Sebagai seorang guru, dalam keseharian ditangan kitalah
tanggung jawab untuk mengelola perilaku siswa. Baik atau buruk perilaku
siswa, tugas kita lah untuk merubah yang buruk dan memelihara hal yang
baik dari siswa. Dalam beberapa tahun terakhir saya sebagai guru saya
menemukan 2 resep yang bisa saya bagi dengan anda.
Tegas
Mohon bedakan tegas dan galak apalagi kejam, tegas berarti melakukan
kewenangan kita sebagai guru agar siswa mau mengikuti peraturan atau
disiplin yang telah digariskan di kelas dan di sekolah.
Tegas kepada perilaku siswa yang mengganggu iklim di kelas. Hal ini
penting karena kepentingan bersama di kelas adalah untuk belajar dan
mengajar.
Tegas kepada perilaku siswa bukan kepada siswanya. Jika kita tegas
kepada siswa yang terjadi maka hanya kepada siswa-siswi tertentu lah
kita akan tegas, dan bukan pada perilakunya. Tidak heran jika banyak
kelas yang didalamnya ada ‘trouble maker’ sebutan itu ada karena guru
tidak jeli kepada perubahan kecil ke arah lebih baik yang diperbuat oleh
siswa terlanjur mendapat cap.
Sabar
Sikap sabar diperlukan karena kita percaya bahwa siswa cepat atau
lambat akan berubah perilakunya buruknya. Banyak guru yang memilih
mendidik dengan hati dan bukan dengan amarah. Hal ini karena mereka
percaya bahwa apa yang mereka lihat dari siswa mereka sekarang belum
tentu menjadi hal yang kekal saat siswa sudah menjadi dewasa nanti.
Sabar juga bisa berarti doa, saat melihat perilaku yang kurang dari
siswa, jika yang kita lakukan adalah menyumpah dalam hati maka umpatan
kita malah akan menjadi kenyataan. Bersikap sabar juga bisa berarti
mendoakan yang terbaik bagi siswa, mendoakan perubahan sekecil apapun
itu dari siswa kita dikelas.
Sabar membuat hari-hari kita sebagai guru menjadi lebih ringan dan
lebih mudah. Sebaliknya jika kita tidak mempunyai kesabaran maka yang
terjadi dalam banyak kesempatan sebagai guru yang kita lakukan hanya
sibuk mengeluh dan mempertanyakan ‘kenapa’ dan ‘mengapa’ banyak sekali
kekurangan di kelas kita. Bayangkan, maka hari-hari kita akan diisi oleh
rasa pesimis dan lupa akan inovasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar