Minggu, 20 Januari 2013

bahan bimbel


MATERI BIMBINGAN BELAJAR SOSIOLOGI (SKL 1 – SKL 6)


SKL 1 SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU dan METODE
NO
KOMPETENSI
INDIKATOR
1
Menjelaskan sosiologi sebagai ilmu sosial
 Mendeskripsikan obyek kajian, kegunaan, metode atau ciri-ciri ilmu sosiologi
 Menjelaskan permasalahan sosial atau pemecahan masalah sosial
SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
A.   Pengertian Sosiologi
Ditinjau secara etimologis, istilah sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu socius dan logos. Socius berarti teman atau kawan, logos artinya kata atau berbicara. Jadi secara harfiah sosiologi berarti membicarakan atau memperbincangkan pergaulan hidup manusia. Pengertian tersebut akhirnya diperluas menjadi ilmu penegetahuan yang membahas dan mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.

B.   Sejarah Sosiologi
Sosiologi termasuk kelompok ilmu sosial, disebut juga ilmu kemasyarakatan dan masih tergolong muda dibanding dengan ilmu sosial yang ada. Beberapa faktor pendorong utama munculnya sosiologi adalah meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melarbelakangi kelahiran sosiologi adalah adanya krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker, misalnya mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan di bidang sosial poliyik. Perubahan berkenaan dengan adanya Marthin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, terjadinya Revolusi Industri pada abad ke 18 di Inggris serta terjadinya Revolusi sosial.
.      Sosiologi sebagai ilmu baru muncul pada abad ke 19 dipopulerkan oleh seorang filosof Prancis bernama Auguste Comte ( 1798-1853). Lahirnya sosiologi tercatat pada tahun 1842, tatkala Auguste Comte menerbitkan buku berjudul Course de Philosophie Positive. Dalam bukunya ia menerangkan bahwa pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan-urutan tertentu, yang kemudian akan sampai pada tahap terakhir yaitu tahap ilmiah. Pandangannya disebut Hukum kemajuan manusia atau “ hukum tiga jenjang “ yaitu Jenjang Teologi, Jenjang Metafisika dan Jenjang Positif. Karena jasanya, comte disebut Bapak Sosiologi karena ia yang pertama kali memakai istilah sosiologi.
Setengah abad setelah Herbert Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian masyarakat dalam bukunya berjudul Principles of Sosiology, istilah sosiologi menjadi lebih populer dan kemudian berkembang pesat pada abad ke 20 terutama di Prancis, Jerman dan Amerika Serikat.

C.   Objek Kajian Sosiologi
Objek kajian sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia tersebut didalam masyarakat .

D.   Definisi Sosiologi
1.    Selo Sumardjan dan Soeleman Soemardi : sosiologi atau ilmu kemasyarakatan ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses – proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur – unsur sosial pokok, yaitu kaidah kaidah sosial ( norma-norma sosial) lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok dan lapisan-lapirasn sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antar berbagai segi kehidupan bersama.
2.    Auguste Comte, sosiologi merupakan suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.

3.    Pitirim A. Sorokin
Sosiologi adalah imu yang mempelajari hal – hal sebagai berikut :
a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial misalnya gejala ekonomi dengan agama
b. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gelaja sosial dan gejala non sosial , misalnya gejala geografis dan biologis
c. Ciri-ciri umum dari semua gejala sosial
4.    William F. Oghburn dan Meyer F. Nimkof
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial
5.    Emile Durkheim
Sosiologi adalah suatu ilmu yaang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berfikir dan berperasaan yang berada diluar individu, mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan
6.    Max Weber
Sosiologi ialah suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Tindakan sosial adalh tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.
E.    Hakekat Sosiologi
Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar mengatakan sosiologi adalah ilmu sosial yang murni, abstrak, rasional dan empiris, bersifat umum serta berusaha mencari pengertian umum. Menurut pengertiannya, hakikat ilmu sosiologi adalah sebagai berikut:
a.     Sosiologi adalah ilmu sosial
b.    Sosioloi bukan disiplin ilmu normatif, melainkan disiplin ilmu kategoris, yang membatasi diri pada kejadian dewsa ini, bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi
c.     Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni ( pure science ) bukan ilmu pengetahuan terapan
d.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak, bukan ilmu pengetahuan konkret
e.     Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakekat, bentuk, isi dan struktur masyarakat manusia
f.     Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan
g.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinysosiologi mempelajari gejala umum dan selalu ada pada setiap interaksi antarmanusia

F.    Sosiologi sebagai Ilmu
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan ( knowledge ) yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran serta dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Sosiologi merupakan ilmu karena sistematis, objektif, menggunakan pemikiran dan knowledge. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.     Bersifat empriris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tdiak bersifat spekulatif, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hari observasi yang konkret di lapangan
b.    Bersifat teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hari observasi yang konkret di lapangan
c.     Bersifat komulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
d.    Bersifat nonetis, yang dipersoalkan dalam sosiologi bukanlah baik buruknya fakta tertentu akan tetapi menjelaskan fakta tersebut secara analitis


G.   Metode – Metode dalam Sosiologi

a. Metode kualitatif, mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka atau ukuran yang bersifat eksak. Metode ini meliputi metode historis, komparatif dan kombinasi historis komparatif serta case study
b. Metode kuantitatif, yaitu mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur menggunakan skala, indeks, tabel dan formula yang mempergunakan ilmu pasti atau matematika.

Metode lain yaitu:
a. Metode induktif, yaitu mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam lapangan lebih luas
b. Metode deduktif yaitu menggunakan proses sebaliknya, yaitu dimulai dari kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan khusus
c. Metode fungsionalisme adalah metode yang bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat.
H.   Peran Sosiolog
Beberapa profesi yang umum diisi oleh para sosiolog dalam masyarakat aalah sebagai berikut :
a. Ahli riset
b. Konsultan Kebijakan
c. Sosiolog klinis atau terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat . Dalam kedudukan seperti ini sosiolog bekerja sebagai ilmuwan terapan atau teknisi
d. Guru atau pendidik

I.     Manfaat Sosiologi
Sosiologi dapat bermanfaat dalam pembangunan, pemecahan masalah sosial, perencanaan sosial dan penelitian

J.     Masalah Sosial
Masalah sosial yang timbul akibat perkembangan iptek, industrialisasi dan urbanisasi apabila kita kelompokkan menjadi empat macam ( menurut Soerjono Soekanto ) :
a. Masalah yang berasal dari faktor ekonomi, misalnya kemiskinan, gelandangan, pengangguran
b. Masalah yang berasal dari faktor biologis, misalnya muntaber, demam berdarah
c. Masalah yang berasal dari faktor psikologis, misalnya bunuh diri, frustasi
d. Masalah yang berasal dari faktor kebudayaan misalnya kenakalan remaja, perceraian, seks pranikah, konflik keagamaan

Para ahli sosiologi menyusun ukuran-ukuran atau kriteria masalah sosial . Diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kriteria Utama , masalah sosial terjadi karena adanya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dalam suatu masyarakat dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan.
b. Sumber Masalah Sosial
c. Pihak Yang Menetapkan Masalah sosial
Kelompok-kelompok itu antara lain pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, dewan atau musyawarah masyarakat
d. Masalah Sosial Nyata dan Laten
Masalah sosial laten adalah masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat tetapi tidak diakui sebagai masalah, misalnya korupsi
e. Perhatian Masyarakat dan Masalah Sosial
Contoh masalah sosial antara lain kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga dan peperangan


Materi: Interaksi Sosial
SKL.2
Mendeskripsikan interaksi sosial sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat
Materi :
• Interaksi sosial
• Bentuk-bentuk interaksi

INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial berawal dari tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dipengaruhi atau untuk mempengaruhi orang lain
Ada empat tindakan sosial:
1.    tindakan sosial instrumental, yaitu kesesuaian tujuan dengan cara bertindak
2.    tindakan rasional berorientasi nilai, yaitu tindakan dengan memperhitungkan manfaat atau sesuai dengan nilai-nilai masyarakat, tujuan tidak diperhatikan
3.    tindakan tradisional, yaitu tindakan berdasarkan kebiasaan dalam masyarakat
4. tindakan afektif, yaitu tindakan berdasakan afeksi (perasaan) atau emosi
Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antar orang perorang, antara kelompok-kelompok dengan kelompok-kelompok lain maupun antara kelompok manusia dengan individu. Interaksi sosial karena pada dasarnya manusia memiliki naluri gregariousness (naluri untuk hidup bersama). Ciri interaksi adalah resiprokal yaitu adanya aksi dan reaksi

Faktor yang menjadi dasar proses interaksi:
1. Imitasi, yaitu tindakan meniru sikap, tindakan, tingkah laku atau penampilan fisik
2.    Sugesti, yaitu pemberian pengaruh dari satu pihak ke pihak lain sehingga pihak yang dipengaruhi bertindak tanpa berfikir panjang. Pemberi sugesti biasanya orang yang berwibawa, berpengaruh, kelompok mayoritas terhadap minoritas
3.    Identifikasi, yaitu kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain
4.    Simpati, yaitu proses dimana seseorang tertarik dengan pihak lawan

Sugesti yang mendalam akan melahirkan motivasi, yaitu dorongan yang diberikan individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lainnya sehingga individu atau kelompok yang diberi motivasi melaksanakan apa yang dimotivasikan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Perasaan simpati yang mendalam akan melahirkan empati, yaitu perasaan seolah-olah merasakan apa yang dialami oleh pihak lain yang diempatikannya.

Syarat interaksi yaitu kontak dan komunikasi
Kata kontak berasal dari con atau cum yang artinya bersama-sama dan kata tango yang artinya menyentuh. Jadi secara harfiah kontak berarti saling menyentuh. Tetapi yang terpenting dalam kontak adalah kedua belah pihak sadar akan kesadarannya sehingga saling memberikan tindakan atau tanggapan
Wujud kontak sosial yaitu
1. kontak antarindividu
2. kontak antar kelompok
3. kontak antara individu dan suatu kelompok
Dilihat dari langsung-tidaklangsung kontak dibedakan menjadi:
1.    kontak primer atau kontak langsung yaitu hubungan timbal balik yang terjadi secara langsung. Misalnya tatap muka, jabat tangan, saling melirik
2.    kontak sekunder, yaitu kontak sosial yang memerlukan pihak ketiga sebagai media untuk melakukan hubungan timbal balik. Misalnya Yanto meminta tolong Joko untuk mengajak Erna bergabung dalam kegiatan palang merah remaja.

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain. Komponen komunikasi adalah:
1.    Komunikator, yaitu pihak penyampai pesan
2.    Komunikan, yaitu pihak penerima pesan
3.    Pesan, yaitu isi atau maksud yang disampaikan komunikator kepada komunikan
4.    Media, yaitu cara atau alat menyampaikan pesan
5.    Umpan balik (feedback) yaitu tanggapan dari penerima pesan kepada penyampai

Ciri-ciri interaksi
1.    ada pelaku lebih dari satu orang
2.    ada komunikasi dua arah
3.    ada dimensi waktu (masa sekarang dan akan datang)
4.    ada tujuan tertentu yang hendak dicapai

B. BENTUK_BRNTUK INTERAKSI
Bentuk – bentuk interaksi secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu yang mengarah pada asosiati dan disosiatif
Asosiatif yaitu proses sosial yang mengarah pada kerukunan, kesatuan atau integrasi
1.    Kerja sama (cooperation)
2.    Bentuk-bentuk kerjasama
3.    bargaining (tawar menawar) yaitu perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa
4.    kooptasi yaitu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan
5.    koalisi yaitu kejasama dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama
6.    Joint Venture yaitu kerjasama dalam mengusahakan proyek-proyek tertentu

2. Akomodasi
Akomodasi adalah bentuk penyelesaian pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan
Tujuan Akomodasi adalah:
- meredam dan mencegah konflik
- menghindari disintegrasi
- mendorong dan memudahkan proses integrasi dan asimilasi
- menjaga keutuhan bangsa dan menggalang persatuan dan kesatuan warga
Adapun bentuk-bentuk akomodasi
1.    coersion yaitu paksaan pihak kuat terhadap yang lemah
2.    kompromi, yaitu saling mengurangi tuntutan antara pihak yang bertikai
3.    arbritrasi yaitu penyelesaian masalah melalui pihak ketika dimana keputusan pihak ketiga bersifat mengikat
4.    mediasi yaitu penyelesaian masalah yang difasilitasi oleh pihak ketiga yang bersifat netral
5.    konsilisasi yaitu usaha mempertemukan pihak yang bertikai bagi tercapainya persetujuan bersama melalui badan tetap
6.    toleransi yaitu penyelesaian pertikaian dengan cara membiarkan dan menghormati pihak lain
7.    stalemate yaitu bentuk akomodasi dimana pihak yang bertentangan mempunyai kekuatan seimbang sehingga berhenti pada suatu tempat tertentu
8.    ajudikasi, yaitu penyelesaian pertentangan melalui pengadilan
9.    displacement, pengalihan perhatian
10. segregasi, berpisah
11. case fire (genjatan senjata) yaitu penghentian pertikaian untuk sementara waktu

3.    Asimilasi yaitu pada dasarnya merupakan perubahan yang dilakukan secara sukarela yang ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan yang ada.
       Adapun faktor pendorongnya adalah:
-      toleransi di antara kelompok yang berbeda
-      kesempatan yang sama di bidang ekonomi
-      kesediaan menghormati budaya asing
-      sikap terbuka golongan penguasa
-      persamaan unsur-unsur kebudayan
-      amalgamasi (kawin campur)

4.    Akulturasi yaitu proses penerimaan dan pengolahan unsur budaya asing menjadi bagian dari kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan yang asli.


Disosiatif, yaitu proses sosial yang mengarah pada perpecahan dan disintegrasi
1.         Persaingan (competition)
Persaingan terjadi jika beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya terbatas.
2.         Kontravensi
Kontravensi merupakan proses sosial yang ditandai dengan ketidakpastian, keraguan,
penolakan dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka..

Bentuk-bentuk kontravensi menurut Leopold von Wiese
- kontravensi umum misalnya penolakan, keengganan
- kontravensi sederhana misalnya menyangkal pernyataan orang di depan umum
- kontravensi intensif misalnya penghasutan, desas desus
- kontravensi rahasia misalnya pembocoran rahasia, khianat
- kontravensi taktis misalnya provokasi, intimidasi, mengejutkan pihat lawan

3.    Pertikaian
Merupakan sosial bentuk lanjut dari kontravensi, artinya pertikaian sudah bersifat terbuka
4.    Konflik
Suatu proses antara dua pihak yang saling berusaha menyingkirkan dengan cara menghancurkan atau membuat pihak lain tidak berdaya. Konflik dapat berdampak:
-      meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain ( + )
-      keretakan hubungan antara anggota kelompok
-      perubahan kepribadian pada individu
-      kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia
-      dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik

Bentuk-bentuk konflik dapat berupa:
a. pertentangan pribadi
b. pertentangan rasial
c. pertentangan antar kelas sosial
d. pertentangan politik
e. pertentangan internasional


C.   KETERATURAN SOSIAL
       Dalam interaksi sosial, nilai dan norma berperan dalam menentukan perilaku seseorang. Apabila semua anggota masyarakat mematuhi nilai dan norma yang berlaku, maka akan tercipta suatu keteraturan sosial. Keteraturan sosial yaitu suatu keadaan kehidupan masyarakat yang selaras, serasi, penuh persatuan dan akan menciptakan suatu integrasi sosial.
Adapun unsur-unsur keteraturan sosial adalah:
1. Tertib sosial yaitu adanya keselarasan antara tindakan masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku
2. Order sosial (social order) yaitu suatu sistem nilai dan norma yang diakui dan dipatuhi oleh warga masyarakat
3. Keajegan yaitu suatu keadaan yang memperlihatkan kondisi keteraturan yang tetap dan
berlangsung terus menerus
4. Pola yaitu bentuk umum dari suatu interaksi sosial

Adapun tertib sosial ditandai oleh tiga hal:
1. terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas
2. individu atau kelompok di dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku
3. individu atau kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan norma-orma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku.

Materi : Nilai dan Norma
SKL  3
Menjelaskan proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian
Matei
• Nilai
• Norma sosial
• Sosialisasi
• Kepribadian
A.   Nilai
Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik dan benar yang dicita-citakan oleh warga. Agar nilai dapat terlaksana maka dibentuklah norma yaitu ketentuan yang berisi perintah dan larangan yang dilengkapi dengan sanksi. Nilai terdiri dari:
1.    nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia
2.    nilai vital yaitu segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk melakukan aktivitas
3.    nilai rohani , yaitu segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani.
Nilai rohani dibedakan menjadi :
1)    Nilai kebenaran dan nilai empiris yaitu nilai yang bersumber dari proses berfikir atau akal manusia
2)    Nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber dari unsur rasa manusia
3)    Nilai moral, yaitu nilai yang bersumber dari karsa dan etika
4)    Nilai religius, yaitu nilai yang berisi keyakinan terhadap Tuhan YME

Fungsi nilai yaitu
1.    Alat untuk menentukan harga sosial
2.    Mengarahkan masayrakat untuk berfikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang adal dalam masyarakat
3.    Memotivasi atau memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh peran-perannya
4.    Alat solidaritas atau pendorong masyarakat untuk saling bekerja sama
5.    Pengawas, pembatas, pendorong dan penekan idividu untuk berbuat baik

B.   Norma Sosial
Adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sebagai perwujudan dari nilai.Berdasarkan tingkatannya, norma dalam masyarakat dibedakan menjadi:
1. Cara (usage)
Cara merupakan suatu bentuk perbuatan tertentu, misalnya cara makan
2. Kebiasaan (folkways)
Kebiasaan merupakan bentuk perbuatan yang diulang-ulang secara sadar dan mempunyai tujuan yang jelas serta dianggap baik dan benar
3. Tata Kelakuan (Mores)
Tata kelakuakn adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Fungsi mores adalah:
-      memberikan batasan pada perilaku individu
-      mendorong seseorang agar sanggup menyesuaiakan tindakan dengan tata kelakuan yang berlaku
-      membentuk solidaritas sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerjasama antara anggota-anggota yang bergaul dalam masyarakat
4. Adat Istiadat (Custom)
Custom adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi kuat dalam masyarakat yang memiliki custom tersebut

Macam norma sosial dibedakan sebagai berikut
1.    Norma agama yaitu peraturan sosial yang sifat mutlak dan tidak bisa ditawar karena berasal dari Tuhan.
2.    Norma kesusilaan yaitu peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak.
3.    Norma kesopanan yaitu peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku wajar dalam masyarakat.
4.    Norma hukum yaitu aturan sosial yang dibuat oleh lembaga tertentu, mempunyai sanksi yang tegas bagi pelanggarnya.




C.   Pengertian Sosialisasi
Manusia tercipta sebagai gregoriouness atau zoon politicon, yaitu manusia yang tidak bisa hidup tanpa orang lain atau selalu berkelompok dan bermasyarakat. Dalam memenuhi kebutuhannya ia selalu membutuhkan orang lain yang menyebabakan ia harus berinteraksi dengan orang lain. Dari interaksi antar individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok melahirkan suatu proses yang disebut sosialisasi.Sosialisasi secara sederhana berarti proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara – cara hidup, norma dan nilai yang terdapat dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima kelompoknya. Oleh sebab itu dalam mepelajari sosialisasi maka perlu dipahami dahulu tentang nilai dan norma.
Pengertian Sosialisasi menurut beberapa tokoh
1. Peter Berger : sosialisasi adalah suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat
2. B.J.Cohen : sosialisasi adalah proses – proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok
3.    Soerjono Soekanto : sosialisasi adalah suatu proses social tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang – orang dalam kelompoknya

Tujuan Sosialisasi
1.    Memberikan pengetahuan dan ketrampilan bekal bermasyarakat
2.    meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien
3.    membantu pengendalian fungsi – fungsi organic yang dipelajari melalui latihan mawas diri yang tepat
4.    membiasakan individu dengan nilai nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat

Proses Sosialisasi
Menurut Goerge Herbert Mead (Role Theory)
1.    Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Dimulai saat lahir dan balita dimana seorang anak mulai kegiatan meniru tidak sempurna, serta memperoleh awal pemahaman tentang diri
2.    Tapap Meniru (Play Stage)
Ditandai dengan semakin sempurnanya anak meniru peran, misal bermain perang – perangan sebagai tentara, sekolah – sekolahan sebaagi guru atau murid. Disini orang tua sebaagi significant other yaitu orang yang amat berarti bagi anak dan dianggap penting bagi pembentukanan dan bertahannya diri dimaan anak menyerap nilai dan norma
3.    Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Tahap pada masa remaja dimana sering terjadi proses identifikasi seseorang terhadap idolanya. Disini remaja juga dapat memainkan peran sendiri dengan penuh kesadaran.
4.    Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized other)
Tahap seseorang dianggap dewasa dimana ia telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya

Media Sosialisasi dalam Pembentukan Kepribadian
1.    Keluarga (Kinship)
Keluarga merupakan media sosialisasi awal seseorang. Disini orang tua sangat berperan untuk :
1).   Selalu dekat dengan anak-anaknya
2).   memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar
3).   mendorong anak agar dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk
4).   ibu dan ayah dapat membawakan peran sebagai orang tua yang baik, benar dan terpuji serta menghindari perbuatan yang keliru di muka anak-anaknya
5).   menasehati anak jika melakukan kesalahan serta mengarahkan anak ke jalan yang benar

Pola sosialisasi dalam keluarga dibedakan menjadi 2
1).   Represif (repressive socialization) yaitu menekankan ketaatan anak pada orang tua.
       Ciri yang lain adalah :
       a. menghukum perilaku yang keliru
       b. hukuman dan imbalan material
       c. kepatuhan anak
       d. komunikasi sebagai perintah
       e. komunikasi nonverbal
       f. sosialisasi berpusat pada orang tua
       g. anak memperhatikan keinginan orang tua
       h. keluarga sebagai significant order (dominasi orang tua)
2). Sosialisasi partisipasi (participatory socialization) yaitu mengutamakan adanya partisipasi dari anak, antara lain:
       a. memberikan imbalan bagi perilaku yang baik
       b. hukuman dan imbalan simbolis
       c. otonomi pada anak
       d. komunikasi sebagai interaksi
       e. komunikasi verbal
       f. sosialisasi berpusat pada anak
       g. orang tua memperhatikan keinginan anak
       h. keluarga merupakan generalized order (kerjasama ke arah tujuan)

2.    Teman Sepermainan
Disebut juga peer group, kelompok sebaya. Pada usia remaja berkembang menjadi kelompok persahabatan yang lebih luas. Peranana positif kelompok persahabatan bagi perkembangan kepribadian anak antara lain
1)    rasa aman dan dianggap penting dalam kelompok
2)    perkembangan kemandirian remaja tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan
3)    remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran rasa kecewa, takut, khawatir, gembira dan lainnya yang tidak didapat dirumah
4)    melalui interaksi dapat berkembang ketrampilan social yang berguna bagi kehidupan mendatang
5)    pola perilaku dan kaidah – kaidah tertentu dalam persahabatan mendorong remaja bersikap lebih dewasa

Dalam kelompok remaja ada yang berbentuk geng atau klik. Geng adalah kelompok remaja yang terkenal karena kesamaan latarbelakang social, sekolah, daerah dan sebagainya. Klik adalah kelompok kecil tanpa struktur formal yang mempunyai pandangan atau kepentingan bersama. Geng sering dikonotasikan negatif karena kegiatannya yang melanggar norma, misal penggunaan narkoba, pelanggaran lalu lintas untuk geng motor dll. Ada juga geng yang dapat mengembangkan kepribadian yang positif bagi anggotanya antara lain;
1) mengembangkan ketrampilan berorganisasi dan kepemimpinan
2) menumbuhkan rasa kesetiakawanan social yang kuat
3) rela berkorban untk sesama anggota kelompok
4) menyalurkan semangan patriotisme

3.    Sekolah
Sekolah merupakan media sosialisasi yang mendasar setelah keluarga karena di sekolah terjadi proses pembelajaran yang sistematis terhadap individu. Aspek yang dipelajari selain belajar membaca, menulis dan berhitung adalah aturan – aturan mengenai kemandirian ( independence), prestasi (achievement), universalisme dan kekhasan (specifikasy).
Fungsi sekolah sebagai media sosialisasi antara lain:
1)    mengembangkan potensi anak untuk mengenalkan kemampuan dan bakatnya
2)    melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskannya dari generasi ke generasi
3)    merangsang partisipasi demokrasi dan mengembangkan kemampuan berfikir rasional dan bebas
4)    memperkaya kehidaupan dengan menciptakan cakrawala intelektual, meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui bimbingan dan penyuluhan
5)    meningkatkan taraf kesehatan melalui penjaskes
6)    menciptakan warga negara yang mencitai tanah air, menunjang integrasi antarsuku dan antarbudaya
7)    mengadakan hiburan umum (kompetisi olah raga dan pensi)

4.    Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja juga mempunyai pengaruh bsar dalam pembentukan kepribadian. Pengaruh dari lingkungan kerja tersebut pada umumnya mengendap dalam diri seseorang dan sukar dirubah apabila yang bersangkuta lama bekerja di lingkungan tersebut.
5.    Media Massa
Media massa dapat mempengaruhi kepribadian individu melalui pesan yang disampaikan oleh media massa tersebut. Media masa terbagi menjadi 2, media cetak (surat kabar, majalah, tabloid) dan media elektronika ( TV, radio, internet, film). Media TV meupakan media yang paling efektif dalam penyampaian pesan karena hampir dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat, tayangan visual (bisa dilihat) dan didengar. Tayangan TV sering dijadikan acuan perilaku dan gaya hidup bagi penontonya.

Media yang lain
Media sosialisasi yang lain adalah institusi agama, ketetanggaan, organisasi rekreasional, masyarakat merupakan agen sosialisasi yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.

Jenis sosialisasi
1.        Sosialisasi Primer
Menurut Peter L. Berger dan Luckmann yaitu sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga)
2.        Sosialisasi Sekunder
Adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu kedalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Menurut Irving Goofmen adalah suatu sosialisasi yang ditandai dengan adanya keterputusan sosialyang diawali dengan desosialisasi(pencabutan peran) dan resosialisasi (pemberian peran social baru) melalui institusi total yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Tempat tinggal yang dimaksud adalah terpisah dari masyarakat luas dalam waktu tertentu, bersama – sama menjalani hidup terkukung dan diatur secara formal, misal LP, RSJ

D.   Hubungan antara Sosialisasi dengan Kepribadian
Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap yang melekat pada seseorang apabila dihubungan dengan orang lain atau menaggapi suatu keadaan. Kepribadian merupakan hasil sosialisasi dan enkulturisasi, karena sosialisasi merupakan proses social yang didapat atau terjadi dalam diri seorang individu sejak ia kecil untuk membentuk kepribadian dan sikapnya dalam berperilaku sehingga sesuai dengan perilaku dan kepribadian kelompoknya sehingga ia diterima sebagai bagian dari kelompok tersebut. Unsur kepribadian yang menyusun manusia adalah pengetahuan, perasaan dan naluri
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian yaitu:
a. faktor biologis misalnya ketekunan, IQ, ambisi
b.  faktor geografis (lingkungan fisik) misalnya tinggal di pegunungan atau pantai
c.  faktor kebudayaan khusus misalnya desa, kota, pesantren, keluarga petani
d. faktor pengalaman kelompok

Materi: Perilaku Menyimpang dan Pengendalian
SKL 4
Mengidentifikasi berbagai perilaku menyimpang dan pengendalian sosial dalam masyarakat
Materi
• Perilaku meyimpang
• Pengendalian sosial

Ringkasan
A.   Perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ditentukan batasannya oleh norma-norma kemasyarakatan yang berlaku dalam suatu budaya sehingga pengertian perilaku menyimpang berbeda-beda di setiap masyarakat.
Ada dua proses pembentukan perilaku menyimpang yaitu:
1. Penyimpangan sebagai hasil sosialisasi dari nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
Perilaku menyimpang bersumber pada pergaulan yang berbeda. Pergaulan dengan kawan yang kurang baik mengakibatkan perilaku menyimpang
2.  Penyimpangan dari sosialisasi yang tidak sempurna

Proses ini terjadi karena nilai dan norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi sehingga orang tidak mempertimbangkan resiko dan melakukan penyimpangan

B.   Bentuk-Bentuk Penyimpangan
Perilaku menyimpang dibedakan menjadi dua yaitu:
1.    perilaku menyimpang primer, bersifat sementara dan masyarakat masih bisa menerima
2.    perilaku menyimpang sekunder, secara khas dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi dominan dalam kehidupan pelaku dan dikenal umum oleh masyarakat

Robert M.Z Lawang mengemukakan macam penyimpangan yaitu:
1.    Perilaku menyimpang yang dianggap sebagai kejahatan atau kriminal
2.    Penyimpangan seksual
3.    Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup, misalnya penjudi, pemabok
4.    Penyimpangan dalam bentuk konsumsi yang berlebih, misalnya alkoholisme

Light, Keller dan Calhoun membedakan tipe kejahatan menjadi:
1.    Kejahatan tanpa korban, misalnya konsumsi narkoba
2.    Kejahatan terorganisir, misalnya perdagangan perempuan, sindikat, mafia peradilan
3.    Kejahatan kerah putih, yaitu kejahatan yang dilakuakn oleh orang yang memiliki
kedudukan dan pengetahuan tinggi, misalnya penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan, korupsi
4.    Kejahatan koorporat, yaitu kejahatan yang dilakukan atas nama perusahaan yang bertujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian, misalnya pembuangan limbah di laut, kejahatan terhadap konsumen

Berdasarkan banyaknya pelaku penyimpangan dibedakan menjadi:
1. penyimpangan individual
2. penyimpangan kelompok
3. penyimpangan campuran



D.    Sebab-sebab Perilaku Menyimpang
1. sikap mental yang tidak sehat
2. keluarga yang broken home
3. pelampiasan rasa kecewa
4. pengaruh lingkungan dan media massa
5. dorongan kebutuhan ekonomi
6. keinginan untuk dipuji atau gaya-gayaan
7. proses belajar yang menyimpang
8. ketidaksanggupan menyerap norma budaya
9. adanya ikatan sosial yang berlebihan
10. akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
11. akibat kegagalan dalam proses sosialisasi

Media pembentukan perilaku menyimpang dapat diperoleh melalui keluarga, lingkungan tempat tinggal, kelompok bermain dan media massa

E. Pengendalian Sosial
       Pengendalian Sosial (social control) adalah segenap cara dan proses pengawasan yang direncanakan atau tidak direncanakan, yang bertujuan untuk mengajak, mendidik, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai yang berlaku

F.    Sifat-sifat Pengendalian Sosial
       Dilihat dari waktu pelaksanaannya
       1. prevantif (pencegahan)
       2. represif (memperbaiki)
       3. dan gabungan
      
       Dilihat dari jumlah cakupan yang terlibat
       1. pengawasan dari individu terhadap individu lain
       2. pengawasan dari individu terhadap kelompok
       3. pengawasan dari kelompok terhadap kelompok
       4. pengawasan dari kelompok terhadap individu

       Dilihat dari aspek pelaksanaannya
       1. Persuasif (tanpa kekerasan)
       2. Coersif (paksaan)
       3. Kompulsif, yaitu menciptakan suatu situasi yang dapat mengubah sikap atau perilaku yang negatif dan seseorang terpaksa taat dari situasi yang sengaja diciptakan pengendali
       4. Pervasi yaitu nilai dan norma disampaikan atau dimasukkan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan melekat dalam jiwa seseorang sehingga akan terbentuk sikap yang diharapkan

G.   Bentuk-bentuk pengendalian sosial
1. cemooh                                     6. Pendidikan
2. desas desus                              7. Agama
3. ostrasisme (pengucilan)            8. Intimidasi
4. fraundulens (pihak ketiga)       9. kekerasan fisik
5. teguran                                     10. Hukuman

H.   Fungsi Pengendalian Sosial
1. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma
2. Memberikan imbalan kepada warga yang mentaati norma
3. Mengembangkan rasa malu
4. Mengembangkan rasa takut
5. Menciptakan sistem hukum

Pengendalian sosial dapat dilaksanakan melalui
1. Sosialisasi
Sosialisai dilakukan agar anggota masyarakat bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa melalui jalur formal dan informal
       2. Tekanan Sosial
Tekanan Sosial perlu dilakukan agar masyarakat sada dan mau menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Masyarakat dapat memberikan sanksi terhadap individu yang melanggar aturan kelompok

I.   Peranan Pranata Sosial paksaan.

Usaha penanaman pengetian tentang nilai dan norma kepada anggota masyarakat diberikan dalam Pengendalian Sosial :
1.         Polisi
       Polisi merupakan salah satu pranata sosial yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban
2.         Pengadilan
       Unsur pengadilan terdiri dari hakim, jaksa, panitera, pengacara dan polisi
Unsur-unsur tersebut bertugas menyelenggarakan pengadilan terhadap individu yang melanggara norma hukum yang berlaku
3.         Adat
       Adat merupakan tata kelakuan yang kuat sehingga merupakan hukum non formal bagi masyarakat. Ketika terjadi pelanggaran terhadap adat maka masyarakat akan memberikan cemooh, gunjingan hingga pengucilan
4.         Tokoh Masyarakat
       Tokoh masyarakat adalah seseorang yang dianggap mempunyai kelebihan tertentu dan menjadi penuntun di masyarakat sekitarnya
5.         Sekolah
       Sekolah merupakan cara pengendalian yang efektif karena merupakan media sosialisasi yaitu wadah pembelajaran siswa dalam bertingkahlaku. Di sekekolah siswa dapat melakukan pembiasaan dan tersistimatis. Adapun pelaksanaannya juga terprogram menurut kurikulum tertentu
6.         Keluarga
       Keluarga merupakan lembaga pengendalian secara non formal dan keluarga juga merupakan media sosialisasi. Dalam keluarga orang tua mengendalikan perilaku anak-anaknya agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dengan cara mendidik, mensosialisasi, menasehati, menegur dan bahkan menghukum agar anak kembali mematuhi nilai dan norma yang berlaku

Materi: Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial
SKL 5
Menjelaskan bentuk struktur sosial dan konsekuensinya terhadap konflik dan mobilititas sosial
Materi
• Struktur sosial
• Statifikasi sosial
• Diferensiasi sosial
• Konsekuensi bentuk struktur terhadap konflik dan integrasi
• Mobilitas sosial

A.      STRUKTUR SOSIAL
Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksi melalui pola perilaku berulang-ulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut

Struktur sosial memiliki empat element dasar:
1. Status sosial
2. Peran sosial
3. Kelompok
4. Institusi atau lembaga
Para ahli teori interaksionis menekankan bahwa perilaku sosial kita dikondisikan oleh peran-peran dan status-status yang kita terima, kelompok mana kita berasal dan institusi mana kita berfungsi
Status Sosial dan Peran
Adalah salah satu tempat atau posisi seseorang dalam kelompok sosial sehubungan dengan keberadaan orang lain di sekitarnya. . Status dilihat dari proses terjadinya dibedakan menjadi:
a. Ascribed Status (Status akibat kelahiran)
b. Achieved Status (Status yang diperjuangkan)
c. Assigned Status (Status yang dianugerahkan)

Status selalu diikuti oleh peran. Peran adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan statusnya atau seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi atau status tertentu.

Secara sederhana ketidaksamaan dalam masyarakat terjadi akibat beberpa faktor antara lain ras, agama, gender, peran dan status, kelas sosial, kelompok, pendidikan dan lain-lain. Secara umum, perbedaan sosial dapat dibedakan menjadi dua
1.    Secara horisontal, diferensiasi, yaitu pembedaan yang dikaitkan dengan interaksi tetapi tidak menunjukkan adanya tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah
2.    Secara vertikal, stratifikasi, yaitu perbedaan sosial yang menunukkan adanya tingkatan yang berbeda dalam masyarakat

B.   DIFERENSIASI SOSIAL
Diferensiasi sosial adalah proses penempatan orang-orang dalam berbagai kategori sosial yang berbeda, yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan yang diciptakan secara sosial. Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi adalah variasi pekerjaan prestise, kekuasaan kelompok dalam masyarakat yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat umum dari proses interaksi sosial yang lain
Diferensiasi sosial terjadi karena perbedaan ciri fisik dan ciri sosial dan ciri budaya
Beberapa wujud diferensiasi sosial adalah:
1. Ras                                           5. Jenis kelamin
2. Etnik                                        6. Klan (kelompok kekerabatan berdasarkan garis
3. Agama dan kepercayaan keturunan)
4. Profesi                                      7. Suku Bangsa

Ada empat hal mendasar yang merupakan persamaan antara suku-suku bangsa di Indonesia, yaitu:
1. kehidupan sosialnya berdasarkan atas kekeluargaan
2. terdapat sistem pemilikan tanah
3. memiliki hukum adat
4. kekerabatan, adat perkawinan serta persekutuan masyarakat

C. STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi sosial adalah perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang menempatkan seseorang pada kelas-kelas sosial sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan sosial lainnya. Stratifikasi sosial muncul karena adanya sesuatu yang dianggap berharga dalam masyarakat. Menurut Pitirim Sorokin, sistem stratifikasi adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas – kelas secara bertingkat, yang diwujudkan dalam kelas tinggi, kelas sedang dan kelas rendah. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, stratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan berbeda-beda secara vertikal. Biasanya stratifikasi didasarkan pada kedudukan yang diperoleh melalui serangkain usaha perjuangan.

Stratifikasi sosial yang diperoleh secara alami yaitu:
1. stratifikasi sosial berdasakan usia
2. stratifikasi sosial karena senioritas
3. stratifikasi sosial berdasarkan jenis kelamin
4. stratifikasi sosial berdasarkan sistem kekerabatan
5. stratifikasi sosial berdasarkan keanggotaan dalam kelompok tertentu

Stratifikasi sosial berdasarkan status yang diperoleh melalui usaha-usaha tertentu yaitu:
1. stratifikasi dalam bidang pendidikan
2. stratifikasi dalam bidang pekerjaan
3. stratifikasi dalam bidang ekonomi (klas sosial

Faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi sosial:
1. kekayaan (materi)
2. kekuasaan (power)
3. kehormatan/kebangsawanan
4. tingkat pendidikan (pengetahuan)

Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial di masyarakat ada dua:
1. Stratifikasi terbuka
Yaitu sistem stratifikasi yang memberikan kesempatan kepada seseornag untuk berusaha dengan kemampuannya sendiri masuk ke kelas tertentu. Sistem ini terjadi karena:
- perbedaan ras dan sistem nilai
- pembagian tugas (spesialisasi)
- kelangkaan hak dan kewajiban
2. Stratifikasi tertutup
Yaitu adanya pembatasan terhadap kemungkinan pindahnya kedudukan seseorang dari suatu lapisan sosial ke lapisan sosial yang lain.
3. Stratifikasi sosial campuran
Bentuk – bentuk stratifikasi yang ada di masyarakat antara lain
1. Sistem Kasta
Sistem kasta mempunyai ciri-ciri : keanggotaan berdasar keturunan, keunggulan yang diwariskan berlaku seumur hidup, perkawinan endogami, hubungan dengan kelompok sosial lain terbatas, penyesuaian diri ketat pada norma-norma kasta, diikat oleh kedudukan yang sudah ditetapkan secara tradisional, prestise kasta dijaga, kasta yang lebih rendah dikendalikan oleh kasta yang lebih tinggi.

2.  Sistem Kelas Sosial, yaitu berdasarkan pada status yang diusahakan
3. Sistem Feodal, yaitu berdasarkan kepemilikan tanah, raja, bangsawan, ksatria dan    petani.

Berdasarkan kepemilikan tanah, masyarakat dapat dikategorikan menjadi empat golongan yaitu:
a. pemilik atau tuan tanah atau bangsawan
b. pemilik dan penggarap
c. penyakap (penggarap tanah bagi hasil datau sewa)
d. buruh tani
       4. Sistem Apartheid, yaitu berdasarkan warna kulit

Fungsi stratifikasi sosial adalah sebagai berikut:
1.    Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, wewenang pada jabatan
2.    Sistem pertanggaan (tingkatan) pada strata yang diciptakan masyarakat menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yang menerima anugerah penghargaan/gelar/kebangsawanan
3.    Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikan, wewenang atau kekuasaan
4.    Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah
5.    Tingkat mudah tidaknya bertukar kedudukan
6.    Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat

Pelapisan sosial dalam masyarakat terjadi pada bidang:
1. ekonomi , yaitu menjadi kelas atas, menengah dan bawah
2. status sosial, yaitu berkaitan dengan kedudukannya di masyarakat
3. politik, yaitu berdasarkan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki seseorang

Menurut Mac Iver tiga pola umum sistem pelapisan kekuasaan yaitu:
1.    Tipe Kasta
Adalah sistem pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku dimana hampir tidak terjadi mobilitas vertikal antar lapisan. Pelapisan sosial terdiri dari (dari puncak) penguasa tertinggi yaitu bangsawan, tentara dan pendeta. Lapisan kedua adalah para tukang, nelayan, petani dan buruh dan lapiran ketiga diisi oleh para budak
2.    Tipe Oligarkis
Adalah sistem pelapisan kekuasaan yang masih mempunyai garis pemisah yang tegas, tetapi dasar pembedaan kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama kesempatan untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Lapisan atas terdiri dari raja, pegawai tinggi, pengusaha, pengacara. Lapisan kedua terdiri dari tukang, petani dan pedagang. Lapisan ketiga terdiri dari buruh tani dan budak
3.    Tipe Demokratis
Adalah tipe kekuasaan yang menunjukkan kenyataan akan aanya garis pemisah antara laipsan yang bersifat fleksibel. Kedudukan seseorang ditentukan oleh kemampuan dan kadang faktor keberuntungan. Lapisan atas terdiri dari pemimpin parpol, pimpinan organisasi besar, orang-orang kaya. Lapisan menengah terdiri dari pejabat administrasi, kelas atas dasar keahlian, petani dan pedagang. Lapisan terakhir terdiri dari pekerja-pekerja dan petani rendahan
Pada masyarakat pedesaan (Jawa) maka sistem pelapisan sosialnya adalah:
1.    lapisan pertama adalah golongan priyayi, yaitu pegawai pemerintahan di desa atau pimpinan formal di desa
2.    golongan kuli kenceng, yaitu pemilik sawah yang juga sebagai pedagang perantara
3.    golongan kuli gundul, yaitu penggarap sawah dengan sistem sewa
4.    kuli karang kopek, yaitu buruh tani yang hanya mempunyai rumah dan pekarangan saja tetapi tidak punya tanah pertanian sendir
5.    indung tlosor yaitu kelas buruh tani, tidak punya rumah dan tanah pekarangan

Pelapisan sosial pada masa kolonial adalah sebagai berikut:
1. Golongan Eropa (orang Belanda, Portugis, Perancis)
2. Golongan Timur Asing (orang Cina, Arab, India)
3. Golongan bumiputera


D.   KONSEKUENSI BENTUK STRUKTUR TERHADAP KONFLIK DAN INTEGRASI

1.    Konsekuensi Diferensiasi
Interseksi
Sifat hubungan antara ras, suku bangsa dan agama disebut proses interseksi atau persilangan, artinya anggota kelompok sosial tertentu termasuk jug anggota kelompok sosial yang memungkinkan anggota masyarakat memiliki keberagaman sifat yang berdasarkan ras, suku bangsa dan agama. Interseksi mempunyai akibat terhadap kemajemukan masyarakat yaitu:
-    meningkatkan solidaritas antar anggota suatu kelompok sosial
-    menimbulkan konflik jika perbedaan-perbedaan semakin tajam

Saluran-saluran interseksi di Indonesia adalah
-      hubungan ekonomi, misalnya perdagangan, perindustrian
-      hubungan sosial, misalnya perkawinan, pendidikan
-      hubungan politik, misalnya partai

Konsolidasi
Adalah suatu proses penguatan atau peneguhan keanggotaan individu atau beberapa kelompok yangberbeda dalam satu kelompok melalui tumpang tindih keanggotaan.Misalnya
Suku Melayu identik dengan agama Islam, orang Bali identik dengan agama Hindu. Adanya konsolidasi berdampak:
-          memperkuat rasa persatuan antara komponen
-          penguatan kelompok lain akan menimbulkan kecurigaan yang memicu terjadinya konflik

Mutual akulturasi
Adalah suatu proses interseksi yang berjalan terus menerus sehingga menimbulkan rasa saling menyukai budaya kelompok lain sehingga sadar atau tidak, individu-individu di dalam masayrakat tersebut akan mengikuti dan menggunakan kebudayaan lain tersebut. Arah dari mutual akulturasi ini adalah terjadinya integrasi

Premordialisme
Diartikan sebagai ikatan-ikatan dalam masyarakat yang bersifat keaslian. Sifat keaslian ini misalnya berdasarkan kesukuan, kekerabatan dan kelompok-kelompok tertentu yang bersifat tradisional. Premordialisme dapat diartikan pula keterikatan terhadap daerah asal. Seseorang yang menjadi anggota kelompok menyebut dirinya sebagai ”in group’ dan orang lain di luar kelompoknya sebagai ”out group”. Dan keterikatan terhadap kelompoknya atau ingroup feeling ditunjukkan dengan adanya saling membantu dan saling menghormati. Hal tersebut menimbulkan solidaritas dan kesetiaan terhadap kelompok.

Politik Aliran
Sifat etnosentrisme, menurut Sumner adalah anggota in-group menganggap bahwa segala sesuatu yang termasuk kelompoknya adalah yang terbaik, paling istimewa dan paling hebat. Sifat etnosentrisme bermula dari perasaan premodial yang kemudian meluas dan berkembang termasuk diantaranya politik aliran. Politik aliran adalah politik yang mementingkan pandangan atau cara berfikir kelompok tertentu yang sangat bertentangan dengan politik demokrasi.

2 .   Konsekuensi Stratifikasi Sosial
       Akibat dari sistem stratifikasi sosial adalah adanya perbedaan-perbedaan perilaku individu atau kelompok yang berada di dalamnya, antara lain sebagai berikut:
       a. cara berbusana
       b. berbahasa dan gaya bahasa
       c. pola komunikasi nonverbal
       d. penyebutan gelar, pangkat, atau jabatan
       e. seragam yang dipakai
       f. tipe atau bentuk dan letak pemukiman
       g. kegiatan rekreasi, olah raga, kegemaran dan penggunaan waktu luang
       f. selera makan
       Perbedaan perilaku individu pada kelas-kelas sosial tertentu, selain mempunyai tujuan yang nyata juga mempunyai tujuan yang lain yaitu menunjukkan kedudukan seeorang di dalam masyarakat. Jika pembedaan ini terlalu tajam maka akan menimbulkan kesenjangan sosial sehingga melahirkan kecemburuan sosial dan pada akhirnya konflik atau disintegrasi.
       Aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat yang dipengaruhi oleh diferensiasi, stratifikasi dan kesempatan hidup adalah sebagai berikut:
a. kesehatan
b. pendidikan
c. harapan hidup
d. keadilan sosial

3.    Konflik
       Suatu proses antara dua pihak yang saling berusaha menyingkirkan dengan cara menghancurkan atau membuat pihak lain tidak berdaya. Menurut Soerjono Soekanto, menyebutkan konflik sebagai pertentangan atau pertikaian, yaitu suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Konflik dapat berdampak:
-      meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain
-      keretakan hubungan antara anggota kelompok
-      perubahan kepribadian pada individu
-      kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia
-      akomodasi, dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik

Bentuk-bentuk konflik dapat berupa:
a. pertentangan pribadi
b. pertentangan rasial
c. pertentangan antar kelas sosial
d. pertentangan politik
e. pertentangan internasional

Faktor-faktor Penyebab Suatu Konflik
a. perbedaan individu
b. perbedaan latar belakang budaya
c. perbedaan kepentingan
d. perubahan-perubahan nilai yang cepat

       Menurut De Moor, dalam suatu sistem sosial konflik terjadi jika para penghuni sistem tersebut membiarkan dirinya dibimbing oleh tujuan-tujuan (nilai-nilai) yang bertentangan dan terjadi secara besar-besaran. Menurut Dharendorf pembagian konflik di masyarakat ada lima:

a.    konflik antara atau dalam peran sosial, misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi
b.    konflik antara kelompok-kelompok sosial
c.    konflik antara kelompok-kelompok yang terorganisir dan tidak terorganisir
d.    konflik antara satuan nasional, misalnya partai politik, antara negara-negara atau organisasi
       organisasi internasional

Segi positif konflik adalah:
a.    memperjelas aspek-aspek kehidupan
b.    menungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma dan nilai-nilai
c.    jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok
d.    membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma- norma-norma nbaru

4.    Kekerasan
       Konflik yang tidak terkendali akan mengarah pada kekerasan (violent). Namun dipahami bahwa konflik berbeda dengan kekerasan. Kekerasan merupakan konflik-konflik sosial yang tidak terkendali oleh masyarakat atau mengabaikan sama sekali norma dan nilai sosial yang ada sehingga berwujud pada tindakan merusak (destruktif). Kekerasan tidak akan muncul apabila kelompok yang saling bertentangan mampu memenuhi 3 macam prasyarat:
1.    Masing-masing kelompok yang terlibat konflik menyadari akan situasi konflik antara mereka
2.    Pengendalian konflik tersebut hanya mungkin dilakukan apabila berbagai kekuatan sosial yang saling bertentangan itu terorganisasi dengan jelas sehingga mudah untuk dikendalikan
3.    Setiap kelompok yang terlibat di dalam konflik harus mematuhi aturan-aturan permainan tertentu, suatu hal yang akan memungkinkan hubungan-hubungan sosial diantara mereka menemukan suatu pola tertentu. Aturan main ini pada saatnya akan menjamin keberlangsungan hidup kelompok-kelompok itu sendiri.

       Apabila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi kelompok-kelompok yang berkonflik maka tanpa diduga sebelumnya akan meledak dalam bentuk kekerasan. Konflik sosial tidak akan berubah menjadi kekerasan apabila terjadi pengendalian kelompok yang berkonflik dengan cara yang baik. Ada tiga bentuk pengendalian konflik sosial:
       a. konsiliasi
       b. mediasi
       c. arbitrasi

5.    Integrasi Sosial
       Integrasi mengandung dua pengetian, yaitu pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem sosial dan membuat suatu keseluruhan atau menyatukan unsur-unsur tertentu,khususnya dalam suatu masyarakat yang beranekaragam. Jadi integrasi sosial adalah proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut pandangan fungsionalisme struktural, sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut. Pertama, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus diantara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental. Kedua, masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliations). Setiap konflik akan segera dinetralkan dengan adanya loyalitas ganda dari para anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial
       Para penganut teori konflik berpandangan bahwa suatu masyarakat terintegrasi atas dasar paksaan (coercion) dari suatu kelompok atau satuan sosial yang dominan terhadap kelompok atau satuan sosial yang lain
       Faktor-faktor pendorong integrasi sosial antara lain:
       a. homogenitas kelompok
       b. besar kecilnya kelompok
       c. mobilitas geografi
       d. efektivitas dan efesiensi komunikasi
       Bentuk-bentuk integrasi dapat berupa asimilasi atau akulturasi

6.    Mobilitas Sosial
       Mobilitas Sosial adalah gerak perpindahan dari strata satu ke strata sosial lainnya secara vertikal atau horisontal.
       Bentuk-bentuk Mobilitas Sosial
       Mobilitas sosial horisontal merupakan peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kedudukan ke kedudukan lain yang sederajat.
       Mobilitas sosial vertikal merupakan perpindahan individu atau objek-objek sosial lainnya daru suatu kedudukan ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat, dapat mobilitas sosial vertikal naik (social climbing) atau mobilitas sosial turun (social singking).
Mobilitas sosial vertikal ke atas mempunyai dua bentuk utama
       a. masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi
       b. membentuk kelompok baru
      
       Mobilitas sosial vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama
       a. turunnya kedudukan
       b. turunnya derajat kelompok
      
       Mobilitas Antargenerasi yaitu mobilitas yang ditandai dengan perkembangan taraf hidup naik atau turun dalam suatu generasi. Pada mobilitas antargenerasi tidak mungkin terjadi mobilitas horisontal karena berarti tidak terjadi perubahan pada taraf hidup
Mobilitas Intragenerasi adalah peralihan status sosial yang terjadi dalam satu generasi. Mobilitas intragenerasi merupakan mobilitas yang terjadi dalam satu kelompok generasi yang sama. Misalnya pemuda angkatan sembilan puluh memiliki kesempatan untuk mengembangkan iptek karena hidup di tengah industrialisasi
      
       Gerak Sosial Geografis adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah yang lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi

       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilitas
       a. Perubahan kondisi sosial
       b. Ekspansi teritorial dan gerak populasi
       c. Komunikasi yang bebas
       d. Pembagian kerja
       e. Tingkat vertilitas yang berbeda
       f. Situasi politik

       Beberapa cara yang digunakan untuk gerak ke atas dalam mobilitas yaitu perubahan standar hidup, perubahan tempat tinggal, perubahan tingkah laku, perubahan nama, perkawinan dan bergabung dengan asosiasi tertentu
Saluran – Saluran Mobilitas Sosial (Social Circulation)
a. Angkatan Bersenjata
b. Lembaga-lembaga keagamaan
c. Lembaga pendidikan (dianggap sebagai social elevator)
d. Organisasi politik
e. Organisasi Ekonomi
f. Organisasi keahlian
g. Saluran Perkawinan

Adanya mobilitas sosialdapat menyebabkan
a. konflik antarkelas
b. konflik antarkelompok sosial
c. konflik antargenerasi
d. penyesuaian (akomodasi)

Materi: Masyarakat Majemuk dan Multikultural
Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural
Materi:
• Kelompok sosial
• Masyarakat majemuk
• Konsep masyarakat multikultural
• Integrasi dan disintegrasi

Ringkasan

A. KELOMPOK SOSIAL
Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah cara-cara perlaku masyarakat yang terorganisasi secara sosial. Dengan demikian organisasi sosial merupakan jaringan hubungan antar warga-warga masyarakat yang bersangkutan di dalam suau tempat dan dalam waktu yang relatif lama. Di dalam organisasi sosial terdapat unsur-unsur seperti keompok-kelompok sosial dan perkumpulan, lembaga-lembaga sosial, peranan-peranan sosial dan kelas-kelas sosialk

Kelompok Dan Perkumpulan
Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Hasil dari interaksi melahirkan kelompok sosial, organisasi, lembaga sosial, status dan peran.

Macam kelompok sosial menurut Bierstedt,\
a.    kelompok statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial  dan kesadaran jenis, misalnya kelompok usia penduduk
b.    kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompok memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial anggotanya
c.    kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan hubungan satu dengan yang lain tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi, misalnya kelompok pertemuan, kekerabatan
d.    kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan persamaan kepentingan, misalnya sekolah, negara
Faktor pembentuk kelompok sosial adalah kedekatan dan kesamaan

Kelompok Sosial Yang teratur
1.    In- group dan Out- group
In- group adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasi dirinya dalam kelompok tersebut, biasanya didasarkan pada faktor simpati dan kedekatan. Out-group adalah kelompok yang diartikan oleh individu sebagai lawan in- groupnya
2.    Kelompok primer dan kelompok sekunder
Menurut Cooley, kelompok primer adalah kelompok kecil yang anggota-anggotanya memiliki hubungan dekat, personal dan langgeng, misalnya keluarga. Kelompok sekunder adalah kelompok besar, bersifat sementara, dibentuk untuk tujuan tertentu, hubungan bersifat impersonal
3.    Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (geselschaft)
Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama yang anggota-anggotanya terikat hubungan batin murni, bersifat alamiah serta kekal atas dasar cinta dan rasa kesatuan batin yang telah ditakdirkan. Menurut Ferdinand Tonnies terdapat tiga tipe paguyuban
- karena ikatan darah
- karena tempat
- karena pikiran atau persamaan ideologi
Patembayan adalah ikatan lahir bersifat pokok dan biasanya hanya jangka pendek.

4.    Group formal dan in –formal
Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesamanya
Informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur yang pasti

5.    Membership dan Reference group
Membership group adalah suatu kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggotanya.
Reference group adalah kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang untuk membentuk kepribadiannya

Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
1.    Kerumunan (crowd) adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di stau   tempat dan pada waktu yang bersamaan
2.    Publik adalah orang-orang yang berkumpul yang mempunyai kesamaan kepentingan.

B.        MASYARAKAT MAJEMUK
Masyarakat majemuk sering diidentikan oleh orang awan sebagai masyarakat multikultural. Uraian dari Parsudi Suparlan dapat menjelaskan perbedaan tersebut. Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional yang biasa dilakukan secara paksa (coercy by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah nasional. Setelah PD II contoh masyarakat majemuk antara lain, Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan dan Suriname. Ciri yang mencolok dan kritikal majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintahan nasional dengan masyarakat suku bangsa dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistem nasional. Sementara itu Dr. Nasikun mengemukakan masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat dalam mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk memahami satu sama lain.
Menurut Pierre L. Van den Berghe mengemukakan karakteristik masyarakat majemuk:
1.    terjadi segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok subkebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain
2.    memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer
3.    kurang mengembangkan konsensus diantara para anggota-anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar
4.    secara relatif seringkali mengalami konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain
5.    secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi
6.    adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lain

Disini Parsudi Suparlan melihat adanya dua kelompok dalam perspektif dominan-minoritas,
tetapi sulit memahami mengapa golongan minoritas didiskriminasi, karena besar populasinya
belum tentu besar kekuatannya. Konsep diskriminasi sebenarnya hanya digunakan untuk mengacu pada tindakan-tindakan perlakuan yang berbeda dan merugikan terhadap mereka yang berbeda secara askripsi oleh golongan yang dominan. Yang termasuk golongan askripsi adalah suku bangsa (termasuk ras, kebudayaan sukubangsa, dan keyakinan beragama), gender , dan umur.
Sementara itu Furnival mengemukakan bahwa masyarakat majemuk merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah –pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda satu sama lainnya. Menurut Furnival berdasarkan konfigurasi (susunannya) dan komunitas etniknya, masyarakat majemuk dibedakan menjadi empat kategori sebagai berikut:
a.              Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang
          Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas atau etnik yang mempunyai kekuatan kompetitif yang kurang lebih seimbang. Koalisi antar etnis diperlukan untuk membentuk suatu masyarakat yang stabil.
b.       Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan
          Merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komunitas etnik dengan kekuatan kompetitif tidak seimbang, di mana salah satu kekuatan kompetitif yang merupakan kelompok mayoritas memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelompok lainnya.
c.       Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan
          Yaitu yang di antara komunitas atau kelompok etnisnya terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif di atas yang lain, sehingga kelompok tersebut mendominasi bidang politik dan ekonomi.
d.      Masyarakat majemuk dengan fragmentasi
          Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis dan tidak ada satu kelompok pun yang mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan.

Terdapat tiga faktor utama yang mendorong terbentuknya kemajemukan bangsa Indonesia adalah
1.      Latar belakang historis
Adanya perbedaan waktu dan jalur perjalanan ketika nenek moyang bangsa Indonesia berpindah (migrasi) dari Yunan (Cina Selatan) ke pulau-pulau di Nusantara
2.      Kondisi geografis
Perbedaan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau dengan relief beranekaragam dan satu dengan lainnya dihubungkan oleh laut dangkal, melahirkan suku bangsa yang beranekaragam pula, terutama pola kegiatan ekonomi dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk mendukung kegiatan ekonomi tersebut
3.      Keterbukaan terhadap kebudayaan luar
Bangsa Indonesia adalah contoh bangsa yang terbuka. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh asing dalam membentuk keanekaragaman masyaarkat di seluruh wilayah Indonesia yaitu antara lain pengaruh kebudayaan India, Cina, Arab dan Eropa

Dalam menganalisis hubungan antar suku bangsa dan golongan menurut Koentjoroningrat ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1.   sumber-sumber konflik
2.   potensi untuk toleransi
3.   sikap dan pandangan dari suku bangsa atau golongan terhadap sesama suku bangsa
4. hubungan pergaulan antar suku – bangsa atau golongan tadi berlangsung

Adapun sumber konflik antar suku bangsa dalam negara berkembang seperti Indonesia, paling sedikit ada lima macam yakni:
1.    jika dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup yang sama
2.    jika warga suatu suku bangsa mencoba memasukkan unsur-unsur dari kebudayaan kepada warga dari suatu suku bangsa lain
3.    jika warga satu suku bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dari suku bangsa lain yang berbeda agama
4.    jika warga satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa secara politis
5.    potensi konflik terpendam dalam hubungan antar suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat

C. MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individu maupun secara kelompok dan terutama ditujukan terhadap golongan sosial askripsi yaitu suku bangsa (dan ras) , gender dan umur. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses demokratisasi, yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempat.
Jadi tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi demikian pula sebaliknya.




D. Masalah yang Timbul Akibat Keanekaragaman dan Perubahan Kebudayaan
1.      Konflik
Merupakan suatu proses disosiatif yang memecah kesatuan di dalam masyarakat. Meskipun demikian konflik tidak selamanya negatif, adakalanya dapat menguatkan ikatan dan integrasi
2.      Integrasi
Adalah dibangunnya interdependensi yang lebih rapat dan erat antara bagian-bagian dari organisme hidup atau antara anggota-anggota di dalam masyarakat sehingga menjadi penyatuan hubungan yang diangap harmonis

Faktor-faktor yang mendukung integrasi sosial di Indonesia:
a)      adanya penggunaan bahasa Indonesia
b)      adanya semangat persatuan dan kesatuan dalam satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air
c)      adanya kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama, yaitu Pancasila
d)     adanya jiwa dan semangat gotong royong yang kuat serta rasa solidaritas dan toleransi
e)      keagamaan yang tinggi
f)       adanya rasa senasib sepenanggungan akibat penjajahan yang lama diderita oleh seluruh bangsa di Indonesia
3.      Disintegrasi
Disebut pula disorganisasi, merupakan suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kesatuan. Agar masyarakat dapat berfungsi sebagai organisasi harus ada keserasian antar bagian-bagian
4.      Reintegrasi
Disebut juga reorganisasi, dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai baru telas melembaga (institutionalized) dalam diri warga masyarakat.
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat keanekaragaman dan perubahan kebudayaan, yaitu melalui berbagai pola hubungan yang terdapat dalam masyarakat majemuk
1. asimilasi
2. self-segretion
3. integrasi
4. pluralisme

Membangun Sikap Kritis, Toleransi dan Empati dalam Masyarakat Multikultural
Dalam mengatasi masyarakat majemuk , Parsudi Suparlan menawari sebuah menyebaran konsep multikulturalisme melalui LSM, dan pendidikan dari SD hingga PT. Alternatif penyelesaian masalah akibat keanekaragaman budaya adalah dengan melakukan strategi kebudayaan dimana memungkinkan tumbuh kembangnya keberagaman budaya yang menuju integrasi bangsa dengan tetap memperhatikan kesederajatan budaya-budaya yang berkembang. Untuk itu komunikasi antar budaya perlu dibangun disertai dengan sikap kritis, toleransi dan empati.



Kurikulum Pendidikan Nasional 2013: Dilema antara Kekuatan Pencerah dan Penjara Administrasi



Mengkritisi Rancangan Kurikulum 2013 yang sedang di-uji publik-an, bagi saya, kurang tepat. Alasanya karena saya adalah pelaksana dan bukan pengambil keputusan. Guru adalah eksekutor dan bukan konseptor. Tulisan ini lebih bersifat mengajak para praktisi pendidikan utamanya guru, ditengah kesibukannya menyelesaikan evaluasi semester ganjil ini, mencoba memberi ruang bagi upaya memahami perubahan.
Kurikulum merupakan hal mendasar dalam Sistem Pendidikan Nasional kita. Karena memuat ketentuan-ketentuan bagaimana pendidikan dijalankan oleh berbagai tingkat satuan pendidikan. Perubahan-perubahan kurikulum yang telah dilakukan pemerintah menunjukkan arah yang semakin jelas. Setidaknya secara konseptual dapat dipahami demikian. Secara garis besar kurikulum diorientasikan untuk menghasilkan out put yang memiliki kompetensi di bidangnya. Kita sering menyebutnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang telah disusun sejak 2004. Perubahan setelahnya seperti KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan yang terbaru Rancangan Kurikulum 2013 masih mengusung paradigma yang sama: kompetensi. Apa yang menarik dari perubahan kurikulum 2013? Bagi guru, hampir tidak menarik. Seperti iklan minuman, “apapun makanannya, minumnya teh…”. Apapun kurikulumnya, pelaksananya guru juga. Bahkan sudah terbayang di depan mata, kurikulum baru berarti membongkar perangkat mengajar lama dan menyusun yang baru. Pekerjaan mudah sekaligus sulit bagi guru. Mudah menyusunnya tetapi sulit mengalokasikan waktunya.
Perangkat mengajar adalah materi-materi yang perlu dipersiapkan bagi yang menjalankan profesinya sebagai guru. Berbagai aturan yang mengatur tentang perangkat mengajar begitu luar biasa. Sebut saja PP No 19 Tahun 2005 tentang kewajiban guru menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta bagaimana proses penyusunan seharusnya dilakukan. Hebatnya peraturan itu ditindaklanjuti Permendiknas No 20 Tahun 2007 yang begitu terperinci menjelaskan komponen yang wajib ada dalam RPP. Serta masih banyak lagi ketentuan-ketentuan lain yang saya yakin banyak guru tidak hafal nomornya meskipun paham rincian tugasnya.
Di era sertifikasi, perangkat menjadi acuan utama untuk mengukur kinerja guru sehingga layak atau tidak menyandang gelar guru profesional dan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Menyusun perangkat mengajar yang detail dan bagus sebenarnya adalah pekerjaan biasa namun saya tidak pernah menemukan guru yang seratus persen (sesuai Permen) menyelesaikannya. Mengapa? Kita bisa bayangkan, jika prajurit tentara yang sedang menghadapi musuh masih harus menyusun strategi dan taktik perang sendiri, merumuskannya secara tertulis sesuai prosedur penulisan tertentu, melaporkan hasil pelaksanaannya secara periodik secara tertulis, menyusun program antisipasi kegagalan secara tertulis, dan seterusnya. Anda pasti bertanya kapan perangnya berlangsung atau mungkin sudah bisa memperkirakan musuh akan menang. Laporan yang baik boleh jadi telah mengorbankan sukses di lapangan. Karena membuat perangkat yang sempurna memerlukan waktu melampaui jam kerja sekolah.
Pada hakikatnya guru bukan jenderal melainkan tentara. Menghadapi siswa di sekolah, bagi guru, sebenarnya adalah pekerjaan paling mendesak sebagaimana tentara di medan perang. Bukan waktu untuk berfikir dan menulis melainkan waktu untuk mengeksekusi perintah-perintah sang jenderal. Bahkan banyak orang sepakat, ditengah pertempuran tidak perlu demokrasi melainkan satu komando. Meski tentara dan guru adalah profesi yang berbeda, semua pekerjaan tentu memiliki konteks sosialnya. Memperlakukan pekerjaan guru tanpa memandang dunia sekolah bisa mengancam tercapainya tujuan kurikulum pendidikan nasional.
Guru seharusnya tidak sibuk membuat perangkat melainkan sibuk melaksanakan perangkat. Pernyataan ini bukan upaya menghilangkan kewajiban yang sudah melekat dalam profesi guru. Tetapi porsi pekerjaan konseptual yang seharusnya dirumuskan para pakar hendaknya tidak dibebankan kepada guru. Bahwa guru harus menyusun rencana pembelajaran yang sedetail dan selengkap mungkin, tentu. Tetapi tugas para konseptor, para pakar dan pejabat pendidikan terkait perlu lebih dirumuskan secara jelas dalam kurikulum. Sehingga kurikulum diharapkan tidak menjadi penjara administrasi yang menempatkan guru sebagai “tukang ketik” laporan. Sebaliknya, kurikulum harus menjadi kekuatan pencerah kepada guru untuk lebih terampil dan profesional meski dalam keterbatasan.
Berkaitan dengan tarik ulur tugas guru antara laporan dan pelayanan tampaknya Rancangan Kurikulum 2013 telah mengisyafinya. Kita bisa membaca poin identifikasi kesenjangan kurikulum yang membandingkan KTSP sekarang dengan Kurikulum 2013. Saat ini buku materi ajar hanya memuat materi pelajaran bidang studi. Sedang strategi belajar adalah wilayah guru untuk memikirkan, menyusun dan melaksanakan. Padahal dalam kenyataan, guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk membaca teks-teks tentang metode belajar mutakhir, menganalisis indikator pencapaian kompetensi yang sesuai dengan metode serta menyiapkan berbagai hal berkaitan dengan pilihan metode. Mengapa untuk standar pelayanan minimal saja guru sulit mewujudkan? Tentu hal ini bukan kesalahan guru secara individual. Karena guru berada dalam konteks sosial bernama sekolah. Organisasi yang semestinya memberi alokasi sumber daya bagi guru tetapi seringkali menyedot energi guru untuk yang lain. Banyak sekali guru yang nyambi sebagai bendahara, panitia pembangunan mushollah, membantu guru BK yang jumlahnya tidak pernah sesuai kebutuhan, dan menambal lubang-lubang kekurangan sekolah yang lain. Tentu saja yang tidak pernah terkait dengan kompetensi keilmuannya.
Memang tidak semua sekolah mengalami kekurangan sumber daya manusia, tetapi sekolah yang memiliki keterbatasan jumlahnya sangat mewakili wajah pendidikan Indonesia. Sehingga tidak rasional bila tugas-tugas konseptual guru tidak diambil alih oleh kurikulum pendidikan nasional. Salah satu dari sekian banyak hal yang perlu di apresiasi dalam rancangan kurikulum tahun 2013 adalah tugas pemerintah tidak terbatas pada penyiapan standar isi dan mata pelajaran sebagaimana KTSP. Lebih dari itu pemerintah menyediakan seluruh komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman. Yaitu pedoman yang memuat materi pelajaran sekaligus bagaimana proses pembelajaran serta  penilaian dilakukan.
Upaya memperluas jangkauan kewenangan pusat terhadap kurikulum pendidikan nasional sangat penting bagi guru. Yang penting penyediaan konsep-konsep belajar ini bersifat terbuka dan masih memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi sesuai dengan tantangan sosialnya. Kita tunggu hasil kerja Pak Mentri dengan para pakar pendidikan!



Objektifikasi Hujan dari Langit: Upaya Memahami Pendidikan Berbasis Karakter
Ada yang berbeda dengan upacara bendera Hari Senin saat itu. Seorang teman di sebelah saya berdiri berbisik lirih ditengah pidato pembina upacara,”Pemerintah malu…”. Terdiam sesaat. “Dulu Penataran P4 dihapus, ternyata justru banyak melahirkan masalah moral sampai pemerintah sendiri kuwalahan. Kalau sekarang dicanangkan pendidikan berbasis karakter itu karena pemerintah malu menyebutnya penataran”. Saya terdiam sejenak dan berfikir. “Oh…, ternyata teman sebelah sedang mengomentari pidato Pak Wabub yang disampaikan melalui pembina upacara. Yah, saya langsung faham, sekarang kanupacara Pencanangan Pendidikan Berbasis Karakter serentak se-Kabupaten. Kemudian saya mengatakan kepada teman saya,”Bukan persoalan malu Pak, ada alasan yang lebih rasional. P4 dianggap indoktrinasi dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah ilmu pengetahuan, atau disebut mistifikasi Pancasila. Mistifikasi menyebabkan kesadaran rasional kita tumpul dan mudah dijadikan alat kekuasaan. Pendidikan karakter menempatkan P4 dalam konteks ilmiah, proses belajar”.
Teman saya terdiam, mungkin ini dianggap penjelasan paling percaya diri seorang guru yunior. Mungkin juga forum bisik-bisik di tengah upacara memang tidak memadahi lagi untuk beradu pendapat. Tidak masalah, karena kepentingan saya meyakinkan bahwa kebijakan pemerintah itu rasional, logis dan objektif. Tidak bersifat personifikasi semisal karena rasa “malu”. Begitupun berbagai macam perubahan-perubahan yang dilakukan Pemerintah Pusat, yang bagi kami aparat pelaksana paling bawah, kadang seperti hujan turun dari langit. Begitu tiba-tiba, tanpa penjelasan memadahi, tetapi wajib dilaksanakan.
Sering kali kami, guru-guru, disibukkan perubahan kurikulum dan konsekuensi perangkat mengajarnya hingga tidak sempat melepas dahaga atas alasan-alasan mendasarnya. Kalaupun ada ruang-ruang untuk membangun landasan filosofis, seperti rapat dinas, rapat validasi KTSP, workshop KTSP dan lain sebagainya, ukurannya sangat sempit untuk diisi berbagai pertanyaan di kepala kita. Karena ruang-ruang itu telah didominasi oleh kepentingan menyampaikan dan memerintah daripada mewacanakannya. Begitulah wajah dinamika kurikulum pendidikan nasional dalam perspektif pelaksana terbawah, guru.
Suatu saat seorang Profesor dalam workshop validasi KTSP menyatakan, “Bapak-Ibu, jangan mudah kaget dengan perubahan kurikulum. Kalau ditempat kita terjadi perubahan dari KBK ke KTSP kemudian sekarang berbasis karakter, dinegara maju perubahan seperti itu malah lebih sering dilakukan”. Rupanya Pak Profesor memahami kegalauan para guru sekolah pinggiran seperti kami. Maka perlu memberikan penekanan bahwa profesi guru harus selalu siap dengan perubahan dan dituntut mampu menyesuaikan diri. Tetapi ketika seorang guru bertanya mengapa nilai karakter dalam silabus harus ditempatkan setelah kolom KD dan tidak setelah kolom indikator, Pak Profesor ternyata juga gagal membangun landasan filosofis bagi guru. ”Lha itu…, Saya sendiri tidak tahu mengapa, karena tidak ikut memutuskan. Ya…, yang penting dilaksanakan saja, Anda kan guru”, kilahnya mantap.
Saya kira argumen Pak Prof senada dengan pernyataan diatas tentang “pemerintah malu” menyebut Pendidikan Karakter sebagai Penataran P4. Artinya telah terjadi personifikasi kebijakan. Kebijakan yang mestinya bersifat objektif, rasional, dan logis dianalogikan dengan person atau manusia. Pemerintah bisa “malu” atau Pak Prof menyebut “saya” tidak ikut memutuskan. Seolah-olah kebijakan itu tergantung person dan subjektif.
Di baris belakang ruang workshop saya sampaikan kepada teman saya sesama guru bahwa ada beda menaruh nilai karakter di depan atau dibelakang kolom indikator. Kalo setelah KD ada kolom nilai karakter, artinya pendidikan kita itu mementingkan pencapaian karakter ketimbang kompetensi kognitif. “Pinter nomer dua sing penting bener”, dalam Bahasa Jawa. Sebaliknya, kalau nilai karakter ditaruh dibelakang indikator, maka filosofi pendidikan kita mengutamakan penguasaan ilmu dan mengesampingkan nilai karakter. Teman saya bertanya, “benarkah begitu, memangnya sampeyan yang memutuskan?”. Saya jawab,”Bukan masalah siapa memutuskan apa, melainkan bagaimana mengembangkan bahasa kebijakan secara logis, rasional dan objektif itu perlu dilakukan”.
Kenyataan-kenyataan seperti di atas mungkin bukan hal menarik untuk dipaparkan. Kabar yang sudah basi sebelum diberitakan. Nilai penting yang ingin disampaikan dari deskripsi ini adalah bagaimana membahasakan perubahan kebijakan dikalangan pelaksana. Menjadikan kebijakan sebagai alat eksistensi person tidak akan melunasi keingintahuan para guru. Apabila kebijakan disampaikan dengan jalan subjektif terus menerus, rasanya sulit bagi guru menjadi subjek dari perubahan kurikulum. Karena kompetensi filosofisnya tidak pernah tercapai, yaitu memahami landasan ke-(apa, mengapa, bagaimana)-annya.
Menjadi agen perubahan mungkin memang diperlukan ketegasan berbicara di depan bawahan, kewenangan yang luas, jabatan tertentu dan gelar akademis yang memadahi seperti Prof., PhD., atau setingkat itu. Namun menjadi aktor pencerahan bisa dilakukan siapa saja. Forum bisik-bisik dengan teman terdekat bisa saja lebih efektif bila disampaikan menggunakan bahasa yang objektif, logis dan rasional daripada forum resmi yang personifikatif!
Perlunya Memahami Motivasi Siswa Menggunakan Media Sosial
Studi motivasi merupakan studi mendasar yang sering digunakan oleh para ahli sosial untuk memahami suatu masalah berkenaan dengan kecenderungan perilaku individu atau kelompok. Penelitian mengenai motivasi siswa membangun pertemanan dengan guru di media sosial dimaksudkan untuk memahami motif-motif atau faktor pendorong siswa secara sukarela menjadikan akun gurunya sebagai bagian dalam interaksi sosialnya di dunia maya.
Kajian ilmiah mengenai guru-siswa dan media sosial di Indonesia belum banyak dilakukan. Pertama, mungkin karena belum dianggap sebagai sebuah masalah sosial. Kedua, hubungan pertemanan guru-siswa di jejaring sosial dianggap biasa dan umum. Padahal di negara terbesar pengguna Facebook, Amerika Serikat, kajian serupa merupakan persoalan yang telah menjadi perhatian publik. Sebagaimana ditulis Ryan Lytle dalam artikelnya berjudul Student-Teacher Social Media Restrictions Get Mixed Reactions, Some school districts have prohibited social media contact between students and teachers.  Menurut Lytle meski hubungan antara guru-siswa bersifat positif dalam proses pendidikan, namun Carole Lieberman, seorang psikiatris di Beverly Hills, California, percaya  bahwa media sosial merupakan pintu masuk adanya kasus penyimpangan seksual dan hubungan gelap. Bahkan beberapa negara bagian di AS memberikan batasan-batasan tertentu yang harus ditaati dalam hubungan guru-siswa di media sosial.
Negara Indonesia yang memiliki pengguna Facebook 35 juta jiwa, terbesar ke-2 di dunia, dan pengguna Twitter terbesar di Asia tentu perlu melakukan antisipasi terhadap perkembangan masalah ini. Pertama, jumlah pengguna media sosial di kalangan remaja termasuk siswa dimungkinkan terus akan bertambah. Artinya berbagai dampak sosialnya juga akan mengalami peningkatan. Kedua, secara khusus hubungan guru-siswa di jejaring sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kecenderungan perkembangan teknologi informasi di berbagai sekolah.
Oleh karena itu kajian-kajian ilmiah untuk mengurai interaksi antara siswa dan guru di media sosial perlu dilakukan. Penelitian semacam ini akan memberikan gambaran kepada berbagai pihak, utamanya para guru dan praktisi pendidikan lainnya, orang tua siswa dan pemerintah untuk lebih memahami kecenderungan siswa di media sosial. Melalui penelitian motivasi siswa berinteraksi dengan guru di media sosial diharapkan semua pihak terkait dapat memberikan penyikapan yang proporsional untuk menghindarkan adanya penyimpangan hubungan sosial. Para guru dapat berperan menjadi teman sekaligus mentor dalam perkembangan siswa menuju kedewasaan.

Rabu, 09 Januari 2013

perilaku menyimpang

Perilaku Menyimpang Pada Masa Remaja


PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG

Masalah sosial merupakan ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Masalah sosial merupakan akibat interaksi sosial antara individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai masalah sosial oleh masyarakat tergantung dari system sosial masyarakat tersebut. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat yang pada umumnya sama misalnya, kemiskinan, kriminalitas, masalah kependudukan, masalah generasi muda dalam masyarakat modern.

Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya karena pada periode itu seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak-anak untuk menuju ketahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Masa ini dirasakan sebagai suatu krisis karena belum adanya pegangan sedangkan kepribadiannya sedang mengalami pembentukan, pada waktu itu dia memerlukan bimbingan terutama dari orang tua.

Anak yang menginjak masa remaja sudah sewajarnya menuntut banyak perhatian para orang tua. Mereka tentu saja sudah sadar diri dan oleh karenanya mudah mengundang perhatian  kepada diri mereka sendiri walaupun seringkali mengatakan tidak menginginkan perhatian semacam itu. Perkembangan zaman yang telah maju dengan pesat telah mengubah gaya hidup remaja sekarang, dari kebiasaan mereka, minat mereka, bahasa dan pakaian yang mereka gunakan, politik dan musik yang mereka sukai, juga perkembangan seksualitas mereka. Bahkan sudah lazim bahwa keprihatinan orang tua terhadap kaum remaja sering kali tidak disambut baik oleh mereka, dianggap ikut campur dan mengakibatkan pembangkangan dari para pria dan wanita muda yang cemas dan berniat meraih kebebasan yang makin besar ini.
            Apalagi dengan kemajuan  ilmu dan teknologi saat ini yang maju begitu pesat dan sudah merambah kedalam kehidupan masyarakat kalangan atas maupun masyarakat kalangan bawah. Hal ini ditandai dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi. Transportasi yang mengundang masyarakat semakin konsumtif. Sehingga mempengaruhi perilaku dan gaya hidup mereka terutama para remaja yang sedang dalam masa transisi.
            Pada zaman yang sudah semakin maju seperti ini remaja dapat menggunakan teknologi apa saja yang dapat menyalurkan kepentingnnya, sehingga kadang dalam menggunakannya yang tanpa batas membuat mereka bertindak sesuai dengan umurnya, maka munculah perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat sehingga melanggar hokum yang ada dalam masyarakat. Hal inilah yang disebut dengan kenakaln remaja. Apa yang menyebabkan seorang remaja berperilaku menyimpang selain dengan adanya modernisasi? Masalah-masalah apa saja yang terjadi pada masa remaja? Dan bagaimana cara mengatasi perilaku menyimpang yang dilakukan para remaja?

 LANDASAN TEORI

 Modernisasi, yaitu seluruh jenis perubahan social yang bersifat progresif yang apabila masyarakat bergerak maju menurut skala kemajuan yang diakui. Dimana penyimpangan  para remaja salah satu factor pendorongnya adalah adanya Modernisasi.  Teori Modernisasi yang menganggap bahwa Negara-negara terbelakang akan menempuh jalan yang sama dengan Negara maju dibarat sehingga akan menjadi Negara yang berkembang yang melalui proses modernisasi (light, keller, dan Calhoun, 1989). Dalam teori ini berpandangan bahwa masyarakat-masyarakat yang belum berkembang perlu mengatasi kekurangan dan masalahnya sehingga dapat mencapai era tinggal landas (take off) kearah perkembangan yang mapan serta sesuai dengan latar belakang Negara sehingga tidak mengarah pada masalah social. Negara Indonesia merupakan Negara berkembang tetapi gaya hidup masyarakat sudah terpengaruh oleh adanya modernisasi sehingga masyarakat belum mampu untuk hidup seperti orang barat yang dalam segi kebudayaan sangat bertolak belakang. Untuk bisa menjadi masyarakat yang modern dengan banyaknya perubahan social maka masyarakat Indonesia perlu mengatasi masalah yang akan timbul akibat perubahan social yang ada contohnya saja kenakalan remja yang ditimbulkan oleh adanya modernisasi.

teori fungsionalisme structural, dengan adanya perubahan social yang terjadi membuat melemahnya fungsi-fungsi yang ada dalam masyarakat dari fungsi keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Robert K merton merupakan salah sau tokoh teori fungsionalisme structural yang memusatkan perhatian nya pada fungsi dari fakta-fakta social. Menurutnya fungsi tersebut ada yang bersifat manifest (yang diharapkan) dan fungsi laten (tidak diharapkan). Dengan teori ini saya dapat menemukan dari adanya perubahan social khususnya modernisasi dapat menimbulkan fungsi yang diharapkan masyarakat seperti memudahkan dalam berkomunikasi dan trasportasi, namun ada juga fungsi yang tidak diharapkan seperti dengan adanya penyimpangan-penyimpangan oleh remaja. Seperti seks bebas, penggunaan narkoba, tawuran antar pelajar dan lain sebagainya. Melemahnya fungsi keluarga juga mempengaruhi perkembangan seorang anak, jika orang tua tidak membimbing anak dengan baik maka dia akan melakukan hal-hal sesukanya tanpa tau itu baik untuknya atau tidak. Peran sekolah yang tidak memberikan pendidikan dengan baik juga akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan padn  siswanya, dalam kehidupan masyarakat jika seorang remaja tidak menyesuaikan diri dengan baik maka dapat terjerumus pada pergaulan bebas.

Teori interaksionisme simbolik memiliki substansi yaitu kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar individu dan antar kelompok dengan menggunakan symbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar dan memberikan tanggapanterhadap stimulus yang dating dari lingkungannya dan dari luar dirinya. Interaksi simbolik, kata blummer dalam interaksi actor tidsak semata-mata bereaksi terhadap tindakan dari orang lain. Dalam melakukan interaksi secara langsumg maupun tidak langsung individu dijembatani oleh penggunaan symbol-simbol penafsiran yaitu bahasa. Bertindak penafsiran symbol oleh individu disini diartikan memberikan arti menilai kesesuaiannya dengan tindakan dan mengambil keputusan berdasarkan penilaian tersebut. Konsep inilah yang disebut blimer dengan self indication yaitu proses komunisaksi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, mernilainya, memberinya makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu. Remaja dalam melakukan sosialisasi dengan orang dewasa kadang-kadang bingung apa yang harus dia lakukan apakan berperilaku seperti orang dewasa atau bersikap seperti anak kecil. Dengan adanya symbol-simbol yang dilakukan oleh orang dewasa membuat anak remaja ingin menirunya karena dorongan akan perubahan pada kelenjar dan perubahan seksualitas, inilah yang membuat anak remja berperilaku lebih dari apa yang seharusnya dia lakukan pada usianya. Para remaja tersebut sangat peka terhadap gagasan bahwa mereka harus seperti orang dewasa atau kanak-kanak, sehingga mereka segera mengganti mode pakaiannya.



PEMBAHASAN


Masa remaja merupakan masa transmisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Remaja dalam gambaran yang umum merupakan suatu periode yang dimulai dengan perkembangan masa pubertas dan menyelesaikan pendidikan untuk tingkat menengah, dimana perubahan biologis yang membawanya pada usia belasan (teenagers) seringkali mempengaruhi perilaku masa remaja. Para remaja tersebut sangat peka terhadap gagasan bahwa mereka harus seperti orang dewasa atau kanak-kanak, sehingga mereka segera mengganti mode pakaiannya.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat dikalangan atas maupun dikalangan bawah contohnya saja di kota-kota besar. Dikota  Banjarnegara Banyak kasus pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan
Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
·Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
·Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
·Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Adapun gejala-gejala yang dapat memperlihatkan hal-hal yang mengarah
kepada kenakalan remaja :
·Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
·Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan lain yang tidak terbimbing.
·Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
·Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
·Anak-anak yang suka berbohong.
·Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah.
·Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
·Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian.
Dengan adanya gejala-gejala kenkalan remaja tersebut tentu saja ada hal-hal yang menyebabkan para remaja berperilaku menyimpang.Ada sebuah pertanyaannya kenapa seorang remaja dapat melakukan suatu pemberontakan? Ada tiga factor yang mempengaruhi hal tersebut :
1. Keluarga
Yang paling rentan ini nih (walau di poin ketiga yang akan dibahas berikut adalah kuncinya)! Kenapa ngga? Gimana jadinya anak atau remaja di masa depan, ditentukan oleh cara didik orang tua. Nah, cara mendidik ini yang menjadi satu hal yang masih dipertanyakan, sebenarnya gimana sih?. Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah: seimbang. Otoriter atau istilah lebih halusnya tegas, permisif serta demokratisnya haruslah sesuai kadar.
Ketika orang tua otoriter, maka yang kita sebut sebagai kenakalan remaja akan muncul dalam artian ingin memberontak. Sementara kalo ortu permisif, remaja malah akan mencari-cari perhatian dengan segala tingkah lakunya yang kemungkinan besar menjurus ke kenakalan remaja. Bahkan orang tua yang demokratis sekalipun, Helda saja sebagai remaja ngga bisa menjamin akan menggunakan kebebasan namun bertanggung jawab dari paham demokratis ini. Karena
2. Pergaulan
pergaulan remaja Tekanan teman bahkan sahabat, apakah itu yang namanya rasa solidaritas, ingin diterima, dan sebagai pelarian, benar-benar ampuh untuk mencuatkan kenakalan remaja yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh ramaja.
Kalo di dalam keluarga, remaja memberontak atau mencari perhatian yang menjurus ke tindakan kenakalan remaja demi orang tua Nah ini, malah ke kebutuhan yang lain! Yup! Teman, sabahat dan diterima dalam pergaulan yang merupakan suatu kebutuhan.
3. Remaja Itu Sendiri
Pada hakikatnya apa yang dilakuin oleh seorang remaja ketika mencoba menarik perhatian dari ortu terlebih lagi teman, adalah untuk memuaskan diri remaja itu sendiri. Memuaskan di sini bukan hanya dalam arti negatif aja yah. Namun, demi memuaskan obsesinya itu – sering malah ‘keterlaluan’ dan ‘berlebihan’!
Bukankah apa pun yang terjadi kalo memang remaja tersebut punya ‘hati yang besar’ menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan pehatian itu, pasti dia bisa untuk tidak terperosok ke dalam jurang kenakalan remaja.
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus.

            Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering sekali ternyata tidak mulus, banyak memgalami berbagai hambatan dan rintangn. Lebih-lebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase perkembangan remaja, masa dimana individu mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikis. Pada fase ini individu mengalami perubahan ynag besar yang dimulai dengan datangnya masa puber. Datangnya masa puber ditandai dengan kematangan seksualitas. Sikap-sikap dan perilaku yang terjadi pada masa puber sering mengganggu tugas-tugas pada masa perkembangan anak pada masa berikutnya yaitu masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan pada fase remja. Beberapa masalah yang dialami para remaja sekarang:
           
1. Masalah Emosi
            Secara tradisional masa remaja dianggap periode “badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akiabat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remajaa seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tampak pada mereka, mudfah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung meledak-ledak dan tidak mampu mengendalikan perasaannya. Keadaan ini sering menimbulkan berbagai permasalahn khususnya dalam kaitannya dengan penyesuainan diri dilingkunganya. Maraknya kasus perkelahian antar pelajar akhir-akir ini adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja mengolah dan mengendalikan emosi.

2. Masalah Penyesuaian Diri
            Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuian social. Remaja harus meyesuaikan diri dengan lawan jenis, baik sesama remaja maupun dengan orang-oarang dewasadiluar lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencspai pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak banyak enyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar rumah bersama-sama temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti kalau pengaruh teman-temannya sebaya dalam pola perilaku,sikap, minat dan gaya hidupnya lebih besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat bergantung dari pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah bergaul, misalnya berada dalam kelompok pemakai obat-obatan terlarang, minuman keras, merokok, dan perilaku negative lainnaya. Dalam keadasan demikian remajacenderung akna mengikutinya tanpa memperdulikan akibat yangakan menimpa dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang dianggap paling penting. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, remaja mau melaksanakan apa saja yang akan menimpa atas perilaku mereka tersebut.

3. Massalah Perilaku Seksual
            Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubunagn dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan seks yang diakuinya. Pada masa remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romants yang didikuti oleh keinginnan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhtian dari lawan jenis, sebagai akibatnya remaja mempunyai minat tinggi pada seks. Remaja lebih banyak mencari informasi tentang seks dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya dari tena sebaya yang sama-sam kurang memahami arti pentingnya seks, internet, media elektronik yan semakin canggih, dan media cetak yang kadang-kadang lebih mengarah pada pornografi. Sebagai akibat dari informasi yang salah dapat menimbulkan perilaku seks remkja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidsak layak untuk dilakukan misalnya berciuman, bercumbu, mesturbasi, dan bersenggama. Namun generasi sekarang hal-hgal tersebut dianggap normal atau paling tidak diperbolehkan. (Hurlock, 1980:229)
pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan.
Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal.
Tidak ada cara instan untuk mengajarkan seks pada anak kecuali melakukannya setahap demi setahap sejak dini. Kita dapat mengajarkan anak mulai dari hal yang sederhana, dan menjadikannya sebagai satu kebiasaan sehari-hari. Tanamkan pengertian pada anak layaknya kita menanamkan pengertian tentang agama. Kita tahu tidak mungkin mengajarkan agama hanya dalam tempo satu hari saja dan lantas berharap anak akan mampu menjalankan ibadahannya, maka demikian juga untuk seks.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu,”
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Dengan cara “Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajarkan anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, misalnya pada manusia. Sehingga orangtua dapat memberikan penjelasan mengenai dampak-dampak yang akan diterima bila anak sudah melakukan hal-hal yang menyimpangnya. oleh sebab itu perlunya pendidikan seks sejak dini, bila perlu diberikan disekolah-sekolah agra para siswa dapat mengetahui pendidikan seks yang benar dan tidak terjerumus kehal-hal yang negative.

4. Masalah Perilaku Sosial
            Tanda-tanda masalah perilaku social pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang terlatar belakang ras, agama, atau social ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku social seperti ini, maka melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja yang pembentukanya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku dan social ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada renaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan mengatasi masalah diatas dapat dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatana kelompok dengan tidak memperhatikan latar belakang suku, agama,ras, dan social ekonomi.

5. Masalah Moral
            Masalah moral yang terjadi pada para remja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakkonsisitenan dalam konse benar dan slah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, da kelompok remaja. Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah dapat membawa mala petaka bagi kehidupan remja pada khususnya dan pada semua oaring pada umumnya.

6. Masalah Keluarga
Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda. Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar modern, sedagkan orang tua tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang sering menjadi sumber perselisihan antar mereka. Sehingga remaja yang cenderung keaah modernisasi akan membantah semua yang ditetapkan oleh orang tuanya sehingga menimbulakan penyimpangan untuk melakukan apa yang sudah diinginkannya.

Dengan banyaknya kenakalan remaja saat ini yang sudah sangat marak, contohnya saja para remaja sekarang sudah tidak malu untuk berperilaku seksual didepan umum karena dizaman yang sudah serba modern hal-hal tersebut sudah dianggap normal-normal saja atau paling tidak diperbolehkan. Hubungan seks diluar nikah dianggap “Benar” apabila orang-orang yang terlibt saling mencintai dan saling meras terikat.(Hurlock, 1980: 229)
            Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah. Angka yang memprihatinkan di negeri yang cukup menjunjung tinggi nilai moral sehubungan seks. Mengapa mereka bisa melakukan hubungan seks pranikah? Penyebabnya karena kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja.
Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya, mereka akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka. Masalah seks masih dianggap tabu dibicarakan di depan anak-anak apalagi untuk mengajarkannya kepada anak-anak. Kenyataannya banyak terjadi eksploitasi seks pada anak-anak di bawah umur. Seperti yang terjadi di Bali baru-baru ini, yang begitu banyak menyita perhatian, dan menjadi kasus yang luar biasa (Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi). Hal ini menjadi kasus yang luar biasa karena pelaku memperkosa sebanyak enam orang anak di bawah umur.
Beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
- Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
- Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
- Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
- Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
- Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
- Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
- Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
- sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
Selain dari orang tua sekolah juga berperan dalam penanganan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja misalnya dengan mengadakan pelayanan bimbingan kepada anak untuk melatih bagaimana cara mendengar yang baik, bagaimana cara mengungkapkan masalah, bagaimana cara mngendalikan diri baik dalam menanggapi masalnya maupun mengemukakan masalahnya sendiri.
Sekolah juga dapat melakukan usaha penyediaan sarana dan prasarana untuk mendukung baka dan minat siswa, agar siswa dapat menyalurkan bakat dan kemampuan yang dia miliki. Sekolah juga berperan untuk memberikan pendidikan seks sejak dini agar siswa tau apa itu seks yang baik, tanpa dia tau seks dari medi seperti interne, handphone dan lainnya yang cenderung mengarah pada pornografi.
            Sekolah tidak boleh membeda-bedakan anak didiknya karena akan menyebabkan kelompok-kelompok yang berlatar belakang pada agama, ras, social ekonomi yang kebanyakan mengarah pada permusuhan dan mengakibatkan tawuran antar pelajar. Sekolah bisa melakukan usaha dengan membentuk kelompok-kelompok tanpa membeda-bedakan latar belakang agama, ras, dan social ekonomi. Dan tentunya sekolah mencegah kenakalan-kenakaln remaja dengan memberikan berbagai palajaran tentang agama agar siswa tau tentang hal-hal yang dilarang oleh agama.







KESIMPULAN
Kenakalan remaja yaitu Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.  Ada 3 faktor hal-hal yang menyebabkan para remaja berperilaku menyimpang yaitu Keluarga, Pergaulan dengan orang lain, dan Dari remaja  itu sendiri. Dengan factor penyebab tersebut dapat menimbulkan masalah-masalah remaja seperti
1.      Masalah Emosi
2.      Masalah Penyesuaian Diri
3.      Massalah Perilaku Seksual
4.      Masalah Perilaku Sosial
5.      Masalah Moral
6.      Masalah Keluarga.
            Untuk menghindarkan anak agar tidak berperilaku menyimpang butuh banyak perhatian dari orang tua, perlunya pendidikan agama yang baik, pendidikan sejak dini bagaimana bergaul dalam masyarakat, memberikan pendidikan seks yang baik sesuai denagan umurnya dan perlunya dukungan dari orang tua tentang apa hoby dan bakat anak, serta kemampuan yang dia miliki agar dia dapat menggunakan waktu luangnya untuk memgembangkan bakatnya. Selain dari orang tua butuh peran dari sekolah tempat dia dididik untuk mendapatkan pelajaran dengan baik, mencari teman sebaya, dan dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.







DAFTAR PUSTAKA


Coles, Robert.2000. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama
Gunarsa, Singgih, 1988, Psikologi Remaja, BPK Gunung Mulya, Jakarta
Hurlock, Elizabeth.1972. Childern Development. Tokyo: Mc Graw-Hill. Kogakusha
Leslie, Gerald R. 1972. The family in socil context. New yOrk: Oxford Univercity Press
Mugiarso, Heru.2007. Bimbingan dan Konseling.Semarang: UPT MKK UNNES
Ritzer, George.1976.Sosiology:Experiencing a changing Sisiety.Boston:Alin dan Bacon,inc
Salim, Agus, 2007. Teori sosiologi klasik dan modern.semarang: UNNES Press
Soekanto, Soerjono, 1988, Sosiologi Penyimpangan, Rajawali, Jakarta
Soekanto, soerjono, 1982. sosiologi suatu pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 
Syani, Abdul.2002. Sosiologi Skematika, teori dan terapan. Jakarta:Bumi Aksara