Dengan seketika langit
berubah menjadi gelap, suara petir menyambar bersahut sahutan, mereka mulai
bingung.
"Ada apa
ini??", tanya mereka, rasa takut mulai merayap dibenak masing-masing,
bumipun mulai bergetar seperti ditimpa kedinginan.
"Kenapa ini??, Ada
apa ini??", mereka hanya bisa bertanya dan terus bertanya. Sesekali
bunyi kilat mengagetkan mereka. Langit semakin gelap, awanpun berkejaran tak
tentu arah, diselingi suara gemuruh angin serta kilatan petir yang semakin
mnjadi-jadi. Mereka berlari tak tentu arah, semakin jauh mereka berlari
putaran bumi yang sudah tidak pada porosnya mengombang-ambingkan badan mereka
kembali ketempat semula.
Hujan turun dengan
sangat derasnya. Air laut menjadi goncang, llu kemudian tumpah menenggelamkan
segenap permukaan bumi. Jagat raya seakan melepas lelah beban mereka yang
begitu berat. Mereka menjerit, meraung, berteriak minta tolong. Jeritan
mereka menyayat pilu hingga terdengar merobek gendang telinganya.
Saat itu ia kaget bukan
main, sudah yang ketiga kalinya ia bermimpi seperti itu. Nafasnya tidak
teratur, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sesegera mungkin ia mengucapkan
kalimah tasbih, ia bersyukur ini hanya sekedar mimpi, bunga tidur yang
menurut sebagian orang tidak perlu diambil pusing.
Tapi ia maasih saja
kepikiran, mimpinya itu tidak seperti mimpi-mimpi biasa yang ia alami.
Seandainya saja didalam mimpi itu ia laksana seorang raja dengan permaisuri
cantik di sampingnya, serta selir-selir yang senantiasa melayani
keinginannya, mungkin ia akan menghiraukan dan menganggapnya sekedar bunga
tidur saja, toh, walaupun ia ceritakan hanya akan menjadi bahan tertawaan
bagi yang mendengarnya.
Tapi mimpi itu seperti
memperingatkan dirinya, menkut-nakuti kan akibat dari perbuatannya. Apakah
mungkin karena kelakuaannya selama ini??, ahh.. ini tidak adil baginya, toh,
ia juga berhak melakukan itu sama seperti mereka, iapun merasa mampu untuk
melakukannya walaupun dengan statusnya yang akhir-akhir ini terasa menjadi
beban dipundaknya.
######
Sebagai seorang panutan
umat, ia seakan dituntut untuk senantiasa bersikap baik. Menjadi teladan yang
baik, serta penunjuk jalan yang lurus bagi pengikutnya. Sejak kecil ia sudah
dididik seperti itu hingga seperti sekarang ia menjadi besar dan dimuliakan.
Tapi akhir-akhir ini i
mulai bingung. Ia kelihatan serba salah, ia muli bosan dengan statusnya yang
yidak membuat keadaannya berubah dan begitu-begitu saja. Ia ingin seperti
mereka, ia ingin terjun langsung dan ikut bermain bersama mereka yang
cenderung bermain kotor. Ia tidk peduli, toh, dengan statusnya itu ia bisa
menjadikannya lahan yang menguntungkan untuk diambil manfaatnya.
"Apakah ini
benar-benar peringtan Tuhan..???".
Ia masih tidak percaya
dan tidak mau dianggap sebagai satu-satunya tersangka jika memang itu benar.
Diluar sana masih banyak berkeliaran orang-orang yang tidak tahu diri,
orang-orang yang merasa paling benar sendiri dan sudah diluar batas.
Orang-orang kecil yang
masih saja menuntutdan terus menuntut. Mengorbankan harga diri dan perasaan
mereka sampai titik darah penghabisan. Si besarpun tetap bertindak sesukanya,
kesewenang-wenangannya terhadap si kecil sudah menjadi tontonan sehari-hari.
Ia tidak segan-segan dan tanpa rasa malu dengan kelakuan dan ambisinya.
Begitu juga dengan
mereka yang dengan keilmuannya sudah merasa paling pintar. Mereka terus
berbangga diri dengan kecerdasan otaknya yang diatas rata-rata. Mereka
disibukkan dengan pemikiran-pemikiraan serta penelitian-penelitian layaknya
mujtahid kesiangan. Bagi mereka akal diatas segala-galanya, dengan akal
mereka menganggap layaknya seorang utusan, bahkan sampai menafikan keberadaan
Tuhan.
Lain halnya dengan
mereka orang-orang terkenal. Mereka selalu menjadi sorotan dan pusat
perhatian, mereka dituntut untuk selalu tampil sempurna, tampil glamour dan
penuh gengsi. Hidupnya selalu diselimuti intrik dan persaingan, segala cara
mereka halalkan, menebar aurat, melabrak norm-norma serta saling jatuh-menjatuhkan
demi tuntutan jaman dan karir mereka.
"kenapa tidak
mereka saja yang mengalami mimpi itu..??", ucapnya dengan nada protes.
Kenapa harus
dirinya..???, kanapa mimpi itu malah menjadi beban baginya..??, beban yang
teramat berat yang enggan untuk ia pikul.
######
Dulu sewaktu ia masih
bergelut dengan pendidikannya, ia seringkali mendengar ayat-ayat Tuhan
dibacakan. Khususnya tentang penciptaan semua makhluk yang telah ditentukan
sesuai dengan fungsi dan kegunaannya masing-masing. Seperti bumi yang Tuhan
hamparkan bagi manusia untuk diambil manfaatnya sebagai tempat berteduh,
bercocok tanam, dan melakukan segala macam aktivitas kehidupannya, serta
hasil dari bumi itu sendiri yang melimpah. Begitupun gunung-gunung sebagai
pasak bagi bumi agar tetap seimbang dan kokoh laksana paku sebagai penguat
bagi kayu untuk makhluk-makhluk agar hidup nyaman dan tentram. Lalu kemudian
samudera yang luas agar bisa kita nikmati kekayaan yang ada di dalamnya,
serta keindahannya yang tiada tara.
Ia kemudian
membanding-bandingkannya dengan berbagai macam musibah dan bencana alam yang
seringkali terjadi akhir-akhir ini, ia berpikir dengan penuh tanya.
"Ada apa kini
dengan bumi..???, kenapa kini ia seringkali membuat penghuninya resah, sedih
dan pilu dirundung duka nestapa serta kehilangan sesuatu yang amat
berharga..???, kenapa juga gunung-gunung itu yang seringkali membuat perasaan
selalu was-was, membuat khawatir dan takut dengan gemuruhnya, goncangannya
yang tiba-tiba membuat penghuninya lari pontang-panting karenanya...??? Ada
apa dengan lautan yang kini sudah tidak lagi ramah..???, menumpahkan airnya
secara tiba-tiba, menghanyutkan apa yang ada disekitarnya lalu kemudian
menenggelamkannya...??".
"Ada apa dengan
mereka..??, kenapa mereka yang tidak dibekali akal seakan memunyai akal untuk
membuat manusia hilng akal..?? Bukankah mereka hanya tunduk dan patuh kepada
Tuhan..?? Bukankah Tuhan yang mempunyai hak penuh memerintahkan mereka agar
keluar dari ketentuan dn fungsinya..??? lantas apa maksud Tuhan memerintahkan
mereka seperti itu..???".
"Bumi yang
tiba-tiba muntah, mengeluarkan isi yang ada didalam perutnya. Ia mual dengan
tingkah polah penghuninya, ia merasa gerah dn marah, saking geramnya sampai
tubuhnya bergetar membuat penghuninya kebingungan. Sama halnya gunung-gunung,
iapun merasa muak melihat penghuninya yang sudh melampaui batas, gemuruh
goncngannya menndakan bahwa ia sedang marah. Lautanpun kini tidak lagi
menjadi tempat yang nyaman, amukan airnya adalah bentuk luapan kekesalannya.
Kenyataan ini membuat
ia bimbang, apakah memng karena ulah perbuatan manusia yang menyebabkan semua
ini terjadi..??, termasuk dirinya yang menjadi salah satu tersangkanya bahkan
sebagai biang penyebab alias tersangka utamanya.
Sungguh ia tidak tahu
malu dengan apa yang telah ia perbuat. Sebagai duta Tuhan dn hamba yang
diamanahi TUhan, ia harusnya sadar akan hal itu, bukan malah menjadi pembelot
dan melakukan makar karena ambisi dan rasa ketidak puasannya itu. Amanah itu
anugerah Tuhan sebagai pengemban agamanya, jarang sekali dan hanya
orang-orang tertentu saja yang dipasrahi itu oleh-Nya, walaupun ada sebagian
yang mendapatkannya dengan cara legal, dan menganggap hal itu anugerah Tuahn.
Apakah ia menganggap
sistem Tuhan tak ubahnya sistem manusia..?? yang apabila orang-orang
kepercayaannya melakukan tidak kejahatan mereka akan mendapat pemakluman dari
tuannya..??? ia betul-betul nafi kalau menganggap seperti itu. Atau mungkin
karena pemahamannya yang masih setengah hati..???. Maka tak heran, jika mimpi
itu akan menjadi mimpi-mimpi yang datang tidak hanya dengan tidur, tapi
tampak secara nyata menjadi mimpi-mimpi buruk yang setiap saat meminta tumbal
nyawa mereka sebagai ganjarannya.
######
Ia sudah berungkali
diperingatkan, bahkan hampir setiap hari peringatan itu seringkali menyapanya.
Tapi toh, itu semua ia anggap seperti lalat yang hinggap dihidungnya lalu
seketika ia menghalaunya.
Iapun tidak perlu
diceritakan tentang kisah-kisah bagaimana peringatan itu berubah menjadi murka
Tuhan yang menimpa umat-umat terdahulu. Ia sudah kenyang mendengar semua itu,
tentang bagaimana ditenggelamkannya fir'aun dengan bala tentaranya yang gagah
berani karena mengaku-ngku dirinya Tuhan. Begitu juga Qarun, yang Tuhan
lenyapkan dengan sekejap mata karena kesombongan dan keangkuhannya. Atau
Namrud yng tidak berdaya dan mati mengenskan oleh makhluk sekecil dan selemah
nyamuk. Atau sang pendusta dunia akhirat Musailamah Al-Khaddab yang Tuhan cap
untuk selama-lamanya karena menagku dirinya Nabi. Atau cerita-cerita lainnya
yang mungkin kedengarannya lebih seram dan mengenaskan yng itu semua tidak
bisa merubah anggapannnya adan hanya sekedar cerita sebelum ia beranjak
tidur.
Ia sudah terbiasa
mendengar kisah-kisah seperti itu. Cerita-cerita itu tak ubahnya dongeng yang
semestinya untuk anak-anak kecil yang gampang sekali dibodohi. Ia merasa
sudah terlalu tua untuk mempercayai dongeng-dongeng itu, akalnya tidak mudah
menerima dan akan melakukan protes apabila hal semacam itu menjadi beban pikirannya.
######
Tapi kini, ia malah
menajdi serba salah. Disatu sisi ia seakan dituntut untuk selalu selaras
dengan jaman, jaman yang menurutnya tidak pernah mengenal kompromi yang
seringkali mengesampingkan status, dan eksistensinya. Dan dilain sisi mau
tidak mau ia harus mempercayai sekmpulan cerita pengantar tidur yng tampaknya
kini ad benarnya. Ia berpikir kisah-kisah itu adalah wujud kasih sayang Tuhan
sebagai peringatan atau sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya dikemudian
hari. Dan ia menilai perubahan jaman tidak harus membuat eksistensinya
berubah. Jaman tidak berhak memperbudak dirinya, karena pada hakikatnya Tuhan
menciptakan akal untuk manusia, agar ia bisa merubah jaman tersebut menjadi
sebuah peradaban yang lebih baik sesuai dengan batas kemampuan dan
ketentuannya.
Dan sekarang, ia harus
bangun dari tidurnya itu, selagi Tuhan masih terus mengasihinya. Tentu ia
tidak akan mau jika kadar peringatan Tuhan sama dengan Peringatan-Nya kepada
umat-umat terdahulu, yang apabila mereka ingkar maka tiada ampun azab yang
besar akan membumi hanguskan mereka dengan seketika. Mungkin bagi ia cukup
tsunami saja yang memperingatkannya, lahar merapi, gempa bumi, banjir bandang
serta semburan lumpur panas yang akan senantiasa menegurnya jika ia lalai.
Maka lupakanlah saja
mimpi-mimpi itu, anggap saja mimpi-mimpi itu sekedar bunga tidur yang secara
kebetulan berbunga bangkai.
|
Jumat, 10 Februari 2012
Mimpi Itu Sekedar Bunga Bangkai
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar