Noktah Biru Sang Pena
Oleh Afiq RR,
Seorang fakir yang sedang dalam
perjalanan mencari penerangan melihat secarik kertas dengan coretan-coretan di
atasnya.
"Mengapa," tanya sang fakir, "kau menghitami wajahmu
yang putih-bersih?"
"Tidak adil kau menuduhku melakukannya," jawab sang kertas.
"Bukan aku yang melakukannya." "Tanyakanlah kepada sang tinta
mengapa dia keluar dari wadahnya, padahal dia cukup tenang berada di dalamnya,
dan mengapa dia menghitami wajahku."
"Kau benar," kata sang fakir. Lalu dia berpaling kepada sang
tinta dan bertanya kepadanya.
"Mengapa kau bertanya kepadaku?" jawabnya, "Aku sedang
duduk tenang di dalam wadah tinta dan tidak berpikir untuk keluar, tetapi mata
pena yang tajam itu menyorengku, lalu mendorongku keluar dan menaburkanku di
atas permukaan sang kertas. Di sana kau dapat melihatku terbaring tak berdaya.
Pergilah ke sang pena dan tanyakan kepadanya."
Sang fakir
berpaling kepada sang pena dan bertanya mengapa dia bersikap sewenang-wenang.
"Mengapa kau menggangguku?" jawab sang
pena. "Lihat, siapa aku ini? Tak lebih dari sebatang buluh yang tiada
berarti. Aku waktu itu sedang tumbuh di tepian sungai bening keperak-perakan,
di tengah-tengah pepohonan hijau nan rindang, ketika, kau tahu, sebuah tangan
merentang ke arahku. Sang tangan memegang sebuah pisau. Sang pisau mencabut
akar-akarku, menguliti seluruh batang tubuhku, memisah-misahkan seluruh
persendianku, menumbangkanku, membelah kepalaku, lalu memenggalnya. Aku segera
dikirim ke sang tinta, dan harus mengabdi sebagai pelayan hina-dina. Janganlah
kau menambah parah luka-lukaku. Pergilah ke sang tangan dan bertanyalah kepadanya."
Sang fakir memandang sang tangan, lalu bertanya: "Benarkah itu?
Apakah kau demikian kejamnya?"
"Jangan marah dulu, Tuan," jawab sang tangan. "Aku
hanyalah segumpal daging, tulang, dan darah. Pernahkah Tuan melihat sekerat
daging memiliki kekuatan? Dapatkah sebentuk tubuh bergerak dengan sendirinya? Aku hanyalah alat yang digunakan
oleh sesuatu yang disebut vitalitas. Dia menunggangiku dan memaksaku
berputar-putar. Tuan tahu, orang mati mempunyai tangan tetapi tidak dapat
menggunakannya karena vitalitas telah meninggalkannya. Mengapa aku, sebuah
alat, mesti dipersalahkan? Pergilah Tuan ke sang vitalitas. Tanyakanlah
kepadanya mengapa dia menggunakanku."
"Kau benar," kata sang fakir, kemudian bertanya kepada sang
vitalitas.
"Acap kali pengecam sendiri mendapat kecaman, sementara yang
dikecam terbukti tak bersalah. Bagaimana kau tahu bahwa aku telah memaksa sang
tangan? Aku sudah berada di sana sebelum dia bergerak, dan tidak pernah berpikir
untuk menggerakkannya. Aku tidak sadar dan pemirsa pun tidak sadar akan diriku.
Tiba-tiba suatu agen datang kepadaku dan menggerakkanku. Aku tak punya cukup
kekuatan untuk melanggarnya ataupun kemauan untuk mematuhinya. Mengenai perkara
yang membuatmu menegurku, aku melakukannya sesuai dengan keinginannya. Aku tak
tahu siapa agen itu. Dia disebut sang kemauan dan aku hanya mengenal namanya.
Seandainya hal itu diserahkan kepadaku, kupikir aku tidak akan melakukan
apa-apa."
"Baiklah," lanjut sang fakir, "aku
akan mengajukan pertanyaan kepada sang kemauan, dan bertanya kepadanya mengapa
dia telah mempekerjakan secara paksa sang vitalitas yang menurut keinginannya
sendiri tidak akan melakukan sesuatu."
"Jangan dulu terlalu terburu-buru,"
pekik sang kemauan. "Sedapat mungkin aku akan mengajukan alasan yang cukup
memadai. Yang Mulia Pangeran, sang pikiran, mengutus seorang duta besarnya yang
bernama pengetahuan, yang menyampaikan pesannya kepadaku melalui nalar,
berbunyi: 'Bangkitlah, gerakkanlah vitalitas.' Aku terpaksa melakukannya, karena aku harus
patuh kepada sang pengetahuan dan sang nalar, tetapi aku tak tahu apa
alasannya. Selama tidak menerima perintah aku bahagia, tetapi begitu ada
perintah aku tak berani melanggarnya. Apakah sang raja seorang penguasa yang
adil ataukah zalim, aku harus patuh kepadanya. Aku telah bersumpah, selama sang
raja ragu-ragu atau masih merenungkan suatu masalah, maka aku hanya diam saja,
siap melayani; pegitu perintah sang raja disampaikan kepadaku, maka rasa patuh
yang memang sudah menjadi pembawaanku akan segera memaksaku untuk menggerakkan
sang vitalitas. Maka janganlah Tuan mengecamku. Sebaiknya pergilah Tuan
menghadap sang pengetahuan dan mendapatkan keterangan di sana."
"Anda benar," setuju sang fakir, lalu dia meneruskan
perjalanan, menghadap kepada sang pikiran dan para duta besarnya, yaitu
pengetahuan dan nalar, untuk meminta penjelasan.
Sang nalar memohon maaf dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah
lampu, dan dia tidak mengetahui siapa yang menyalakannya. Sang pikiran mengaku
tidak bersalah dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah tabula rasa.
Sedangkan sang pengetahuan bersikeras menyebut dirinya hanyalah sebuah
prasasti, yang baru bisa digoreskan setelah lampu sang nalar menyala. Maka dia
tidak dapat dianggap sebagai penulis prasasti tersebut, yang kemungkinan
merupakan hasil goresan sebuah pena tertentu yang tidak terlihat.
Sang fakir kemudian menjadi bingung, tetapi setelah berhasil menguasai
diri lagi, dia berkata kepada sang pengetahuan: "Aku sedang melakukan
perjalanan mencari penerangan.
Kepada siapa pun aku menghadap dan menanyakan alasan, aku selalu
disuruh menghadap yang lainnya. Meskipun demikian, aku merasa senang dalam
pengejaranku ini, karena semuanya memberikan alasan yang masuk akal. Tetapi,
Tuan Pengetahuan, maafkanlah aku kalau kukatakan bahwa jawaban Tuan tidak
memuaskanku. Tuan mengatakan bahwa Tuan hanyalah sebuah prasasti yang
digoreskan oleh sang pena. Aku telah berjumpa dengan sang pena, sang tinta,
dan sang kertas. Mereka masing masing terbuat dari buluh, campuran warna hitam,
dan kayu serta besi. Dan aku pun telah melihat lampu-lampu yang dinyalakan oleh
sang api. Tetapi di sini aku tidak melihat satu pun dari mereka itu, walaupun
Tuan berbicara tentang kertas, lampu, pena, dan prasasti. Tentunya Tuan tidak
sedang bermain-main denganku, bukan?"
"Tentu, tidak," timpal sang pengetahuan.
"Aku berbicara dengan sebenar-benarnya. Tetapi aku dapat memahami
kesulitanmu. Bekal yang kau bawa hanya sedikit, kuda yang kau tunggangi sudah
letih, dan perjalanan yang kau tempuh cukup jauh dan berbahaya. Hentikanlah
perjalananmu ini, karena aku khawatir kau tidak akan dapat berhasil. Tetapi,
bagaimanapun, jika kau sudah "siap menanggung risiko, maka dengarkanlah.
Perjalananmu mencakup tiga wilayah. Pertama, alam dunia. Benda-benda di
dalamnya adalah pena, tinta, kertas, tangan dan sebagainya, seperti yang telah
kau lihat tadi. Yang kedua adalah alam langit, yang akan mulai kau masuki bila
kau telah meninggalkanku. Di sana aku akan menjumpai puncak-puncak awan yang
padat, sungai-sungai yang luas dan dalam, dan gunung-gunung yang menjulang
tinggi tak terdaki, yang aku tak tahu bagaimana kau akan mampu mendakinya. Di
antara kedua alam ini terdapat alam ketiga sebagai wilayah perantara, yang
disebut alam gejala. Kau telah melampaui tiga lapis di antaranya, yaitu
vitalitas, kemauan, dan pengetahuan. Dengan tamsil dapat dikatakan: orang yang
sedang berjalan, ia masih berada di alam dunia: jika ia sedang berlayar pada
sebuah kapal maka ia mulai memasuki alam gejala: jika ia meninggalkan kapal
tersebut lalu berenang dan berjalan di atas air, maka ia telah dianggap berada
di alam langit. Jika kau belum tahu bagaimana caranya berenang, maka
kembalilah. Sebab daerah perairan dari alam langit itu bermula dari saat kau
muiai dapat melihat pena yang menulis pada lembaran hati. Jika kau bukan orang
yang diseru: Wahai iman yang kecil, mengapa kau ragu-ragu?1) maka bersiap-siaplah. Sebab dengan iman kau
tidak hanya akan berjalan di atas lautan tetapi kau akan terbang di
angkasa."
Sang fakir kelana kemudian
terdiam sejenak, lalu memandang sang pengetahuan dan mulai berkata: "Aku
sedang mengalami kesulitan. Bahaya-bahaya yang menghadang pada jalan yang telah
Tuan gambarkan itu membuat hatiku kecut, dan aku tak tahu apakah aku cukup kuat
menghadapinya dan berhasil pada akhirnya."
"Ada ujian untuk mengetahui kekuatanmu,"
kata sang pengetahuan. "Bukalah matamu dan pusatkan pandanganmu padaku.
Jika kau dapat melihat pena yang menulis pada sang hati, kukira kau akan mampu
melangkah lebih jauh lagi. Sebab orang yang mampu menyeberangi alam gejala,
lalu ia mengetuk pintu alam langit, maka ia akan dapat melihat pena yang
menulis pada hati."
Sang fakir mengikuti
nasihat tersebut, tetapi ia tidak dapat melihat pena itu, karena pandangannya
tentang pena adalah tidak lain dari pena yang terbuat dari buluh atau kayu.
Lalu sang pengetahuan memperhatikan dirinya sambil berkata: "Di sanalah
kesulitannya. Tidakkah kau tahu bahwa perabot rumah tangga sebuah istana.
menunjukkan kedudukan pemiliknya? Tiada satu pun di alam semesta ini menyerupai Allah,2) oleh
karenanya sifat-sifat-Nya pun transendental. Dia tidak berbentuk dan
tidak pula menempati ruangan. Tangan-Nya bukanlah segumpal daging, tulang dan
darah. Maka pena-Nya pun tidaklah terbuat dari buluh ataupun kayu. Tulisan-Nya
bukan lah dari tinta yang keluar dari benda tajam dan runcing. Namun banyak
orang dengan bodohnya tetap berpegang pada pandangan yang menyamakan Dia dengan
manusia. Hanya sedikit yang menghargai konsepsi yang secara transendental murni
tentang Dia, dan percaya bahwa Dia tidak hanya berada di atas segala batas
kebendaan tetapi bahkan berada di atas segala batas perumpamaan. Tampaknya kau
masih terombang-ambing di antara dua pandangan, karena di satu pihak kau
beranggapan bahwa Allah itu tidak bersifat kebendaan, bahwa kata-kata-Nya tidak
bersuara dan tidak berbentuk; di lain pihak kau tak dapat meningkat pada
konsepsi transendental tentang tangan, pena dan kertas-Nya. Apakah kau kira
makna dari Hadis, 'Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai Citra-Nya'
itu terbatas pada wajah manusia yang tampak saja? Tentu tidak; sifat batin yang dapat dilihat
dari pandangan batin sajalah sesungguhnya yang dapat disebut citra Allah.3) Namun demikian, dengarkanlah: Engkau kini
berada pada gunung yang suci, tempat suara gaib dari hutan yang terbakar
berkata: 'Aku adalah Aku;4) sesunqguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu.5)
Sang fakir, yang sedang mendengarkan dengan terkagumkagum itu,
tiba-tiba melihat seolah-olah ada seberkas sinar, kemudian tampaklah pena yang
bekerja menuliskan pada hati, tiada berbentuk. "Beribu-ribu terima kasih
kuucapkan kepadamu, wahai Pengetahuan, yang telah menyelamatkanku dari
kejatuhan ke dalam jurang kemusyrikan. Terima kasih kuucap kan dari lubuk hatiku yang
paling dalam. Aku telah menunda-nunda waktu, maka kini kuucapkan selamat
tinggal!" Kemudian sang fakir melanjutkan kembali perjalanannya. Berhenti
sejenak ketika melihat kehadiran sang pena yang tak tampak itu. Dengan sopan ia bertanya seperti
dahulu: "Kau sudah tahu jawabanku," jawab sang pena yang misterius
itu. "Kau tentunya tidak dapat melupakan jawaban yang diberikan kepadamu
oleh sang pena di alam bumi sana."
"Ya, aku masih ingat," jawab sang fakir, "tetapi
bagaimana mungkin jawabannya bisa sama, karena tidak ada kemiripan antara kamu
dengan sang pena yang di sana itu."
"Kalau demikian, tampaknya kau telah melupakan hadits:
'Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai citraNya'.
"Tidak, Tuan," sela sang fakir, "Aku telah
menghapalkannya." "Dan kau pun telah melupakan ayat suci Al-Quran:
'Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya:6)
"Tentu, tidak," seru sang fakir, "Aku dapat
mengulang-ulang seluruh isi Al-Quran di luar kepala."
"Ya, aku tahu, dan karena kini kau sudah memasuki pelataran suci
dari alam langit, maka aku pikir aku dapat dengan aman mengatakan bahwa
sesungguhnya kau telah mempelajari makna ayat-ayat tersebut dari sudut pandang
yang negatif. Namun sebenarnya ayat-ayat tersebut memiliki nilai positif juga,
dan harus digunakan sebagai sesuatu yang membangun pada peringkat ini7) Lanjutkanlah terus perjalananmu dan kau akan
memahami apa yang kumaksudkan."
Sang fakir memandangi dirinya dan menemukan dirinya itu memantulkan
sifat Tuhan Yang Maha Kuasa. Segera ia menyadari adanya kekuatan yang tersimpan
di balik pernyataan sang pena yang misterius itu, tetapi dengan dorongan sifat
ingin tahunya ia hampir saja mengajukan pertanyaan tentang Yang Maha Suci,
ketika suatu suara bagaikan halilintar yang memekakkan telinga terdengar dari
atas, berkumandang: "Ia tidak ditanya tentang perbuatannya, tetapi
perbuatannya itulah yang akan ditanya." Dengan diliputi keterkejutan, sang
fakir menundukkan kepalanya penuh khidmat tanpa sepatah kata pun.
Tangan Allah Yang Maha Pengasih merentang ke arah sang fakir yang tiada
berdaya itu; ke dalam telinganya dibisikkanlah nada-nada suara merdu merayu:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan menuju Kami. " (QS 29:64)
Setelah membuka kedua matanya, sang fakir mengangkat kepalanya dan
menghadapkan hatinya dengan penuh khusyuk dalam doa: "Mahasuci
Engkau, wahai Allah Yang Maha
Kuasa: segala puji bagi nama-Mu, wahai Tuhan seru sekalian alam! Mulai saat ini
aku tak akan lagi takut pada segala makhluk, kuserahkan seluruh kepercayaanku
kepada-Mu, ampunan-Mu adalah pelipur laraku, rahmat-Mu adalah tempatku
berlindung."
(Mudah-mudahan, dengan mengingat keesaan Allah, masalah tersebut akan
menjadi jelas).
BERSAMBUNG.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar