Jumat, 10 Februari 2012

Mimpi Itu Sekedar Bunga Bangkai

   Dengan seketika langit berubah menjadi gelap, suara petir menyambar bersahut sahutan, mereka mulai bingung.
     "Ada apa ini??", tanya mereka, rasa takut mulai merayap dibenak masing-masing, bumipun mulai bergetar seperti ditimpa kedinginan.
     "Kenapa ini??, Ada apa ini??", mereka hanya bisa bertanya dan terus bertanya. Sesekali bunyi kilat mengagetkan mereka. Langit semakin gelap, awanpun berkejaran tak tentu arah, diselingi suara gemuruh angin serta kilatan petir yang semakin mnjadi-jadi. Mereka berlari tak tentu arah, semakin jauh mereka berlari putaran bumi yang sudah tidak pada porosnya mengombang-ambingkan badan mereka kembali ketempat semula.
     Hujan turun dengan sangat derasnya. Air laut menjadi goncang, llu kemudian tumpah menenggelamkan segenap permukaan bumi. Jagat raya seakan melepas lelah beban mereka yang begitu berat. Mereka menjerit, meraung, berteriak minta tolong. Jeritan mereka menyayat pilu hingga terdengar merobek gendang telinganya.
     Saat itu ia kaget bukan main, sudah yang ketiga kalinya ia bermimpi seperti itu. Nafasnya tidak teratur, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sesegera mungkin ia mengucapkan kalimah tasbih, ia bersyukur ini hanya sekedar mimpi, bunga tidur yang menurut sebagian orang tidak perlu diambil pusing.
     Tapi ia maasih saja kepikiran, mimpinya itu tidak seperti mimpi-mimpi biasa yang ia alami. Seandainya saja didalam mimpi itu ia laksana seorang raja dengan permaisuri cantik di sampingnya, serta selir-selir yang senantiasa melayani keinginannya, mungkin ia akan menghiraukan dan menganggapnya sekedar bunga tidur saja, toh, walaupun ia ceritakan hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi yang mendengarnya.
     Tapi mimpi itu seperti memperingatkan dirinya, menkut-nakuti kan akibat dari perbuatannya. Apakah mungkin karena kelakuaannya selama ini??, ahh.. ini tidak adil baginya, toh, ia juga berhak melakukan itu sama seperti mereka, iapun merasa mampu untuk melakukannya walaupun dengan statusnya yang akhir-akhir ini terasa menjadi beban dipundaknya.
######
     Sebagai seorang panutan umat, ia seakan dituntut untuk senantiasa bersikap baik. Menjadi teladan yang baik, serta penunjuk jalan yang lurus bagi pengikutnya. Sejak kecil ia sudah dididik seperti itu hingga seperti sekarang ia menjadi besar dan dimuliakan.
     Tapi akhir-akhir ini i mulai bingung. Ia kelihatan serba salah, ia muli bosan dengan statusnya yang yidak membuat keadaannya berubah dan begitu-begitu saja. Ia ingin seperti mereka, ia ingin terjun langsung dan ikut bermain bersama mereka yang cenderung bermain kotor. Ia tidk peduli, toh, dengan statusnya itu ia bisa menjadikannya lahan yang menguntungkan untuk diambil manfaatnya.
     "Apakah ini benar-benar peringtan Tuhan..???".
     Ia masih tidak percaya dan tidak mau dianggap sebagai satu-satunya tersangka jika memang itu benar. Diluar sana masih banyak berkeliaran orang-orang yang tidak tahu diri, orang-orang yang merasa paling benar sendiri dan sudah diluar batas.
     Orang-orang kecil yang masih saja menuntutdan terus menuntut. Mengorbankan harga diri dan perasaan mereka sampai titik darah penghabisan. Si besarpun tetap bertindak sesukanya, kesewenang-wenangannya terhadap si kecil sudah menjadi tontonan sehari-hari. Ia tidak segan-segan dan tanpa rasa malu dengan kelakuan dan ambisinya.
     Begitu juga dengan mereka yang dengan keilmuannya sudah merasa paling pintar. Mereka terus berbangga diri dengan kecerdasan otaknya yang diatas rata-rata. Mereka disibukkan dengan pemikiran-pemikiraan serta penelitian-penelitian layaknya mujtahid kesiangan. Bagi mereka akal diatas segala-galanya, dengan akal mereka menganggap layaknya seorang utusan, bahkan sampai menafikan keberadaan Tuhan.
     Lain halnya dengan mereka orang-orang terkenal. Mereka selalu menjadi sorotan dan pusat perhatian, mereka dituntut untuk selalu tampil sempurna, tampil glamour dan penuh gengsi. Hidupnya selalu diselimuti intrik dan persaingan, segala cara mereka halalkan, menebar aurat, melabrak norm-norma serta saling jatuh-menjatuhkan demi tuntutan jaman dan karir mereka.
     "kenapa tidak mereka saja yang mengalami mimpi itu..??", ucapnya dengan nada protes.
     Kenapa harus dirinya..???, kanapa mimpi itu malah menjadi beban baginya..??, beban yang teramat berat yang enggan untuk ia pikul.
######
     Dulu sewaktu ia masih bergelut dengan pendidikannya, ia seringkali mendengar ayat-ayat Tuhan dibacakan. Khususnya tentang penciptaan semua makhluk yang telah ditentukan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya masing-masing. Seperti bumi yang Tuhan hamparkan bagi manusia untuk diambil manfaatnya sebagai tempat berteduh, bercocok tanam, dan melakukan segala macam aktivitas kehidupannya, serta hasil dari bumi itu sendiri yang melimpah. Begitupun gunung-gunung sebagai pasak bagi bumi agar tetap seimbang dan kokoh laksana paku sebagai penguat bagi kayu untuk makhluk-makhluk agar hidup nyaman dan tentram. Lalu kemudian samudera yang luas agar bisa kita nikmati kekayaan yang ada di dalamnya, serta keindahannya yang tiada tara.
     Ia kemudian membanding-bandingkannya dengan berbagai macam musibah dan bencana alam yang seringkali terjadi akhir-akhir ini, ia berpikir dengan penuh tanya.
     "Ada apa kini dengan bumi..???, kenapa kini ia seringkali membuat penghuninya resah, sedih dan pilu dirundung duka nestapa serta kehilangan sesuatu yang amat berharga..???, kenapa juga gunung-gunung itu yang seringkali membuat perasaan selalu was-was, membuat khawatir dan takut dengan gemuruhnya, goncangannya yang tiba-tiba membuat penghuninya lari pontang-panting karenanya...??? Ada apa dengan lautan yang kini sudah tidak lagi ramah..???, menumpahkan airnya secara tiba-tiba, menghanyutkan apa yang ada disekitarnya lalu kemudian menenggelamkannya...??".
     "Ada apa dengan mereka..??, kenapa mereka yang tidak dibekali akal seakan memunyai akal untuk membuat manusia hilng akal..?? Bukankah mereka hanya tunduk dan patuh kepada Tuhan..?? Bukankah Tuhan yang mempunyai hak penuh memerintahkan mereka agar keluar dari ketentuan dn fungsinya..??? lantas apa maksud Tuhan memerintahkan mereka seperti itu..???".
     "Bumi yang tiba-tiba muntah, mengeluarkan isi yang ada didalam perutnya. Ia mual dengan tingkah polah penghuninya, ia merasa gerah dn marah, saking geramnya sampai tubuhnya bergetar membuat penghuninya kebingungan. Sama halnya gunung-gunung, iapun merasa muak melihat penghuninya yang sudh melampaui batas, gemuruh goncngannya menndakan bahwa ia sedang marah. Lautanpun kini tidak lagi menjadi tempat yang nyaman, amukan airnya adalah bentuk luapan kekesalannya.
     Kenyataan ini membuat ia bimbang, apakah memng karena ulah perbuatan manusia yang menyebabkan semua ini terjadi..??, termasuk dirinya yang menjadi salah satu tersangkanya bahkan sebagai biang penyebab alias tersangka utamanya.
     Sungguh ia tidak tahu malu dengan apa yang telah ia perbuat. Sebagai duta Tuhan dn hamba yang diamanahi TUhan, ia harusnya sadar akan hal itu, bukan malah menjadi pembelot dan melakukan makar karena ambisi dan rasa ketidak puasannya itu. Amanah itu anugerah Tuhan sebagai pengemban agamanya, jarang sekali dan hanya orang-orang tertentu saja yang dipasrahi itu oleh-Nya, walaupun ada sebagian yang mendapatkannya dengan cara legal, dan menganggap hal itu anugerah Tuahn.
     Apakah ia menganggap sistem Tuhan tak ubahnya sistem manusia..?? yang apabila orang-orang kepercayaannya melakukan tidak kejahatan mereka akan mendapat pemakluman dari tuannya..??? ia betul-betul nafi kalau menganggap seperti itu. Atau mungkin karena pemahamannya yang masih setengah hati..???. Maka tak heran, jika mimpi itu akan menjadi mimpi-mimpi yang datang tidak hanya dengan tidur, tapi tampak secara nyata menjadi mimpi-mimpi buruk yang setiap saat meminta tumbal nyawa mereka sebagai ganjarannya.
######
     Ia sudah berungkali diperingatkan, bahkan hampir setiap hari peringatan itu seringkali menyapanya. Tapi toh, itu semua ia anggap seperti lalat yang hinggap dihidungnya lalu seketika ia menghalaunya.
     Iapun tidak perlu diceritakan tentang kisah-kisah bagaimana peringatan itu berubah menjadi murka Tuhan yang menimpa umat-umat terdahulu. Ia sudah kenyang mendengar semua itu, tentang bagaimana ditenggelamkannya fir'aun dengan bala tentaranya yang gagah berani karena mengaku-ngku dirinya Tuhan. Begitu juga Qarun, yang Tuhan lenyapkan dengan sekejap mata karena kesombongan dan keangkuhannya. Atau Namrud yng tidak berdaya dan mati mengenskan oleh makhluk sekecil dan selemah nyamuk. Atau sang pendusta dunia akhirat Musailamah Al-Khaddab yang Tuhan cap untuk selama-lamanya karena menagku dirinya Nabi. Atau cerita-cerita lainnya yang mungkin kedengarannya lebih seram dan mengenaskan yng itu semua tidak bisa merubah anggapannnya adan hanya sekedar cerita sebelum ia beranjak tidur.
     Ia sudah terbiasa mendengar kisah-kisah seperti itu. Cerita-cerita itu tak ubahnya dongeng yang semestinya untuk anak-anak kecil yang gampang sekali dibodohi. Ia merasa sudah terlalu tua untuk mempercayai dongeng-dongeng itu, akalnya tidak mudah menerima dan akan melakukan protes apabila hal semacam itu menjadi beban pikirannya.
######
     Tapi kini, ia malah menajdi serba salah. Disatu sisi ia seakan dituntut untuk selalu selaras dengan jaman, jaman yang menurutnya tidak pernah mengenal kompromi yang seringkali mengesampingkan status, dan eksistensinya. Dan dilain sisi mau tidak mau ia harus mempercayai sekmpulan cerita pengantar tidur yng tampaknya kini ad benarnya. Ia berpikir kisah-kisah itu adalah wujud kasih sayang Tuhan sebagai peringatan atau sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya dikemudian hari. Dan ia menilai perubahan jaman tidak harus membuat eksistensinya berubah. Jaman tidak berhak memperbudak dirinya, karena pada hakikatnya Tuhan menciptakan akal untuk manusia, agar ia bisa merubah jaman tersebut menjadi sebuah peradaban yang lebih baik sesuai dengan batas kemampuan dan ketentuannya.
     Dan sekarang, ia harus bangun dari tidurnya itu, selagi Tuhan masih terus mengasihinya. Tentu ia tidak akan mau jika kadar peringatan Tuhan sama dengan Peringatan-Nya kepada umat-umat terdahulu, yang apabila mereka ingkar maka tiada ampun azab yang besar akan membumi hanguskan mereka dengan seketika. Mungkin bagi ia cukup tsunami saja yang memperingatkannya, lahar merapi, gempa bumi, banjir bandang serta semburan lumpur panas yang akan senantiasa menegurnya jika ia lalai.
     Maka lupakanlah saja mimpi-mimpi itu, anggap saja mimpi-mimpi itu sekedar bunga tidur yang secara kebetulan berbunga bangkai.
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar