Menjadi guru kreatif menjadi keinginan guru yang mengajar dengan hati. Saya ingat kata-kata rekan saya yang mengatakan ‘dimana ada kemauan disitu ada tantangan. Tantangan apa
saja yang bisa seorang guru hadapi jika ia ingin menjadi seorang guru
yang kreatif? Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin akan
dihadapi;
- Berani memperkuat motivasi
Bisa dikatakan hal inilah yang banyak membuat banyak guru memilih
untuk menjadi guru yang biasa saja. Guru biasa yang saya maksud adalah
guru yang hanya memaknai kehadirannya dikelas sebagai rutinitas sambil
menunggu gajian. Persoalan motivasi adalah persoalan niat yang datang
dari dalam lubuk hati terdalam. Maknai pekerjaan kita sebagai pengajar
dan pendidik sebagai panggilan dipastikan motivasi kita akan terus
menguat dan menjadi bahan bakar untuk menjadi guru yang kreatif.
Sebaliknya ketiadaan motivasi bisa membuat seorang guru lemah bahkan
terpikir untuk beralih profesi. Motivasi untuk menjadi guru yang kreatif
bisa datang dari rekan sekerja, atasan atau dari siswa kita di kelas.
Namun motivasi yang terbaik datang dari diri sendiri.
- Menganggap biaya itu penting namun bukan yang paling penting
“Jika tidak ada dana, mana mungkin seorang guru jadi guru yang
kreatif”, demikian kata-kata yang sering saya dengar saat berbicara soal
kreativitas di kalangan guru. Dana memang penting namun itu bukan
segala-galanya. Jika seorang guru mengartikan dana adalah uang yang bisa
ia gunakan untuk membeli ini dan itu sebagai kelengkapan mengajar agar
menjadi lebih kreatif, ia bisa benar bisa juga keliru. Banyak guru
kreatif yang saya kenal menggunakan barang bekas ketika mengajar atau
merawat kembali alat-alat mengajarnya agar bisa digunakan dilain waktu.
Ada juga rekan saya bersikap (maaf) seperti pemulung yang senangnya
mengumpulkan ini dan itu (barang bekas) hanya untuk bisa dipakai saat
mengajar. Untuk anda ketahui bahkan di sekolah Internasional yang
berkelimpahan dana, mereka selalu memakai barang daur ulang dengan
alasan selain menghemat juga karena alasan lingkungan. Kreativitas
memang perlu dana, namun kreativitas tidak mesti mahal. Banyak guru
yang karena keterbatasan dana malah menjadi sangat kreatif.
- Merubah cara pandang (cara berpikir)
Menjadi guru kreatif itu mesti punya title, mesti punya anggaran yang
banyak, mesti banyak anak-anak yang pintar di kelasnya dll. Pernyataan
tadi lahir dari cara memandang yang keliru soal menjadi guru kreatif.
Pernyataan tersebut benar jika menjadi guru kreatif adalah masalah
menghasilkan ‘produk’ pengajaran yang bagus, atau yang ‘wah’. Hal
seperti inilah yang mesti diluruskan. Seorang guru disebut kreatif
karena ia menghargai proses yang terjadi di kelasnya. Artinya setelah ia
rencanakan pembelajaran di kelasnya, menggunakan sumber pembelajaran
sesuai yang dipunyai oleh sekolahnya, tahap berikutnya adalah melihat
siswanya berproses. Ketika proses yang terjadi membuat siswanya jadi
senang belajar, senang bertanya, percaya diri serta beragam sikap
lainnya yang berguna bagi masa depan siswanya, saat itulah seorang guru
berhasil menjadi seorang guru kreatif.
- Berprasangka baik pada siswa.
Pasti banyak dari anda para guru yang mengernyitkan dahi ketika
membaca kata-kata diatas. Berprasangka baik memang menjadi bagian dari
tugas guru, namun banyak dari guru yang masih mengatakan, “aah murid
saya semua anak desa, untuk apa saya mengajar dengan kreatif?” atau
“murid-murid saya tahun ini tidak seperti tahun lalu, mereka
nakal-nakal, jadi untuk apa mengajar kreatif?” Sayang sekali jika kita
sebagai guru sudah merendahkan potensi siswa. Potensi terbaik ada di
setiap siswa, tinggal bagaimana cara kita sebagai guru membangkitkan dan
membesarkan potensi itu. Caranya bisa dimulai dengan berprasangka baik
pada siswa, karena saya yakin siswa yang diperlakukan dengan prasangka
baik akan membalas dengan memberikan support pada guru yang mengajar
mereka dengan cara supportif dan aktif saat pelajaran. Kedua hal
tersebut adalah prasayarat seorang guru bisa mewujudkan ide-ide
kreatifnya saat mengajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar