalam bersikap dalam bersikap. Mudah dikadali dan seringakli ceroboh, tanpa pikir panjang mengakhirinya dengan senjata tajam. Clurit yang selalu dalam genggamannya sewaktu-waktu teracung pongah, menimbulkan tanda tanya untuk sekedar menggertak..?? Atau entah..??.
     Sedangkan aku terlalu banyak diam, karakter ibu dalam nina bobo bapak. Jiwa berontak dengan nyali ciut seringkali hanya terkulai pasrah dalam belaian nasib, keinginan untuk merantaupun sebenarnya tak lepas dari desakan istriku yang senantiasa menuntuk banyak.
     Lagi-lagi tanah kerontang itu..? Untuk apa aku harus bersusah payah mencarikannya minum..?? Kulit yang sudah hitam tidak ingin bertambah legam, berpanas-panas ria dibawah terik angkuh sang mentari. Namun apa boleh buat..? Mata sattar mulai memerah memelototiku, aku harus menuruti kemauannya.
     Seperti biasa mat surat dengan celotehnya piciknya, acapkali ia berlagak seperti itu ketika sattar menuntut tanah itu dengan penuh amarah. Lalu setenagh acuh ia melanjutkan celotehnya lagi.
     "Seringkali aku katakan, untuk apa tanah mandul itu tar..?? Kamu mau tanah itu dijual, lalu uangnya kita bagi..? Berarti engkau tidak mengindahkan keinginan bapak agar tanah itu tetap menjadi warisan keluarga yang tidak bisa diganggu gugat".
     Keinginan yang bapak wasiatkan sewaktu aku dan sattar masih berupa orok. Alasan yang sungguh tidak masuk akal, karena setelah aku besarpun bapak tidak pernah mengungkit-ungkit tentang wasiatnya itu. Namun apa boleh buat, mat surat sudah terlanjur menjejalkan kepercayaan semu itu tanpa kami sanggup menggugatnya. Karena dengan begitu ia bisa leluasa menggarap tanah itu seprang diri.
     Alahh... sejak kapan engaku peduli dengan kematian mat..??Kenapa baru sekarang kesadaran itu menggerayangimu dengan mimik muka yang sungguh memuakkan itu..? Kenapa tidak sejak dulu penyesalan itu kau taruh dalam bungkusan rokok yang saat ini tergeletak berserakan di hadapanmu itu..? Lantas mau kau pakan tanah kerontang itu, jika kemunafikan kau hirup sedalam mungkin disetiap asap yang mengepul dari kedua bibirmu yang legam itu..? Hanya daun itu mat, yang akan membuat para petani senantiasa selalu mempunyai harapan, dan tanah itu enggan berbuah uang jika lembar daun emasnya tidak engkau tanam di kala musim kemarau tiba.
     Aku marah pada diri sendiri, marah akan kilau daun emasnya, pada tanah peninggalan bapak satu-satunya itu, tanah kerontang yang mandul. Pada sattar yang gampang naik darah, tingkah mat surat yang selicin belut.
******

     Setahun hidupku di tanah rantau, kabar tentang mereka masih saja soal tanah itu yang tetap menjadi sengketa. Hingga pada pertengahan tahun kedua, kabar memilukan yang membuatku kaget sekaligus merinding, mengenai sattar yang kalap menghabisi mat surat dengan cara membacoknya. Namun aku tidak berani pulang, karena kabar berikutnya yang aku dengar sattar juga mengincarku dengan menyewa seorang blater. Entah apa yang merasuki otaknya hingga ia pun berniat ingin menghabisiku juga. Kabar itu tak terbukti tapi senantiasa membuatku selalu waspada.
     Tiga bulan setelah kematian mat surat, peristiwa nan tragis kembali mengiris perih hati ini. Pedih nian mendengar kabar kematian sattar ditangan dua blater sewaan istri mat surat yang menaruh dendam. Keluarga besarku berantakan, aku bingung harus berbuat apa. Suasananya berubah semakin mencekam, dua keluarga satu induk itu saling bersitegang, sama-sama tidak mau disalahkan, menunggu saat yang tepat dari masing-masing sanak keluarganya untuk sebuah pembalasan yang sama-sama dirasa cukup setimpal.
     Puncaknya ketika keluarga mat surat tidak memperkenankan jasad sattar di kebumikan bersebelahan dengan mat surat, keluarga sattar tentu tidak menerima perlakuan yang dianggap tidak adil itu. Hingga aku pun akhirnya didesak ibuku untuk segra pulang, ibu sudah tidak sanggup lagi menengahinya, hari tuanya berubah kelam seiring tubuh rentanya yang semakin tak berdaya menopang beban hidup yang kini menimpa keluarga besarnya.
     Kini, dua nisan itu teronggok di tengah pemakaman keluarga. Mungkin pada akhirnya hanya dengan berkalang tanahlah yang bisa membuat mereka hidup berdampingan. Tanah yang gersang nan kerontang, dengan kilau lembar daun emasnya yang sanggup membutakan para penghuninya.
     









Riwayat Sebuah Perahu




      Seratus abad, ketika Palestina meletakkan batu pertama Bait Al-Maqdis, membingkai Tembok Ratapan, membunyikan Lonceng Bethlehem, serta melahirkan orok Revolusioner Arafat, hingga tragedi remuk redam rudal-rudal nyasar. Nuh, Sang Nakhoda Tuhan telah sedemikian melegenda bersama Perahu fenomenalnya. Tapi ini bukan Kan’an, sarang manusia tak berakal yang dimurkai Tuhan. Desa ini bernama Sumber, Sumber organ kehidupan sekaligus jantung bagi Penduduk keseluruhan, dan Dia berdasarkan desas-desus sebagai pewaris Nuh, adalah bagian dari mereka yang sangat berakal dan serba masuk akal.

      “Ini adalah proyek fenomenal yang akan melegenda” khotbahnya.

      “Sebuah Perahu Nuh” Ia berdiri dengan seutas senyum mengembang di tengah-tengah hamparan gundul tanah warisan bapaknya.

      Tanah keriput itu akan disulap layaknya Jabal Nuh. Tanah kerontang kehausan yang Ia anggap sakral untuk menjadi landasan berlayar Perahu Nuh. Menurut khotbahnya perahu itu akan membawanya mengelilingi negeri ini yang sudah terendam air, dan akan berlabuh dengan sendirinya ketika air itu surut. Di situlah Ia akan seperti Musa sehabis mengubur Fir’aun tampa nisan. Orang-orang yang enggan menaiki Perahunya, nasibnya akan seperti Fir’aun, Orang-orang yang mengacuhkannya berarti telah meremehkan keampuhan tongkat Musa. Ia mangaku telah mendapat isyarat langsung dari tumbuh-tumbuhan, tanda terima dari alam dan bumi pun telah memberikan restu untuknya. Ia berharap agar semua orang mempercayainya, sebagaimana Sulaiman dengan bahasa binatangnya. Ia tidak mau disebut nabi, tapi Ia mengakui Ia adalah pengagum berat Nietzshe, Si nabi kecil dengan Adimanusianya. Tak heran khotbahnya itu telah membuat telinga-telinga terhormat kepanasan. Karena memang seperti itulah telinga-telinga besar yang menggemari pujian, suplemen penyemangat mengimpikan surga.

      “Setan apa yang merasukimu sehingga engkau merasa sebagai pewaris Nuh?”

      “Setan akal..!!” jawabnya tegas.

      “Maksud kamu apa?”

      “Setan yang menghuni akal, yang engkau usir dengan wirid-wirid bernada ketakutan dan kini telah menjelma iblis merasuki akalku”

      “Kamu bilang Aku takut? Apa tidak terbalik?”

      “Sama sekali tidak, karena sejatinya engkau tidak benar-benar mengusirnya. engkau sekedar menyuruhnya pergi, kini, iblis itu telah merasuki akalku”

      “Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, perkataanmu menyerupai iblis”

      “Terserah, tugasku hanya menawarimu, dan untuk yang terakhir kali, apakah kamu masih bersedia untuk menjadi penumpang kapalku?”

      “Tidak..!! sekali tidak, tetap tidak. Bertobatlah..!!!! Bertobatlah segera..!!” Ia tidak memperdulikan anjuran itu, Ia sudah menduga penolakan yang sama yang akan Ia dapat, telinga-telinga besar sudah kadung mengecapnya sesat, dan hanya merekalah yang berhak memvonis itu.

      Tapi Ia tidak segampang itu menyerah, karena Ia pewaris Nuh utusan Tuhan yang menjadi teladan. Jiwanya adalah semangat Palestina dengan keyakinan dan keteguhannya hingga rela bersimbah darah. Tapi sejatinya Ia tidak mau terluka, melihat darah saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri, Ia merindukan kedamaian dalam nina bobo semesta alam.

****

      Pantang menyerah, itulah Si nabi kecil mempertontonkan kebajikannya setinggi mungkin bagi keakraban nama-nama. Sambil tergagap Ia berceloteh:

      “Inilah kebaikanku yang Aku cintai, yang memuaskan Aku seluruhnya dan hanya dengan cara inilah Aku menginginkannya” selorohnya di hadapan ratusan pasang mata para perancang perahu. Kemudian, sambil berlagak konseptor Ia mengamati para perancang bekerja yang Ia datangkan dari berbagai penjuru daerah. Mereka berpakaian sangat rapi, hampir kecele menilai mereka, tak ubahnya idealis kawakan yang pasrah bekerja serabutan. Di hadapan mereka Ia berkhotbah:

      “Nanti kalian semua akan menjadi penumpangku”

      “Tidak usahlah tuan..!! Kami di rumah saja”

      Ia kaget dengan penolakan yang tiba-tiba itu. Ia tidak menduga mereka yang selama ini menjadi bahan tertawaan, sosok yang memalukan dan menyedihkan bagi Si nabi kecil, telah berani-beraninya makar. Ia pun membentaknya dengan muka merah padam:

      
      “Sejak kapan kalian berani berkata tidak? Bukankah itu bukan sifat asli kalian?”

      “Apa kalian tidak ingin menjadi bagian dari sebuah peradaban yang baru?”

      “Apa kalian tidak ingin selamat?”

      “Dengan bekerja, dapat uang, bisa makan, kami akan selamat tuan..!!” jawab mereka materialistis.

      “Ini tidak ada kaitannya dengan itu, semua itu tidak ada gunanya jika nanti waktu nya telah tiba”

      “Tidak ada waktu yang tidak berguna bagi kami tuan, waktu adalah uang, uang, dan uang, titik tuan..!!” Lagi-lagi Si nabi kecil seperti kena tampar, mereka benar-benar telah gelap mata, pikirnya.

      “Apa kalian tidak menyesal dengan perkataan kalian itu?”

      “Apa yang mesti disesali tuan? Toh, kenyataannya hidup kami memang seperti itu?” jawabnya diplomatis, sembari diamini oleh rekan-rekan mereka yang lain.

      “Apa yang lainnya cuma bisa mengamini? Kenapa kalian tidak berani mengambil keputusan sendiri?”

      “Mereka tidak berhak berkomentar tuan, komentar mereka tidak akan didengar, mereka berkomentar melalui hati dan itu adalah harapan dan do’a mereka”

      Mereka menjawabnya dengan cerdas. Ia dibuat kelu, tak tersisa lagi pertanyaan karena selalu dijawab dengan benar. Maka lidah yang kelu hanya terucap:

      “Terserah ka....!!” yang itu pun disambar dengan permintaan mereka,

      “Kami butuh kayu lagi Tuan..!!” sembari diamini rekan-rekannya.

      Baru terpikirkan, uang dari hasil tabungannya menjadi Si nabi kecil sudah menipis dan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kayu yang mendesak. Selama ini tenaga dan pikirannya terforsir, matanya berwarna coklat kering dedaunan, badannya hitam legam kepanasan, baunya mengganggu saluran pernafasan, sedangkan di otaknya terisi penuh Perahu Nuh. Sembari Ia memberi nasehat terakhir untuk mereka yang enggan diselamatkan:

      “Aku tidak menasihatimu untuk bekerja tapi berjuang, bukan perdamaian tapi kemenangan. Biar kerjamu menjadi sebuah perjuangan, biar perdamaianmu menjadi sebuah kemenangan”

      Proposal. Ya, proposal jalur alternatif populer yang akan Ia coba, bubuhan paraf Para cukong dengan segepok uang, demi sebuah misi mulia. Karena ini bukanlah Kan’an, sarang manusia tak berakal yang dimurkai Tuhan, pikirnya.

      Maka Si nabi kecil pun dengan nyali ciut memasuki pelataran berpagar marmer. Bangunan angker, Ia berpikir seperti itu ketika berada di depan pintu. Mempersilahkan nya duduk sambil tergopoh-gopoh, Babu itu mengambilkannya minuman yang baru sekali itu Ia mencicipinya. Berperut buncit, ciri-ciri kekenyangan yang saat ini berada di hadapannya.

      “Proyek kamu sungguh luar biasa, mencerminkan kejeniusan anak bangsa menyikapi masa depan. Sangat signifikan..!!” Bersinekdose Totem Proparte, setelah sekilas membaca daftar acara yang di ajukan Si nabi kecil.

      “Kamu butuh berapa, orang jenius?” pintanya. Si nabi kecil kelimpungan. Memposisikan Arafat di bawah tekanan Zionis. Diplo masi mengagumkan, demi Palestina, tanah Perahu Nuh dirancang.

      “Baiklah..!! investasi ini cukup, sampai proyek kamu rampung”

      “Atas nama Adikuasa, kau taruh dalam daftar nama pendanamu. Kalau perlu kau pahat nama Adikuasa dengan ukiran njlimet”

      Buru-buru Ia teguk minuman itu, keringat dingin membuatnya gerah. Merinding hawa terkutuk, lekas-lekas Ia pamit dan berterima kasih.

      Untuk sementara Si nabi kecil bisa bernapas lega di seberang jalan. Sambil memandangi bangunan angker itu, Ia mendengus, mengembalikan denyut nafasnya satu persatu yang tercecer. Maka Ia pun berkhotbah dengan nafas tersengal-sengal:

      “Itulah kegilaan mereka yang berlomba merengkuh singgasana, kebahagiaan seolah duduk diatasnya, seringkali di atas singgasana adalah kotoran, dan seringkali pula tahta duduk di atas kotoran”

      Tiba-tiba dari sebelah kanan, Si nabi kecil melihat poster yang di usung segerombolan massa dengan semangat menggelora, poster bergambar telanjang yang di perjuangkan tampa sehelai benang pun. Serta semangat menggebu-gebu sang pemberani yang mengatas namakan nurani hak-hak yang dikebiri oleh para tiran-tiran bermuka banyak.

      Di sebelah kiri arak-arakan dengan spanduk, memakai kaos yang bernada konfesi, mereka terlihat menonjol dengan plastron di dada mereka, terkesan ekstrim, terdengar merasa paling benar sendiri. Ia berpikir dua gelombang massa itu untuk menemui dirinya, mendengarkan khotbah dan menjadi penumpangnya. Ia pun berkhotbah:

      “Hal-hal moral tidak akan ada harganya jika tidak ada yang menyajikannya, dan para penyaji inilah oleh orang banyak disebut orang besar, tapi sayangnya mereka sedemikian gila pada semua penyaji dan aktor-aktor dari hal-hal moral” khotbah yang pertama.

      “Ya, engkau sesungguhnya adalah nurani yang mengganggu sesamamu, sebab mereka tidak sepadan denganmu, karena itulah mereka menindasmu dan ingin menghisap darahmu” khotbahnya yang kedua.

      “Dan bagi kalian yang merasa kesucian itu terlalu sulit dilakukan, janganlah memaksa diri, supaya kalian tidak menjadi jalan menuju neraka, menuju kotoran dan nafsu jiwa” khotbah yang ketiga.

      “Atas apa yang telah Aku sebutkan tadi, apakah kalian semua bersedia menjadi penumpang kapalku? Berlayar menuju kehidupan yang baru dan lebih baik?” pintanya.

      Tidak ada jawaban, dua gerombolan itu tidak memperdulikannya sama sekali, tidak ada respon. Ia kecele, semisal Nuh yang mengelus dada diacuhkan istri tercinta, atau ketika Musa menuruni puncak tursina melihat iba, kaum yang tidak becus dengan keyakinannya. Tapi Ia tidak segampang itu berputus asa, karena Ia adalah Nuh atau pun Musa.

      Ia harus segera bergegas menuju proyek Perahu Nuh yang sedang pailit. Jika tidak, proyek Perahu Nuh akan semakin molor, sedangkan tanda-tanda datangnya bah semakin mendekati kenyataan. Dana itu sudah ada dalam genggamannya, tinggal bagaimana Ia bersikap jujur terhadap semua orang bahwa dana itu Ia dapat dengan cara menipu, memanfaatkan ketidak acuhan para Adikuasa tentang proyek Perahu Nuh.

      Tapi apa peduli Si nabi kecil dengan ketidak percayaan mereka, toh, ketidak percayaan itu pada akhirnya akan mereka sesali, dan apa artinya uang sebanyak itu, jika nantinya tidak bisa menyelamatkan Adikuasa dari banjir bandang.

****

      Setengah jadi Perahu Nuh itu sudah membuat Si nabi kecil terkagum-kagum. Penduduk sumber menganggapnya fenomenal sekaligus karya seorang sinting. Kabar angin disertai badai semakin mengaduk-aduk telinga penduduk desa sumber, Kapal Nuh serasa diombang-ambingkan amukan mulut-mulut bau, iseng.

      Kabar itu seketika mengundang laki-laki paruh baya berpakaian lusuh. Laki-laki itu tampak kelelahan, dari raut wajahnya yang kusut, seperti sudah seharian penuh Ia bergelut melawan terik panas siang.

      Di lehernya menggantung sebuah kamera, harga sekitar delapan jutaan atau kurang. Ia melangkah penuh percaya diri, raut mukanya yang lusuh seketika berubah riang setelah melihat Si nabi kecil menyambutnya ramah. Sebuah walkman Ia keluarkan dari kantong jaketnya, kemudian Ia sodorkan kemuka Si nabi kecil persis di depan mulutnya. Opini tentang Perahu Nuh yang sedang laris manis bak kacang goreng, Ia lontarkan dengan logat khas, tegas dan simpel. Si nabi kecil pun berargumen dengan memakai logat yang sama.

      “Perahu Nuh adalah wahyu dari Tuhan, karena ulah alien-alien bumi yang memakan jantungnya sendiri”

      “Apa maksud tuan?” tanya laki-laki itu dengan sorot mata serius.

      “Disaat daun-daun berguguran, kau tahu? dialah sang mujahid sesungguhnya, dia telah berjuang sesuai kodratnya sebagai makhluk. Ranting-ranting, batang-batangnya hingga keakar, seperti itulah jiwa-jiwa yang bersiklus.”

      “Tapi, kita tidak terlalu pintar menghargai siklus itu. Sama saja sari pati tebu telah kita peras habis, kemudian menjadi sepah. Kita terlalu rakus bukan? Dan mereka yang mengangkang di atas ketidak pedulian kita, membentuk siklus sendiri dengan kepentingannya mengekploitasi hidup.”

      “Ya, asap-asap mengepul yang mengalahkan mendung. Kemana asap itu akan lari? Kita tentu tidak akan mau nafas-nafas kita tersumbat menjadi asma, hujan-hujan pun sebenarnya enggan menjadi banjir. Sedangkan akar-akar, batang, ranting, dedaunan adalah asap itu sendiri, mengepul mengalahkan mendung.”

      “Bagaimana nasib kita tuan?” cerca laki-laki itu dengan sorot mata semakin tajam.

      “Kegerahan. Ya, tentu saja. Kamu merasakan itu kan? Keringat meleleh disaat kita seharusnya menggigil kedinginan dengan selimut tebal. Kegerahan sepanjang waktu, kedinginan hanya melintas sesaat. Tidakkah itu menyiksamu mengais hidup di jalanan? Lihat, mereka yang mengangkang di sana, berselimut emisi buatan di istana-istana megah yang menjulang.”

      “Bukti-bukti yang logis?” tanya laki-laki itu dengan sorot mata memerah.

      “Kamu tidak usah marah, karena sebentar lagi kita akan mencairkan hegemoni kerajaan kutub. Kita akan membuatnya takluk. Kita bakar dia hingga Ia sudi berbagi, menggigil bersama kita. Kamu tidak perlu khawatir, Perahu Nuh siap menampung keselamatan semua, jika kerajaan kutub berencana melakukan pembalasan”

      “Menurut prediksiku Ia akan menenggelamkan kita hingga tak tersisa dan segala milik kita akan lenyap, kita harus rela, siap siaga menghadapi kenyataan itu.”

      “Bagaimana? Kamu mau menjadi penumpang Perahuku? Perahunya masih melompong, banyak tempat kosong yang enggan di tempati. Sebelum terlambat, sebelum Aku menutup pintu untuk kamu dan semua orang. Seperti Nuh dengan sedikit penumpang, membiarkan tangis penyesalan dalam gulungan gelombang, ratapan pertolongan timbul tenggelam. Bahkan air mata darah pun tidak akan membuatku iba, untuk menjulurkan tangan dan meraihnya.”

      “Sudah.. sudah cukup tuan, terima kasih atas waktunya” sergah laki-laki itu sembari menuju Perahu Nuh, kemudian menjepretnya. Setelah itu Ia pun pergi tampa sepatah kata.

      “Heii..!! Laki-laki Paruh Baya..!!” panggilan Si nabi kecil, membuat laki-laki itu menoleh.

      “Aku adalah Nakhoda Perahu itu, Aku adalah Nuh” ucapnya.

      “Perahu Nuh adalah Tongkat Musa, kemegahan Istana Sulaiman, kesakralan Palestina sebagai tanah Kan’an, asal muasal Perahu Nuh dirancang” imbuhnya.

      “Oke..!!” sahut laki-laki paruh baya itu, terselip senyum kecut di sela-sela kedua bibirnya.

      Pamekasan, 2008






·        All About The Short Story (3)

      Tradisi "carok" (caro'), seakan menjadi menu tahunan yang kerap kali terjadi mewarnai kehidupan sebagian rakyat Madura. Perihal penyelesaian dalam hal ''Tengka" (Tingkah laku bermasyarakat) yang menjadi acuan nilai moral seseorang yang sangat dijunjung tinggi oleh mayoritas masyarakat Madura, seringkali harus berakhir diujung mata clurit, dengan cara saling tebas, beradu kelihaian memainkan clurit, yang sejatinya hanyalah wujud pentahbisan "diri" agar dianggap "layak" sebagai sang jagoan (Penguasa daerah tempat tinggalnya yang disegani) yang sekaligus juga dianggap sebagai bentuk kebanggaan dan suatu kehormatan bagi si pemenang. "Carok" adalah identitas laki-laki Madura, harga diri dan sanak keluarga tidak bisa ditawar dengan apapun, lebih baik; "pote tolang e-tembeng pote matah" (Putih tulang dari pada putih mata), istilah yang pembenarannya tidak bisa diganggu gugat sekaligus dijadikan alasan yang tidak bisa dirasionalkan.

      Inspirasi ini muncul di tengah tradisi yang telah sekian lama mengakar, mendarah daging dan menjadi bawaan orok hingga terdengar keseantero Nusantara. Tradisi itu seringkali dijadikan modal para perantau demi sebuah pengakuan yang acapkali menjadi bumerang, stereotip yang tidak enak didengar, berupa imej negatif yang berat sebelah. Ceritera cekak ini berawal dari seorang teman yang runutan muasal ceritanya dari mulut kemulut, serupa dongeng yang kebenarannya telah mendapat pengakuan secara langsung dari mulut anak kecil, entah sebagai pengantar tidur? atau hanya sekedar bentuk pelanggengan sebuah hegemoni tradisi agar tidak punah?.

      Namun terlepas dari itu semua, "carok" tetaplah tradisi kriminal yang mesti dimanifestasikan dalam media yang lain (Tanpa merubah esensi yang terkandung dalam tradisi "carok" itu sendiri, yakni sebagai wujud pengejawantahan identitas laki-laki Madura), semisal dalam media pertunjukan yang dikemas secara kolosal serta profesional, yang pada akhirnya akan menjadi aset daya tarik tradisi Madura (Seperti halnya Karapan Sapi). Untuk itu tepat kiranya apa yang dikatakan W. Durant; "A great civilazation is not conguered from without until it has destroyed itself from within", "sebuah peradaban belum benar-benar dijajah sebelum hancur dari dalam".

      Celoteh Sumbang

      Kembali ke laptop......!!!!!!

      Hukum dunia telah mengetokkan palu godamnya akan harga diri para penghuninya yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Harga diri adalah tiang penyangga untuk kita mampu berdiri sebagai makhluk yang bernama manusia, ia adalah mutiara di dasar lautan yang tidak boleh terjamah, ia adalah emas yang hanya bagi orang tertentu saja dapat memilikinya, sekaligus juga ia hanyalah barang yang bisa diperjual belikan di pasaran. Akan tetapi alangkah jumawanya ketika mutiara itu telah direnggut, kita dengan seenak diri menebusnya dengan menghilangkan nyawa (Bunuh diri atau membunuh). Nyawa adalah hak prerogatif Tuhan, bagaimana dan kapan ia dapat menghirup udara segar atau berkalang tanah?. Karena Tuhan tidak akan menebus hamba-hambanya dengan cara apapun, walau toh, hamba itu sendiri seringkali menginjak-injak harga diri Tuhannya, (Maha suci Tuhan atas segala tindak tanduk hambanya). So, biarpun "katrok" atau "ndeso" sekalipun, tidak ada alasan untuk menebus harga diri kita (Yang diinjak-injak) dengan cara apapun, selama laptop Tukul Arwana akan senantiasa mengembalikan kita untuk bersujud menyembah ke-Maha kuasaan-Nya.
ALAS JATI

""Ghost My Imagination""

      © Radar Madura. Minggu 2 Agustus 2009.

      Beberapa pasang mata itu telah sedemikian akrab bercumbu dalam belai malam. Lambai bayang daun pohon jati dalam pangkuan angin temaram bulan. Sorot lampu mobil yang melintas, menjadikan pasang mata itu semakin awas, deru mesin mobil tidak mengurangi pendengarannya, setajam clurit yang terselip di pinggangnya.

      Malam mendekati separuh manzilahnya merambah pekat, hanya sesekali mobil-mobil pelat nomor pribadi melaju kencang membelah pekatnya dengan sorot lampu mencorong. Para pengemudi tentu tidak mau ambil resiko melintasi alas jati dengan perasaan was-was, sembari menutup jendela rapat-rapat. Truk-truk besar merapatkan muatannya di pelabuhan, mereka memilih melanjutkan perjalanannya esok hari. Hanya bis-bis yang tetap melaju dengan banyak penumpang dan membuatnya aman. Pasang mata itu penghuni pekat, memelototi para pengendara dalam gelap.

      Sebelum berangkat Nalap mewanti-wanti jika nanti harus sampai jam dua belas malam, ia harus menunda kepulangannya esok pagi. Pa'at menyadari alas jati itulah yang menjadi kekhawatiran bapaknya. Jam menunjukkan pukul; 22-15 menit, masih cukup waktu sekitar satu jam setengah bagi Pa'at untuk menggeber sepeda motornya sampai di rumah. Ia harus segera menyerahkan uang hasil tagihannya itu kepada bapaknya.

      Sepeda motor butut yang ia kendarai perlahan menyusuri jalanan, sesekali ia menoleh kebelakang mengharap sebuah kendaraan menyalipnya. Tak lama kemudian sebuah bis malam dengan kecepatan penuh meliuk-liuk anggun, ia segera mempersiapkan sepeda bututnya untuk membuntuti bis itu dengan kecepatan seimbang, karena hanya dengan cara itulah ketika memasuki alas jati ia bisa bersembunyi dari incaran para Blater.
      Setelah upaya yang setengah dipaksa, bis malam itu dengan angkuh telah meninggalkan Pa'at dengan sepeda bututnya yang terengah-engah. Laju sepeda motor tua itu sudah tidak sanggup lagi memenuhi target satu jam setengahnya, daya gebernya tidak mampu menandingi keegoisan bis yang kebelet. Sepeda motor bobrok lambang kebanggaan Sang Bapak karena bunyinya yang menderu-deru itu kini terkulai pasrah, beberapa meter di depannya berderet pohon jati menjulang lebat, berjejer bak tembok raksasa di kedua sisinya dengan cabang-cabang dan ranting yang saling berangkulan, dibelah jalanan aspal di tengahnya membentuk layaknya sebuah gerbang yang melingkar untuk menyambut kedatangan Pa'at. Jarum jam berada tepat pada angka; 12-20 menit.

      Nyalinya ciut, tapi tidak menjadikannya surut. Clurit di pinggangnya sudah kadung terselip, pantang baginya jika harus mundur. Ia matikan lampu motornya berharap temaram bulan menyamarkan keberadaannya dari intaian Blater. Selang beberapa kilo ketika ia sudah berada di tengah alas jati itu, sesosok bayangan berkelebat dengan cepat, secepat kesadarannya akan bahaya yang mengancam Pa'at memperlambat sepeda motornya, mau tidak mau ia mesti siap, baginya sudah kepalang basah. Seketika tiga sosok berperawakan sedang sudah berada di depannya, wajah mereka diselimuti gelap, baju dengan celana hitam-hitam dan sarung yang melilit di perutnya. Merekalah penghuni pekat, clurit di tangannya berpejaran dalam temaram bulan.

      "Saya harap sampeyan sudah mengerti apa yang kami inginkan...!!". ujar sosok yang berada di tengah, dengan nada khas Blater.

      "Kalian menginginkan clurit ini..??". sergah Pa'at tanpa basa-basi sembari mengeluarkan cluritnya dalam posisi siaga.

      Seakan sudah saling mengerti satu sama lain, tanpa ba, bi, bu, ketiga Blater itu mengepung Pa'at. Pa'at menggeletakkan sepeda motornya begitu saja. Dengan sekali ayun, salah satu Blater berusaha menebaskan cluritnya ke arah perut Pa'at. Seketika Pa'at melonjak mundur, tebesan itu meleset, Pa'at mencoba menyerang balik, dengan setengah meloncat mengayunkan cluritnya ke arah Blater itu, Blater itu dengan gesit berkelit ke arah samping. Kedua Blater lainnya dengan serempak menyerang Pa'at secara serampangan. Dalam posisi terdesak, Pa'at menghindar dari ancaman kedua Blater kesurupan itu dengan langkah mundur.

      Pa'at merasakan perih, clurit salah satu Blater itu menggoreskan nyeri di lengan kanannya. Tanpa sempat mengeluh, Blater yang pertama tiba-tiba meloncat mengincar lehernya, seketika ia menunduk setengah kelimpungan. Namun, ketika ia mendongakkan kepalanya, di hadapannya kedua Blater yang lain sudah berdiri berdampingan bak Malaikat pencabut nyawa. Tanpa ampun Blater pertama mengekskusi Pa'at dengan sekali tebasan.

      Ia merasakan tubuhnya seringan angin dalam hempasan malam, mulutnya bungkam tergagap-gagap dari sakit tak terkira. Suara jangkrik mengerik bersahutan di balik semak rimbun pohon jati. Angin malam tak lagi menggigil, menyelimutinya menghempaskan dedaunan rapuh dari tangkainya. Ia terhuyung-huyung kemudian tergeletak menggelepar dengan luka tebasan yang menganga di perutnya. Darah berceceran membercaki aspal, bersimbah merah sekujur tubuh Pa'at bersama clurit yang masih tergenggam erat di tangannya.

      Ketiga Blater mengangkat tubuh Pa'at, dan menyembunyikannya dalam semak di tengah alas jati itu. Uang satu juta dalam saku Pa'at mereka sikat, beserta sepeda bututnya yang tergeletak. Salah satu dari ketiga Blater itu tertawa puas, kemudian diikuti kedua rekannya sembari menggeber sepeda butut itu membelah pekat malam dengan sorot lampu mencorong, menyilaukan sepasang mata dari angkuhnya.

******

      Apa yang mesti dirisaukan dari anak kesayangannya itu. Nalap membentak istrinya yang tak henti-hentinya menggelisahi Pa'at. Pa'at telah mewarisi segala kebanggaan yang dimilikinya, uang itu sudah pasti ada dalam genggamannya. Ia pasti telah mengancam Kardi untuk membayar lebih utangnya, Kardi pasti tidak akan berkutik. Ataupun toh,, jika seandainya isu tentang La'i yang berniat menuntut darah terhadap dirinya, benar adanya dan beralih menghabisi Pa'at, ia yakin anaknya itu sanggup mengatasinya. Keberanian Pa'at tidak bisa dibanding dengan La'i yang bernyali tikus. Pa'at adalah jelmaan keberingasan yang dibungkus kelihaian pola pikirnya, titisan dari darah yang senantiasa mendidih demi sebuah harga diri dan martabat keluarga. Ia adalah pewaris tunggal hegemoni kesohor seorang Nalap yang ditakuti.

      Tarip membonceng Ningrah dengan mulut sumringah. Nalap menyambutnya tak kalah sumringah. Tarip memarkir sepeda motornya itu sambil berlagak pongah. Nalap terperanjat, sepeda motor itu miliknya yang di kendarai Pa'at semalam. Ia buru-buru mengamatinya lebih dekat. tak salah lagi, ya, sepeda motor butut miliknya, seketika ia blingsatan, hatinya tak karu-karuan.

      Motor tua itu dengan segera menderu-deru menuju alas jati, Tarip hanya membisu dalam bocengannya. Nalap melaju kesetanan, keringat dingin mengalir perlahan dari lekuk raut wajahnya yang tegang. Matanya memerah terpancar amarah, entah,,, pada apa ia akan melampiaskannya. Pada pekat malam yang mencumbui penglihatannya? Pada temaram bulan? Atau pada daun-daun yang menghalangi berkas cahayanya? Hingga bayang-bayang samar yang sama saja dengan bohong? Karena justru Pa'at yang harus menjadi tumbalnya?. Deru nafasnya memburu, alam bawah sadarnya digerayangi wajah Pa'at yang menghantui.

      "Kau taruh mana mayat itu Rip?" dengan sedikit membentak, membuat Tarip segera menunjuk semak yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

      Nalap mematung dalam pahatan nasib, keblaterannya seketika membekukan urat-urat nadinya, menggigilkan tulang-tulang dalam tubuh angkuhnya memucat pasi, membungkam mulutnya megap-megap menahan nafas yang sesak. Pa'at terkapar dengan mulut menganga, matanya membelalak ke arah Nalap yang mengucur deras air mata, memandangi bekas tebasan cluritnya di perut Pa'at yang mulai dikerubungi lalat.

******

      Dari balik kaca jendela, alas jati itu masih menyisakan bau anyir darah Pa'at yang menyusup menggerayangi bulu kuduk para penumpang. Bis yang aku tumpangi melaju pelan, meliuk-liuk anggun di setiap belokannya. Di tengah-tengah alas jati itu, kini berdiri terang pos polisi yang dijaga hampir dua puluh empat jam. Tak jauh berdempet, sebuah warung kopi dengan beberapa pengendara terlihat asyik menghilangkan lelah.

      Sebagian penumpang bergumul dalam lamunannya masing-masing, sebagian berusaha pulas seperti kenek bis sembari terantuk-antuk menahan kantuk. Sebagian berbincang-bincang dengan alsen orang rantau yang dipaksakan. Mereka melawat tanah kelahiran, lahan tandus yang ditinggalkan demi segepok rupiah. Meninggalkan jejak-jejak keblateran yang di huni sepasang mata dalam pekat malam, lahan-lahan gersang yang terbengkalai.


© Pamekasan, 2009




·  Ini adalah cerpen kedua yang inspirasi didalamnya muncul secara spontan, yang sedikit banyak di latar belakangi dari kalutnya akal oleh kesemrawutan hidup yang menyajikan banyak pilihan. Disatu sisi; masa depan yang membingungkan, sandiwara hidup yang berjalan dinamis sekaligus memuakkan, hingga anugerah cinta yang senantiasa menggoda untukku dibuai dalam perangkap mainannya.
      Masa depan yang menurut Budayawan Emha Ainun Najib; "Remaja sekarang mendapat tantangan yang lebih berat dibanding remaja-remaja terdahulu. Mereka harus hati-hati dalam menentukan pilihan, bila salah memilih kalian akan menjadi sampah". Ataupun istilah Hidup ala Sindhunata dalam "Anak Bajang Menggiring Angin-nya"; "Sebenarnya hidup ini menipu, hidup ini seakan mengantar orang ketempat yang baru, padahal ia mengembalikan orang pada asalnya yang semula. Dan Cinta ala Husain Al-Jisr dalam "Para Pencari Tuhan-nya"; "Cinta adalah gambaran yang paling indah, paling manis dan paling suci yang telah diciptakan oleh Allah SWT di kerjaan langit dan buminya. Seandainya seorang laki-laki memasukkan seekor binatang kedalam cinta, maka binatang itu akan berubah menjadi manusia. Demikian pula seandainya seorang perempuan memasukkan suatu permainan kedalam cinta, maka perempuan itu akan menjadi surga yang berada di bawah telapak kakinya".
      Dari ketiga aspek tersebut, yang kemudian bersinergi dalam putaran kenyataan hidup yang saling tumpang tindih, saling berebut jatah satu sama lain, dan diakhiri dengan keterbatasan sebagai Makhluk Ciptaan, maka tidak ada jalan lain kecuali menumpahkannya dalam sebuah tulisan, oret-oretan pelampiasan yang terasa mengasyikkan.
      Seperti istilah Albert Camus dalam novel "La Chute-nya" tentang seorang wanita (hehehehe.heeee....), yang orientasi secara kenyataannya menurutku bisa dikaitkan dengan hal di atas, bahwasanya; "Diluar nafsu , wanita-wanita membuat saya jemu melebihi yang saya perkirakan dan nyata sekali saya pun membuat mereka jemu, tidak ada lagi permainan, tidak ada lagi teater, tidak diragukan lagi saya berada dalam kenyataan, tetapi kenyataan itu sahabat membosankan". (heheheee.... lagi).
KETIKA KINI..!!!

      © Radar Madura. Minggu 6 April 2008.
      Ingatanku masih sangat jelas, ketika Itu..!, ketika pesonamu membuat mataku rabun minus satu. Sekejap pun tak bisa lepas, ketika senyuman itu masih denganmu yang malu-malu, rontok hati ini dari tangkainya, lalu berserakan sambil berharap kamu berkenan untuk membersihkannya. Ketika mata itu, mungkin sekejap karena lalai memandangku, jiwa ini pun tiba-tiba melayang meninggalkan raga yang tergolek tampa daya.
      Ketika kehadiranmu, biasanya sekitar pukul delapan kamu pulang sehabis ngaji di mushalla. Bergetar seperti ada gempa yang tiba-tiba datang, menggigil seperti diterpa angin laut, keringat basah bercucuran seperti habis lelah. Seketika tak kumengerti, menjadi demam tubuh ini, ketika tak kusengaja mungkin waktu itu kamu masih ingat, sepedaku onthelku nyasar masuk selokan. Berpapasan denganmu otot-otot tanganku, sumpah..! waktu itu terasa kaku. Ketika Itu..!, ketika hati ini, entah kenapa, selalu memikirkan kamu??.
      Waktu itu ketika aku berani bersumpah..! hanya kamu bidadari surgaku. Ketika bersumpah..!! mungkin kamu yang telah tercipta dari tulang rusukku. Bersumpah..! waktu itu aku Adam, kamu Hawaku, sumpahku..! aku Yusuf, kamu Zulaikhaku. Sumpah..! aku Romeo, kamu Julietku, aku Ken Arok kamu Ken Dedesku, aku Rangga kamu Cintaku. Tapi sumpahku..! ketika Itu; “Aku sungguh mati cinta kamu.”
      Ketika itu, ketika kantukku terlalu lelah memikirkanmu, hingga kutertidur. Ketika jiwa ini terbang, merangkulmu dalam dua sayap yang hanya bisa terbang jika saling berpelukan. Mendatangi taman penuh bintang-bintang disetiap mimpi-mimpi malamku. Ketika cahaya menyilaukan rasa kantukku, wajahmu menyapaku dikala pagi dengan penuh semangat.
      Ketika lahapku dengan rakus menumbuhkan energi kembali hanya untuk sekedar berjumpa kamu, energi ini rela kubagi. Ketika bersolek mematut diri demi sang pujaan hati, seluruh raga ini kubagi. Ketika esok, kenapa begitu lama serasa setahun?, ketika di dekatmu tidak seperti biasanya dunia ini berputar begitu cepat, ketika ragamu lepas jiwaku resah menghantui raga bergentayangan tak tentu arah. Ketika dua raga dalam satu jiwa, ketika satu jiwa dalam satu hati, ketika satu hati dalam cinta, ketika itu, ketika; “Aku masih Lugu.”
      Ketika aku melihatmu diusia rentanku. Ketika aku memandangmu dengan mata anak kecil yang sedang telanjang, enggan waktu disuruh berpakaian. Ketika menatapmu, ketika masa remaja yang terus menggodaku, merayuku dengan belaian angan-angan belaka. Ketika kamu bulan menerangi malam, dari tak terhitung bintang berserakan. Ketika sejuta mimpiku hanya bayangmu yang membuatku enggan beranjak dari nyenyak tidurku.
      Ketika tentangmu pertama kali, menanyaimu dari mulut kemulut, dan segala-galanya ketika itu, ketika kamu mampu merubah hari-hariku. Ketika tidak ada kata membedakanmu dari kebanyakan, menghalangi hati untuk berubah pikiran. Ketika itu, ketika pertama kali aku memberanikan diri, ketika hati tak tertahankan lagi; “Aku mencintaimu dengan sepenuh hati.”
      Aku tahu karena terlalu percaya diri alias sok mau tahu. Aku yakin karena menurutku tidak ada yang tidak mungkin. Aku menduga walau sebenarnya ada pemaksaan prasangka, ketika bibir manismu itu sambil malu-malu terucap; “I love you too..!!!.”. Ketika itu serasa ditimpa durian runtuh, terasa sakit memang..!, tapi dimana rasa sakit itu.? ketika isi di dalamnya memanjakan rasa seperti dsurga, tapi dimana surga itu.? ketika usaha manusia telah diterima dengan lapang dada, ketika manusia sudah merasa sebagai budak suruhan-Nya, ketika kesejatian ruh telah menyatu dengan jiwanya, tidak ada guna dan daya apapun jua.
      Ketika itu, serasa terkabul kembali doa Adam agar tercipta seorang Hawa mengisi kenangan-kenangan indah penghuni surga sebagai catatan kaki, lembaran-lembaran tampa batas yang di dalamnya tertulis cerita cinta umat manusia, tentang dua insan yang sedang dimabuk asmara.
******
      Aku memaklumi keputusanmu, aku mencoba dengan beratnya hati yang setengah mati tertimpa berkilo-kilo besi. Menanggung beban rasa yang tertumpuk sebesar gunung merapi, seakan mau meletus sampai ketika asa ini mencapai puncak tertinggi. Saat itu, sepucuk surat menjadi saksi bisu sekaligus sebuah palu yang telah diketok, memenjarakanku sebagai pesakitan yang membutuhkan dokter secepatnya dan mengakui segala keluhan hati yang entah apa obatnya..?.
      Saat ketika kamu mendorongku jatuh hingga kebawah jurang yang begitu curam tampa dasar. Aku kaget bukan kepalang, aku tertegun berhenti detak jantung, sesaat..!, sebelum ajal mengingatkanku untuk kembali sadar. Tapi apa yang mesti aku perbuat..? hakikat manusia yang serba terbatas, ketika kelemahanku saat itu, ketika aku dipaksa mengerti, berlagak sok memahami, ketika keputusanmu bulat, berniat melanjutkan asa sebuah cita-cita di pesantren. Penjara suci yang akan engkau diami, ketika niatmu ingin menempa diri, ketika diri beresiko tinggi menjadi fitnah, terbawa kenikmatan duniawi, ketika itu, ketika ketulusanmu mengabdi, menata bentuk pribadi hamba yang terpuji.
      Ketika itu, ketika aku merelakanmu pergi, ketika air mata sama-sama tumpah tak terbendung, membasahi raga hingga menjadi becek, membanjiri relung-relung hati yang rapuh, menggenangi segenap permukaan jiwa yang entah mau lari kemana.?, ketika sedu-sedan sekitar tiga jam setengah, ketika isak tangis membengkakkan mata sambil tersedu-sedu menahan pilu ketika itu..!!!.
      Ketika perkataan yang tidak mau aku dengar memasuki gendang telingaku, perkataan yang aku mohon dengan harap tidak akan pernah menimpaku, mengiris-iris hatiku lalu kemudian hati ini tercincang sedemikian rupa, sedemikian hina hingga tak berarti, menjadi makanan anjing yang telah merebutnya dari lalat-lalat yang mengerubutinya.
      Kata-kata yang sama ketika Zulaikha menjadi seorang hina, ketika Qois yang berubah menjadi Majnun, ketika Romeo harus mengakhiri hidup dengan belati yang tertancap di jantung, ketika Cinta ditinggal pergi oleh Rangga,. ketika itu, ketika kamu bilang; “Cerita tentang kita harus berakhir sampai di sini.”
******
      Aku ingin bertanya kepada siang, apa yang akan ia perbuat jika tiba-tiba malam tidak mau mengerti untuk menjadikan hari-harimu terang benderang?!. Aku juga ingin bertanya kepada malam, apa yang akan ia perbuat jika siang tidak mengizinkanmu melihat keindahan rembulan?!. Apa yang akan siang dan malam lakukan?? Ketika seluruh penghuninya tampak layu, lemah tampa tenaga membutuhkan pasokan energi yang bisa membuatnya hidup kembali, bagaimana jika mereka kering kerontang?? Hingar bingar yang tak kunjung usai, dipenuhi kemunafikan, dihantui keresahan, kegelisahan hati yang membutuhkan tempat pengaduan.
      Apa yang akan aku perbuat.?? Katika hati tidak ada tempat berbagi, ketika pikiran tumpul tak tercurahkan, ketika raga yang ditinggal seorang diri, ketika jiwa menambah beban raga tampa fungsi, ketika ruh memendam raga terkubur, memanggil jiwa untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, ketika semua makhluk hanya bisa bertanya, ketika itu, ketika aku hanya bisa bertanya; “Apa yang mesti aku perbuat???.”
      Ketika tempat manusia berkeluh kesah, mengadu karena habis kena tipu sebab mereka memang terlalu dungu. Ketika manzilah, peraduan ketika lelah, siang dan malam saling berjaga bergantian. Ketika laut menjadi surut, nun jauh disana berubah pasang. Ketika aneka hewan berada di sarang, rakus berkeliaran mencari makan. Ketika kapal telah merapat di pelabuhan, ketika pesawat telah memasuki landasan, mobil-mobil sudah didalam kandang, ketika semuanya beranjak pulang. Bersujud, mengakui ke-Maha dari segala ke-Maha-an, membungkuk dengan segala kepasrahan sebagai makhluk ciptaan untuk menyembah-Nya.
      Ketika cintamu adalah penyembuh luka hatiku dan ketika tampamu aku tak lebih dari sekedar sayap patah. Ketika cinta tidak dapat dilihat atau diukur sebatas mana, tetapi cukup ampuh untuk mengubah diriku dalam sekejap. Ketika cintamu hanya bisa kurasakan dengan hati, maka ketika itu, ketika hati ini ditinggal seorang diri; “Aku telah siap untuk membawanya pergi.”
      Tanah seberang adalah pelarian ketika tanah kelahiran tidak memberi kesempatan untukmu sanggup berdiri dengan kaki sendiri. Ketika mereka hanya menjadikanmu layaknya sampah dibakar, sehabis manis telah mereka jilati dengan lidah api. Ketika tanah kelahiran melahirkan kemunafikan, kenyataan mereka yang dikambing hitamkan. Ketika kelestarian desa yang masih perawan, tak seindah penghuninya yang berbaju kemuliaan. Ketika itu, ketika aku menyisakan hati yang retak untuk kau simpan dilemari besi, ketika suatu saat nanti, ketika kunci itu mungkin masih bisa untuk membukanya kembali.
******
      Ketika kini aku telah kembali dengan membawa hasil rantau, sekedar bukti selama delapan tahun lamanya aku mengais di tanah orang, ketika kini masih tidak jauh beda ketika itu. Hanya teman seumuran tampak sudah dipasrahi tanggung jawab kehidupan walau sebenarnya mereka belum waktunya kumisan.
      Ketika kini, ketika mereka menganggapku anak kebanggaan, anak desa yang telah mengharumkan desanya sebagai seorang kaya. Ketika semua mata berbinar-binar menatapku, ketika banyak mulut memuji-puji ditelingaku, ketika prilaku mereka menaruh hormat di dekatku. Maka ketika kini, ketika semuanya itu membuatku muak ingin muntah, membuat lingkaran pusing beribu-ribu keliling, membuatku ingin pergi lebih jauh lagi meninggalkan tanah kelahiran layaknya janin yang teronggok tampa kasih sayang.
      Tapi ketika kini, ketika sore ini aku melihatmu di pematang sawah, yang ketika itu, ketika di tempat itulah untuk yang pertama kali kita mengikat janji sebagai sejoli, merangkai mimpi-mimpi yang apakah mimpi itu bisa terangkai sempurna, sampai kita terbangun untuk mewujudkannya??. Waktu itu, secara bersamaan kita bilang; ” Entahhhhh..??! ”
      Maka ketika kini, ketika mungkin janji itu masih bisa kita sambung kembali, lalu kita ikat dengan erat sekuat hati. Ketika mimpi-mimpi itu, bisa kita susun kembali menjadi rangkaian cerita hingga tercipta kisah abadi tentang cinta. Ketika hati yang retak berkenan untukmu menyatukannya kembali, maka itulah kunci untuk membuka lemari besi. Ketika kini; “Ketika aku masih menunggumu tanpa pasti”.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar